
Terlihat dua gadis muda sedang menikmati makanannya. Sepertinya mereka sedang melampiaskan rasa stres dikepala mereka pada makanan itu. Mereka mengunyah makanan dengan lahap dengan wajah begitu bahagia.
"Akhirnya aku kenyang juga...." kata ririn sambil meneguk minumannya.
"iya sama.... aku pun udah kenyang... habis kamu sih pesan makanannya kebanyakan... jadi gagal diet aku hari ini...." timpal airin yang kondisinya sama kayak ririn.
"alah... sekali-sekali... anggap aja kita lagi gerayain hari besar kita...." sahut ririn lagi.
"betul juga katamu rin.... akhirnya kita selesai juga kuliah... tinggal tunggu wisuda...ahhh gak sabar mau pakai baju toga... baju kebanggaanku itu rin..." teriak airin kegirangan ketika membayangkan memakai baju wisuda.
"woii... jangan menghayal dulu... masih lama tahu... tunggu empat bulan lagi baru wisuda kita..." ririn melambaikan tangan didepan muka airin.
"apaan sih... orang lagi asyik menghayal... kok dilarang..." airin menepis tangan ririn.
"udah nanti disambung lagi... ayok kita pulang...." kata ririn sambil memanggil pelayan untuk membayar tagihan makanannya.
Tiba-tiba hp airin berbunyi. Airin melihat layar hpnya dan membuat airin syok dan panik tujuh keliling.
"angkat ai... jangan didiemin kek gitu hpnya... berisik tahu.." seloroh ririn begitu saja
"mama telpon rin.... " kata airin yang masih menatap layar ponselnya.
Ririn yang medengarnya langsung tersedak.
"apa mama kamu telpon... gak salah tu...." tanya ririn sambil mengecek sendiri nama panggilan di hp airin.
"beneran ini mama... aku angkat gak ya...." tanya airin yang masih panik.
"angkat aja... itu pasti penting... kalau gak penting mana mau telpon kamu...." kata ririn lagi.
"benar juga kata kamu... ada apa ya... (mencoba mengangkat hpnya tapi tiba-tiba mati karena kelamaan airin angkat). ya...mati... ya sudahlah mungkin memang salah pencet..." kata airin dengan santai sambil meletakkan hpnya lagi dimeja.
"ohhh ya sudah.... mana sih pelayannya lama banget..." kata ririn mencoba mengalihkan pembicaraan.
"gak tahu... sabar bentar...ngapain buru-buru..." jawab airin lagi.
Tiba-tiba hp itu berdering lagi dengan nama panggilan yang sama. Airin hanya menatap kosong layar hpnya itu seakan-akan dia malas mengangkatnya.
"angkat airin.... itu pasti penting... gak mungkin mama kamu telpon kamu kalau tidak ada hal yang penting... angkat cepat..." perintah ririn.
"iya bawel....ini mau diangkat" jawab airin sambil mengambil hpnya yang terus saja berbunyi.
"Assalamualaikum...." airin mencoba memberi salam dengan hati-hati.
"waalaikum salam.... kenapa lama sekali angkat hpnya..." tanya seorang perempuan dibalik telpon airin. ya... perempuan itu adalah bu dewi, mamanya airin.
"maaaaf ma... tadi airin tidak lihat hp..." jawab airin terbantah-bantah dengan nada suara berat.
"emangnya kamu tadi kemana..."tanya bu dewi tanpa basa basi sedikitpun.
"airin baru siap sidang ma... jadi tadi hpnya diluar.... makanya airin gak angkat telpon mama..." jawab airin mencari alasan biar mamanya tidak marah.
"ohhh... jadi kamu sudah selesai kuliah... baguslah..." jawab bu dewi dengan nada terkesan senang. Entah senang karena anaknya sudah hampir sarjana atau ada hal lain dibalik kesenangannya itu.
"iya ma... tinggal tunggu wisuda..." jawab airin singkat.
"alah... gak perlu ikut wisuda... itu hanya prioritas aja... yang penting kamu udah sidang...." jawab bu dewi santai bagaikam menyepelekan usaha airin selama ini.
"tapi ma... wisuda itu penting... lagi pula airin memang tinggal disini.. jadi airin bisa ikut wisuda nanti..." jawab airin mencoba menjelaskan keberadaannya pada bu dewi.
"siapa bilang kamu tinggal disitu... besok kamu pulang kejakarta.... mama sudah pesankan tiket pesawat buat kamu pulang besok..." kata bu dewi dengan lantang tanpa memikirkan perasaan airin.
"apa ma... pulang... gak mau... airin gak mau pulang ke jakarta... airin mau tinggal disini sama nenek..." bantah airin pada mamanya.
