AKU AIRIN BUKAN AIRA

AKU AIRIN BUKAN AIRA
Bab 2. Bayi kembar


__ADS_3

Dilorong rumah sakit nampak seorang lelaki sedang duduk dikursi tunggu. Wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang dalam. Wajah semakin bercucuran keringat sambil sekali- sekali melihat jam dinding yang ada disana.


Dia terus natap pintu yang ada didepannya dengan harap-harap cemas. Berharap seseorang akan keluar dari sana.


Sudah 3 jam lebih dia menunggu diluar dan raut wajahnya semakin gelisah berharap istrinya baik-baik saja dan juga kedua anaknya.


Klek... bunyi pintu terbuka. Seketika lelaki itu langsung bangun dari duduknya dan menghampiri suster tersebut.


"Dengan Bapak Iwan" tegur suster tersebut


"iya, saya Iwan... bagaimana keadaan istri dan anak-anak saya sus..?" tanyanya lagi.


Lelaki yang menunggu tadi adalah Iwan Sanjaya yang sedang menunggu persalinan istrinya.


"Alhamdulillah, istri bapak melahirkan dengan lancar dan anak-anak bapak sehat, cuma......! belum sempat suster tersebut menjelaskan Pak Iwan langsung panik.


"Cuma kenapa sus.. ada masalahkan dengan anak-anak saya" tanyanya


"Lebih baik Bapak temui saja dokter didalam. Dokter akan menjelaskan semuanya sama bapak" jawab suster tersebut dan berlalu meninggalkan Pak Iwan disana.


Pak Iwan bergegas masuk kedalam untuk melihat keadaan istri dan kedua anak kembarnya itu.


Pak Iwan tersenyum bahagia melihat istri dan kedua bayi kembarnya selamat dan Bu Dewi sangat terharu melihat kedua putri kecilnya yang sedang tertidur disampingnya.


"Akhirnya sayang... setelah penantian kita yang begitu lama. Allah memberi kita dua buah hati sekaligus" bisik Pak Iwan pada istrinya.


"Iya sayang.. selama ini kita begitu berharap akan adanya buah hati di tengah-tengah kita. Bukan satu malah Allah berikan kita dua putri cantik untuk melengkapi kita..." sambil memeluk Pak Iwan.


Air mata Bu Dewi tak bisa berhenti menetes. seakan-akan dia belum percaya bahwa kedua bidadari cantik di depannya itu adalah anaknya.


Karna selama ini Bu Dewi pernah mengandung namun selalu keguguran. Beliau hampir frustrasi dan tidak mengharapkan akan adanya sibuah hati lagi.


Namun kehendak Tuhan berkata lain, bukannya seorang anak malah dua sekaligus.


Disela-sela kebahagiaan keduanya, dokter datang menghampiri mereka.


"Bagaimana keadaannya bu.... apa ada keluhan sakit.." tanya bu dokter sambil mengecek keadaan Buk Dewi.


"Alhamdulillah.. gak ada keluhan saya dok.. saya terlalu bahagia sehingga tidak merasakan sakit dok " sekilas senyum tipis terlihat diwajahnya sambil melirik sekecil yang ada disampingnya


"Itulah perasaan bahagia menjadi ibu" sambung bu dokter sambil mengelus sikembar.


"Pak Iwan bisa saya bicara sebentar" tanya bu dokter sambil memberi isyarat untuk keluar.


" Bisa dok...." Pak Iwan hendak keluar dari ruangan bersama dokter.


Bu Dewi yang menyadari ada sesuatu yang menjanggal langsung menyelanya.

__ADS_1


" Tunggu sebentar dok.... apa yang ingin dokter sampaikan... katakan saja disini. kenapa harus keluar..?" selidik Bu Dewi seperti tahu keadaan anaknya. Maklumlah insting seorang ibu lebih tajam dari apapun.


Sambil tersenyum dokter menjawab dengan lembut " memang ya... kalau udah jadi ibu selalu ada aja firasatnya. Bu Dewi tenang aja, saja cuma mau berikan resep nutrisi ibu hamil sama Bapak..."


"Tuh dengar sayang, apa kata dokter... jangan mikir macam-macam. Aku keluar sebentar ya" sambil mengecup keningnya dengan lembut.


