
klek... bunyi suara pintu kamar airin dibuka. Terlihat airin yang masih tertidur pulas disana.
Nenek menghampiri airin sambil mengusap-usap rambut airin. Nenek menatap airin lekat-lekat seakan-akan nenek akan kehilangan airin.
"nenek...." panggil airin dengan suara seraunya khas orang bangun tidur.
"iya sayang.... maaf ya... nenek membangunkan mu..." jawab nenek sri dan tangannya masih memainkan anak rambut airin.
"nenek... airin masih ngantuk..."kata airin sambil mengangkat kepalanya dan menidurinya diatas pangkuan nenek.
nenek hanya tersenyum manis melihat tingkah airin yang manja. Tangan nenek menepuk-nepuk bahu airin seperti meniduri bayi.
"kamu bergadang semalam ya... tumben malas bangun... biasanya paling rajin bangun pagi...."kata nenek.
"ehmm... "guma airin dalam pelukan nenek.
"udah bangun sana... cepatan mandi.... kita sarapan bareng.. tante elsi udah nunggu dibawah..." ujar nenek sri.
"huaaaaa.... iya nenek... pukul berapa sekarang...." tanya airin seraya bangun dan duduk sambil bengong untuk mengumpulkan rohnya.
"udah jam delapan lewat... cepatan mandi sana... nanti ketinggalan pesawat kita...." kata nenek sambil meraih handuk dan memberikannya pada airin.
"apa jam delapan.... mampus aku udah telat... " mengambil handuk dan buru-buru kekamar mandi.
Nenek sri hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah cucu kesayangannya itu. Nenek keluar dari kamar airin dan menuju dapur.
"airin udah bangun bu... " tanya tante elsi yang masih disibukkan dengan peralatan dapur.
"udah... tuh lagi mandi... bentar lagi juga turun..." jawab nenek sri sambil duduk di meja makan.
"tumben bangunnya telat... biasanya juga udah rapi jam segini...." ujar tante elsi.
"Mungkin semalam dia bergadang buat beresin baju... makanya telat bangun...." nenek mencoba mencari alasan.
Tante elsi menarik kursi dan duduk didepan nenek sri. Raut wajahnya seperti ingin mengetahui sesuatu.
"bu... aku penasaran sama mbak dewi dan mas iwan..." kata tante elsi dengan wajah yang serius.
"Penasaran kenapa... memangnya ada yang salah sama mbak dan masmu..."kata nenek sri santai sambil memakan cemilan paginya.
" memangnya ibu gak ngerasa gitu... kalau mbak dewi menyembunyikan sesuatu dari kita... atau ibu tahu sesuatu tapi tidak memberitahu elsi..." selidiki tante elsi.
"enggak tuh... kalau memang mereka memberitahu ibu... udah pasti ibu kasih tahu kamu..." jawab nenek sri lagi.
"tapi bu... elsi merasa aneh bu... kok tiba-tiba mbak dewi telpon menyuruh airin pulang. Ditambah lagi mbak dewi juga menyuruh kita semua ikut kejakarta tanpa terkecuali..."kata tante elsi penasaran.
"benar juga ya... kok ibu gak kepikiran sampai ke situ...." jawab nenek sri yang mulai merasa aneh dengan keadaan sekarang.
"iyakan bu... coba ibu pikir... selama ini mbak dewi gak pernah telpon nanyain kabar airin... cuma mas iwan yang sekali-kali telpon nanyain airin.. ini sekali telpon malah nyuruh kita semua pulang...." kata tante elsi.
"mbakmu pernah cerita sama ibu kalau perusahaan masmu bangkrut.. jadi mbak dewi minta sama ibu untuk mengantarkan airin pulang untuk membantu perusahaan keluarga katanya..." nenek sri mencoba mengingat perkataan menantunya dulu.
" untuk apa airin... kan disana ada aira... aira juga bisa membantu mas iwan dikantor... lagi pula aira kan sering pergi ke kantor mas iwan seharusnya aira lebih berpengalaman dari airin..."pungkas tante elsi yang masih tidak terima dengan alasan nenek.
