AKU AIRIN BUKAN AIRA

AKU AIRIN BUKAN AIRA
Bab. 14 Mengalah


__ADS_3

Airin masih mematung didepan pintu.Teriakan mamanya membuat airin ragu melangkah namun dia pun tidak menoleh kebelakang.


"Berhenti airin... jika kamu berani melangkah keluar... kamu akan kehilangan mama...." teriak bu dewi.


Airin masih saja diam mematung.


"airin... mama tidak main-main airin... (mengambil pisau dari tangan pekerja dan mengarah keperutnya) jika pernikahan ini tidak terjadi lebih baik mama mati...." teriak bu dewi sambil menunjuk perutnya dengan pisau.


"jangan...." teriak semua orang disana.


Airin terkejut mendengar teriak mereka. Seketika airin berpaling betapa terkejutnya dia melihat mamanya mengarahkan pisau ke perutnya.


Airin langsung berlari kearah mamanya.


"jangan ma... jangan.. berikan pisau itu sama airin. berikan ma..." pita airin sambil menyulurkan tangannya.


"tidak.... daripada mama harus menanggung malu karena acara pernikahanmu batal lebih baik mama mati...." teriak bu dewi sambil mencoba menekan pisau keperutnya.


"tidak.... "teriak airin.


"jangan ma... jangan lakukan itu... airin janji airin akan menuruti semua kemauan mama... tapi ma.. tolong berikan pisaunya pada airin ma...." pita airin dengan berlinar air mata.


"kamu janji sama mama... kamu tidak akan pergi dari rumah... dan kamu akan menyetujui pernikahan ini..." tanya bu dewi.


"iya ma... airin janji... airin akan menikah besok...." kata airin dengan sesegukan.


Bu dewi memberikan pisau sama airin. Segera airin mengambilnya dan melepar pisau itu sejauh mungkin.


Airin langsung memeluk mamanya. Seluruh tubuh airin gemetar karena ketakutan. karena orang yang paling dia sayangi hampir saja kehilangan nyawa karenanya.


"kamu harus berjanji sama mama, airin. Kamu akan menikah dengan randy besok. mama hanya bisa berharap pada kamu. hanya kamu yang bisa menyelamatkan perusahaan papa, airin..." kata bu dewi sambil memeluk airin.


"iya ma... airin janji... tapi mama janji juga jangan sampai melakukan hal bodoh kayak tadi... airin sungguh takut ma...." ujar airin yang masih menangis.


Nenek hanya menatap kasihan sama airin. Dia selalu menanggung beban yang begitu berat dari keluarganya. Dia selalu berkorban untuk mereka tapi mereka sedikit pun tidak peduli dengan perasaan airin.


"airin... kamu yakin mau menikah nak...." tanya nenek sri dengan hati-hati agar bu dewi tidak tersinggung.


Airin melepaskan pelukannya dan duduk disamping nenek. terlihat pak iwan menarik tangan bu dewi untuk duduk disampingnya.


"iya nenek... airin yakin... jika pernikahan ini dapat membantu mama sama papa maka airin siap menikah nek..." kata airin sambil tersenyum. Namun terlihat senyuman yang dipaksakan oleh airin.


"tapi airin... pernikahan itu bukan main-main nak... pernikahan itu sakral dan nenek berharap kamu menikah hanya sekali dalam seumur hidupmu...." nenek sri menatap airin dengan cemas.


"iya nek... airin tahu..."jawab airin sambil menahan tangisannya.


"Iya nek airin tahu... tapi apa yang bisa airin lakukan nek... jika airin menolaknya maka nyawa mama taruhannya. airin tidak punya pilihan lain nek..." batin airin dengan mata berkaca-kaca.


"tapi airin... coba pikirankan sekali lagi.... ini menyangkut masa depanmu nak...." kata nenek sri sambil mengusap rambut airin.


"cukup bu... airin sudah setuju untuk menikah besok... tolong ibu diam jangan menghasut airin untuk tidak menikah..." kata bu dewi dengan nada bicara sedikit tinggi.


"tapi dewi... airin setuju karena ancaman kamu... kalau kamu tidak berbuat nekat tadi... airin pasti tidak akan menyetujui ide gila kamu..." sahut nenek sri dengan marah.


"ide gila kata ibu...(bu dewi menggeleng-gelengkan kepala merasa kesal dengan perkataan nenek sri) asal ibu tahu aja.. aku lakukan semua ini untuk perusahaan kita... perusahaan yang telah dibangun dengan susah payah oleh mas iwan, putra ibu sendiri... apa ibu tega melihat kerja keras mas iwan selama ini hancur begitu saja..." tanya bu dewi.


"jaga bicaramu ma... jangan keterlaluan kamu sama ibu..." bentak pak iwan memotong perkataan bu dewi

__ADS_1


"tapi pa... yang aku katakan semua itu benar. dan apa aku salah meminta bantuan putriku sendiri..." balas bu dewi dengan nada sama tingginya dengan pak iwan.


"iya kamu salah... kamu bukan meminta tapi memaksa putrimu sendiri..." ujar pak iwan emosi.


