
Hiks...hiks.... terdengar isak tangis seorang perempuan dari ujung sana. Dia melipatkan tangannya sambil memeluk kedua kakinya itu.
Dia menyembunyikan kepalanya disela-sela kedua tangannya. Air mata semakin deras mengalir dari pelupuk matanya. Nampak seorang wanita paruh baya sedang mendekatinya.
" Dewi...." panggil nenek sri dengan lembut sambil mengelus kepala menantunya itu.
Bu dewi menoleh keatas. Spontan memeluk wanita paruh baya yang ada didepannya itu.
"ibu......" bukannya tenang malah tangis bu dewi semakin menjadi dalam pelukan nenek sri.
"Kenapa wi... kenapa kau terlihat sangat kacau seperti ini.... bagaimana keadaan aira...." tanya nenek sri lagi dengan wajah nampak kebingungan.
Pasalnya tadi, pak iwan tidak memberitahukan bagaiman kondisi aira. Dia hanya mengatakan kalau aira masuk rumah sakit tadi ditelpon. Setelah itu nenek sri langsung bergegas menuju rumah sakit.
"Ai...Aira... Aira .. bu.." bu dewi terbantah-bantah menyebut nama aira. Dia tak bisa menahan tangis. Tangannya bergetar menunjuk ke arah aira yang sedang berada dalam ruangan IGD.
" Ya Allah aira....( nenek sri sangat syok melihat cucunya terbaring lemah tak berdaya di atas ranjang rumah sakit) Kenapa aira wi... Mengapa begitu banyak selang diatas tubuh aira wi...?" tanya nenek sri dengan wajah tak percaya kalau yang terbaring itu ada cucunya.
" aira mengalami bocor jantung bu..." dengar suara serak kalimat itu berhasil lolos dari mulut bu dewi.
"Apa.... bocor jantung...." sahut nenek sri seakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh menantunya tadi.
"iya bu ( bu dewi semakin terisak, dadanya terasa sesak) kata dokter, aira sudah divonis bocor jantung semenjak dia bayi" pungkas bu dewi lagi.
"Astagfirullah.... Bagaimana bisa... selama ini aira terlihat baik-baik saja" nenek sri melangkah mundur kebelakang saking shoknya. Tubuh terasa lemas dan tidak terasa bulir putih keluar dari kelopak matanya yang keriput.
"saya juga tidak tahu bu... lebih parahnya lagi aira harus dioperasi segera" tutur bu dewi lagi. Isak tangis bu dewi semakin terdengar keras.
"Ya allah... cobaan apalagi ini ( sambil memegang dadanya yang terasa nyeri)... Iwan kemana..." tanyanya sambil melirik sekitar ruangan mencari iwan. Namun nenek sri tidak dapat melihat anaknya itu.
" Mas iwan tadi pergi sama dokter untuk isi formulir persetujuan wali pasien" jawab bu dewi.
Kini kedua wanita itu hanya menunggu diluar ruangan. Bu dewi terus menangis dalam pelukan nenek sri. Tangan lembut nenek sri hanya mampu mengelus pundak menantunya untuk menenangkannya.
Mata bu dewi tidak pernah berpaling dari ruangan aira dirawat. Matanya terus menantap aira kecil yang malang disana.
Pak iwan sudah selesai mengisi formulirnya. Dan kembali menuju ketempat dimana istrinya sedang menunggu putri kecilnya yang lemah tak berdaya.
Disana terlihat istri dan ibunya saling berpelukan. Masih terdengar suara isak tangis dari dua wanita yang paling ia cintai.
Dan terlihat juga seorang malaikat kecil yang terbaring lemah disana. Hatinya sesak melihat kondisi saat ini.
"andai saja aku tidak mengajak mereka keluar... andia saja aku lebih berhati-hati lagi... mungkin kejadian ini takkan terjadi" batin pak iwan menyesali keputusannya kemaren.
