AKU AIRIN BUKAN AIRA

AKU AIRIN BUKAN AIRA
Bab. 6 Kasih Terbagi


__ADS_3

Pak iwan dan bu dewi kini sudah berada diruangan dokter. Tampak seorang wanita cantik lengkap dengan seragam putih sedang duduk dikursi depan pak iwan dan bu dewi.


" Selamat siang dok...." sapa bu dewi sembari melempar senyum pada dokter.


"Selamat siang bu... pak... silakan duduk..." balas dokter mira.


ya...selama ini yang menanggani airana putri sanjaya adalah Dokter Mira anjani. Dokter spesialis jantung ternama di jakarta. Kebetulan beliau juga yang membantu bu dewi lahiran 5 tahun yang lalu.


" maaf dok... kenapa dokter memanggil kami... apakah putri saya baik-baik saja...." tanya bu dewi.


"iya bu... putri ibu baik-baik saja...cuma..." ujar dokter mira. Belum selesai bicara sudah dipotong oleh bu dewi.


"cuma kenapa dok... apa operasinya gagal..." tanya bu dewi dengan cemas.


"tenang ma.... dengar dulu... apa yang ingin dokter mira katakan..." ujar pak iwan mencoba menenangkan bu dewi. Bu dewi hanya menganggukkan kepalanya.


"Begini bu... operasinya memang berhasil karena kami telah memasang alat bantu pada jantung aira... tapi besar kemungkinan aira akan mengalami serangan jantung lagi secara tiba-tiba apa bila kelelahan ataupun emosinya tidak stabil, seperti kejadian sekarang ini..." ungkap dokter mira.


"Apa dok.. serangan jantung lagi..." bu dewi menutup mulut seakan tidak pecaya dengan apa yang didengarnya.


"Tenang bu... tenang...." Pak iwan memeluk bu dewi untuk menenangkannya.


"Tapi bagaimana bisa... bukan kah operasinya berjalan lancar..."tanya bu dewi lagi.


"iya bu... operasi anak ibu memang berjalan lancar. Tapi kami hanya memasang alat bantu saja.... Aira membutuhkan donor jantung supaya hidup normal layaknya anak seusianya..." jelas dokter mira.


"Jadi apa yang harus kami lakukan dok... bagaimana bisa kami mencari pendonor jantung (bu dewi merasa mustahil untuk mendapatkan donor jantung) apakah dirumah sakit ini tidak ada yang donor jantung..." tanya bu dewi lagi.


"Ada bu... tapi tidak cocok dengan aira.... jika memang nanti ada donor jantung yang cocok untuk aira.... pihak rumah sakit akan menghubungi ibu..." ujar dokter mira.


Bu dewi hanya duduk mematung. Sedangkan pak iwan yang sedari tadi hanya diam saja mencoba menenangkan bu dewi dengan mengelus- elus pundak bu dewi.


"Jadi... apa yang harus kami lakukan dokter supaya putri kami baik-baik saja..." bu dewi berbicara dengan dokter namun pandangnya kosong. Entah apa yang dilihatnya. Dia seperti tidak ada gairah hidup lagi.


"Tenang saja bu...asalkan ibu jauhkan aira dari ketinggian, jangan buat dikaget dan juga kelelahan. Maka aira akan baik-baik saja...." jelas dokter mira.


"Berarti anak saja tidak bisa hidup normal seperti anak pada umumnya..."sambung bu dewi dengan senyum kecut dibibirnya.


"sayang... itu lebih baik dari pada aira sakit...." sahut pak iwan.


"iya pa... kamu benar. Asalkan aira baik-baik saja. Dan selalu bersama kita, aku akan lakukan apapun untuknya..." ujar bu dewi.


"oh ya bu satu lagi... tolong ibu chek up aira secara rutin setiap bulannya. Karena kondisi aira masih belum stabil... " sambung dokter mira.


"baik dok.... kami akan rutin membawa aira kesini..." balas pak iwan.


"Terima kasih dok ya... kami permisi dulu..." ujar bu dewi sambil menjulurkan tangannya untuk bersalaman.


"iya sama- sama bu..." menerima tangan bu dewi. Dan juga diikuti oleh pak iwan.


Pak iwan dan istrinya kembali keruangan aira. Disana tampak airin dan aira sedang bercakap-cakap. Entah apa yang mereka bicarakan namun mereka tanpa asyik sekali.


sekali-sekali terdengar tawa dari kedua bocil itu.


" kalian lagi apa... kok nampak happy sekali..." tanya bu dewi yang tiba-tiba menyela pembicaraan mereka.


