
Nenek sri pun menyusul airin dan ririn ke depan. Terlihat airin sedang duduk didepan tukang urut dengan menjulurkan kakinya kedepan.
"Kaki yang mana terkilir.. nak.."tanya nenek tukang urut.
"Kaki kiri nek... rasanya sakit banget saat airin jalan..."jawab airin sambil menunjukkan kakinya yang terkilir.
"sini kakinya (mengangkat kaki airin ke pangkuannya)... tahan sedikit ya... kalau diurut akan terasa sakit sedikit..." ujar nenek tukang urut sambil memijat-mijat kaki airin.
"iya nek... gak terasa kok sakitnya.. kayaknya airin bisa tahan..." jawab airin sambil nyengir-nyengir.
"itu belum diurut sayang... masih dipijat.. masih dicari yang mana uratnya yang terkilir..." seru nenek sri dari belakang airin.
"eh..nenek... jadi ini apa juga..."tanya airin penasaran.
"itu masih...." jawab nenek sri terputus mendengar teriakan airin.
"aowwww... sakit nek... sakit... lepasin nek... cukup..."teriak airin sambil meringis kesakitan.
Tapi nenek tukang urut itu tidak peduli dengan teriakan airin. Dia terus mengurut kaki airin.
"ririn...(teriak nenek sri) Pegang tangan airin.... jangan sampai dia menarik tangan nenek itu..." perintah nenek sri. Dengan cepat ririn memegang kedua tangan airin dengan kuat dan dibantu oleh simbok.
"sakit nenek... sakit... "teriak airin. Dia sudah menangis sejadi-jadinya.
Tapi nenek itu masih saja mengurut kaki airin dan sedikitpun tidak melepaskannya. Sampai pada akhirnya nenek tukang urut melepaskan kaki airin. Dia membalut kaki airin dengan obat yang telah dibawanya tadi dari rumah.
"ini sudah selesai...(sambil mengikat kaki airin dengan kain)... kenapa teriak- teriak tadi... pasti belum pernah diurut ya..." tanya nenek itu sambil tersenyum melihat airin yang terisak.
"iya.. ini pertama kali airin diurut... ternyata sakit banget..." jawab airin sambil mengelap ingusnya.
"ya sakitlah... urat udah kegesek ditarik kesemula memang sakitlah nak..." kata nenek tukang urut itu lagi.
"tapi nek... kenapa gak dilepasin sih... waktu airin bilang lepas..." tanya airin kesal karena nenek itu tidak mendengarkanya tadi padahal dia sudah sangat kesakitan.
"ya gak bisalah ai... orang lagi ngurut disuruh lepas... nanti uratnya susah lagi dibetulin kalau udah dilepasin...." jawab nenek sri.
"emang iya..." tanya ririn sama airin kompak. Mereka begitu penasaran karena belum pernah melihat orang diurut.
"iya... kalau dilepas... malah lebih sakit karena harus ngulang dari awal... " jelas nenek tukang urut itu.
"ohhh...." jawab mereka lagi dengan kompak. Mereka hanya menganggukkan kepalanya petanda mereka mengerti.
"Mau dicoba.... sini... nenek ulangi lagi..." canda nenek itu.
"ohh... tidak nek... makasih (sambil menarik kakinya menjauh dari nenek tukang urut) sekali aja sakitnya setengah mati... apalagi dua kali... ya ada mati aku nanti..." jawab airin.
Mendengar ocehan airin, semua serentak tertawa. Airin yang merasa diketawai malah cemburut karena kesal.
"orang lagi sakit malah diketawai... memang gak punya perasaan kalian semua..." kata airin sambil memanyunkan bibirnya.
"karena kami punya perasaan makanya kami ketawa... habisnya kamu lucu sih...." jawab ririn yang mencoba menggoda airin.
"ketawalah sepuasmu... kamu memang senang lihat orang susah..." jawab airin yang masih cemberut.
