
Sudah tiga hari Bagus di rawat di rumah sakit, Kartika dan Bagas dengan telaten merawat anak mereka secara gantian. Bagas yang pintar dia masih sibuk dengan mangutak atik mainan kubus dan membuat pesawat dari lego yang di belikan Bagas.
Kemudian pintu kamar terbuka, tampak Hary dan mami Ammar datang membawa makan siang untuk mereka. Mami yang menatap wajah Bagus yang memang sepertinya mirip dengan Bagas sewaktu kecil, Bagas ketika usia 8 tahun.
"Sayang, oma belikan mainan baru untuk Bagus. " Kata mami Ammar yang menyerahkan setumpuk mainan yang sangat mengasah otak. Mami Ammar tau Bagus anak yang cerdas dan kepintarannya melebihi anak yang lain.
"Terimakasih, oma. " Jawab Kartika yang menyimpan mainan itu ke keranjang. Bagus hanya diam, dingin dan tak ada satu kata yang keluar dari mulut Bagus.
"Bagus, bilang apa sama oma? " Tanya Bagas yang berada di samping Bagus.
"Terimakasih oma. " Jawab Bagus dengan datar.
"Sama-sama, sayang. Kenapa sifatnya seperti Bagas dulu, ketika di beri sesuatu pada seseorang dia hanya menjawab dengan datar. " Gumam mami Ammar yang tak terdengar yang lain.
"Gas, ini banyak sekali yang perlu lo tanda tangani. Secara lo udah tiga hari gak ke kantor. " Kata Hary yang menyerahkan berkas-berkas.
"Sorry, bro. Gue gak mau ninggalin anak dan istri gue sendiri di sini. " Kata Bagas yang langsung duduk di sofa untuk menandatangani berkas yang di berikan Hary.
"Mi, Hary liat kok Bagus mirip sama Bagas ya. " Bisik Hary pada mami Ammar dan mami mengangguk.
"Ada apa, sih? Kok kak Hary bisik-bisik sama mami? " Tanya Kartika yang memergoki Hary dan mami sedang bisik-bisik.
"Tidak, sayang. Hary ingin nanti pulangnya agak sore saja. " Jawab mami bohong dan tersenyum.
"Oia, Har. Proyek yang kemaren bagaimana? " Tanya Bagas setelah selesai dan merapikan berkas-berkas.
"Sudah siap tinggal kontrak tanda tangan antara dua belah pihak. " Jawab Hary.
"Bagas, bisa mami bicara di luar berdua? " Tanya mami Ammar.
"Ada apa, mi. penting ya. " Kata Bagas yang melirik sang mami.
"Kartika, mami pinjam dulu ya Bagas ada hal yang penting yang ingin mami bicarakan dengan Bagas. Ini tentang perusahaan. ": Kata mami yang menarik tangan Bagas keluar.
__ADS_1
"Mi, tunggu. " Ujar Hary yang ikut keluar kamar.
Di luar kamar yang sedikit jauh Bagas duduk di bangku tunggu pasien. Bagas memandang mami dan Hary bergantian, bingung ada apa sebenarnya.
"Ada apa, sih? Mami buat Bagas makin penasaran deh. " Kata Bagas.
"Kamu merasa tidak kalo Bagus itu mirip sama kamu? " Tanya mami.
"Tidak, Bagas tidak pernah memperhatikan wajah Bagus. Tapi pertama kali Bagas melihat Bagus anak itu sangat nurut dan mau di ajak bicara sama Bagas. Kartika bilang dia sangat sulit untuk bicara dengan orang yang tak kenal. " Kata Bagas yang merasa aneh saat pertama bertemu dengan Bagus.
"Coba lo tanya baik-baik sama Kartika, siapa ayah Bagus. Siapa tau waktu itu Kartika hamil setelah kejadian itu. " Kata Hary.
"Kejadian apa? " Tanya mami Ammar menatap dua anak laki-lakinya itu.
"Hmmm.. Kejadian udah lama, mi. 8 tahun yang lalu Kartika hampir di nodai seseorang yang jahat, dan Bagas menolongnya. " Ucap Bagas bingung bagaimana menjelaskan pada maminya.
"Sifat dan karakter Bagus itu mirip sama lo, Gas. " Kata Hary lagi.
"Coba kamu tes DNA Bagus dengan kamu. Tapi kami harus ceritakan ini dengan Kartika berdua agar dia tidak merasa kita mencurigai. " Kata mami.
