AKU AIRIN BUKAN AIRA

AKU AIRIN BUKAN AIRA
Bab. 8 Kehidupan baru


__ADS_3

Enam Belas Tahun Kemudian.....


"Airin....airin... bangun sayang... udah jam 7 nanti telat loh..." teriak seorang wanita dari lantai bawa.


Airin mempunyai kebiasaan tidur setelah shalat subuh. Karena malamnya dia sibuk bergadang membuat tugas.


Airin mematikan alarmnya yang sudah dari tadi berbunyi. Dia bergegas kekamar mandi. Tidak butuh lama airin sudah rapi dengan celana jeans dan baju kemeja biru soft. Rambut diikat kuncir kuda.


Dia tidak membutuhkan waktu lama untuk memoles wajahnya dengan bedak. Airin yang sekarang sangat natural. Dan agak sedikit tomboy.


Airin menuruni tangga dengan berlari-lari kecil. Dia melihat seorang wanita tua sedang sibuk didapur dibantu oleh mbak disana.


"Pagi... nenek..." sapa airin pada nenek sri dengan lembut. Walaupun luarnya tomboy tapi airin bersikap bagaikan putri pada neneknya. Tapi beda halnya kalau sama temannya udah lain cerita.


"pagi sayang.... sarapan dulu yuk...." balas nenek sri.


"iya nek... sarapan pake apa kita hari ini..." tanya airin sambil melirik makanan dimeja.


"ini... udah nenek siapin nasi goreng kesukaan kamu... plus telor ceplok pake rawit..." jawab nenek sri.


"asyikkk.... nasi goreng nenek terbaik didunia tiada tandingannya... the bestlah.." sambil menyuap nasi goreng kemulutnya.


Nenek sri hanya tersenyum mendengar pujian airin. Dia pun ikut makan bersama menemani airin makan.


"Tante elsi mana nek... kok gak ikut sarapan sama kita...." ujar airin.


"Tante elsi udah berangkat dari tadi.... katanya ada rapat dikantornya... tadi aja berangkatnya udah buru-buru.." ujar nenek sri dengan santai sambil melahap nasi goreng.


"ohhh... pikir tumben tante elsi cepat berangkat biasanya selalu barengan kami..." tutur airin.


Nenek udah siap makannya dan mengangkat piring kotor ke wastafel. sedangkan airin masih asyik menyantap nasi goreng favoritnya.


Nenek kembali dari dapur sambil membawa kotak makan siang buat airin.


"ne kotak makan siang kamu... udah nenek siapin tadi..." sambil meletakkan kotak makan samping airin.


Airin membuka kotak makan siang yang disiapkan nenek.


"woahhhh... paket lengkap nenek ya.. tahu aja nenek kesukaan airin..." bangkit dari duduknya dan memeluk nenek sri dari belakang sekaligus mengecup neneknya.


"ya tahulah... kesukaan cucu kesayangku ini..(sambil menyubit hidung airin karena gemes) kalau udah masak nasi goreng tapi tidak dibuat bekel ke kampus pasti cerewetnya minta ampun...." ujar nenek sri.


"hehehe.... bukan cerewet itu namanya nek.... tapi berdedikasi terhadap karya terbaik nenek sri..." tutur airin seperti orang berpidato.


"udah sana... cepetan makannya... nanti telat ke kampus... katanya mau ajukan judul...." sahut nenek sri.


"oh iya.... nenek sih..." airin ngedumbel seakan nenek sri yang salah.


"loh kok nenek... dia sendiri yang telat bangun..." nenek sri hanya tersenyum melihat tingkah airin.


Airin sudah siap sarapan. Dia memasukkan kotak makan siang tadi dalam tas ranselnya. Dan mengambil hp yang sedang dichagernya tadi.


"nenek... airin berangkat dulu ya..."pamit airin sambil salim sama neneknya.

__ADS_1


"iya hati-hati ya...." jawab nenek sri.


Nenek sri melihat airin menaikin ojek online langganannya. Padahal papanya sudah membelikan mobil untuknya pergi ke kampus namun dia tidak pernah memakainya.


Airin dan aira sekarang sudah berumur dua puluh satu tahun. Setelah tamat dari sma dijakarta, airin memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya dibandung. Dan aira melanjutkan kuliahnya dijakarta.


