
Flashback...
Sebelum acara akad nikah dimulai, airin masih berdiam diri dikamar nenek menunggu mama dewi datang.
"Tante... bilang sama mama kalau airin mau dijemput sama mama... ada yang ingin airin perjelas dengan mama... tolong tante ya... ini menyakut pernikahan airin..." airin masih teringat bisikannya pada tante elsi.
"akankah mama mau kesini... atau memang mama tidak peduli dan masa bodoh dengan permintaanku... tapi aku rasa mama akan kesini... ini menyangkut nasib aira... mama memang tidak peduli padaku tapi mama tidak akan diam saja kalau itu menyangkut aira..." batin airin. Terlihat tersenyum tapi senyumnya itu menunjukkan kekecewaan.
Duaar... bunyi pintu dibuka paksa dari luar terlihat mama dewi datang dengan kesal. Dibelakang terlihat papa iwan dengan wajah lesuh dan pasrah dengan keadaan.
"mama..." ujar airin kaget dan berdiri dari duduknya.
"iya... ini mama... kamu menyuruh mama kesinikan... ada apalagi... jangan buat ulah airin ya... semua tamu udah hadir didepan..." bentak mama dewi dengan penuh amarah.
"airin buat ulah... (airin tidak percaya kalau mamanya memutar balikkan fakta). aira yang berulah ma... seharusnya aira yang menikah hari ini bukan airin..." teriak airin kesal karena merasa dituduh.
"kamu keluar dulu... tante mau bicara sama airin..." mama dewi mengusir ririn.
"tidak perlu ma... biarkan saja ririn disini...." ujar airin sambil memegang tangan sahabatnya itu.
"kamu berani membantah mama.... kamu lebih memilih orang asing ini dibandingkan mama kamu..." bentak mama dewi lagi.
"airin... lebih baik aku keluar dulu... aku tunggu kamu diluar ya..." ririn melepaskan genggaman tangan airin dan mencoba untuk keluar.
"Tidak rin... kamu disini aja... lagi pula apa bedanya aku sama kamu...kita sama-sama dianggap orang asing disini..." ucap airin dengan sinisnya.
plakkk... mama dewi menampar airin. Airin meringis kesakitan dan mengelus pipinya.
"mama..." teriak papa iwan dan menarik mama dewi menjauh dari airin sebelum mama dewi berbuat lebih pada airin.
"Lepasin pa... mama mau memberi pelajaran buat anak durhaka ini..." kata mama dewi sambil mencoba melepaskan diri.
"jangan keterlaluan ma... airin anak kita... jangan selalu kamu menyakitinnya..." ujar papa iwan.
"kapan aku menyakitinya... aku hanya mengajari dia untuk tidak berbuat ulah... sudah bagus mama nikahkan dengan orang kaya... dianya malah ngelunjak..." ujar mama dewi.
"Tapi ma.. sabar dulu.. bukan begitu cara mengajari anak... lihat airin... dia kesakitan apa kamu tidak kasian..." tanya papa iwan sambil menunjuk kearah airin.
"Kasihan...tidak perlu dikasihani anak seperti ini... anak kamu yang satu ini kuat pa.. gak bakalan sakit cuma karena tamparan mama... beda sama aira..." jawab mama dewi.
Mendengar perkataan mama dewi seketika hati airin hancur. Airin yang tadi sudah mantap ingin melancarkan serangan untuk melawan mama dan aira untuk menggagalkan pernikahan ini, malah dia dibuat tidak berdaya karena perkataan mamanya.
Seluruh tubuh airin lemas mendengarnya karena ini pertama kali mama dewi mengatakannya langsung didepan airin.
Airin tidak habis fikir. Bagaimana bisa seorang ibu membedakan anak-anaknya terlebih lagi anaknya itu kembar. Dikandungnya secara bersama dalam rahimnya pas terlahir kedunia malah dibeda-bedakan.
"iya... mama benar airin kuat dan aira sakit... tapi tidakkah mama merasa kalau airin lebih sakit dari aira..." tanya airin sambil menahan tangis.
__ADS_1
"dimana sakitnya... dimana... jangan merasa teraniaya kamu ya..."ujar mama dewi dengan sinis.