"mana ibu tahu elsi... ibu juga bingung sama mbak dan masmu itu... punya anak kok dibeda-bedakan... nanti pas hilang nyesel sendiri..."balas nenek sri yang merasa kesal dengan sikap orang tua airin.
"itulah bu... pas perlunya aja airin dicariin... elsi malah kasihan sama airin bu... dia...." Kata-kata tante elsi terpotong mendengar bel rumah berbunyi.
ting tong.... seseorang menekan bel depan rumah airin.
"siapa yang datang... gak mungkinkan mbak mu sendiri datang kesini pagi-pagi buat jemput airin..." tanya nenek sri keheranan.
"ya gak mungkinlah bu... biar elsi bukakan pintu dulu...."tante elsi bangun dari duduknya dan melangkah kepintu depan.
klekkk bunyi pintu dibuka.
"Assalamualaikum tante..." ririn memberi salam sambil menyalimi tante elsi.
"waalaikum salam... ririn.... ngapain kesini pagi-pagi. emangnya kamu gak tahu kalau airin mau pulang ke jakarta..."tanya tante elsi sambil mengarahkan ririn untuk masuk.
"tahu kok tante... ririn kesini mau ikut pulang ke jakarta juga barengan sama airin... kami udah janji kemaren...."ujar ririn.
"Ohh... pikir airin gak cerita sama kamu..." ujar tante elsi.
"airin dimana tante... "tanya ririn sambil celingukan mencari airin.
"airin masih dikamarnya... kayaknya masih mandi tuh..."jawab tante elsi.
"ririn kesana ya...."ririn meninggalkan tante elsi dan menuju kamar airin.
Ririn masuk tanpa mengetuk pintu dulu hampir aja kepala airin kejedot pintu.
"hy... hati-hati dong... ne anak kebiasaan banget... gak pernah ketuk pintu dulu... hampir kejedot tahu...." ujar airin kaget.
"maaf... lagian kamu ngapain sembunyi dibalik pintu...."ririn mencoba mengeles.
"ya mau keluarlah... masak main petak umpet....lain kali kalau masuk ketuk dulu... kalau sampai kejedot kepala aku tadi bagaimana.... ayo..." pungkas airin lagi.
"iya...iya... ya udah ayok turun kebawah... aku lihat nenek sama tante elsi lagi nungguin kamu tuh..."ujar ririn sambil menutup pintu kamar airin.
Mereka turun kelantai bawah menemui nenek sama tante elsi didapur. Terlihat keduanya sedang duduk di meja makan sambil menyatap sarapan pagi.
__ADS_1
"pagi nenek.... pagi tante......" sapa mereka kompak.
"pagi... cepat sarapan sini.... " jawab tante elsi.
"iya tante.... sarapan apa kita pagi ini (sambil melirik meja makan) wooowww... ini bukan sarapan tante ini malah menu lengkap..." kata airin ketika melihat lauk yang begitu banyak terhidang dimeja makan.
Terlihat ada rendang, ikan Goreng sama lauk lainnya. Airin langsung bergegas menyendok nasi ke piringnya dan tak lupa pula untuk ririn sahabatnya.
Airin begitu menikmati sarapan paginya karena ada rendang kesukaannya disana.
"pelan-pelan makananya airin... nanti keselek...." kata nenek sri ketika melihat airin makan dengan cepat.
"iya nek... habisnya... rendang tante elsi enak banget... kan jarang-jarang tante elsi masak rendang... yakan rin..." kata airin sambil melirik ririn.
"iya... enak banget..."seru ririn lagi.
"emangnya masakan nenek gak enak... " tanya nenek menggoda airin.
"enak juga... tapikan nenek jarang masak rendang... nenek lebih suka masak gulai ayam..." sahut airin lagi namun tetap menikmati makannya.
Nenek hanya tertawa mendengar komentar cucunya itu. Terlihat airin dan juga ririn yang sangat menikmati sarapan pagi mereka.
