AKU AIRIN BUKAN AIRA

AKU AIRIN BUKAN AIRA
Bab. 10 Telpon dari papa


__ADS_3

Ririn masih memapa airin agar bisa berjalan. Mereka pun masuk kerumah dengan perlahan-lahan.


"Assalamua'laikum ..." mereka memberi salam dengan kompak.


"Waalaikum salam...( nenek yang sedang asyik berkebun menolehkan wajahnya kearah airin) airin.... astagfirullah... kenapa kamu nak... sini duduk..." nenek sri tampak panik melihat keadaan airin.


Airin pun duduk diteras sambil menjulurkan kakinya. Terlihat lututnya yang terkopek karena jatuh tadi ditambah pergelangan kakinya pun terkilir.


"Mbok... mbok... tolong ambil kotak P3K dilemari...." teriak nenek sri.


"iya bu... " sahut seorang wanita dari dalam rumah dan langsung menuju ke lemari penyimpanan obat.


"kenapa bisa luka kayak begini... kalian ditabrak orang.... atau jatuh sendiri..." tanya nenek sri sambil melihat-lihat luka airin.


"Ditabrak orang nek...." ririn keceplosan.


"Bagaimana bisa... lalu orangnya dimana... kenapa gak tanggung jawab setelah nabrak orang.. " ujar nenek sri geram ketika mendengar airin ditabrak orang.


Belum sempat airin menjawab, ririn udah menyambar ajak kayak petir.


" udah pulang tu... memang gak tanggung jawab tu om-om... untung ganteng kalau gak udah aku ucek-ucek tu si om...." jawab ririn geram melihat tingkah randy tadi.


"kalau udah nolongin... kenapa masih luka begini...." tungkas nenek sri.


"nenek... airin gak pa-pa kok.... jangan dengar kata dia... sebenarnya airin lagi jalan sama ririn mau naik bus... tiba-tiba bapak lari kearah airin dan gak sengaja nabrak airin karena dia buru-buru ngejar anaknya... tadi udah nolongin airin... malah diantar sampai rumah..." airin mencoba menjelaskan kejadian tadi pada nenek.


"ohhh... jadi kenapa gak di bawa kerumah sakit dulu buat obati kaki kamu..." tanya nenek sri lagi.


"oh itu... udah ditawarin nek... cuma airin sendiri yang minta dianterin pulang... males lah nek harus kerumah sakit... disini kan ada nenek ya obati airin..." jawab airin dengan gaya manjanya.


"ihh kamu mah.... sini kakinya biar nenek obati... " kata nenek sri sambil mengambil obat dalam kotak P3K.


Airin menjulurkan kakinya kedepan nenek. Nenek sri langsung membersihkan luka airin dengan antiseptik.


"aowwww.... sakit nenek..." teriak airin sambil meringis kesakitan.


"memang sakit sayang... ditahan sebentar... nenek lagi bersih lukanya dulu... " jawab nenek sri dan terus membersihkan luka airin.


" alah.... sok kesakitan.. tadi depan om-om ganteng tuh sok kuat... bilangnya gak pa-pa cuma luka kecil... sampai rumah nangiskan kamu.... rasain..." celotos ririn.


"apa sih kamu rin... orang benaran sakit.. coba kalau kamu yang luka kayak aku... pasti kamu dah teriak-teriak kesakitan...." ujar airin kesal.


"untung bukan aku... hehehe " sahut ririn sambil cengengesan.


" ketawa terus.. senang kamu ya lihat teman sekarat kayak gini... gak tahu sakit ne... perih kali tahu..." kata airin dengan raut wajah kesal.


"maaf... oh ya nenek.. kaki airin juga terkilir tadi...." ujar ririn sambil menunjuk penggelangan kaki airin yang terkilir.


"Nanti kita panggilkan tukang urut biar diurut... kamu tolong bantu airin masuk... ganti baju dulu lepas tu... kalian makan.. nenek udah siapkan makanan di meja makan..." kata nenek sri sambil membereskan obat tadi.


"baik nenek.... ayok airin kita masuk...." ujar ririn sambil membantu airin jalan.


Mereka akhirnya masuk dan langsung ke kamar airin untuk membersihkan diri. Ririn sudah terbiasa ke rumah airin bahkan Kalau dia nginap dirumah airin, dia tidak perlu membawa baju karena dia sering minjam baju airin karena ukurannya sama.


