AKU AIRIN BUKAN AIRA

AKU AIRIN BUKAN AIRA
Bab. 5 Pertengkaran


__ADS_3

Kleek.... suara pintu dibuka. Bu dewi menoleh ke arah sumber suara tadi. Ternyata pak iwan, airin dan juga nenek sri yang datang.


Mereka berbarengan kembali dari kantin. Dan pak iwan juga membawa makanan untuk bu dewi dari kantin dan meletakkannya dimeja.


" mama makan dulu yuk... ( Sambil duduk dan membuka nasi bungkus yang dibawanya tadi) ne udah papa beliin nasi bungkus... soalnya hanya ini yang ada dikantin rumah sakit..." ajak pak iwan.


"mama ngak lapar pa.... papa aja yang makan.." sahut bu dewi yang memang lagi tidak ada selera makan.


pak iwan pun menghampiri bu dewi. "Sedikit aja ma... kalau kamu ngak makan nanti kamu sakit... siapa yang akan jagain aira.." pak iwan mencoba membujuk bu dewi.


Bu dewi tampak tak merespon perkataan pak iwan. Dia masih saja setia duduk disamping aira. Padahal bu dewi belom makan apapun dari sore tadi.


Airin datang menghampiri mamanya untuk mencoba membujuknya.


"Mama...makan dulu yuk... biar airin yang jagain aira...." ujar airin.


"Mama gak lapar sayang..." jawab bu dewi lagi.


"Hanya sedikit aja ma... kalau mama ga mau makan nanti aira sedih kayak airin sekarang... sedih lihat mama kelaparan...." pita airin lagi...


"Baiklah.... mama makan sekarang...(sambil menghela nafas secara kasar) kamu jaga aira kalau aira bangun segera panggil mama..." ujar bu dewi.


"iya mama... nanti airin panggilin mama kalau aira bangun...." sahut airin dengan khas imutnya itu.


Bu dewi bangkit dari duduknya dan menuju ke sofa dimana pak iwan meletakkan nasi tadi.


Mereka pun makan bersama walaupun rasanya sulit sekali menelan nasi itu. Namun dipaksa supaya memiliki tenaga untuk menjaga aira.


klek... bunyi pintu dibuka. Masuk seorang suster untuk memeriksa keadaan aira. Dia juga mengganti botol infus yang hampir habis.


"Permisi bu..." ujar suster tersebut.


"iya suster.." sahut bu dewi


" ibu disuruh dokter untuk datang keruang beliau. Katanya ada yang ingin disampaikan pada bapak dan ibu" ujar suster


"ada apa ya, sus.." tanya bu dewi


"saya tidak tahu bu... saya hanya menyampaikan pesan dokter " sambil mengambil peralatan yang dibawanya tadi.


"iya sus... terima kasih ya.." ujar bu dewi.


"sama-sama... saya permisi dulu bu..." sambil berlalu keluar dari ruangan. Bu dewi hanya mengangguk dan tersenyum tipis pada suster tersebut.


"ayo pa.. kita kesana..." ajak bu dewi.

__ADS_1


"sebaiknya mama disini aja jaga aira... biar aku saja yang menemui dokter."ujar pak iwan.


"aku tidak mau.... kenapa kamu melarang aku menemui dokter. Aira kan ada ibu yang jaga... iya kan bu..." mencoba mencari pembenaran dari mertuanya.


"iya... kalian pergi aja berdua... biar ibu yang tunggu aira disini..." jawab nenek sri.


"Mungkin dia takut bu...(menatap sinis) Takut kalau ada rahasia lagi yang terbuka kalau aku menemui dokter..." Bu dewi mencoba menyindir suaminya. Karena dia masih sakit hati pada suaminya yang berbohong padanya.


"Rahasia apa lagi sih ma..(suara pak iwan mulai agak tinggi) Cuma itu yang aku rahasiakan... yang lainnya ngak ada yang kurahasiakan dari kamu.." Pak iwan mulai kesal karena tuduhan bu dewi.


"Mana tahu aku... Rahasia yang kamu sembunyikan. Aira bocor jantung aja dapat kamu sembunyikan selama 5 tahun. Apa lagi yang lain..." Balas bu dewi yang gak mau kalah.


"Cuma hanya karena itu... kamu tidak percaya lagi padaku..." ujar pak iwan yang mulai marah.


"cuma kata mas(sambil tersenyum tipis dan menatap sinis)... itu bukan hal kecil mas... bocor jantung itu penyakit yang serius...kamu tahu gak..." bu dewi semakin marah ketika mendengar pak iwan menyepelekan penyakit aira.


"iya aku tahu.... "ujar pak iwan.


"Kalau mas tahu....kenapa harus merahasiakan semua ini dari kami...Apa mas tidak peduli sama aira" ujar bu dewi lagi


" Aku peduli sama aira... aku sayang sama dia... aira juga anakku...aku melakukan yang terbaik untuknya... bahkan aku selalu rutin chek up dia kerumah sakit.." jawab pak iwan.


"Mas memang peduli sama dia... tapi seiring waktu mas mulai lupa kalau aira sakit... jika mas memberi tahu aku tentang penyakit aira... mungkin kejadian ini takkan pernah terjadi..." sambung bu dewi lagi.


"aku merahasiakan ini semua juga untuk kebaikanmu....." tidak sengaja kata kata itu terlontar dari mulut pak iwan.


