
Beberapa hari telah berlalu dirumah sakit. Akhirnya bu dewi diperbolehkan pulang kerumahnya setelah melalui serangkaian tes. Bu dewi tanpa bingung dengan itu semua namun dia tidak menaruh curiga karena dia pun berharap buah hatinya baik-baik saja.
Sedangkan pak iwan yang tahu perihal putrinya aira yang mengalami bocor jantung nampak lega karena dokter mengatakan baik-baik saja, hanya perlu dicek secara rutin.
Serangkaian tes tersebut sebenarnya ditujukan untuk aira namun untuk menutupi itu semua, Pak iwan meminta dokter juga melakukannya pada airin supaya istrinya tidak curiga.
Setelah melewati perjalanan yang macet akhirnya mereka sampai kerumah mereka.
Pintu pagar pun dibuka oleh pak abdul. Satpam setia yang selalu ada dirumah itu.
Kedatangan mereka disambut dengan suka cita oleh semua anggota keluarga pak iwan. Karena bu dewi sudah tidak mempunyai orang tua lagi.
ibunya sudah meninggal 2 tahun yang lalu karena penyakit jantung. Mungkin ini salah satu sebab mengapa aira memiliki kelainan jantung. Mungkin penyakit keturunan walaupun kecil kemungkinan. Namun kita sebagai orang awan pasti akan selalu mengaitkan semua hal yang terjadi.
"Baru sampai nak... sini sikembar biar ibu gendong..." sambil menjulurkan tangan untuk menggendong sikecil airin.
Beliau Sri ratna sanjaya yang merupakan ibu kandung pak iwan sanjaya. Sekarang beliau menyebut dirinya dengan sebutan nenek sri.
" iya bu.. (sambil memberi airin ke pangkuan nenek sri) seharusnya udah sampai dari tadi, karena jalanan sangat padat dan sedikit macet makanya kami telat sampai..." bu dewi mencoba menjelaskan akan keterlambatannya.
" Maklumlah bu... kami keluar dari rumah sakit jam 10... kan wajar kalau kedapatan macet dijalan.... sambung pak iwan.
"oohhh... ( nenek sri hanya mengangguk saja) kasian cucu- cucu nenek pasti lelah ya... ayo kita masuk dulu...." berbicara sendiri dengan airin dan aira.
"ayo masuk... ibu udah siapkan makanan untuk kalian. Kalian pasti lapar udah seharian dijalanan..." melangkah masuk kedalam disusul pak iwan dan bu dewi.
" Pak abdul... tolong bawakan tas ini semua ke kamar utama ya..." perintah pak iwan pada satpamnya.
"Baik pak..." segera mengangkat tas bawaan tadi untuk dibawa kedalam.
Pak iwan sama bu dewi masuk kedalam kamar untuk membersihkan diri dulu. sedangkan si kembar sangat anteng digendong sama nenek sri dan juga mbok aini.
" tenang sekali sikembar nyonya ya... saya sangat bahagia melihat mereka... nyonya..." mbok aini sangat terharu melihat sikembar.
Karena mbok aini tahu betul perjuangan bu dewi untuk memiliki buah hati. Dan bagiamana frustasinya majikan mbok aini saat berkali- kali keguguran.
Sikembar merupakan anugerah terindah buat majikannya. Beliau pun ikut bahagia melihat majikanya sudah memiliki keturunan yang selalu diidamkannya.
" iya mbok aini.... mereka tidak rewel sama sekali... begitu manis.... saya gemes sama sikembar mbok...hahahaha" tawa kecil terdengar dari sudut bibir nenek sri.
"kenapa bu... kok napanya senang sekali...." tanya bu dewi yang sudah selesai membersihkan diri.
"oh ini... hahaha (masih terdengar tawa kecil nenek sri) aku kasih tahu mbok aini... aku gemes sekali lihat tingkah sikembar... tidurnya melempeng aja kek gitu... gak ada rewelnya..." jawab nenek sri sambil menepuk- nepuk pantat sikembar airin.
"ohh... itu karena mereka masih bayi... coba udah bisa lari... pasti neneknya kewalahan dibuatnya... ya kan sayang.." seloroh bu dewi sambil menyolek hidung si airin kecil.
"iya mama... tapi nanti mama jangan malah- malah ya... kalau airin nakal... sahut nenek sri dengan suara dimirip- miripin suara anak kecil.