"mama....." seru mereka berdua. mereka menghentikan aktivitas mereka.


"iya... sayang udah bangun...(memeluk aira yang sedang duduk diranjang) gimana rasanya... masih sakit..." sambil memegang bagian dada aira.


"enggak kok ma.. gak sakit lagi..." jawab aira sambil tersenyum manis.


"mama..." panggil airin


"iya... sayang...(menoleh kearah airin dan hanya mengelus kepalanya) ada apa..." tanya mamanya.


Airin sebenarnya juga ingin dipeluk oleh mamanya. Namun dia urungkan niatnya takut mamanya capek menggendongnya. Karena mama sudah lelah seharian menjaga aira.


" ini tisu ma... wajah mama berkeringat... pasti kecapean..." ujar airin sambil meraih tisu disampingnya dan memberikan pada mamanya.


"makasih sayang...(mengambil tisu yang diberikan oleh airin) oh ya... airin duduk kesana ya... sama nenek sri. aira mau istirahat dulu..." ujar bu dewi.


"iya ma...( airin nampak sangat nurut sama mamanya) aira....aku kesana dulu ya... nanti kita cerita lagi..." kata airin.


"iya airin.... kamu juga istirahat ya...." balas aira. Airin hanya tersenyum manis pada aira.


"udah aira... istirahat dulu... kalau banyak cerita malah kecapean nanti... cepat tidur..." perintah bu dewi sambil merapikan selimut yang dipakai aira.


Satu minggu kemudian aira sudah mulai membaik. Sekarang aira sudah diizinin pulang oleh dokter dengan catatan aira harus rajin chek up ke dokter.


Hari-hari terus berlalu. Dan mereka pun disibukkan dengan aktivitas mereka masing-masing.


Dan mereka tidak pernah lupa jadwal chek up aira. Kini aira semakin dibatasi geraknya oleh mamanya karena alasan takut dia kelelahan. Sekarang bu dewi sudah semakin posesif pada aira.


Bahkan bu dewi membatasi aira bermain dengan airin. Tepatnya lagi bu dewi mulai mengabaikan airin namun dimata aira bu dewi mengengkangnya sedangkan airin bebas main kemanapun dia mau.

__ADS_1


Kini aira mulai iri sama airin bahkan sampai mereka masuk sd. Pernah airin mendapatkan rangking pertama disekolahnya dan disenengi oleh kawan- kawannya. Itupun membuat aira marah.


Pasalnya dia menganggap airin terlalu beruntung disayangi oleh semua orang tidak seperti dirinya penyakitan seakan-akan semua orang menjauhinya.


Pulang dari sekolah aira melempar tas sekolahnya dengan kasar. Dia marah-marah pada airin.


"kenapa selalu dipeluk rapornya... mau pamer... mau kasih tahu kalau kamu lebih pintar dari aku..." bentak aira.


"tidak kok aira.... aku cuma mau kasih lihat mama kalau aku dapat juara..." balas airin.


"alah...sama saja.. kamu mau pamerkan.... mau perlihatkan sama mama kalau kamu pintar kalau aku bodoh... ya kan...." bentak aira lagi


"enggak kok aira...." sahut airin.


"Asal kamu tahu aja ya... andaikan aku gak sakit dan bisa belajar kayak kamu...( sambil menunjuk airin) pasti aku lebih pintar dari kamu..." ujar aira.


"memangnya salah kalau airin dapat juara..." tanya airin lagi


" ya salahlah... gara-gara kamu semua orang membanding-bandingi aku sama kamu.... bahkan papa sama mama lebih sayang sama kamu.." jawab aira dengan amarahnya.


"tapi aira.... mama lebih sayang sama kamu dari pada sama aku..." dengan mimik sedih airin mengatakannya. selama ini dia belajar dengan keras agar mendapat pujian dari mamanya. Ternyata dia salah, malah saudara kembarnya malah marah sama dia.


"tidak... kamu bohong... kamu bohong..." teriak aira. Aira memegang dadanya. Dia merasa sesak dan kepala merasa berat.


brukkk... tubuh aira jatuh kelantai. Airin terkejut dan langsung memanggil mamanya.


"ma.... mama..." teriak airin panik sekaligus ketakutan.


"iya.. kenapa..." balas bu dewi santai dari arah dapur.


"mama...(teriak airin lagi)...aira jatuh ma..mama.." mencoba memanggil mamanya.


"apa aira jatuh..." pekik bu dewi. Dia langsung lari kearah aira. Mbok aini juga mengikutiny dari belakang.