"Mengapa kau begitu teledor... padahal kau tahu aira sakit jantung.. tidak bisa kecapean... kenapa... kenapa... kenapa bodoh sekali aku ini...." pak iwan terus mengutuki dirinya sendiri.
Dia pun menghampiri dua wanita yang ada disana. Dua wanita yang sedang berpelukan mengendurkan pelukannya. Dan menatap pak iwan dalam-dalam seakan-akan sedang mencari jawaban dari masalah mereka.
Namun hanya mata sendu yang mereka lihat. Pak iwan pun nampak lebih kacau dari bu dewi.
Aira pun dipindahkan ke ruangan operasi. Mereka menunggu dengan harap-harap cemas. bu dewi terus mendoakan aira agar operasinya lancar.
Suasana menjadi hening. Semua kalut dalam pikiran masih-masih. Hanya doa terbaik yang selalu terlintas dalam benak mereka untuk aira.
"nenek... (menarik lengan baju nenek sri) aira kenapa... " suara lembut airin memecahkan keheningan ruangan itu.
"airin...(terkejut karena tiba-tiba memanggilnya) sayang... sini sama nenek ( airin pun menghampirinya) aira lagi sakit sayang" sambil memeluk cucunya itu.
"ya ampun airin... maafkan nenek, sayang ya. saking paniknya, nenek melupakanmu" batin nenek sri. Ada perasaan sedih dan bersalah ketika melihat airin yang terlupakan.
"aira sakit nenek ya...." tanya airin lagi.
" iya sayang... doakan aira sayang supaya cepat sembuh..." jawab nenek sri sambil mengelus rambut aira.
"Ya Allah... (sambil mengangkat tangannya) airin mohon ya allah... sembuhkan aira... jangan buat aira sakit ya allah... kembalikan aira pada airin ya allah... angkatlah penyakitnya... aminnn" airin menyapu wajahnya dengan kedua tangannya setelah selesai mendoakan aira.
__ADS_1
"Amiiin...." nenek pun ikut mengaminkan doa airin.
Beberapa menit kemudian lampu diruangan operasi pun mati menandakan operasi sudah selesai.
Dokter keluar dari ruangan operasi. Seketika mereka menghampiri dokter dengan harap-harap cewas.
"Sayang... lampunya sayang" seru pak iwan. Bu dewi hanya melirik melihat lampu yang berada diatas ruang operasi.
"itu dokter udah keluar..." sambung nenek sri.
Bu dewi segera menghampiri dokter. "Bagaimana keadaan putri saya dok..." tanya bu dewi
"Alhamdulillah... putri ibu sudah melewati masa kritisnya. Kita hanya perlu menunggu pasien siuman." dokter memberikan kabar baik untuk keluarga pak iwan.
Aira pun dipindahkah keruangan pasien. Bu dewi setia menunggu disana. Dia terus berharap putri kecilnya itu cepat siuman.
"Aira....aira sayang... bangun nak... bangun.... jangan membuat mama khawatir sayang..." sambil meletakkan tangan mungil aira kepipinya.
"bangun sayang... mama janji jika aira bangun... mama tidak akan marah-marah sama aira..." sambung bu dewi dengan air mata yang semakin deras mengalir dipipinya.
"sayang..... sabar ya. sebentar lagi aira pasti bangun... kamu tenang ya..." tutur pak iwan.
Bu dewi bangkit dari kursinya dan mendekati pak iwan. Bu dewi tampak terlihat kesal mendengar nada bicara pak iwan yang mencoba menenangkannya.
"tenang katamu mas... lihat mas (menuju jam di dinding) sudah berapa jam aku menunggu aira disini.. tapi putriku masih belum bangun juga...bagaimana aku bisa tenang mas..." pekik bu dewi menahan amarahnya pada pak iwan.
"iya sayang... aku tahu... tapi dokter tadi udah kasih tahu... aira masih dibawa obat bius... jadi butuh waktu lama untuk siuman." pak iwan masih mencoba untuk menenangkan bu dewi.