"Disini ma.. disini (airin memukul tubuhnya) seluruh tubuh ini sakit ma... airin bisa menerima kalau mama lebih sayang sama aira dari pada airin karena aira sakit jantung... airin bisa menerima kalau airin menjadi bagian dari bayangan aira dan selalu menjaganya.. bahkan airin bisa menerima ketika airin tidak terlihat dimata mama karena aira... airin bisa terima ma...." Ujar airin. Air matanya tumpah tak terbendung lagi.
Mama dewi dan papa iwan hanya diam saja mendengar perkataan airin.
"airin bisa terima hukuman dari mama karena ulahnya aira. tapi ma... kenapa harus selalu airin yang harus menaggung semuanya... aira yang berulah kenapa harus airin yang menanggung akibatnya... kenapa ma..." teriak airin frustasi.
"karena kamu lebih kuat dari aira.. kamu sanggup menanggung beban yang aira sendiri tidak mampu..." ujar mama dewi.
"Tapi ma... airin tidak mau harus selalu jadi kambing hitam untuk aira..." teriak airin lagi.
"maksudmu apa... airin.." mama dewi seolah-olah tidak tahu apa-apa.
"mama jangan bohong sama airin...ini bukan perjodohankan ma... tetapi ini pernikahan aira.. Tapi aira kabur makanya mama menggantikan aira dengan airin karena kami kembar....sehingga randy tidak tahu kalau aira sudah kabur..." ucap airin dengan air mata masih mengalir.
"Ternyata kamu cukup pintar juga...bisa menebak apa yang terjadi..." ucap mama dewi sinis.
"kamu benar..... semula aira menyukai randy karena randy tampan dan mapan... Namun setelah pertunangan aira dengan randy terjadi.. Aira berubah pikiran... dan kabur dari rumah.... mama sendiri tidak tahu aira dimana..." sambung mama dewi dengan tenang.
"jika memang aira kabur.. kenapa mama tidak memberi tahu keluarga randy tentang kebenaranya... kenapa mama malah menyuruh aku menikah dengannya..." tanya airin lagi.
"mama harus apa airin... mama bingung... aira kabur setelah mama mengundang semua relasi dan sahabat-sahabat papa kamu...ditambah lagi randy akan memutuskan kontrak dengan perusahaan papa kamu kalau pernikahan ini tidak terjadi..." ucap mama dewi mencoba meyakinkan airin.
Airin hanya terdiam mendengar penjelasan mama dewi.
"itu mama tidak tahu... mama tidak mau jawab lagi pertanyaan bodoh kamu itu... cepat kamu benarin make up kamu.... kamu harus jadi pengantin pengganti untuk aira hari ini... titik..." balas mama dewi dan dengan kasar menarik airin untuk duduk didepan kaca rias.
"lepas mas... airin bisa sendiri..." berjalan menuju kekaca rias.
"Tapi ma.. airin tidak mau jadi pengantin pengganti...." ujar airin sambil menoleh kearah mama dewi.
"Maksud kamu apa...jangan macam-macam kamu airin ya..." bentak mama dewi kaget mendengar tutur airin.
"mama diam... hormati keputusan airin..." bentak papa iwan yang sedari tadi hanya diam saja melihat airin.
"Hormati apa pa... diam tidak berhak membuat keputusan..." jawab mama dewi dengan nada yang cukup tinggi.
"diam... bisa diam kamu..." bentak papa iwan dan itu berhasil membungkam mulut mama dewi.
"katakan airin... apa keputusanmu.. apapun itu papa akan mengikutinya..." kata pak iwan dengan lembut.
"airin tetap akan menikah demi papa... tapi bukan sebagai pengganti aira.. tetapi sebagai airin... karena aku bukan pengantin pengganti... " jawab airin tegas.
"baik sayang... papa setuju denganmu..." kata papa iwan sambil mengusap kepala airin.
"alah... cuma itu aja... terserah kamu yang penting kamu harus nikah hari ini...." sahut mama dewi.