Pertamanya pak iwan menentang airin kuliah dibandung. Karena menurutnya dijakarta kampusnya lebih bagus dari disana. Namun airin tetap kekeh untuk kuliah dibandung.


Alasannya dia ingin mandiri dan dia juga ingin tinggal bersama neneknya. setelah banyak pertimbangan pak iwan mengizinkan airin kuliah dibandung.


Sedangkan bu dewi tidak menanggapi apapun tentang pilihan airin. Dia setuju-setuju aja airin kuliah dibandung. Bahkan selama airin dibandung jangankan menjenguknya, telpon pun tidak pernah. seakan-akan airin tidak pernah ada.


Tapi kalau aira yang kuliah dibandung itu udah lain lagi ceritanya. Mungkin bu dewi akan ikut menetap dibandung menemani aira.


Sejak hari pertama dia berangkat kebandung sendirian. Airin sudah memutuskan tidak akan mengganggu mamanya terkecuali mamanya yang menelpon duluan.


Karena sedari kecil hingga airin remaja mamanya selalu menganggap airin pengganggu karena sering membuat aira masuk rumah sakit.


Padahal penyakit iri hati aira sendiri yang menyebabkan dia sering kesakitan.


flasback.


Airin sudah sampai dikampus. Tampak disana seorang perempuan berambut pendek sebahu sedang menunggunya.


"Ririn...." melambaikan tangan pada wanita tersebut dan berlari kecil kearahnya.


"airin....(menghampiri airin) tumben kamu telat... biasanya stand by selalu..." ujar ririn mengodanya.


"Ngapain cepat kali... kan kita cuma mau ajukan judul doang hari ini... " jawab airin santai.


yup... dia itu ririn. Sahabat airin dari sd sampai sma. Bahkan dia memutuskan kuliah dibandung ketika mendengar airin akan kuliah dibandung.


Mereka kuliah dikampus yang sama. Kampus Harapan Bangsa jurusan ekonomi manajemen. Mereka mempunyai mimpi lulus berbarengan dan bekerja ditempat yang sama. Asalkan jangan suami yang sama.


setengah jam mereka berkonsultasi dengan dosen pembimbing mereka dan akhirnya mereka keluar juga dari ruangan dosen.


"ya ampun airin.... aku deg-degan sekali tadi... takut judul yang aku ajukan ditolak..."ujar ririn sambil memegang dadanya. Terasa jantungnya memompa darah lebih cepat.


"sama... aku juga.... kalau sampai judulku ditolak... bisa mati aku... harus mutar otak lagi..." sambung airin. Tidak sengaja tangan airin mencengkram lengan ririn.


"auwww sakit tahu... panik boleh.. jahat jangan... ini tangan woy... bukan guling..." teriak ririn. Airin langsung melepaskan tangannya.


"hehehe...( tertawa dibuat sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal) maaf... ngak sengaja... aku lagi bahagia tadi..." jawab airin dengan wajah cengengesan.


"Tahu kamu lagi senang... tapi gak gitu juga kali ekpresinya... sakit ne..." menunjuk tangannya.


"ya udah... jangan marah lagi... nanti cantiknya hilang..." Airin menggandeng tangan ririn dan mangajaknya kekafe.


Sesampainya disana mereka memesan secangkir kopi americano favorit mereka.


"airin..." panggil ririn.


"ya..." jawab airin singkat. Dia lagi fokus dengan hp ditangannya.

__ADS_1


"Kuliah kita hampir selesai.... kamu setelah lulus ada rencana kemana..." tanya ririn penasaran.


"ya kerjalah... masak nganggur..." jawab airin enteng. Dan dia masih fokus dengan hpnya.


"bukan itu maksudku ai... kamu gak mau kembali ke jakarta..."Tanya ririn lagi dengan hati-hati.


Spontan airin menghentikan aktivitasnya. Dia meletakkan hp dimeja. Dia menghela nafas dengan kasar.


"kamu tahu kan rin... tiada jakarta lagi dalam kamus hidupku..." jawab airin.


"Tapi ai.... keluargamu disana semua... setidaknya kamu pulanglah sekali.... untuk papamu." ujar ririn


"ngapain pulang... kalau mau kan papa bisa kesini.... sekaligus jenguk nenek..." jawab airin datar.


"Tapi ai... rumah kamu disana... keluarga kamu semua ada disana... apa kamu tidak rindu sama mereka..." tanya ririn.