"Ya Allah... aira... apa yang terjadi....(sambil mengendong aira) Mbok pak Ali suruh dia siapkan mobil... kita harus bawa aira kerumah sakit." kata bu dewi.


Mbok aini langsung menuju ke tempat pak ali. Nampak pak ali sedang ngopi dengan pak abdul.


"Pak ali... siapkan mobil sekarang... ibu mau pergi kerumah sakit...non aira pingsan..." teriak mbok aini.


"Apa non aira pingsan.... baik mbok... saya bawakan mobil sekarang..." jawab pak ali.


Pak ali sudah menunggu didepan pintu. Tampak bu dewi keluar dengan menggendong aira disusul dengan airin dibelakang.


Bu dewi duduk dibaris belakang dengan aira dalam pelukannya dan airin didepan dengan pak ali.


Sesampainya dirumah sakit aira langsung dibawa keruangan IGD. Dan langsung ditangani oleh dokter mira.


Dokter mira keluar dari ruangan IGD dan mendekati bu dewi.


"bagaimana keadaan aira dok...." tanya bu dewi cemas.


"aira baik-baik saja.... untung ibu cepat membawa aira kemari...." balas dokter mira.


"Syukurlah...."ujar bu dewi tampak lega mendengarnya.


"Tapi bu... bagaimana bisa aira pingsan... apa dia kelelahan..." tanya dokter mira penasaran.


"Tidak dok... saya selalu membatasi kegiatan aira agar dia tidak kelelahan..." jawab bu dewi. Dia juga tampak bingung bagaimana bisa aira bisa tiba-tiba pingsan.


"Apa dia lagi stess atau lainnya..." tanya dokter mira lagi.


"saya rasa tidak dok...(mulai berfikir dan seketika menoleh kearah airin) airin... kenapa aira bisa pingsan tadi... kan kamu yang ada bersama dia tadi" tanya bu dewi.


"Tadi pulang sekolah aira marah sama airin..."jawab airin polos.


"marah kenapa sayang..." tanya dokter mira dengan hati-hati. Dia perlu jawaban airin agar bisa mengetahui penyebab aira pingsan.


"aira marah karena airin dapat juara 1 dikelas dan dia enggak ada juara. Dia bilang aku mau pamer ke aira... padahal itu tidak benar dok..." airin menjelaskan semua kejadian tadi.


"ohh.. pintar sekali airin dapat juara..." puji dokter mira. Airin hanya tersenyum saja.


"jadi saya mengerti sekarang... Jantung aira tidak bisa menahan tekan emosi yang berlebihan.." seru dokter mira.


"maksud dokter gimana..." tanya bu dewi masih bingung dengan ucapan dokter mira.


Tiba-tiba pak iwan datang dang menghampiri mereka.


"mama... bagaimana keadaan aira.." tanya pak iwan.


"aira baik-baik saja... ne mau dipindahkan keruangan ICU..." jawab bu dewi.


"syukurlah... tapi bagaimana bisa aira tiba-tiba pingsan..." tanya pak iwan.


Bu dewi menceritakan semua kronologi kejadian dirumah termasuk apa yang diceritakan oleh aira.

__ADS_1


"Jadi begini pak..bu... pasien yang mengidam penyakit jantung emosinya tidak stabil. Jadi jangan buat dia marah, sedih dan juga tidak boleh dikagetkan. Apabila itu terjadi... ya beginilah akibatnya.." tutur dokter mira.


"Jadi... selain kelelahan.. emosi aira juga harus dijaga dokter ya.." tanya bu dewi.


"Iya bu... karena terkadang jantung aira tidak bisa menampung emosi yang berlebihan... bila itu terjadi dia akan merasa sesak didadanya...makanya ibu harus sangat menjaga kondisi aira..." ujar bu dewi.


"baik dok... saya mengerti...." jawab bu dewi.


"saya permisi dulu...bu" ujar dokter.


"iya... terima kasih banyak dok..." balas bu dewi.


Dokter mira hanya tersenyum dan meninggalkan mereka di depan ruangan aira.


Bu dewi hanya duduk diam di kursi tunggu. Airin datang menghampiri bu dewi.


"Mama....maafin airin ya... karena airin... aira jadi sakit..." ucap airin dengan pelan.


"maaf kamu bilang... gara-gara kamu kakakmu sakit lagi... " kata bu dewi dengan kasar kepada airin.


"mama... apa-apa kamu... jangan menyalahkan airin seperti itu.." teriak pak iwan dan menarik airin kepelukannya.