"makan yang banyak nak... mungkin ini sarapan terakhir kamu bersama kami... karena nenek tidak tahu apakah kamu akan kembali kesini lagi untuk makan bersama kami... jangankan makan... nenek saja tidak tahu apakah kamu akan kembali lagi kesini walau hanya sebentar saja... Nenek akan merindukan masa-masa indah bersamamu airin.... nenek hanya berharap...dimanapun kamu berada semoga kamu akan selalu bahagia... amin..."batin nenek sri.
"nenek kenapa... kok natap airin sampai segitunya..." tanya airin yang tidak sengaja melihat nenek menatapnya.
"nenek senang aja melihat kalian makan... rasanya nikmat banget... bedalah kalau udah jadi nenek-nenek makan apapun rasanya sama aja...." ujar nenek sri mencoba mengeles.
"ohhh pikir kenapa tadi... makannya airin tidak pernah menolak makanan... karena airin menikmati hidup.... bagi airin makan merupakan kenikmatan yang hakiki...."jawab airin sok puitis.
"mulai kambuh lagi ne anak... cepat makan... kalau kelamaan nanti malah ditinggalin pesawat...."perintah tante elsi yanga sudah hafal kebiasaan keponakannya saat makan pasti dipenuhi dengan drama.
Ririn yang melihatnya hanya tertawa terkekeh-kekeh. Sedangkan airin malah memelototi ririn karena kesal diketawai.
Setelah selesai sarapan mereka semua bersiap-siapa kebandara. Koper mereka sudah duluan dimasukan kemobil oleh pak sopir.
Akhirnya mereka berada dibandara tepat waktu. Airin duduk bersama ririn dibelakang sedangkan nenek sama tante elsi. suami tante elsi bersama anaknya.
Setelah melalui perjalanan panjang akhirnya airin dan sekeluarga tiba didepan rumah airin. Terlihat begitu banyak orang dirumah airin.
Semua sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Ada yang merangkai bunga, ada yang sedang dekorasi tempat dan semuanya pada sibuk seperti akan ada pesta disana.
Airin tercengang melihat suasana dirumahnya.
"Tidak mungkin mama menyiapkan semua ini untukku kedatanganku kan...?. airin...airin jangan mimpi kamu... mana mungkin seorang airin akan disambut meriah dirumah ini... kalau pun ada pasti sesuatu telah terjadi disini...." airin berbicara sendiri dalam hatinya. Airin hanya dapat tersenyum kecut melihat pemandangan didepan matanya.
Akhirnya mobil berhenti didepan pintu utama. Mereka semua keluar dari mobil dengan wajah yang penuh tanda tanya.
"enggak tante... emangnya kenapa..." airin malah tanya balik sama tante elsi.
"lalu kenapa begitu banyak orang disini... kalau bukan pesta ulang tahun kamu sama aira... jadi ini acara apa... gak mungkinkan mama kamu buat acara untuk kedatangan kita...."ujar tante elsi yang masih bingung.
"ya enggaklah tante... iya kali mama buat acara semegah ini..." ujar airin.
"jadi acara apa juga..." tante elsi masih penasaran.
"jangan banyak tanya... masuk aja dulu... ayo masuk..." nenek sri langsung masuk kedalam.
Terlihat papa sama mama airin sedang sibuk berbicara dengan disainer ternama dijakarta.
Entah apa yang mereka bicarakan sehingga mereka tidak menyadari kedatangan nenek sri dan airin.
"hemmm... kayaknya sibuk banget..."suara nenek membuat pak iwan dan bu dewi terkejut.
"ibu... "Mereka menyalami nenek sri.
"ibu udah sampai... kapan sampainya..." tanya bu dewi.
"udah dari tadi... kalian aja gak menyadari kedatangan kami.." sahut nenek sri.
"ayok duduk dulu... kalian pasti capek karena udah perjalanan jauh..."ujar pak iwan.
"iya mas... apalagi kenak macet tadi dijalan... "seru tante elsi.