"memang iya... malah senang banget lihat ekpresi kamu saat teriak-teriak tadi.... kenapa gak aku vedio tadi ya...." ujar ririn lagi.
"emangnya kamu tega lihat temanmu ini jadi tontonan orang...." tanya airin dengan muka masih kesal.
"ya enggaklah... masak sih aku tega sama kamu... tapi beneran lucu tadi.... kalau sempat aku rekam pasti kamu ikutan ketawa pas nontonnya..." kata ririn lagi.
"gak makasih.... dasar nyebelin..." ujar airin sambil memalingkan wajahnya.
"ya... dia ngambek... sayangku sini... maaf ya...." pita ririn sambil memeluk airin.
Airin hanya tersenyum ketika sahabatnya itu memeluknya. Nenek sri hanya menggeleng-geleng kepala melihat kelakuan dua bocah ini.
"berapa bu...." tanya nenek sri ketika ingin membayar jasanya.
"lima puluh ribu aja, nyonya..." jawab nenek tukang urut.
"ini bu... (memberikan selembaran uang seratus ribu) makasih banyak telah membantu cucu saya..." kata nenek sri. Nenek selalu ramah kepada siapapun bahkan orang biasa juga.
__ADS_1
" sama-sama... tapi saya tidak ada uang kembaliannya nyonya..." ujar nenek tukang urut itu sambil mengembalikan uang itu kepada nenek.
"ambil saja kembaliannya... anggap aja rezeki ibu hari ini...." kata nenek sri sambil tersenyum manis.
"terimakasih banyak nyonya... kalau begitu saya pamit dulu... assalamuaalaikum..." kata nenek tukang urut sambil mengangkat barang bawaannya tadi.
"waalaikum salam...."jawab mereka semua.
"ayo kita masuk kedalam... kalian berdua langsung kekamar istirahat ya..." perintah nenek sri.
"iya nenek...." jawab mereka kompak.
"ririn.... bantu... masih sakit kakinya..." pita airin dengan manja.
"Dasar manja... " jawab ririn sambil menyubit hidung airin.
"kamu nginap disini kan rin... " tanya airin sambil memasangkan wajah memelasnya.
"iya bawel... lagian malas kali aku pulang ke kosan udah sore..." jawab ririn sambil membantu airin jalan.
"Gitu dong... lagian ngapain di kosan sendirian... mendingan disini... kita bisa nonton drakor nanti...." kata airin mencoba merayu ririn.
"oh iya...." ujar ririn tersenyum manis kearah airin.
"nonton boleh.... tapi jangan sampai bergadang ya..." nenek sri mencoba mengingatkan mereka.
"oke nenek..." jawab ririn.
" siap komandan.... kami ke atas dulu ya..." jawab airin sambil berlalu meninggalkan nenek sendiri.
Beberapa bulan kemudian....
Terlihat beberapa mahasiswa sedang menunggu diluar ruangan sidang. Diantaranya itu ada airin dan ririn juga. Mereka seperti ditakdirkan untuk melakukan semua hal bersama termasuk sidang skripsi sebagai tugas terakhir mereka sebagai mahasiswa.
"ririn... aku deg-degan sekali... bentar lagi gilaran aku... gimana ne..." airin terlihat begitu panik menunggu gilirannya.
"jangan bikin paniklah... aku juga panik bukan kamu aja....." jawab ririn yang gak kalah panik dari airin.
"Amiiin .... tapi Airin.... kok sedih sekali sih doa kamu.... " ujar ririn dan memeluk sahabatnya itu.
"gak lah... aku meminta yang terbaik untuk kita.... sekaligus doa untuk menghilangkan panik...." jawab airin sambil melepaskan pelukan ririn.
"Masak sih... Perasaan tadi kamu gak nyebut kata-kata panik..." ujar ririn
"Ada tadi... dalam hatiku... buktinya panikku udah sedikit menghilang...." jawab airin dengan raut wajah mulai tenang.