Seluruh orang yang ada disana ketawa melihat tingkah nenek sri. kek mana tidak ketawa, suaranya yang khas nenek-nenek dibuat kayak anak-anak kecil... ya jauh banget lah bedanya....
"oh alah... ada kakaknya airin disini.." sambung pak iwan yang baru keluar dari kamar.
"iyalah...kakak cantiknya sikembar... ya kan kembar... cepat gedelah kalian airin dan aira... supaya da yang bisa belain nenek..." nenek sri mencoba menanggapi anaknya tadi.
"ya udah kalian pada makan sana... biar ibu sama mbok aini yang urus sikembar...." perintah nenek sri pada anak dan menantunya.
Pak iwan dan bu dewi menuju meja makan. mereka hanya makan berdua dimeja makan. Sesekali mereka melirik sikembar yang masih pulas tertidur digendongan nenek sri dan juga mbok aini.
Setiap hari bu dewi menghabiskan waktunya merawat sikembar. beliau dibantu oleh nenek sri dan mbok aini.
Sedangkan pak iwan sudah mulai disibukkan lagi dengan pekerjaan kantor. Walaupun demikian pak iwan selalu membagi waktu antara pekerjaan dan juga keluarga.
Walaupun pak iwan penggila kerja namun baginya keluarga nomor satu.
Bahkan pak iwan selalu rutin kerumah sakit mengecek keadaan sikembar.
Katanya untuk tumbuh kembang bayi. Padahal beliau memeriksa sikembar aira yang mengalami bocor jantung. Namun bu dewi belum mengetahuinya.
setiap bulan pak iwan selalu rutin datang kerumah sakit. Dan dokter selalu memberikan vitamin kepada sikembar. Walaupun jenis obatnya berbeda. airin mendapatkan vitamin sedangkan aira diberikan obat khusus untuk meredakan penyakit jantung.
Sudah beberapa kali dokter menyarankan kepada pak iwan untuk memberitahukan kondisi aira kepada bu dewi. Namun pak iwan masih kekeh pada pendiriannya untuk tetap merahasiakannya dari bu dewi.
Karena beliau sangat tahu sifat bu dewi. Jika istrinya sampai tahu tentang kondisi aira, maka airin akan kekurangan kasih sayang dari mamanya karena akan sibuk mengurus aira.
Ini semua tidak terjadi kebetulan. Mungkin dikarenakan banyak orang kesayangan istrinya meninggal karena sakit sehingga membuatnya trauma akan kehilangan.
Dikarena hal itu dokter pun mencoba mengerti akan keputusan pak iwan merahasiakan semua ini.
Lima Tahun kemudian sikembar airin dan aira tumbuh menjadi gadis cilik yang sangat lucu dan mengemaskan.
__ADS_1
Mereka selalu couple memakai pakaian. Mulai dari baju, celana, bandon, anting bahkan kepengan rambut pun sama dibuat oleh bu dewi.
cuma warna yang membedakan mereka. Aira menyukai warna pink sedangkan airin menyukai biru langit.
"mama..." teriak aira dan airin.
" iya sayang.... mama disini...." sahut bu dewi sambil melambaikan tangannya.
"mama... (sambil memeluknya) kami cantik gak... kami udah mandi lho..." seloroh sikembar.
"cantik kali anak mama ne... wangi lagi.... siapa yang mandiin.." tanya bu dewi pada sikembar.
"nenek slrii...(dengan suara ciri khas anak- anak yang baru bisa bicara) katanya biar cantik harus mandi dulu..." jawab airin dengan cekatannya.
"ohh ya... kenapa bajunya tidak sama.." tanya bu dewi lagi mencoba menggoda sikembar.
sikembar terbengong dan melihat lagi baju yang mereka kenakan. Karena mereka sangat suka pakai baju yang sama.
"enggak mama... bajunya sama... cuma warnanyanya aja beda..." celoteh aira dengan ciri khas imut-imutnya.
"oh iya... mama salah... maaf ya.." godanya lagi
" ndak pa pa mama... mama ndak salah... ya tan aila..." jawab airin yang belum bisa nyebut huruf r.
"iya.. ailin....( sambil menatap mamanya) mama, mama,...mama kan tahu aila suka nya walna pink bial kayak putri salju.... cantik kan ma.." celoteh aira lagi sambil menari-nari menujukan bajunya.
"ohh iya... anak mama kan kalau udah besar mau jadi tuan putrikan..." sambung bu dewi sambil memeluk aira. Disusul dengan anggukkan dari aira.