"Baiklah Bagas akan bicara dengan Kartika. Jika memang Bagus anak Bagas pastinya Bagas akan sayang sekali dengannya. Tapi jika Bagus juga bukan anak Bagas pasti akan sayang padanya. " Kata Bagas.
Tak lama kemudian, Bagas masuk ke dalam kamar. Hary dan mami pamit pulang, Bagas melihat dan memperhatikan Bagus yang tertidur. Kartika yang sedang duduk di disofa merasa aneh dengan kelakuan suaminya.
"Ada apa, mas? " Tanya Kartika.
"Kartika, mas mau tanya sesuatu yang penting. " Kata Bagas yang kemudian duduk di samping Kartika.
"Ada apa? " Tanya Kartika.
"Maaf sebelumnya, aku ingin kita sama-sama jujur tentang 8 tahun yang lalu. " Kata Bagas.
"Untuk apa, kamu tanyakan masa lalu itu lagi? " Tanya Kartika yang merasa takut dan itu seperti trauma yang membuatnya hancur.
__ADS_1
"Sayang, mas tidak akan marah. Seburuk apapun masa lalumu aku akan terima. Apapun!! " Kata Bagas dengan penuh keyakinan.
Kemudian Kartika menceritakan kisah 8 tahun yang lalu membuat hatinya sakit dan pilu. Bagas yang mendengarkan cerita Kartika seakan tak percaya bahwa, Kartika membenci dirinya dan kelakuannya yang sudah meninggalkan Kartika di hotel.
"Jadi Bagus adalah anakku? " Batin Bagas yang tersenyum.
"Apa kamu memaafkan orang yang sudah menghamili mu? " Tanya Bagas.
"Aku sudah memaafkan jauh sebelum orang itu meminta maaf padaku. " Jawab Kartika.
"Aku ingin tes DNA Bagus dan aku. " Kata Bagas.
"Tes DNA? Untuk apa? " Tanya Kartika bingung.
"Kartika, dari cerita mu itu aku simpulkan bahwa aku adalah ayah Bagas. " Kata Bagas.
"Tidak mungkin, mas. I-itu tidak mungkin. " Kata Kartika.
"Aku akan membuktikannya, dan aku akan menjelaskan nanti jika terbukti Bagus adalah anakku. " Kata Bagas.
Kartika yang sedikit marah dan kecewa dengan Bagas kemudian langsung menyuruh Bagas keluar dari kamar. Kartika menangis memeluk Bagus yang sedang tidur.
"Kartika, aku ingin melakukan tes DNA agar kau percaya dan memaafkan aku. " Kata Bagas yang berdiri di jendela karena kamar itu di kunci.
Keesokan harinya Kartika setuju dengan Bagas untuk melakukan tes DNA. Kemudian para suster mengambil sample darah Bagas dan juga Bagus. Namun sebelum hasilnya keluar Kartika tidak ingin bertemu dengan Bagas. Karena Bagas sudah merusak masa depannya.
Namun Kartika juga sadar bahwa sepenuhnya juga dia yang salah minum sampe mabuk dan tak lagi ingat apa yang terjadi. Kartika hanya takut kehilangan Bagus anak satu-satunya yang menjadi sumber kekuatannya selama 8 tahun.
.Bagas hanya bisa melihat wanita dan anak yang dia cintai dari jendela. Bagas sangat sedih, semoga saja Bagus adalah anaknya. Dia akan menebus kesalahan 8tahun yang lalu karena sudah mencampakkan anaknya. Padahal Bagas mencari keberadaan Kartika dan hingga anak buahnya menyerah tak tahu lagi mencari kemana.
Seminggu kemudian hasil tes DNa sudah keluar. Seluruh keluarga berkumpul di ruang dokter. Bagus yang sudah dinyatakan sehat namun dia masih duduk di kursi roda karena belum bisa berjalan. Bagas menatap kerinduan pada anak istrinya, Kartika melarang Bagus menemui Bagas.
"Baiklah, semua sudah berkumpul. Saya akan bacakan hasil tes DNA antara tuan Bagas Wirayudha dan ananda Bagus Pratama. Dan hasilnya adalah. " Kata dokter dengan berbelit-belit.
__ADS_1
Wajah Kartika tampak tegang, begitu juga Bagas yang tak sabar ingin mengetahui hasilnya.
"Setelah saya periksa sample darah tuan Bagas dan ananda Bagus, ternyata hasilnya. "