"Tapi sampai kapan mas.... aku harus menunggu... sampai kapan " bentak bu dewi lagi.
"sebentar lagi sayang... dokter bilang..." belum habis perkataan pak iwan udah dipotong sama bu dewi.
"Cukup... (bentak bu dewi lagi) kamu mas ya... selalu berkata dokter bilang... dokter bilang... bisa kah kamu sedikit khawatir terhadap putri kita....atau memang kamu tidak peduli dengan aira karena dia penyakitan," kata bu dewi dengan sinis. Dan masih terdengar isak tangis bu dewi.
"astagfirullah mama... apa yang kamu katakan... aira itu juga putriku... bagaimana aku tidak khawatir padanya..." perkataan bu dewi membuat pak iwan terkejut.
"Apa kamu tidak percaya padaku.... apa kamu juga tidak percaya pada keahlian dokter..." tanya pak iwan yang mulai kesal melihat tingkah istrinya itu yang menuduhnya seenak hatinya.
"percaya katamu....( tersenyum tipis dengan air mata terus mengalir) karena aku terlalu percaya pada kalian... aku hampir kehilangan putriku..." bentak bu dewi. Dia sangat kecewa dengan sikap suaminya yang mencoba menutupi penyakit aira darinya.
jlebbbb..... kata-kata bu dewi bagaikan tusukkan belati yang tajam yang menusuk tepat diulung hati pak iwan.
Kebohongan yang dia ciptakan membuat dia tidak bisa berkata-kata. Seandainya pak iwan jujur tentang kondisi aira dulu mungkin istrinya tak akan mengeluarkan kata-kata kejam seperti itu.
"Dan untuk sekarang aku tidak akan percayakan putriku pada siapa pun... termasuk kamu mas..." bu dewi menunjuk pak iwan yang tepat berada di depannya.
"ta... ta.. tapi sayang...." pak iwan terbantah-bantah menjawab pernyataan bu dewi.
Bu dewi memalingkan wajahnya dari pak iwan. "aku sudah terlanjur kecewa padamu mas... seharusnya kau jujur padaku..."
Bu dewi kini hanya menatap putri kecilnya terlulai lemah disana. Seketika matanya terbelalak melihat tangan mungil aira bergerak.
"Aira... sayang..... (langsung memegang tangan aira) ini mama sayang..." bisik bu dewi dengan pelan
Perlahan-lahan aira membuka mata. Dia mendapati mamanya sedang duduk memperhatikanya.
"mama...." panggil aira. Suaranya sangat lemah
"iya sayang... mama disini... "jawab bu dewi sambil memperbaiki selimut aira.
"papa..." aira juga memanggil papanya.
"iya sayang.... papa juga ada disini.." pak iwan melangkah menghampiri aira dan membelai aira dengan lembut.
"sayang... jangan banyak gerak dulu ya... istirahat dulu.. mama temani aira disini..." pita bu dewi pada aira.
__ADS_1
Aira hanya menganggukkan kepalanya. Badannya masih sangat lemah. Dia pun memejamkan matanya karena memang dia memang membutuhkan istirahat.
Pak iwan menatap istrinya sangat lama. Istrinya tanpa sangat lemah ditambah lagi bu dewi belum makan apapun dari tadi.
"mama... makan dulu kita yuk... nanti aira biar ibu yang jaga..." sambil mendekati bu dewi dan memegang bahunya.
"tidak pa.... mama tidak lapar... papa aja yang makan." sambil melirik pak iwan.
" ya udah... papa belikan makan... nanti kita makan sama sama disini..." sambung pak iwan lagi.
Bu dewi hanya mengangguk saja. karena saat ini rasanya tidak ada selera untuk makan.
Pak iwan keluar menuju kantin rumah sakit. Dia membeli sarapan seadanya untuk dia dan istrinya.