" kalau airin kenapa suka warna biru langit...."goda bu dewi lagi pada anak kembarnya yang satu lagi.
"ailin suka warna bilu langit bial ailin bisa selalu telang buat mama... kayak langit mama... kan selalu telang" jawab ailin dengan bijaknya.
"tapi sayang.... langit kadang - kadang suka bewarna abu - abu gelap kalau mendung.. kek mana donk... mama kan gak suka gelap..." tanya bu dewi yang masih menggoda putri kecilnya itu.
"bial yang gelapnya buat ailin... karena mama takut gelap. mama ambil yang bilu aja... " jawabnya lagi yang semakin membuat mamanya gemes.
"memangnya airin tidak takut gelap..." tanya bu dewi penasaran.
"ailin takut gelap... tapi karena mama juga takut gelap jadi biru langitnya buat mama.... ailin ga papa kalau abu-abu gelap..." jawabnya lagi. Airin bagaikan diajarkan untuk dewasa sebelum waktu.
"ohhh sayang.... sini peluk mama sama aira.." sambil membukakan tangannya untuk memeluk airin.
pak iwan menghampiri istri dan anaknya sambil berkata " jadi hanya mama aja yang dipeluk.... papanya enggak dipeluk."
Sikembar menoleh ke sumber suara tadi. Dan langsung berlari kepelukan pak iwan. Pak iwan menggendong kedua putri kecilnya itu.
"Besok kita jalan- jalan ke wahana bermain yok... siapa mau ikut..." tanya pak iwan.
"saya ikut...saya ikut.." dengan antusias aira dan airin berteriak kesenangan.
"baiklah kalau mau ikut... janji dulu sama mama... sampai disana jangan nakal ya... janji..." bu dewi mencoba membuat perjanjian dengan menunjukkan kedua tangan kelingkingnya untuk membuat janji.
"iya mama... janji..." dengan kompak menjawab sambil mengaitkan kelingking mereka. Mereka tidak sabar menunggu hari besok.
Keesokan harinya airin dan aira sudah siap- siap untuk berangkat. Mereka begitu bersemangat untuk jalan-jalan ke wahana bermain.
Ini kali pertama mereka diajak keluar rumah untuk bermain. Biasanya hanya kesekolah dan langsung pulang kerumah.
Sesampainya diwahana sikembar dengan semangatnya mencoba semua permainan. Mereka sangat menikmati permainan tersebut.
Pak iwan berkali-kali memanggil sikembar untuk beristirahat sebantar tapi mereka tetap mau bermain. seakan-akan baterai mereka sudah dicharger dengan full, tidak akan habisnya.
Bu dewi hanya tersenyum melihat tingkat putri kembarnya. Dia begitu bahagia melihat putrinya bermain dengan gembira.
" senang ya pa... melihat mereka bermain..." sambil meperhatikan sikembar.
"iya ma... rasanya ingin setiap minggu datang kesini biar mereka bisa bermain dengan puas..." jawab pak iwan. Terlihat senyum menggembang dibibir pak iwan...
Tiba-tiba si kecil airin menghampiri mereka yang sedang duduk santai memperhatikan.
" papa... papa.... " teriak airin sambil ngos-ngosan karena kecapaian.
" iya sayang.... ada apa..." tanya pak iwan dengan lembutnya.
"papa... boleh ngak airin naik itu..." pitanya dengan memelas sambil menunjukkan rumah balon yang sangat besar.
"coba tanya mama... boleh ngak... kalau mama izinin... boleh naik... coba tanya mama..." sambil mengarahkan airin pada istrinya.
"mama..." panggil airin di mimik memelasnya.
__ADS_1
"iya sayang.... ada apa..." tanya bu dewi sambil membelai rambut airin.
"mama... boleh gak airin dan aira naik itu..." tanya airin sambil menunjukkan rumah balon besar untuk seluncuran anak-anak.
"ehhmmm (sambil melirik kearah yang ditunjukkan airin). Boleh sayang.... tapi hati- hati ya...." memberi izin kepada airin. Bu dewi merapikan rambut airin dan mengecup dahinya.
Mungkin ini kecupan terakhir untuk airin dari mamanya. Setelah itu mungkin semua akan berubah.
"Makasih mama... cup (mengecup pipi mamanya) makasih papa cup (mengecup pipi papanya)... Aira naik kesitu ya... dadah..." berlari sambil melambaikan tangannya.
"ayok aira... mama udah bolehin kita naik..." sambil menggandeng tangan aira.