"Rumah... keluarga... (menatap kosong kedepan dengan mimik muka sedih) rumah dan keluarga yang mana kamu maksud rin... disana bukan rumah dan keluargaku... itu rumah dan keluarga aira... aku tidak pernah ada disana....." jawab airin sambil memalingkan tubuhnya dari ririn.


"jujur airin.. sudah 3 tahun lebih kita disini tidakkah kamu merindukan rumahmu itu.... rumah yang telah kau habiskan masa kecil dan remajamu dengan papa dan mamamu disana .... banyak kenangan tersimpan disana... tidak rindukah kamu, airin..." ujar ririn sambil menarik tubuh airin.


Kini mata mereka beradu pandang. ririn mencoba melihat kejujuran dari mata airin. Seketika air mata airin tumpah dan tak terbendung lagi.


"Aku rindu... malah sangat rindu sekali... namun rumah yang kurindukan itu tidak pernah merindukanku.... Dan mereka yang ku sayangi tak pernah mengharapkan kehadiranku...untuk apa aku kembali kesana... " jawab airin. airin memeluk sahabatnya itu.


"Tapi airin.... ini sudah 3 tahun lebih... mungkin keadaan akan berubah...." kata ririn sambil membelai rambut sahabatnya itu.


"Tidak ririn.... tidak ada yang berubah... baik dulu, sekarang atau nanti... kecuali takdir memihak padaku..." tutur airin dan melepaskan pelukannya.


"kenapa kamu keras kepala sekali sih airin.... aku mencoba menasehatimu agar kamu tidak menyesal nanti... jika kau masih marah sama aira yang selalu iri kepadamu...aku mengerti airin... Tapi bagimana dengan papamu ... setidaknya pulanglah untuk papamu... papa yang menyayangimu... aku yakin beliau sangat merindukanmu..." ujar ririn. Dia tidak ingin sahabatnya menyesal karena jauh dari keluarga.


"aku pun tahu papa sangat merindukanku.... setiap telpon, papa selalu memintaku pulang.... tapi rin... aku belum siap menjadi bayangan aira lagi... aku juga butuh mama rin... bukan aira saja yang butuh mama... aku juga..." ujar airin yang masih saja menangis.


Untung saja kafe langganan mereka lagi sepi. Dan mereka pun duduk dipaling pojok jadi tidak ada yang melihat mereka.


"makanya perbaiki itu semua ai.. aku sarankan kamu pulang semester ini.... kamu ikut aku pulang ke jakarta ya...." pita ririn.


"Tidak ririn...aku rasa... aku tidak akan kembali ke jakarta lagi...kamu tahu sendiri rin.... aku kesini untuk memulai kehidupanku yang baru... susah payah aku bangun kepercayaan diriku lagi... aku tidak mau pulang... aku tidak mau meruntuhkan dunia yang susah payah aku wujudkan sendiri..." pungkas airin. Dia menyekat air matanya dengan kasar seakan-akan airin sudah bertekad untuk menjauh dari keluarganya.


"Tapi airin..." belum sempat berkata udah dipotong oleh airin.


"Tidak ada tapi-tapi.... aku tetap tidak mau pulang titik...." jawab airin tegas.


Ririn hanya menghela nafas dengan kasar. Dia gagal membujuk temannya untuk kembali ke jakarta. Padahal dia sudah berjanji sama pak iwan untuk membujuk airin pulang. Tapi nampaknya usahanya sia-sia.


Prov airin.


*Bagi setiap anak gadis rumah merupakan tempat paling nyaman untuk kembali.


Tapi kenapa bagiku... rumah bagaikan gua gelap yang penuh misteri. terlalu banyak drama disana. Dan juga terlalu banyak luka yang diberikan disana.


papa.... bukan airin tidak rindu papa... cuma airin tidak sanggup lagi menjadi bayangan aira. Mama selalu memanggil airin dengan sebutan aira.


apakah mama tidak bisa membedakan antara airin dengan aira. Ataupun dimata mama airin ini mungkin tidak pernah ada.

__ADS_1


papa... bisakah papa menyakinkan mama sekali saja... bahwa airin ini bukan aira. kami dua orang yang berbeda walaupun serupa.


jika memang bisa... airin akan pulang pa... pulang dan kembali sama kalian*.


__ADS_2