"tapi pa... semua itu mama lakukan untuk papa... mama mencoba menyelamatkan perusahaan papa..." teriak bu dewi.


Papa iwan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Karena perkataan istrinya itu memang benar, perusahaanya memang sangat membutuhkan suntikkan dana yang cukup besar. Dan hanya pernikahan airin yang dapat menyelamatkan perusahaannya.


Airin menarik nafas dalam-dalam untuk mengontrol emosinya. Dia menatap nenek sebentar lalu menghampiri papanya.


"pa... papa jangan marah ya sama mama... airin bersedia menikah kok... airin tidak terpaksa kok pa..." ujar airin dengan lembut. Airin mencoba sebisa mungkin untuk menahan air matanya dan memaksa diri untuk tersenyum.


"tapi nak... jika kamu memang tidak ingin menikah tidak apa-apa... jangan sampai kamu menyesal nanti..." kata pak iwan yang menatap sedih kearah airin.


Airin memberikan senyuman termanisnya untuk pak iwan.


"papa jangan khawtir ya... airin yakin... apapun yang mama pilih untuk airin itu pasti untuk kebaikan airin... iya kan ma..." kata airin sambil melirik kearah bu dewi.


Bu dewi hanya diam saja mendengar perkataan airin. Sedangkan nenek hanya dapat menatap iba pada airin.


"tapi nak... tadi kamu menolaknya... papa yakin kamu pasti terpaksa melakukan semua ini..." kata pak iwan.


"tidak pa... airin tidak terpaksa... benaran pa... tadi airin cuma terkejut aja... baru pulang udah disambut dengan pesta pernikahan...airin kan jadi syok pa..." kata airin sambil memaksa diri untuk ketawa.


Airin memegang tangan papanya.


"pa.. papa jangan khawatir ya.. airin baik-baik saja... airin insya allah udah siap menikah... airin janji sama papa... airin akan hidup bahagia...janji" kata airin dengan manja sama papanya.


pak iwan hanya menatap sedih putri kecilnya. Airin yang mencoba menjadi bijaksana diumurnya yang masih sangat muda.


Pak iwan memeluk airin dan mengecup kening airin dengan lembut.


"iya pak.... ririn kamu mau ikut..." airin melirik ririn yang sedari tadi mematung disana.


"iya... aku ikut juga ai..."sahut ririn.


"Airin keatas dulu ya... " kata airin.


Airin menaiki anak tangga satu persatu dengan langkah kaki yang berat. Namun dia bersikap kuat didepan semuanya. Ririn hanya mengikuti airin dari belakang.


Airin meletakkan koper disamping ranjang dan merebahkan diri diatas kasur.


Ririn mengunci pintu kamar dan menggampiri airin yang sedang terbaring ditempat tidur.


"kenapa kamu menatapku seperti itu..." airin merasa risis karena ririn menatapnya.


"airin... kamu baik-baik saja..." tanya ririn khawatir melihat tingkah airin yang sok tegar.


"apaan sih kamu... aku sehat.. aku lagi gak sakit... aneh kali pertanyaannya..." airin mencoba mengeles dan tertawa kecil sambil memejamkan matanya.


"airin... sampai kapan kamu kayak gini... aku selalu ada untuk kamu.. tapi kamu kenapa selalu merasa kuat... sok hebat...dan tegar... sampai kapan..." tanya ririn dengan suara gemetar menahan tangis.


Ririn begitu terluka melihat kondisi airin namun dia tidak bisa berbuat banyak untuk sahabatnya itu.


"kamu ngomong apa sih... aneh..." airin masih saja memejamkan matanya namun dadanya sudah semakin sesak.


"airin...(menarik airin sehingga terduduk diatas kasur) tolonglah jangan dipendam rasa sakitnya sendiri... aku tahu kamu terluka... aku tahu kamu rapuh... tapi kenapa airin kamu selalu memendam rasa sakit itu sendiri... aku selalu ada untukmu airin....cerita sama aku ai..." kata ririn sambil menangis dan memeluk tubuh kurus airin.

__ADS_1


Airin hanya terdiam seperti patung saat ririn memeluknya. Tubunnya disini namun rohnya entah dimana.


"aku harus apa rin... ini takdirku..." ucap airin lirih.


ririn yang mendengar ucapan airin terenyuh hatinya bagaikan disayat sembilu. Baru kali ini diam melihat sahabatnya itu dalam kondisi terburuknya.


ririn tidak kuasa menahan tangisnya dipeluknya sahabatnya itu dengan erat.


"airin... kamu dengar ya... mungkin aku tidak bisa berbuat apa-apa... tapi setidaknya kamu ceritakan semua masalahmu padaku... kamu keluarkan semua rasa sakit itu... itu akan membantumu untuk lebih baik..." kata ririn yang mencoba menguatkan airin.


Airin masih saja diam seribu bahasa dan tetap mencoba menahan rasa sakitnya itu.


Ririn melepaskan pelukannya dan menatap kedua bolak mata airin. Terlihat jelas kesedihan yang ditunjukkan oleh kedua mata airin yang indah itu.