"iya pa... ini semua karena dia....papa masih ingat kejadian dirumah balon... jika dia tidak minta menaiki rumah balon aira pasti baik-baik saja... dan sekarang dia juga yang membuat aira terbaring lagi dirumah sakit..." ujar bu dewi.


"Tapi ma... itu gak da kaitannya dengan airin..." mencoba membela airin.


"apa tidak ada kaitannya semua itu gara-gara dia...sini kamu...sini..." menarik paksa airin


"apa yang ingin kamu perlihatkan... kamu pintar... kamu cantik...mama gak butuh itu semua dari kamu... tahu..." kata bu dewi sambil menggoyang-goyangkan tubuh airin.


"maaf ma.... airin tidak sengaja... airin hanya ingin membuat mama senang aja bilang mendengar airin juara" ucap airin dengan airmata yang sudah mulai mengenang.


"dengar airin... mama tidak butuh itu semua... yang mama butuh hanya ketenangan... bisakah kamu tidak membuat kekacauan lagi..." teriak bu dewi yang semakin kuat mencengkram tangan airin.


"sakit ma..." airin meringis kesakitan.


"mama... apa yang kamu lakukan...." ujar pak iwan.


"Aku hanya memberi dia sedikit rasa sakit... kamu sudah panik... lihat putriku tidak berdaya disana.. apa kamu tidak panik..." tanya bu dewi.


"tapi airin putri kita juga...kenapa kamu begitu padanya..." pak iwan tidak habis fikir dengan sikap istrinya.


"dia memang putriku juga... tapi airin bisa menanggung semua beban didunia ini... tapi aira tidak..." jawab bu dewi.


"Bagaimana kamu bisa tahu... airin juga rapuh ma... dia juga butuh kamu..." kata pak iwan.


"Dia tidak butuh aku....karena dia kuat... aira yang lebih membutuhkan ku.." teriak bu dewi lagi.


Jlebbb... bagaikan petir disiang bolong mendengar mamanya sendiri berkata seperti itu. Tanpa sadar air mata tumpah dengar sendirinya.


Dia segera menyekat air matanya. "airin tidak sekuat itu ma... airin juga butuh mama.... airin juga rapuh ma.." batin airin.


"papa... yang dikatakan mama benar.. aira lagi sakit... aira lebih membutuhkan mama dibandingkan airin..." jawab airin..


" tapi sayang..." ujar pak iwan


"kan airin ada papa..." memeluk papanya.


"maafkan papa nak..." batin pak iwan sambil memeluk erat putrinya.


"mama.... airin janji tidak akan membuat mama sedih lagi... airin akan lakukan apapun yang mama minta pada airin..." ujar airin.


"baiklah.... dengar airin ya... aira sakit parah... jadi mama minta tolong sama kamu...tolong jaga dia dan jangan pernah membuat dia seperti ini lagi..." pita bu dewi.


"iya ma... airin janji... airin tidak akan membuat aira marah atau sedih lagi..." janji airin pada mamanya.


"bagus airin... ternyata kamu memang seperti mama fikirkan... kamu harus kuat....jangan lemah" ujar bu dewi lagi.


"sini mama lihat tangan mu...( sambil melihat tangan airi yang sedikit membiru) sakit ya... maafin mama ya..." ada rasa sedikit perasaan menyesal dari benak bu dewi. Dia pun memeluk putri kecilnya itu.


"iya ma...airin ngak papa..kok" senyum indah airin terlukis dibibirnya. Dia sangat senang mamanya mau memeluknya lagi. Dipeluknya lagi mamanya erat- erat karena setelah itu dia tidak tahu kapan bisa memeluk mamanya lagi.


Prov airin.


*mama... asalkan mama tahu, dunia airin adalah mama. Namun dalam dunia mama tidak pernah ada airin.


Tapi jika memang dengan mengalah dari aira membuat mama bahagia. Airin siap melakukan apapun untuk aira jika balasannya pelukanmu ma...


Airin akan mundur dan akan berpura-pura bodoh kalau itu yang aira inginkan dari airin.


Airin janji tidak akan membuat mama menangis lagi seperti ini. Airin akan menciptakan ketenangan yang mama minta dari airin.


Tapi ma.... tolong peluklah airin sekali saja karena memang mama mencintai airin seperti dulu bukan karena aira.


Aku airin ma bukan aira. Aira memang sakit ma...Namun aku juga rapuh ma. aku butuh mama juga.

__ADS_1


ohhh airin... jangan lah egois. mama begini juga karena aira sakit. Kamu harus kuat seperti yang mama katakan. Kamu harus sanggup menanggung beban dunia ini...


kamu harus kuat airin*......


__ADS_2