"Airini Putri Sanjaya...." terdengar nama airin dipanggil dari dalam ruangan.
"airin... giliran kamu tuh...." seru winda salah satu teman airin dikampus.
"iya... iya... (airin berpaling kearah ririn) doain aku ya... semoga sidangku lancar...aminnn..."kata airin sambil meninggalkan ririn sendirian diluar.
"Aminnn... cepat sana.... semangat ya..." kata ririn mencoba menyrmati airin.
Perkataan ririn hanya dibalas anggukan kepala airin. Airin pun masuk Kedalam ruangan sidang.
Sejam lebih airin didalam ruangan. Ririn menunggu dengan panik karena setelah airin akan tiba gilirannya pula untuk disidang.
Airin membukakan pintu ruangan dari dalam dan menoleh kearah ririn. Belum sempat mengatakan hasilnya pada ririn, nama ririn sudah dipanggil duluan dan ririn bergegas masuk kedalam.
"ririn...."panggil airin.
"iya... aku masuk dulu ya... giliran aku sekarang...." ujar ririn.
"iya... semangat ya... jangan panik..." kata airin menyemangati ririn balik.
"iya.... doain ya... semoga lancar...." pita ririn sambil buru-buru masuk kedalam ruangan sidang. Airin hanya tersenyum manis kearah ririn.
"ufhhhh... belum sempat memberitahu ririn kalau aku lolos... dia udah keburu dipanggil masuk juga... ya udah deh.... nanti aja... biar barengan kasih tahunya... semoga ririn lolos juga sidang skripsinya... biar kami bisa ngelamar kerja dikantor impian kami... aminnnn" barin airin.
Setelah menunggu dengan cukup lama akhirnya ririn keluar juga dengan muka masam. Airin begitu terkejut melihat muka sahabatnya itu ditekuk begitu.
__ADS_1
"ririn.... kenapa kamu.... bagaimana sidangnya...."tanya airin dengan hati-hati. Dia takut salah ngomong karena melihat muka ririn begitu masam kayak orang mau nangis.
"Airin......."teriak ririn dan langsung memeluk airin. Dia tidak bisa menahan air matanya lagi. Begitu memeluk airin air matanya langsung tumpah tak terbendung.
"ririn... kamu kenapa..." airin membalas pelukan ririn. Airin begitu panik melihat sahabatnya itu tiba-tiba menangis ditambah lagi semua orang melihat mereka.
"Airin....Airin...."ririn tidak bisa berkata-kata lagi. Dia sudah sesegukan menyebut nama airin dan semakin erat memeluknya.
Airin mencoba mengarahkan ririn untuk duduk dan mencoba menenangkannya.
"ririn.... kamu kenapa... jangan bikin paniklah.... jangan begini... malu dilihatin orang...." kata airin dengan panik namun juga risih dilihatin banyak orang.
"Aku lulus sidang ai.... aku gak menyangka kalau aku lulus.... aku sungguh-sungguh terkejut.... aku lulus... ini bukan mimpikan..." jawab ririn dengan sesegukan karena tidak bisa menahan tangisnya itu.
Airin hanya tersenyum mendengar jawaban sahabatnya itu. Dia menangis bukan karena gagal namun ririn terkejut karena dia lulus.
"ohhh.... sayang...sini... cup..cup..cup...(menarik ririn kepelukannya lagi sambil mengelus-elus kepalanya) jangan nangis lagi ya.... nanti dibeliin es krim...." airin mencoba menggoda ririn yang masih menangis.
"Apaan sih kamu... orang lagi senang malah dibercandain...." omel ririn karena udah bibuat kayak anak kecil oleh airin.
"ohhh lagi senang toh..... pikir lagi sedih putus cinta.... sampai seluruh kamu lihatin kamu..." kata airin sambil melepaskan pelukannya.
Ririn melihat kesekitarnya, ternyata begitu banyak mahasiswa memperhatikannya. Ririn langsung menarik airin dan ngajaknya pergi dari sana.