"ma... pa..." panggil airin sambil menyalami mereka berdua diikuti ririn dibelakangnya.
Bu dewi tersenyum manis ketika airin menyalaminya. Sedangkan pak iwan seketika memeluk putri kecilnya itu yang sudah meranjak dewasa.
Dia begitu merindukan airin. Selama empat tahun dibandung baru kali ini airin kembali kerumahnya. Maka wajar jika seorang ayah merindukan putrinya.
Airin memilih duduk disamping nenek sri diikuti ririn. sedangkan kedua orang tuanya duduk didepannya.
"ada acara apa ini... apa akan ada pesta...." tanya nenek sri memulai pembicaraan.
"iya bu... saya sama mas iwan udah nyiapin semua ini dengan sempurna..." jawab bu dewi dengan semangat.
"memangnya acara apa dewi... sampai dibuat semegah ini....kapan acaranya... apa udah selesai..."tanya nenek penasaran.
"ya belumlah bu... acaranya besok... makanya hari ini harus selesai..." jawab bu dewi. Sedangkan pak iwan hanya diam saja dari tadi.
"bagus dekorasinya... kayak orang mau nikah... pasti mahal ya..." ujar tante elsi.
__ADS_1
"ya mahal lah elsi... acara pernikahan putri iwan sanjaya harus megahlah... dan harus mewah..." jawab bu dewi dengan semangat.
Mendengar perkata mamanya airin terkejut dan menatap ririn dengan penuh tanda tanya. Sedangkan ririn hanya mengangkat bahunya pertanda tidak tahu.
" pernikahan.... aira mau nikah... mbak... sama siapa..."tanya elsi terkejut.
"bukan aira tapi airin...." jawab bu dewi tegas.
"airin... kok bisa..." ujar nenek sri terkejut dan menatap airin. Airin menggelengkan kepalanya pertanda dia tidak tahu apa-apa.
semua orang menatap airin dengan penuh tanda tanya.Sedangkan airin yang terkejut hanya diam seribu bahasa.
"airin jelaskan sama tante... bagaimana tante sama nenek tidak tahu kamu mau menikah..." tanya tante elsi yang mulai marah sama airin karena mengetahui airin diam-diam mau menikah.
"tidak tante... airin tidak tahu apa-apa. benar tante... nenek tolong airin..." pita airin sambil menggoyangkan lengan nenek sri.
Nenek sri menghela nafas panjang mencoba mengontrol emosinya.
"jadi dewi... jelaskan semuanya sama kami... bagaimana bisa tiba-tiba kamu ingin menikahkan airin... setahu ibu airin belum ingin menikah..." tanya nenek sri yang mencoba mencari penjelasan.
"ini tidak tiba-tiba ibu... semuanya sudah saya atur sebulan yang lalu... dan mas iwan menyetujuinya..." jawab bu dewi.
"sebulan yang lalu.... tapi kamu tidak pernah membicarakan hal ini sama ibu... " kata nenek sri kaget mendengar pernyataan bu dewi.
"aku takut ibu tidak setuju..." jawab bu dewi dengan nada rendah.
"jadi kalau sekarang kamu anggap ibu setuju...." tanya nenek sri dengan nada bicara mulai keras.
"tidak juga bu... tapi ini sangat penting untuk perusahaan kita bu..." kata bu dewi sambil memelas.
"kamu hanya mementingkan perusahaan saja... apa kamu tidak memikirkan putrimu... kenapa kamu tidak meminta persetujuan airin terlebih dahulu..." ujar nenek sri.
"itu tidak perlu bu.... airin pasti setuju dengan pernikahan ini... ya kan airin..." ujar bu dewi sambil melirik airin.
"tapi ma... airin belum siap menikah... lagi pula airin belum punya calon suami..." ujar airin mencoba mencari alasan.
"mama sudah jodohkan kamu... kamu hanya perlu menikah besok..." ujar bu dewi dengan tegas.
"tapi ma... kenapa harus airin.... nenek tolong airin nek..." airin meminta nenek untuk membantunya.