Mereka bergantian ke kamar mandi untuk menyegarkan diri. Tampak keduanya sudah rapi dan ririn membantu airin menuruni tangga karena kamar airin berada dilantai atas.


"Udah pada cantik kedua cucu nenek ni... sini duduk... kita makan bareng.. udah lama nenek tunggu kalian..." kata nenek sri yang sedari tadi menunggu mereka.


"ne ririn nek... mandinya lama banget... jadi lama deh..." jawab airin mencoba mengoda ririn.


"Gak mempan airin... itu lagu lama jangan dikeluarkan sama nenek... nenek tahu kok siapa ya lama mandinya....ya kan nek...." balas ririn tidak peduli dengan ledekan airin. Dia sudah terbiasa dengan keluarga airin bahkan sudah menganggap nenek sri sebagai neneknya sendiri.


Bahkan ririn tidak sungkan untuk mengeluh pada nenek sri kalau airin menjahilinya.


"Betul katamu rin.. kalau airin mandi kita bisa makan sambil nonton tv tungguin dia...saking lamanya...." sahut nenek sri sambil menertawakan airin.


"Betul tu nek... hahaha.. ada dengar kamu ai... nenek aja mengakui kalau kamu lelet kalau mandi... entah apa yang dibersihin sampai gak bersih-bersih..." tungkas ririn lagi.


"eiits jangan salah.... aku mandi sambil konser tahu makanya lama... karena hanya dikamar mandi aku bisa mengeluarkan bakat ku..." jawab airin.


"bakat apa... nyanyi... memang kamu bisa..." tanya ririn dengan nada mengejek.

__ADS_1


"Bisalah... aku kan punya suara emas..." ujar airin sambil menyodorkan nasi kemulutnya.


"suara emas kok dikamar mandi...." kata nenek sri tanpa sadar sambil menggeleng-gelengkan kepala.


Airin dan ririn kompak menoleh kearah nenek sri. seketika mereka tertawa terbahak-bahak. Nenek sri tampak biasa saja melihat kelakuan dua bocah ini.


"hwahaha... suara emas kok dikamar mandi.... hwahahaha..." kata ririn mengulangi perkataan nenek sri.


"hwahaha.... bukan suara emas itu rin.. suara fales tingkat tinggi makanya nyanyi dikamar mandi....hwahahaha...." sambung airin sambil memegang perutnya menahan tawa.


"iya saking tingginya.... bisa bengkak telinga ya dengar...." sahut ririn yang masih ketawa.


"Kamu mau dengar gak suara emasku..." airin menawarkan diri untuk bernyanyi. Ririn hanya mengelengkan kepalanya menandakan tidak ingin mendengarkan suara airin yang bagaikan radio rusak.


"udah-udah habisin dulu makannya... ada-ada aja kalian ne... di meja makan masih aja ngelawak..." ujar nenek sri.


"iya nek..." jawab mereka kompak dengan masih terdengar tawa dari mereka.


Kriiik....kriiik...krikkk....Tiba-tiba telpon rumah berbunyi.


"Siapa ya telpon tu nek... apa tante elsi yang telpon...." tanya airin seraya berdiri dari duduknya.


"Enggak tahu... kamu makan aja...biar nenek yang angkat... " nenek sri menahan airin bangun.


Nenek sri bangun dari duduknya dan meranjak ke meja telpon.


"assalamualaikum...." nenek sri memberi salam untuk orang yang ada diujung telpon tersebut.


"waalaikum salam... ibu... ini iwan bu... ibu apa kabar...." jawab pak iwan diseberang telpon sana.


"oh.. kamu... alhamdulillah sehat... kamu bagaimana nak disana, dewi sama aira apa kabarnya..." nenek sri menanya balik keadaan anak dan cucunya disana.


"Alhamdulillah kami sekeluarga sehat bu... Airin apa kabar bu... dia sekarang ada dirumah..." tanya pak iwan dengan hati-hati.


"Airin baik-baik saja.... tuh dia lagi makan sama ririn..." jawab nenek sri sambil melihat airin.


Airin tidak menoleh sedikit pun ke nenek sri. Dia tampak menikmati makanannya itu.


"rindu bu... kenapa ibu tanya begitu..." jawab pak iwan dengan sedikit penasaran dengan nada bicara ibunya.