"waktu itu kamu baru saja melahirkan. Dan sangat rawan bila kamu yang baru saja melahirkan mengetahui putri kita mengidam penyakit jantung. aku takut kamu akan streees bilang mendengar ini semua dan akan membahayakan nyawamu..." jawab pak iwan mulai mengontrol emosinya.


"oke...baiklah... waktu itu aku baru saja melahirkan. setelah itu... kenapa tidak kamu ceritakan... hah.." tanya bu dewi yang masih marah sama pak iwan.


Pak iwan tak bisa menjawab pertanyaan bu dewi. Bila dia mengatakan itu semua demi airin maka otomatis bu dewi akan membenci airin karena menganggap pak iwan pilih kasih.


"bukan sebulan dua bulan mas menyembunyikan ini semua... Tapi lima tahun mas... lima tahun..."cerca bu dewi.


" maaf sayang.... bukan aku tidak ingin cerita cuma aku tak tahu harus bagaimana mengatakannya padamu" ujar pak iwan.


"apa susahnya sih mas (bu dewi semakin geram mendengar alasan suaminya) cuma satu kalimat aja... apa susahnya...." ujar bu dewi.


" Aku takut kamu shoook..." seru pak iwan.


" mas takut aku shok... lihat aira sekarang (menunjuk aira) itu yang mas mau... " pekik bu dewi.


"Bukan hanya shok yang mas berikan padaku...mas juga hampir menghilangkan setengah nafas hidupku mas...."bentak bu dewi...


Airin kecil menutup telinga ketika melihat pertengkaran kedua orang tuanya. Siberuntung aira masih terlelap dalam tiduknya karena efek obat yang disuntik suster tadi.

__ADS_1


"cukup....(teriak nenek sri mencoba melerai mereka) apakah kalian tidak kasian pada airin. Dari tadi dia ketakutan melihat kalian bertengkar..." pungkasnya.


"airin..." mereka kompak menyebut nama airin. Mereka benar-benar lupa keberadaan airin disana ketika mereka sedang marah.


"airin....sayang..." pak iwan langsung menghampiri airin dan memeluknya. sedangkan bu dewi membalikkan badan dan duduk lagi disofa.


"papa...." panggil airin dengan suara gemetar.


"airin jangan takut ya.... " menepuk-nepuk pundak airin agar dia tenang.


"airin takut pa (air matanya sudah mengenang dan mulai membasahi pipinya) kenapa kalian bertengkar...." sahut airin dengan wajah ketakutan.


"Tidak sayang.... kami tidak bertengkar.... kami hanya berdebat... airin jangan takut ya..." pak iwan memegang wajah airin dan mengunci matanya untuk meyakinkan airin supaya tidak takut.


Perkataan pak iwan hanya mendapatkan anggukan kecil dari airin. Kemudian pak iwan menggendong airin sambil mengelus-elus kepalanya.


"Kalian ini... berdebat tak tahu tempat ( celoteh nenek sri yang tampak kesal dengan tingkah mereka) untuk cuma airin aja yang dengar... kalau sempat aira bangun dan mendengar kalian begini... pasti jantungnya kumat lagi..." ujar nenek sri sambil menunjuk-nunjuk keduanya.


"iya bu... maaaaf..." jawab suami istri itu dengan kompak dan saling melirik satu sama lain.


"ya sudah sana temui dokter... tanyai semua yang ingin kalian tahu... jangan hanya bisa bertengkar disini..." sindir nenek sri dan mencoba mengusir mereka berdua secara halus.


"iya bu... kami temui dokter dulu.... kami titip aira dan airin ya..." ujar pak iwan.


nenek sri hanya mengangguk. Pak iwan mendudukkan airin disamping aira.


"airin.... (panggilnya lembut) jagain aira ya... kalau aira bangun panggil papa... suruh telpon sama nenek ya..." ujar pak iwan.


"iya pa.... airin pasti jagain aira... "sahut airin.


"airin sekarang udah ngak takut lagi kan..."tanya pak iwan untuk menyakinkan diri kalau airin bisa ditinggal.


" iya papa... airin udah ngak takut lagi... tapi papa janji ya sama airin ( sambil menunjukkan kelingkingnya) papa jangan bertengkar lagi sama mama.... janji..." pita airin dengan wajah memelasnya.


" iya papa janji... (mengaitkan kelingkingnya dengan airin) tapi tadi papa bukan bertengkar sama mama, kami cuma berdebat..." ujar pak iwan mencoba mengajarkan yang baik pada airin.


" iya berdebat (celetuk airin)... itu juga gak boleh ya papa.... soalnya airin takut lihat papa sama mama seperti itu..." seru airin lagi.


"iya... papa ngak akan kek gitu lagi.... papa pergi dulu ya..." sambil mengecup kening airin dan juga kening aira.


"iya papa..." sambil menunjukkan senyum manisnya.


" ayo ma... kita ketemu dokter..."ajak pak iwan.


bu dewi mengikuti langkah pak iwan dibelakang. Nenek sri nampak lega akhirnya mereka keluar dari ruangan.

__ADS_1


"untung udah pergi mereka... anak lagi sakit malah berantem... emang tidak tahu kalau orang sakit perlu ketenangan.... dibilang bodoh orang pintar keduanya.... pusing aku menghadapi tingkah mereka...."batin nenek sri sambil menggeleng- geleng kepalanya.


__ADS_2