
Wanita muda itu terus menatap airin. Dia menyesal telah menimbulkan luka lama sahabatnya itu. Sebenarnya ririn tidak tega melihat sahabatnya itu sedih namun dia juga tak ingin membuat temannya itu menyesal nanti.
Karena selama ini dia tahu bawa airin sangat menyayangi papanya begitu pun sebaliknya. Mereka sama-sama saling menyayangi namun mereka harus saling mengikhlaskan untuk kebahagiaan mamanya.
Wanita yang sangat airin sayangi melebihi dirinya sendiri. Bahkan dia rela menjauh dari kehidupan mamanya agar mamanya bahagia.
Memang diluar logika, seorang ibu mampu membuat luka terlalu dalam untuk anaknya. Namun itu yang dirasakan airin. Selama aira masih memendam kebencian kepada airin maka selama itu pun mamanya akan terus menyakiti hati airin.
Ririn bangkit dari duduknya. Dipeluknya sahabatnya itu dari belakang dengan pelukan kasih sayang. Dia tahu ada kehampaan didalam diri airin. Dia terlihat baik-baik saja dari luar namun sebenarnya dia sangat rapuh.
"kenapa kamu... pakai meluk segala... takut aku hilang... " ejek airin yang sedari tadi diam saja ketika ririn memeluknya.
"iya... aku takut kamu nanti diambil orang...(semakin erat memeluk airin) tapi kalau pangeran berkuda putih yang ambil gak masalah...khek..khek.." balas ririn yang mencoba mengoda ririn.
"hello baby sweetyku...... zaman sekarang ada pangeran... mimpi kali... yang ada sugar dady tu yang banyak... makan tu sugar dady..." ujar airin. ririn melepaskan pelukannya dan kembali duduk didepan airin.
"kalau sugar dady emangnya kenapa... aku mau aja kalau ada... asalkan ganteng.... kaya.... baik.. perhatian... perfect lah..." kata ririn sambil menahan dagunya dengan tangan.
"Dasar ne anak kayaknya udah kesambet.... "ujar airin sambil memukul jidat ririn.
"oawww.... sakit tahu..."teriak ririn sambil mengelus-elus jidatnya yang sakit.
"biarin... biar sadar kamunya... dimana-mana duda itu pasti kayak om-om dan udah tua... punya anak lagi... jangan menghayal kaya duda korea... hello sayangku... sugar dady dinegara kita jauh banget dari oppa korea...." sahut airin.
"enggak tu... coba lihat disosmed... banyak juga sugar dady yang cakep kayak oppa korea disini.... "balas ririn lagi.
"oke... ada... tapi dia mau ngak sama kamu yang anak ingusan... jajan aja masih minta... sugar dady kamu tu biasanya cari calon istri yang mandiri yang apa-apa bisa sendiri. kalau kamu..(memerhatikan ririn dari uj7ng rambut sampai ujung kaki) kayaknya dia gak mau... masak telor aja gosong apalagi kalau disuruh ngurus anaknya. bukan menghilangkan beban malah nambah beban.... harus ngurus dua bocil lagi....hahahaha" ketawa airin pecah. Dia bisa membayangkan bagaimana ririn jadi ibu dadakan.
"ihhh kamu mah... jatuhin martabat aku... memang sahabat tak mendukung impian sahabatnya..." ririn memanyunkan mulutnya.
"kek mana mau dukung sayang...... hayalannya aja aneh... orang biasanya suka sama kakak kelas.. atau cowok ganteng.. ne kamu sukanya sugar dady... kan aneh..." sambil menyubit pipi ririn.
"kamu kan belum terpesona sama wibawa sugar dady... coba kalau tahu kekuatan dari pesona seorang sugar dady.. pasti menjerit kamunya..." balas ririn.
"gak mau tahu... dan gak bakal tergoda aku.. no level... amit-amit aja.... ihhh coba bayangi seorang airin jatuh cinta sama om-om. Apa kata nenek ku.. pikir aku gak laku lagi..."airin nampak geli sendiri memikirkan itu.