"ibu lihat... kalian seperti melupakan airin... jangankan menjenguknya kesini bahkan menelpon airin saja kalian jarang sekali...." ujar nenek sri sambil menatap punggung airin dengan dalam.


"kenapa ibu berkata seperti itu... " kata pak iwan. Timbul rasa sedih ketika mendengar nenek sri berkata seperti itu.


"entah iwan... ibu juga tidak tahu... ketika melihat airin ketawa ada rasa sakit dihati ibu.... ibu selalu berpikir apakah dia sedang bahagia atau hanya berpura-pura saja...." kata nenek sri.


"ibu... aku juga tahu hal itu bu... tapi aku gak bisa berbuat apa-apa. Bukan aku tidak menjenguk airin... aku cuma takut bu... aku hanya membawa luka untuk airin... aku berpikir kalau aku tidak dekat dengannya maka aku akan mengurangi sedikit luka dihatinya bu..." kata pak iwan. Tanpa sadar bulir putih mengalir dari matanya.


"Tapi iwan... tidak baik kamu menelantarkan airin seperti itu... Airin butuh kamu... cukup dia kehilangan sosok seorang ibu... tapi jangan sampai kau biarkan dia juga kehilangan sosok seorang ayah juga. Airin memeng terlihat tegar dan kuat tapi ibu yakin dia sangat rapuh... hanya saja dia menyembunyikannya dari kita semua...." ujar nenek sri.


"aku tahu bu... tapi sangat sulit bagiku mendekati airin yang sudah terlanjur menjauh bu... bahkan aku meminta tolong sama ririn untuk membujuk airin pulang... tapi apa bu... dia bahkan tidak mendengar sahabatnya itu... dia tetap kukuh dengan pendiriannya untuk tetap tinggal sama ibu..." jelas pak iwan dengan rasa sedih.


"tidak ada yang tidak mungkin wan jika kamu mau mencoba... biar ibu bantu..." pungkas nenek sri yang mencoba menjadi penengah antara anak dan ayah itu.


"apakah bisa bu.... jika memang bisa... aku ingin sekali memperbaiki hubungan yang renggang ini..." tanya pak iwan dengan perasaan bimbang.


"bisa...ibu yakin airin akan mendengar semua perkataan neneknya ini... kamu mau bicara sama airin sekarang...." tanya nenek sri dengan tegas.


"sekarang bu ...." kata pak iwan dengan merasa gugup. Ada perasaan senang, rindu dan takut ketika akan berbicara sama airin karena begitu lama pak iwan tidak berbicara sama airin. Selama ini pak iwan melepaskan rindu hanya dengan menatap foto airin.


" iya sekarang... kamu bersikap biasa aja ya...." kata nenek sri mencoba meyakinkan anaknya itu.


"baik bu...." balas pak iwan.


"Airin.... Airin... sini nak.... papamu telpon...." panggil nenek sri.


Seketika mata airin membulat tak percaya ketika mendengar nenek sri menyebut papa. Ada rasa rindu yang teramat dalam dihati airin untuk pria itu. Dadanya terasak sesak ingin menangis namun ditahannya.


Airin menarik nafas dalam-dalam dan mencoba mengontrol emosinya. Ririn yang melihatnya hanya merasa kasihan dengan sahabatnya itu. Namun apa boleh buat, dia hanya bisa pasrah saja dengan keadaan.


Airin mendekati nenek sri pelan-pelan karena kakinya yang masih sakit.

__ADS_1


"iya nenek...ada apa..." tanya airin.


" ini... papa mau bicara sama kamu... nenek speaker ya..." kata nenek sri dan langsung menekan tombol speaker tanpa menunggu jawab airin.


"Assalamualaikum papa..." terasa berat suara airin ketika menyebut kata papa.


"Waalaikum salam.... airin apa kabar..."tanya pak iwan sambil mengontrol suaranya supaya terdengar biasa saja.


"Alhamdulillah baik pa... " airin hanya menjawab yang ditanyakan oleh papanya tanpa menanya balik kabarnya.


"udah makan... sama siapa disana..." tanya pak iwan lagi.


"udah kok pa.... makan sama nenek dan ririn juga...." jawab airin singkat.


"ohh ririn juga ada disitu... cuma bertiga aja yang lain pada kemana... tante elsi dimana...." tanya pak iwan mencoba untuk akrab dengan airin.