" Ya udah.. jangan lama-lama sayang ya" pita Bu Dewi


Dokter hanya tersenyum melihat kebahagiaan pasangan itu dan berlalu keluar disusul oleh Pak Iwan dibelakangnya.


Diruangan dokter terlihat jelas raut wajah Pak Iwan menunjukkan kecemasan. Pasalnya sebelum masuk ruangan bersalin tadi Pak Iwan bertemu suster yang membantu persalinan istrinya, ada perkataan suster yang selalu membuat dia harap- harap cemas.


"Silakah duduk Pak.." Dokter mempersilakan Pak Iwan duduk. Pak Iwan hanya mengangguk saja. karena pikirannya kini sudah kalut dan merasa tak enak hati.


" Maksud saya mengajak bapak kemari, saya ingin menyampaikan hal penting mengenai kesehatan salah satu putri kembar anda. Saya tidak bisa mengatakan di depan pasien yang baru melahirkan karena akan berdampak buruk bagi pasien itu sendiri" dokter mencoba menjelaskan kepada Pak Iwan perihal putrinya


"Maksud dokter gimana, saya belum paham... putri saya... sakit..." Pak Iwan masih bingung dengan penjelasan dokter tadi. Pasalnya dia melihat kedua putri kembarnya itu tampak baik- baik saja.


"iya pak.... salah satu putri bapak mengalami bocor jantung" jawab dokter.


Jlebbb... bagaikan petir di siang bolong ketika mendengar putrinya mengalami penyakit yang parah.


"Apa... bocor jantung... apakah bisa disembuhkan, dokter " tanya Pak Iwan lagi. Berharap ada solusi dari dokter tersebut.


"Maaf Pak Iwan. untuk saat ini hanya obat yang bisa membantu untuk putri bapak dapat bertahan. karena kami dari pihak rumah sakit belum bisa melakukan tindakan operasi untuk bayi. Walaupun ada tapi kecil kemungkinan karena kita harus mencari donor jantung yang cocok untuk putri bapak..." sambung dokter lagi.


"Ya Allah... putriku.. (memejamkan mata untuk menahan tangis) bagaimana mungkin bayi semungil itu mengalami penyakit separah itu..." Pak Iwan hampir tidak bisa berkata- kata.


"Baik... saya akan rahasiakan hal ini. tapi Pak, sebaiknya Bu Dewi tahu hal ini karena ini menyakut nyawa putri bapak. Saya takut jika Bu Dewi salah memberikan nutrisi makanan untuk bayi bapak... terutama menyangkut susu kalau salah beri itu bisa berakibat fatal..... karena ASI Bu Dewi tidak lancar." Dokter mencoba memberi penjelasan pada Pak Iwan.


"Iya dok... saya mengerti. Hanya untuk beberapa minggu ini saja. Jika kondisinya sudah mulai membaik, saya sendiri yang akan mengatakannya..." pungkas Pak Iwan.


" itu lebih baik pak dari pada Bu Dewi mendengarnya dari orang lain" sambung dokter.


"oh iya pak... jika putri bapak ada menunjukkan gejala sakit misalnya alergi atau yang lainnya. Segera bapak bawa kesini karena putri yang satu ini memerlukan perawatan yang cepat." dokter mencoba meperingati pak iwan.


"baik dok... sebisa mungkin saya akan mengontrol sendiri putri saya. kalau memang menunjukkan gejala seperti yang dokter katakan. saya akan langsung kesini" jawab pak iwan


Pak iwan keluar dari ruangan Dokter menuju ruangan istrinya. Karena kata dokter tadi istrinya udah dipindahkan keruangan nginap pasien.


klekkkk... suara pintu terbuka. Pak iwan masuk kedalam ruangan dan mendapati istri dan kedua putri kembarnya sedang tertidur disana.


Pak iwan menghampiri kedua putri kembarnya itu. Dan membelai salah satunya.


"betapa malang nasibmu nak... kau baru sehari berada didunia ini namun tuhan memberikan cobaan yang begitu berat untukmu. Andai papa bisa menggantikanmu, ingin rasanya papa yang sakit dan kamu tidak merasakan sakit itu". batin pak iwan


Tanpa disadari bulir putih keluar dari pelupuk mata pak iwan. Dan semua itu tak luput dari pandangan bu dewi.