"mana tahu nanti kamu doyannya sama om-om ganteng plus kaya raya.... kamu dijadiin tuan putri olehnya... kan enak tinggal duduk manis aja..." ririn semakin menggoda airin.
"gak bakalan mau aku... tidak mau... mau dia ganteng kek... mau dia kaya... mau dia kek manapun... tetap yang namanya sugar dady itu gak ada dalam kamus hidup aku. titik.... bodoh amat sama dia... aku tetap amit-amit sama tu sugar dady... amit-amit..... amit-amit...." ujar airin sambil tangannya memukul jidat dan memukulnya lagi ke meja.
"hy...... gak segitunya juga kali... hati-hati loh... kamu bilang begitu nanti malah nemplok betulan sama tu sugar dady.... baru tahu rasa..." balas ririn mengoda airin.
"gak mau... udah ah... jangan bahas itu lagi... malas kali aku... daripada bahan yang gak jelas mending kita cabut pulang... yuk..." ajak airin sambil menghabiskan minuman yang dipesannya tadi.
"yuk... aku pun dah merasa capek banget ne... maunya rebahan dikasur..."jawab ririn.
Mereka pun beranjak dari sana. Mereka memutuskan jalan kaki menyusuri jalan setapak menuju station bus terdekat.
__ADS_1
Di tengah perjalanan tidak sengaja seorang laki-laki menabrak tubuh airin. Seketika airin terjatuh dijalan dan lututnya terluka.
Tapi bukan malah bantuin airin, lelaki itu malah terus berlari dengan kencang. Airin mengupat kesal melihat tingkah laki-laki tersebut.
"Dasar lelaki sialan... bukan nolongin malah ninggalin seenaknya... gak tau sopan santun...." upat airin.
"kamu gak pa pa... ada yang luka..." tanya ririn panik. Dia langsung mengangkat sahabatnya itu.
"gak papa... tenang aja..." jawab airin santai.
"airin darah.... lutut kamu berdarah... duduk sini dulu..." ririn mengarahkan airin duduk dipinggir jalan.
"ohhh... pantesan tadi rada perih... ternyata kegores sikit..." jawab arin dengan santainya sambil mengelap lututnya yang berdarah.
"ne anak udah mati rasa kayaknya... luka segede itu... dianya malah santai aja...." ujar ririn dengan emosi. Dia marah karena airin menyepelekan lukanya.
"bisa jalan... kalau bisa mari saya antar ke klinik terdekat sini..." terdengar suara ujung sana.
Mereka serentak menoleh ke sumber suara tadi. Terlihat seorang laki-laki tampan dengan setelan jas hitam lengkap dengan sepatu yang berkilat sedang menuju kearah mereka.
Untuk beberapa menit airin dan ririn terpesona dengan wibawa pria tampan itu. Hingga suara anak kecil membuyarkan lamunan mereka.
"Tante.... Tante... tante tidak apa apa kan...."tanya anak kecil itu sambil memegang tangan airin.
Airin tersenyum manis pada anak perempuan itu. "iya sayang... tante tidak apa-apa... "
"tapi tante.... lutut tante berdarah... " lanjutnya lagi sambil memegang lutut airin.
"raiya.... jangan..." panggil randy sambil menarik tangan raiya untuk menjauh dari airin.
yup... lelaki yang menabrak airin tadi adalah randy putra gunawan. Pengusaha sukses diindonesia. Dan gadia kecil tadi adalah raiya putri gunawan.
Randy tidak sengaja menabrak airin tadi. dia buru-buru mengejar raiya yang tiba-tiba keluar dari mobil dan mengejar tukang balon.
"Maaf mbak ya.... tadi saya tidak sengaja... saya lagi buru-buru ngejar raiya..." ujar randy.
"tidak apa- apa pak.... " jawab airin seadanya.
"tapi kaki tante terluka papa... ayok kita obati dulu...." ujar raiya.
"iya sayang.... papa ngomong dulu sama tantenya ya... raiya diam dulu..." perintah randy.