Ririn memutuskan untuk pergi ke kantin kampus untuk melampiaskan rasanya. Sedih maupun senang tetap makanan yang jadi pelampiasan ririn.
"sudah kuduga... kamu pasti menarik aku kesini...." kata airin. Dia menarik kursi dan duduk didepan ririn.
"ya iyalah... kemana lagi kita mau pergi... ini salah satu tempat favoritku yang dapat menghilangkan rasaku yang berlebihan..." ujar ririn sambil memesan makanannya.
"saking senangnya....kayaknya kamu melupakan sesuatu ya..."tanya airin yang mencoba membuat ririn penasaran.
"enggak kok... kayaknya gak ada... semuanya ada disini...." jawab ririn polos sambil mengecek tasnya takut ada barangnya yang tertinggal diruangan sidang.
"coba ingat lagi.... masak sih kamu lupa... padahal tadi kita barengan tadi..." pita airin.
"benar ai... gak ada yang kelupaan..."jawab ririn sunggug-sungguh.
"Ternyata memang benar kata orang ya... kalau udah senang maka akan lupa sama orang lain...." kata airin dengan mimik wajah yang dibuat sedih.
"masuknya... gak ngerti aku... siapa lupa sama siapa..." tanya ririn lagi.
"kamu lupa sama aku.... (pura-pura melap air mata dengan tisu) kamu sudah lulus sidang... tapi aku..." kata airin sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan.
Ririn langsung teringat kalau airin juga sidang tadi. Ririn langsung merasa bersalag kepada airin.
"airin sungguh aku tidak tahu... karena aku yakin seratus persen kamu akan lulus sidang... jadi aku...." kata ririn terpotong karena merasa bersalah pada airin.
"tidak apa-apa rin.... asalkan kamu lulus... aku tidak masalah...aku senang kalau kamu senang..."jawab airin dengan muka sedih padahal dia mau ketawa melihat wajah ririn.
"tidak bisa begitulah ai... bagaimana bisa aku senang kalau begini..."jawab ririn lagi.
"tidak masalah ririn... aku tidak apa-apa... benaran aku tidak apa-apa. Lebih baik kita makan aja, makannya pun sudah sampai..." ujar airin dengan wajah datar.
"bagaimana bisa aku makan... airin sungguh aku minta maaf... lebih baik kita pulang aja yuk...." ajak ririn dengan muka semakin merasa bersalah.
"sungguh aku tidak apa-apa rin..." Sambil menyendokkan nasi kemulutnya.
Ririn hanya terdiam seribu bahasa melihat tingkan airin yang aneh. Antara percaya dan tidak percaya namun dia tidak berani bertanya lebih lagi karena melihat wajah airin yang datar tanpa ekspresi.
"benaran rin... aku tidak apa-apa... aku lulus kok... kenapa harus ada apa-apa... hahahahah" gelak tawa airin pecah yang dicoba tahan sedari tadi.
"kamu mah... bikin orang panik aja..." ujar ririn cemberut sambil membuang nafas lega.
"maaf... kamu habisnya buat aku panik tadi... makanya aku balas..." jawab airin sambil senyum-senyum.
"Tapi beneran panik aku tadi... pas kamu bilang... kamu lulus tapi aku... aku langsung kepikiran kamu tidak lulus..." kata ririn yang masih merasa panik karena diprank ririn.
"eits... salah sendiri.. kenapa gak nanya... orang tua kan sering berkata... malu bertanya ya jalan-jalan... hahaha.."kata airin yang sangat senang karena telh mengerjai ririn.
"senang kamu ya... ketawa terus... nanti ada waktunya aku balas...."sahut ririn kesal. Dia langsung melahap makanan sebagai pelampiasan kekesalannya pada airin.
__ADS_1
"iya maaf... gak lagi-lagi... cuma bercanda kok..." ujar airin disambut senyum terpaksa ririn.