"Airin... kamu bukan lagi orang asing bagiku... kamu saudaraku... aku sakit melihatmu sakit... aku menderita melihatmu menderita... selama ini aku diam saja melihatmu menderita tapi kali ini aku tidak bisa... aku harus bisa mengurangi rasa sakitmu itu... aku tidak bisa melihat saudaraku terluka sendirian disini... aku sakit airin melihat kamu seperti ini... airin tolong bicara sama aku..." kata ririn dengan air mata yang mengalir semakin deras. Ririn menggoncang tubuh airin dengan sangat kuat karena frustasi melihat airin.


Akhirnya pertahanan airin pun hancur, airin tidak bisa membendung air matanya lagi. Air mata airin tumpah seketika sambil memeluk erat sahabatnya itu.


"mengapa rin... mengapa takdir mempermainkanku...apa salahku.... sehingga aku harus menanggung derita ini... apa salahku rin.. sehingga mama tidak bisa melihat cinta dimataku untuknya... apa yang kurang dariku rin... sehingga mama tidak mencintaiku... aku hanya meminta sedikit cinta darinya tapi kenapa... kenapa aku sangat sulit mengapai cinta mamaku rin... kenapa..." tanya airin sambil sesegukan.


"sabar airin..." hanya kata itu yang bisa ririn ucapkan.


Airin melepaskan pelukannya dari ririn dan duduk tegap didepannya dengan air mata yang masih berlinang.


"ririn... coba kamu lihat diriku... apa yang salah padaku... sehingga mama begitu membenciku... apa aku kurang baik.. atau aku kurang cantik... apa aku kurang patuh... jika memang begitu aku akan menjadi anak baik dan cantik utuh mama... bahkan aku akan menjadi anak yang patuh juga..." kata airin dengan frustasi.


Ririn semakin tidak bisa menahan air matanya. Dia begitu hancur melihat sahabatnya begitu frustasi.


"ririn jawab aku... apa yang harus aku lakukan rin... mengapa sulit sekali hidupku ini... tidak ada seorangpun yang mengasihiku... bahkan keluargaku sendiri mengabaikanku... aku ingin mati tapi aku tidak bisa rin... agamaku melarang bunuh diri seandainya tuhan tidak melarangnya aku akan kembali padanya dengan suka rela..." kata airin lagi yang semakin ngacau kata-katanya.


"apa yang kamu katakan airin... jangan pernah berpikir bodoh seperti itu... aku saudaramu... jika mereka tidak ingin jadi keluargamu... ada aku yang akan menjadi saudaramu... kita bisa hidup berdua..." bentak ririn ketika mendengar perkataan bodoh airin.


Airin hanya tersenyum kecut kearah airin dengan tatapan kosong.


"kenapa rin... keluarga sendiri terasa seperti orang asing bagiku... tapi kamu yang orang asing tidak ada ikatan apapun denganku terasa seperti saudara sendiri..." kata airin lirih.


"airin... jika kamu memang tidak menginginkan pernikahan ini... ambil barangmu kita pergi dari sini... kita akan tinggalkan kota ini selamanya dan kita akan memulai hidup baru berdua ditempat lain.." kata ririn dengan tegas sambil memegang kedua tangan airin.


Airin melepaskan tangan ririn dan mundur dengan pelan-pelan sambil memeluk kedua kakinya.


" tidak rin... aku tidak bisa..." kata airin yang masih saja menangis.


"tapi kenapa airin...bukankah kamu terluka berada disini... tidak ada satupun dari keluargamu yang mengerti perasaanmu... lebih baik kamu ikut aku... kita pergi dari sini" kata ririn lagi.


"aku tidak bisa rin... aku tidak bisa pergi dari sini... kamu tahu sendirikan rin.. mama bagiku bagaikan detak jantung... bagaimana jantungku akan berdetak kalau mama pergi rin... aku takut kalau mama berbuat nekat kayak tadi... bagaimana kalau mama mencelakai dirinya sendiri karena kecerobohanku rin... aku takut itu terjadi..." kata airin yang kembali menangis mengingat kejadian tadi.


"airin... kamu jangan bodoh... mamamu itu hanya berpura-pura karena dia tahu kelemahanmu..." teriak ririn kesal.


"tapi rin... aku sangat takut kalau hal itu terjadi... aku tidak bisa hidup jika sesuatu terjadi pada mama..." kata airin dengan air mata semakin deras mengalir.


Ririn menghapus air mata airin dan airi matanya. dia hanya bisa kasihan kepada sahabatnya itu. Terlihat kedua mata airin sembam dan bengkak karena terlalu lama menangis.


"jadi... apa yang akan kamu lakukan...." tanya ririn yang kondisinya hampir sama sama airin.


"aku akan mengalah... bukan mengalah tapi aku harus mengalah demi mama rin... jika memang pernikahan ini yang mama inginkan maka aku akan menikah besok..." kata airin bersungguh-sungguh.


Ririn tidak dapat berkata apa-apa. Dia hanya bisa memeluk sahabatnya itu dengan erat. Airin membalas pelukan ririn kembali.

__ADS_1


Kedua sahabat itu melampiaskan kesedihan mereka semalaman sampai akhirnya mereka ketiduran karena kelelahan.


__ADS_2