__ADS_1
"jangan membantah airin... mama bilang pulang... ya pulang..." bentak bu dewi diujung telpon.
"airin gak mau pulang... airin mau sama nenek... airin yakin nenek juga setuju airin tinggal disini untuk kerja..." jawab airin dengan yakin.
"apa kamu bilang nenek kamu setuju kamu tinggal sama dia... memangnya nenek kamu belum cerita kalau mama suruh kamu pulang satu bulan yang lalu... dan nenek kamu setuju.." ujar bu dewi.
Bagaikan disambar petir ketika airin mendengarkan perkataan mamanya. satu-satunya orang tempat dia berlindung kini malah memihak mamanya.
"Ya Allah nenek... kenapa nenek setuju... jika nenek tidak bisa membela airin lagi... jadi sama siapa airin akan berlindung...." batin airin.
"airin...airin... kamu masih dengar mama...jangan coba-coba menutup telpon mama... kalau tidak mama akan marah besar sama kamu..." teriak wanita diujung telpon airin.
"iya ma... airin masih disini... jadi maunya mama apa...." tanya airin pasrah.
"kamu dengar ya baik-baik.... kamu pulang sekarang... kemasin semua pakaian kamu... besok kamu langsung pulang kejakarta sama nenek dan juga tante elsi... mama tidak mau dengar ada tapi-tapian dari kamu.... paham..." kata bu dewi dengan tegas.
"baik ma... airin pulang besok..." jawab airin dengan putus asa.
"mama tunggu kamu dijakarta... ingat airin ya... besok pagi kamu harus sudah berada dibandara... jadi kamu sekarang cepat pulang.... " kata bu dewi dan langsung mematikan ponselnya.
"iya ma.... " jawab airin lagi.
Ririn yang sedari tadi berada didepannya hanya merasa iba melihat keadaan airin.
"bagaimana bisa seorang ibu berlaku kejam terhadap anaknya sendiri.... apakah mamanya airin tidak memikirkan perasaan airin sedikitpun... kenapa dia begitu kejam... semoga aja dia dapat karmanya karena menyia-nyiakan anak sebaik airin..." batin ririn yang merasa kesal.
"airin.... kamu tidak apa-apa..." tanya ririn yang sedang mengkhawatirkan kondisi airin.
Tersenyum hambar kearah ririn.
"iya... aku gak apa-apa kok... cuma mama minta aku pulang rin..." jawab airin dengan tenang. Namun terlihat wajah sedih disana dan rasa kecewa.
"kamu mau pulang ke jakarta... kenapa... sama siapa kamu pulang..."tanya ririn lagi.
Dia berbohong pada sahabatnya itu. Padahal dia sendiri tahu betul kalau mamanya itu tidak sedikitpun merindukannya. Airin dapat merasakan melalui cara bicara mamanya tadi.
"aku ikut juga ya.... bosan sendiri disini kalau gak ada kamu... lagi pula kita kan udah selesai...." ujar ririn.
"boleh... kita pulang bareng nanti... pesan terus tiketnya... sudah tuh kamu kemasin barang-barang kamu..." kata airin tanpa ekspresi.
"ngapain bawa baju... nanti pulang lagi kesini..." jawab ririn enteng.
"gak rin... kayaknya aku gak bakalan balik lagi kesini.... aku akan menetap dijakarta..." jawab airin ragu.
"maksudnya gimana...." tanya ririn bingung dengan jawaban airin.
"iya rin... aku akan menetap disana... bukan suatu kebetulan kalau mama telpon aku... pasti ada sesuatu yang harus aku lakukan disana... aku yakin sesuatu telah terjadi disana... dan mereka pasti membutuhkanku...." kata airin yang lagi menebak apa yang akan terjadi nanti sesampainya disana.
"kenapa harus kamu selalu sih.... kenapa gak suruh aira saja... aira kan ada disana...." kata ririn kesal melihat sikap keluarg airin yang pilih kasih.
"kamu tahu sendirikan... kalau aira itu anak mas... gak boleh disentuh... beda sama dengan aku bagaikan perenggu yang bisa dipakai kemana aja...."jawab airin dengan mimik wajah menyedihkan.
"kamu salah airin.... kamu itu tiram yang berharga .... hanya orang tertentu yang bisa memiliki mutiara seindah kamu...." kata ririn.
"kamu terlalu berlebihan.... mana ada mutiara sekusut aku.... ada-ada aja kamu...." jawab airin sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"beneran ai.... aku yakin... akan ada lelaki yang baik untuk perempuan sebaik kamu..." ujar ririn dengan sungguh-sungguh.
plaaaak... bukan pujian dari airin untuknya, ini malah jidatnya dijitak sama airin.
"aduh.... sakit tahu.... " kata ririn sambil meringis kesakitan.