"horee..." teriak aira dan mengikuti airin naik wahana rumah balon.
Mereka begitu semangat ketika menaiki rumah balon yang begitu besar dan sangat tinggi. Sampai diatas mereka duduk sebentar. Dan bersiap-siap untuk berseluncur kebawah.
Ketika melihat kebawah dada aira terasa sesak dan jantungnya berlaju begitu cepat. Dia membenarkan posisi duduknya lagi dan memegang tangan airin.
Namun tiba-tiba aira oleng dan kehilangan kesimbangan sehingga jatuh kebawah. Airin juga ikut terseret oleh aira. Karena aira tadi begitu kencang memang tangan airin.
Peristiwa itu tak luput dari padangan bu dewi yang sedari tadi memerhatikan tingkah laku mereka.
"Aira....." teriak bu dewi dan langsung lari menghampiri aira dan airin. Disusul dengan pak iwan dibelakangnya.
plukkkk.... aira pas jatuh dalam pelukan bu dewi. Bu dewi histeris melihat aira pingsan tak sadarkan diri. Dan terus berteriak memanggil aira.
"Aira.... aira... aira..bangun sayang... bangun..." teriak bu dewi mencoba menyadarkan aira. Dia begitu panik melihat aira tanpa memperdulikan airin yang menangis terkejut karena aira.
Segera pak iwan menggendong airin dan menelpon ke rumah sakit. untungnya wahana bermain dekat dengan rumah sakit tempat aira chek up.
"siapapun... tolong panggil ambulance... tolong anak saya...." pekik bu dewi.
"ma...mama tenang....(mencoba menenangkan bu dewi) cepat gendong aira dan bawa masuk ke mobil.
Dengan cepat bu dewi mengangkat tubuh mungil aira dan bergegas masuk kedalam mobil.
Pak iwan mengemudi dengan cepat. Sesampainya dirumah sakit dokter sudah berada disana.
Bu dewi sempat tercengang disana. Dalam benaknya mengapa dokter ini sangat panik melihat kondisi aira.
Namun itu tak berlangsung lama ketika pak iwan menarik tangannya untuk mengikuti aira.
Aira di masukkan langsung keruangan IGD untuk mendapatkan pertolongan pertama.
Sesaat kemudian dokter keluar dan menemui keluarga pasien.
"Dokter.... bagaimana keadaan putri saya.... dia baik- baik saja kan..." bu dewi langsung menyerbu dokter dengan pertanyaannya.
"Maaf bu dewi... keadaan putri ibu dalam kondisi kritis.. kita harus melakukan tindakan operasi sekarang..." jawab dokter.
"Operasi... Operasi apa dokter... memangnya putri saya sakit apa dokter...." tanya bu dewi lagi. Dia semakin panik ketika mendengar aira harus dioperasi.
"Bocor jantung bu..." jawab dokter.
Jleeeebbbb.....
Bagaikan pedang yang menusuk hati seorang ibu ketika medengar anaknya sakit parah.
"Ja...jan... jantung, bocor jantung dok.... kok bisa tiba-tiba.." masih tidak mengerti dengan ucapan dokter.
"ini tidak tiba-tiba bu.... menurut dari hasil cek kesehatan kami, putri ibu mengalami bocor jantung sedari kecil..." lanjut dokter lagi.
"apa...( bu dewi sangat terkejut dan spontan menutup mulutnya) tapi saya tidak tahu dok..." lemas sudah bu dewi mendengar tutur kata dokter tadi.
"Nanti saja saya jelaskan bu... sekarang, kami hanya memerlukan persetujuan dari orang tua pasien. Pak iwan, mari ikut saya untuk mengisi formulirnya." berlalu meninggalkan bu dewi dalam keadaan yang kacau.
Pak iwan menggendong sikecil airin dan mengikuti dokter untuk mengisi formulir.
Prov pak iwan
"*Akhirnya, apa yang aku takutkan selama ini terjadi juga. Mama mengetahui aira mengidam penyakit jantung.
ini yang aku takutkan selama ini. Rahasia yang kucoba tutup secara rapat-rapat terbongkar juga.
Dan seketika mama panik, terus terusan memanggil aira tanpa memperdulikan airin disampingnya.
Airin sayang, semoga kau siap nak, diperlakukan tidak adil oleh mamamu sendiri.
Semoga kau lebih bijaksana menyikapi garis hidup yang telah Allah gariskan padamu*."
__ADS_1