Raiya hanya mengangguk dengan patuh. Dia tidak pernah membantah perkataan papanya. Airin hanya terdiam melihatnya.
"Mbak lebih baik masuk mobil saya sekarang... saya antar mbak ke klinik terdekat sini biar bisa diobati kakinya..." ujar randy dangan nada perintahnya.
"apa- apaan ne orang... mau nolongin apa mau perintah anak buahnya ne... serem banget mukanya..." batin airin sambil melirik ririn.
__ADS_1
Ririn hanya senyam senyum aja dari tadi. Dia tidak bisa mengalihkan padangannya dari randy semenjak pertama melihatnya.
"gak apa- apa kok pak.... biar saya obati sendiri nanti dirumah... ngak usah merepotkan..." kata airin sambil mengisyaratkan ririn untuk membantunya jalan. Namun ririn masih saja mematung.
"kamu kan gak bisa jalan... lukanya lumayan parah loh... cepat masuk mobil saya...(memalingkan wajahnya ke ririn) .... mbaknya tolong bantu temannya masuk ke mobil.... biar saya antar..." perintah randy tanpa basa basi.
"baik pak.... yang mana mobilnya..." tanya ririn yang baru sadar dari lamunannya setelah disapa randy.
"itu mobil raiya tante...." jawab raiya sambil menunjukkan mobil warna hitam yang diparkir dipinggir jalan.
Ririn pun membantu airin berjalan menuju mobil randy. Airin masuk di kursi belakang bersama raiya dan randy. Sedangkan ririn didepan bersama sopirnya randy.
Mobilnya melaju mencari klinik terdekat. Namun airin meminta randy untuk mengantarnya pulang saja. Dia tidak ingin merepotkan orang lain.
"Maaf pak... lebih baik antar saya pulang saja... nanti biar saya obati sendiri lukanya..." pita airin pada randy.
"Tapi airin... luka kamu itu dalam...." sahut ririn.
"mana ada... nanti diobati sama nenek udah sembuh.... jangan lebay kali lah kamu..." kata airin mencoba membantah perkataan sahabatnya itu.
"benaran gak usah ke klinik..." tanya randy meyakinkan sekali lagi.
"benar pak.... terima kasih pak atas tawarannya. tapi memang saya tidak apa-apa kok..." jawab airin lagi sambil tersenyum tipis.
"baiklah.... pak antar mbak ini kerumahnya ya... kita gak jadi kek klinik..." perintah randy.
"baik pak..." sahut sopirnya.
Beberapa menit kemudian mobil randy berhenti didepan rumah airin. Terlihat seorang nenek sedang asyik membongkar-bongkar pot bunga.
"berhenti didepan pak...saya sudah sampai... itu rumah saya..." ujar airin sambil menunjuk rumahnya. Pak sopir pun memberhentikan mobil tepat didepan pintu pagar rumahnya.
Dengan singgap ririn keluar dari mobil dan membantu airin keluar. Kalau menunggu randy sampai kiamat pun tidak akan dibantu.
"hati-hati ai... sini aku bantu..." sambil membantu airin berdiri.
"Tante.... masih sakit ya...." tanya raiya polos dan ikut keluar dari mobil mengantar airin.
"gak kok... cuma sakit sedikit... bentar lagi juga sembuh...." jawab airin sambil mengacak-acak rambut raiya.
"sini tante....( airin membungkukkan badannya) cup.... cepat sembuh tante ya...." raiya mengecup pipi airin.
airin tersenyum manis kepada raiya " iya... makasih ya..."
"raiya.. udah... ayok pulang..." ajak randy.
"iya papa....(menoleh kembali kearah airin) tante.... raiya pulang dulu ya... cepat sembuh tante ya..." raiya masuk kemobil.
__ADS_1
"iya... hati-hati..." jawab airin sambil melambaikan tangannya dan dibalas oleh raiya.
Setelah mobil randy tidak kelihatan lagi baru airin dan ririn masuk kerumah.