__ADS_1


"kenapa sayang menangis...apakah dokter mengatakan sesuatu yang buruk tentang putri kita." tanya bu dewi penasaran melihat suaminya meneteskan air mata.


"tidak sayang (pak iwan mencoba menutupinya) ini air mata bahagia... karena kita telah memiliki dua putri cantik ini" melirik bu dewi sambil tersenyum.


"ohhh... aku juga merasakan hal yang sama sayang. rasanya masih seperti mimpi. aku masih tidak percaya ( sambil membelai kedua putri kecilnya itu) Aku bahkan tidak bisa tidur. Aku takut ini semua mimpi. Nanti ketika aku terbangun mereka tidak ada disampingku" jawab bu dewi dengan pandangan masih mengarah kepada kedua putrinya.


"mama bodoh sayang ya... ( pak iwan mengajak kedua putri bicara) masak kita ada disamping masih aja takut pergi... kami belum bisa lari mama" seloroh pak iwan mencoba membuat istrinya tertwa bu dewi. Hanya senyum yang sumringan terlihat diwajah bu dewi. Dan pak iwan berhasil membuat bu dewi tertawa ria.


"Mas.. mau kasih nama siapa buat sikembar kita... beri nama yang bagus sedikit buat malaikat kecil kita" tanya bu dewi di sela- sela percakapan mereka sambil menoleh kearah pak iwan.


"kamu maunya gimana" tanya pak iwan balik. " kamu saja yang beri nama untuk kedua putri kembar kita. Aku yakin nama yang kamu berikan lebih bagus dari aku...." pungkas pak iwan dengan tangan masih membelai rambut sikembar.


"bagaimana kalau sikakak kita beri nama Airana putri sanjaya" tanya bu dewi..


"boleh... nama yang bagus" seru pak iwan menyetujui usul istrinya itu.


"bagaimana dengan siadek" tanyanya lagi.


"kalau siadek aku beri nama airini putri sanjaya... nanti kita pangil aira dan airin... bagus ngak sayang.." mencoba mendengar pendapat pak iwan. Dan pak iwan menyetujui nama usulan darinya.


"nama yang bagus... Aira dan airin... semoga kalian selalu sehat selalu dan akan hidup bahagia... nak ya...." sambung pak iwan


"amin..." jawab bu dewi kembali.


mereka hanya terdiam memerhatikan kedua putri kembarnya yang sedang tertidur.


Prov pak iwan.....


"*semoga kalian bahagia nak... aira yang sabar nak ya... papa akan berusaha untuk menjaga dan melindungimu. dan papa juga akan berusaha mencari pengotan terbaik untuk menyembuhkan penyakitmu....


Dan untuk anakku airin. maafkan papa, mungkin kamu akan sedikit kekurangan kasih sayang karena kami akan lebih fokus menyembuhkan aira. Namun percayalah nak. kalian berdua memiliki posisi terpenting dihati kami.


kami menyayangi dan mencintai kalian berdua... kami akan manjadi papa dan mam terbaik untuk kalian berdua*."


Prov bu dewi....


"*aira dan airin sayang...Dua malaikat kecil mama. Betapa bahagianya mama ketika mendengar tangis pertama kalian.


Mama sangat bahagia sayang... karena kalian melengkapi hidup mama. Dan tetaplah bersama mama sayang samapai kalian dewasa nanti.


jangan pernah tinggali mama sayang ya... sungguh mama gak bisa hidup tanpa kalian.


sungguh mama bisa mati jika kalian meninggalkan mama. kalian nafas dan nyawa mama dan seluruh hidup mama.


mama akan selalu mencintai kalian duaha malaikat kecilku*..."


Mereka asyik dengan pemikiran mereka sendiri. Betapa bersyukurnya pasangan suami istri itu. karena penantian lama mereka dan usaha mereka untuk memiliki anak akhirnya terwujud.

__ADS_1


Mereka terus menatap putri kecil mereka. betapa tenangnya kedua bayi kembar itu dalam box bayi.


Tidak ada terdengar keributan sedikitpun. yang ada hanya ketenangan dan keindahana disana.


__ADS_2