"sakit... baguslah... berarti kamu sudah bangun dari mimpi anehmu itu... ini hidup sayang... bukan drama pangeran kuda putih.... jadiiii... jangan banyak berkhayal... bangun cepat..." ujar airin.
__ADS_1
"mau kemana kita...." tanya ririn yang masih merasa kesakitan.
"cari pangeran.... ya pulanglah rin... kamu lupa ya... kalau besok kita berangkat ke jakarta...." ujar airin sambil meraih tas dan meninggalkan ririn disana.
"oh iya.... airin tunggu...." teriak ririn sambil berlari mengejar airin.
Sesampainya dirumah airin langsung membongkar semua pakaiannya. Dia memilah semua bajunya. Sebagian dia bawa pulang kejakarta dan sebagiannya lagi ditinggalkan dibandung.
Nenek mendorong pintu kamar airin untuk mengajaknya makan kue buatannya.
Betapa terkejutnya nenek melihat airin sedang memasukkan baju kedalam koper. Hampir semua baju airin dikeluarkan dari lemari.
"Airin... apa yang kamu lakukan nak.... kamu mau pergi dari sini.." tanya nenek sri panik.
"iya nenek... "jawab airin sekenaknya aja karena dia lagi fokus membereskan bajunya.
"tapi kenapa... apa nenek salah... apa yang telah nenek lakukan sehingga kamu ingin pergi dari rumah..." tanya nenek sri lagi sambil mendekati airin.
Mendengar ucapan nenek sri, airin berhenti merapikan baju. Dan mencoba menenangkan wanita tua dihadapannya itu.
"nenek... airin tidak pergi dari rumah kok... malah airin mau pulang kerumah...." kata airin dengan tenang.
"pulang kerumah..... kemana..."tanya nenek sri bingung.
"nenek... (sambil memegang tangan neneknya) tadi siang mama telpon airin... mama minta airin pulang ke jakarta besok... jadi airin harus siap-siap sekarang..." airin mencoba menjelaskan kepada nenek sri.
"jadi mamamu udah telpon kamu... padahal nenek bilang lima bulan lagi baru suruh kamu pulang.....tapi mamamu tetap kekeh menyuruhmu pulang sekarang.."ujar nenek sri keceplosan.
"jadi nenek udah tahu semuanya... cuma airin yang tidak tahu apa-apa... tante elsi juga tahu..."tanya airin dengan raut wajah kecewa. Dia merasa dibohongi oleh orang sekitarnya.
Nenek hanya bisa menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan airin.
"tapi nenek... kenapa airin harus pulang kejakarta... apa yang terjadi disana... dan kenapa mama tiba-tiba telpon dan menyuruh airin pulang.... "tanya airin bingung dengan keadaan semua ini.
"nenek juga tidak tahu sayang... sepertinya mamamu mencemaskan sesuatu..." jawab nenek sri ragu.
"mencemaskan apa nek... coba jelaskan sama airin... kenapa sampai nenek setuju airin pulang kejakarta..." tanya airin lagi.
"Maafkan nenek sayang.. nenek terpaksa... kata mama kamu perusahaan papa kamu hampir bangkrut... dan mama kamu menyuruh kamu pulang untuk membantu papamu.. tapi jelasnya nenek gak tahu..." jelas nenek sri.
"iya nenek....gak apa-apa... airin mengerti kok..." jawab airin dengan tenang.
Airin hanya tersenyum manis sambil memeluk nenek sri dan dibalas dengan pelukan hangat dari nenek sri.
"airin beresin ini dulu nenek ya...." ujar airin sambil melepaskan pelukannya.
"iya... nenek turun ya... kamu mau makan kue... tadi nenek buat kue sama simbok..." ujar nenek sri.
"enggak nek... airin masih kenyang tadi habis makan-makan sama ririn..." tolak airin.
"oh ya sudah... cepatan beresinnya... biar cepat istirahat..." ujar nenek sri.
"iya nek..." jawab airin.
Setelah nenek keluar, airin segera membereskan packingnya. Dan akhirnya selesai.
Airin menghempaskan tubuhnya diatas kasur dan perkataan nenek masih terngiang-ngiang di telinganya.
Tidak terasa bulir putih keluar dari kedua kelopak mata airin. Dan dadanya merasa sesak sekali.
"Airin mengerti sekarang ma... kenapa mama paksa airin pulang... .ternyata mama mau jadikan airin tumbal... baiklah ma... jika itu keinginan mama maka airin kabulkan semuanya walaupun airin harus mati nanti... airin sudah rela... Dari pada hidup dibelenggu luka lebih baik mati tanpa derita... "batin airin.
Airin terus menangis sepanjang malam. Sampai akhirnya tertidur juga dan sekali-kali terdengar sesegukan airin dalam tidurnya.
__ADS_1