Belum sempat nenek sri bicara bu dewi sudah nyosor duluan.
"bu... ini masalah keluarga saya... airin putri saya... jadi saya berhak menikahkan dia dengan siapapun yang saya inginkan... jadi tolong ibu jangan ikut campur..." kata bu dewi pada nenek sri.
"mama... jaga bicaramu... dia itu ibu kita..." bentak pak iwan.
"iya saya tahu pa... tapi saya hanya ingin ibu tidak membela airin kali ini..." balas bu dewi.
"tapi ma..... kamu juga jangan keterlaluan seperti ini..." ujar pak iwan.
"keterlaluan katamu... mama hanya meminta ibu untuk tidak ikut campur urusan mama sama airin... itu aja kok gak lebih..." kata bu dewi dengan sinis.
"tapi mbak... memaksa anak untuk menikah dengan orang yang tidak dia cintai itu salah mbak..."sambung tante elsi.
"dimana salahnya.... cinta bisa datang ketika menikah... kalau nanti memang mereka tidak cocok kan bisa bercerai... yang terpenting sekarang airin harus menikah besok...." ujar bu dewi dengan suara agak tinggj.
"tapi mbak..."sahut tante elsi.
"gak ada tapi-tapian... airin besok harus nikah titik..." tutur bu dewi.
"kenapa mbak egois sekali... kenapa mbak selalu memaksa airin sih mbak..." tante elsi sudah mulai marah.
"saya egois... saya memang egois... lalu kamu mau apa hah..." bentak bu dewi.
Nenek hanya dapat melihat saja perdebatan antara tante elsi dan bu dewi.
"cukuuuup...." teriak airin. Suara airin mampu membuat isi rumah terdiam semua. semua orang melihat kearah airin.
"cukup aku bilang cukup... kalian semua terus saja berdebat... kenapa kalian tidak satupun bertanya pendapatku... apa aku tidak punya hak untuk berbicara disini..." teriak airin frustasi.
"ya kamu punya hak berbicara... tapi kamu tidak punya hak untuk menolak perjodohan ini...mama sudah mengatur semuanya untuk kamu" jawab bu dewi lagi.
airin tersenyum sinis.
"sama aja ma... aku bisa bicara tapi dianggap bisu sama mama..." pungkas airin dengan kecewa.
"apa kamu bilang... berani sekali kamu bicara seperti itu sama mama..." bentak bu dewi
"lalu aku harus bagaimana ma... pernah tidak mama mendengar pendapat airin... pernah tidak mama menanyakan maunya airin... tidakkan... airin harus selalu mendengarkan kata mama... airin capek ma diginiin terus... airin capek..." teriak airin.
semua terdiam melihat airin yang sudah menangis. airin terlihat sangat kacau dan frustasi.
"papa... kenapa papa selalu diam saja. kenapa papa tidak pernah membantu airin... airin tidak pernah minta apa-apa sama papa selama ini. tapi kali ini pa... kali ini saja... tolong batalkan pernikahan ini pa... airin belum ingin menikah... papa tolong airin.." pita airin dengan suara paraunya pada papanya. Airin memegang papanya sampai ia bersujud dikaki papanya.
pak iwan tidak tega melihat airin namun dia juga tidak mampu melawan istrinya itu. Dia hanya memeluk putrinya dalam dekapannya.
Melihat tidak ada reaksi apapun dari papanya. Airin mengendurkan pelukannya dan berdiri sambil melangkah mundur.
"ternyata percuma airin memohon.. tak satupun dari kalian mau mendengarkan airin.. jika memang tidak ada yang mau mendengarkan airin.... lebih baik airin pergi dari rumah ini... airin tidak akan menikah dan tidak akan pernah mau menikah..." teriak airin sambil berlari ingin keluar dari rumahnya.
"berhenti.... airin berhenti..." teriak mamanya yang berhasil menghentikan langkah airin.
__ADS_1
Tinggal selangkah lagi maka airin sudah akan keluar dari pintu utama. Namun kaki tergantung mendengar teriakan mamanya.