Disana tampak airin sedang makan disuapin nenek sri. Setelah aira dipindahkan keruangan, airin meminta makan sama mamanya tapi tidak digubris oleh bu dewi.
Terpaksa airin pergi ke kantin sama nenek sri. Namun sikecil airin tampak lebih bijaksana. Dia tidak rewel ataupun nakal disana. Dia tahu kalau saudaranya sedang sakit. Kalau anak seumurnya pasti udah rewel minta pulang.
"airin lagi apa... udah makan" tanya pak iwan sambil mengusap kepalanya.
"ne lagi makan... disuapi nenek..." sambil mengunyah makanannya. Airin tersenyum manis pada pak iwan.
" Papa... papa udah makan... mama udah makan" Tanya airin lagi.
"belom sayang... ne papa baru beli makanan buat mama.." menunjuk bawaan belanjanya tadi.
"ohhh... tunggu airin sebentar lagi papa ya... cuma dua suap lagi...airin mau bantu mama makan, kasian mama belom makan dari tadi... pasti mama kelaparan" katanya lagi.
Pak iwan hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dalam benaknya dia berpikir " kamu sangat memperdulikan mamamu nak... sedangkan mama mu sepertinya lupa akan keberadaanmu... andaikan kamu disana dan aira disini apakah aira akan secemas kamu nak....?"
Pak iwan menatap airin sangat lama. Bocah cilik itu sangat tergesa-gesa makannya. Dia sangat ini bertemu dengan mamanya.
"kenapa wan... " tanya nenek sri ketika melihat putranya termenung.
" iya bu... ngak papa.... cuma senang aja melihat airin makan" jawabnya sekenaknya.
"tidak wan... kamu sepertinya sedang mengkhawatirkan sesuatu... jangan bohong sama ibu..." menatap wajah putranya dan mencoba mencari kebenaran disana.
Pak iwan menghelas nafas secara kasar. Dan mulai menceritakan keluh kesahnya itu.
" iya bu... sebenarnya... aku sangat khawatir bu.. mengenai airin bu..." jawab pak iwan
"kenapa airin... apa dia juga mengalami bocor jantung...." nenek sri tampak panik mendengar pak iwan bicara setengah-setengah.
"tidak bu... airin baik-baik saja." sahut pak iwan
nenek sri nampak bernafas lega. "syukurlah... jadi apa yang kamu khawatirkan nak..."tanyanya lagi.
" saya khawatir... airin akan kekurangan kasih saya mamanya. ibu lihat sendiri kan bagaimana sikap dewi sekarang." sambil memerhatikan airin yang sedang makan.
"mungkin karena syok, makanya dewi seperti itu. kita beri dewi waktu untuk mempelajari keadaan ini. kalau aira sudah sembuh mungkin keadaan akan kembali normal seperti dulu " nenek sri mencoba menenangkan pak iwan yang sedang kalut.
"aku rasa tidak mungkin bu... tapi ibu ada benarnya juga... mungkin ini hanya perasaan aku saja." mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa pemikirannya selama ini salah.
"airin udah siap makannya..." sambil mengelap bibir airin yang belepotan.
"udah papa... ayok kita ke mama... " sambil menjulurkan tangannya minta gendong.
Pak iwan pun menggendong sikecil airin. Mereka bertiga pun pergi dari kantin rumah sakit dan menuju ruangan aira dirawat.
Prov pak iwan.
*aku memang mengkhawatirkan aira karena kondisinya sangat lemah. Dia sangat rentang sakit. Panyakit jantung itu sangat berbahaya dan sangat sulit untuk di sembuhkan.
Disisi lain aku mulai kasian pada airin. mungkin mulai sekarang airin harus bisa menerima sikap mamanya yang berubah. Aku berharap agar airin memiliki hati yang luas dan sabar.
__ADS_1
Mungkin ini arti dari impian langit biru airin. semoga dia bisa menjadi langit biru yang terang untuk dirinya sendiri walaupun awan gelap mengelilinginya*.