__ADS_1
"cuma itu saja ma... karena airin tidak ingin lagi menjadi pengganti aira... apalagi ini menyangkut pernikahan... airin tidak rela kalau harus jadi pengantin pengganti.... airin akan berusaha membangun rumah tangga airin sendiri... dan akan mencoba mempertahankannya..." kata airin.
"silakan... mama tidak peduli..." jawab mama dewi.
"Dan tolong mama sampaikan pada aira... kalau suatu hari nanti dia menyesal akan keputusannya hari ini... jangan pernah meminta menggantikan peran dengan airin... karena pernikahan ini antara airin dan randy... bukan hanya permainan yang dapat digantikan perannya sesuka hatinya..." ujar airin dan memalingkan wajahnya dari mama dewi.
"baiklah... mama janji... mama akan mengatakannya pada aira... " jawab mama dewi.
Airin tidak mengubrik lagi perkataan mama dewi. Dia sibuk memperbaiki make upnya dibantu oleh ririn.
Tanpa mereka sadari sepasang bola mata sedang mengawasi mereka dan mendengar semua pertengkaran mereka tadi.
"oh.. ternyata bu dewi sedang memainkan taktik denganku sekarang... Dasar wanita licik... tapi tidak apa... ternyata penggantinya lebih baik dari sebelumnya. Ternyata yang selama ini bersamaku itu adalah aira tapi mengaku sebagai airin. Dan ternyata ini airin yang asli. Pandai sekali wanita licik itu bermain peran dan seluruh keluarganya juga ikut membohongiku. Awas aja kalian semua, aku akan membalasnya. Dan untuk kamu airin, aku akan mencoba menerimamu sebagai istriku tapi itu tergantung sikapmu... kalau kau berani macam-macam samaku... maka nasibmu akan sama seperti mereka..." Randy tersenyum sinis karena telah mengetahui satu rahasia lagi.
"lebih baik aku cepat pergi dari sini sebelum mereka curiga..." randy segera kembali ke tempat acara.
Kembali ke acara dimana semua tamu undangan memberi selamat kepada randy dan airin.
Airin hanya duduk diam dipelaminan. Semua tamu undangan tanpa sangat akrab dengan airin namun airin tidak mengenal mereka satupun.
"Ternyata kamu cukup licik juga ya aira... selama aku tidak ada disini kamu hidup dengan namaku.. kamu hanya menggunakan namamu dikampus saja... Kamu bebas berulah dengan namaku... kamu bahkan menjebakku untuk menikah dengan orang ini..." batin airin.
Terlalu banyak pertanyaan dipikiran airin membuat airin merasakan kepalanya pusing. Wajahnya mulai terlihat pucat dan kepalanya berkunang-kunang setelah itu airin sudah tidak sadarkan diri.
Randy dengan cepat menangkap tubuh airin dan menggendongnya. Tante rita dan kedua sepupunya terbengong melihat randy begitu perhatian pada airin. Karena yang mereka tahu randy begitu cuek dengan airin.
"Airin pisah pak... kemana saya bawa airin..." tanya randy panik.
"bawa keatas kekamar kalian..." jawab mama dewi.
Randy lansung membawa airin ke kamarnya. Disana dibaringkan airin di atas ranjang yang sudah didekor dengan indah.
Randy memberikan wewangian dihidung airin namun airin masih saja tidak sadarkan diri. Untung disana ada dokter pribadinya randy datang sebagai tamu undangan
Dokter itu memeriksa airin dan mengatakan kalau airin hanya kecapean saja. Semau akhirnya dapat bernafas lega.
"papa... raiya tinggal disini ya... raiya mau jaga tante airin disini..." pita raiya yang sedang cemas.
"iya sayang... papa turun kebawa ya... kalau tante airin dah bangun suruh telpon papa..." kata randy dengan lembut pada raiya.
"baik pa..." jawab raiya.
"papa kebawah dulu ya..." randy pamit pada raiya sambil mengecup kening anaknya itu.
Raiya hanya mengganggukkan kepalanya.
Randy keluar dari kamarnya dan meninggalkan raiya dengan airin. Raiya terus memandang airin berharap cepat sadar dan memegang tangan airin dengan lembut.
__ADS_1