"iya... tante elsi lagi dinas keluar kota..."jawab airin lagi-lagi dengan singkat.


Diselang perbicaraan airin dengan papanya, mbok ipah datang menghampiri mereka.


"permisi bu.... tukang urut untuk non airin udah datang.... beliau saya suruh tunggu didepan..." kata mbok ipah


"utssss ( sambil meletakan jari tangannya dimulut untuk menyuruh mbok ipah diam) iya... iya... suruh tunggu disana..." kata nenek sri sambil mengisyaratkan untuk membuat minuman untuk tamunya.


Mbok ipah yang paham dengan isyarat nenek sri langsung mengangguk tanda mengerti.


" udah dulu iwan ya.... lagi ada tamu...." nenek sri langsung mencoba mengalihkan pembicaraan.


"tunggu dulu bu... saya dengar tadi tukang urut buat airin... airin kenapa bu...." tanya pak iwan panik.


"airin baik-baik saja.... kamu salah dengar tadi...." jawab nenek sri mencoba mengeles.


"gak bu saya ngak salah dengar... airin... jawab papa nak... kamu kenapa... kamu sakit apa.... jangan bohong sama papa nak.... jawab nak..." pita pak iwan dengan harapan airin berkata jujur padanya.


"papa tenang ya... airin tidak apa-apa... tadi dikampus airin tidak hati-hati jadi kakinya terkilir deh..." kata airin mencoba menenangkan pak iwan.


"yang benar... kamu ngak bohongkan sama papa..." pak iwan mencoba menegaskan lagi jawaban airin.


" iya papa... kalau airin sakit mana mungkin airin ada dirumah telponan sama papa.... iya kan...." ujar airin.


"syukurlah... kamu hati-hati disana... jaga kesehatan... kalau perlu minum vitamin biar vit selalu..." pak iwan mencoba mengingatkan airin.


" iya papa... ya udah... papa jaga juga kesehatan papa... airin tutup dulu telponnya ya... kasian nenek tukang urut udah nungguin airin kelamaan..." kata airin.


" iya sayang.... assalamualaikum...." kata pak iwan dan menutup sambungan telponnya.


"waalaikum salam...." jawab nenek sri serentak dengan airin.


Airin meletakkan telpon sambil menatap dalam telpon yang dipakainya tadi untuk berbicara sama papanya.


Hari ini pertama kali airin merasa lega dan senang mendengar suara papanya. Suara yang sangat dia rindukan selama ini. Suara yang telah lama hilang dari pendengarannya. Dan pada akhirnya dia bisa mendengarkannya lagi.


"Nenek...." panggil airin dengan lembut dan terlihat senyum bahagia diwajahnya.


"iya sayang.... kenapa...." tanya nenek sri.


Nenek sri dapat melihat aura kebahagiaan dari dalam mata airin. Sekarang airin benar tersenyum bahagia. Bukan senyum palsu yang ditampilkan untuk menutup luka.


"Ayok kita kedepan temui nenek itu..." ajak airin sambil menarik tangan nenek sri.


"iya... kamu duluan aja sama ririn..." jawab nenek sri.


"baiklah nek... ririn sini... bantu aku dong...." pinta airin dengan manja sambil menjulurkan kedua tangannya.


"iya...( berlari kecil menghampiri airin) dasar manja... tadi bisa jalan sendiri..." celoteh ririn.


"biarin.... manja sama kamu kan gak dilarang... hehehe..." ujar airin sambil tertawa kecil.


Ririn membantu airin jalan ke depan menemui tukang urut dan semakin menjauh dari nenek sri.


Nenek sri melihat mereka dari dari kejauhan dan menatap punggung airin dengan perasaan sedih.

__ADS_1


"kenapa airin... kenapa kamu sembunyikan rasa sedih dan rasa bahagiamu. Mungkin orang tidak bisa menebak suasana hatimu. Tapi airin, nenek dapat melihat dan merasakan perasaanmu kalau saat ini kamu sangat bahagia setelah mendengar suara papamu. Sepertinya keputusan nenek mendekatimu sama papamu lagi adalah keputusan yang benar. Nenek janji airin, nenek akan mengembalikan masa lalumu yang bahagia dulu. sabar airin ya... sebentar lagi kamu pasti akan bahagia... karena kamu anak yang baik... dan kamu pantas mendapatkan lebahagiaan itu..." batin nenek sri.


__ADS_2