Aku Anakmu Ayah

Aku Anakmu Ayah
Jatuh Cinta


__ADS_3

Di sekolah Bagus Bagas kaget melihat banyak anak-anak dan orang tua murid yang berkerumun di lapangan. Bagas langsung mendekati kerumunan tersebut. Bagas mengenyritkan dahinya melihat Bagus sedang berantem, kemudian Bagas langsung berlari menarik dan menggendong Bagus.


"Apa anda ayah dari Bagus Devano? " Tanya seorang guru laki-laki yang datang.


"Bukan, saya om nya. " Jawab Bagas.


"Baiklah kalau begitu anda ikut saya ke kantor. " Kata guru yang laki-laki yang bernama Imam.


Bagas menurunkan Bagus dari gendongannya, lalu mengikuti langkah kaki pak Imam sambil menggandeng tangan Bagus. Bagus menghentikan langkahnya di depan ruang BP, mendongak kepalanya dan menatap wajah Bagas.


"Om, jangan bilang sama bunda ya. Bagus berantem. " Kata Bagus yang memasang wajah memelas.


"Om, gak akan bilang kalau Bagus tidak berkelahi lagi. " Kata Bagas.


"Bagus janji, om. Tapi om juga janji jangan bilang sama bunda. " Kata Bagus kembali.


"Iya, om janji. Sekarang kita masuk dan dengarkan nasehat dari bapak guru. " Kata Bagas yang menggandeng Bagus masuk ke dalam ruangan.


Disana sudah ada teman Bagus yang babak belur karena pukulan Bagus. Kedua orang tua anak itu tidak terima anaknya babak belur.


"Gara-gara anak anda, lihat anak saya babak belur seperti ini. Anda harus bertanggung jawab. " Kata seorang ibu teman Bagus yang bernama ibu Ibnu.


"Maafkan, keponakan saya. Saya akan tanggung biaya rumah sakit anak anda, bu. " Kata Bagas.


"Sudah.. Sudah.. Kita di sini ingin mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi. " Kata pak Imam.


"Betul, pak. Kita dengarkan dulu penjelasan dari mereka. " Sahut Bagas yang ingin tahu kronologis kejadiannya bagaimana.


"Bagus ceritakan pada bapak apa yang sebenarnya terjadi? " Tanya pak Imam.


"Ibnu yang memulai, pak. Bagus sedang duduk sendiri lalu tiba-tiba Ibnu yang mendorong Bagus, ini luka memar di lutut Bagus karena jatuh terdorong oleh Ibnu. Ibnu bilang Bagus anak aneh lalu mendorong Bagus. " Kata Bagus yang menunjukkan lututnya yang masih berdarah.


"Bohong, anak saya tidak mungkin melakukan itu. " Kata ibu Ibnu.


"Ibnu, benar yang dikatakan Bagus? " Tanya pak Imam pada Ibnu yang duduk di samping Bagus.


"I-Iya pak. " Jawab Ibnu yang terbata-bata karena takut pada Bagas yang sedari tadi melotot pada Ibnu.

__ADS_1


"Benar kamu tidak bohong? " Tanya pak Imam dan Ibnu menggelengkan kepalanya.


"Sudah jelas bapak dan ibu, bahwa insiden ini Ibnu yang memulainya. " Kata pak Imam.


"Lalu bagaimana anak saya? Babak belur begini? " Tanya Ibu Ibnu. Kemudian Bagas mengambil dompetnya dan menuliskan dan memberikan sebuah cek pada ibu Ibnu dengan nilai yang fantastis.


"Jika kurang ini kartu nama saya, hubungi saya jika anak anda harus di operasi. " Kata Bagas yang menggandeng Bagus keluar dari ruangan dan sebelumnya berpamitan.


Bagus menaiki mobil dan Bagas mulai menjalankan mesin mobil. Siang ini Bagas akan mengajak Bagus jalan-jalan ke mall, tapi sebelum itu akan menjemput Kartika dulu di restoran Diena.


"Om, kita mau kemana? " Tanya Bagus.


"Kita jalan-jalan ke mall, tapi kita jemput bunda dulu ya. " Kata Bagas yang tersenyum melirik Bagus.


Sampai di restoran Kartika sudah menunggu di depan dan dia melihat mobil Bagas yang menghampirinya dan Kartika masuk ke mobil lalu duduk di samping Bagas, Bagus berpindah duduk di bangku belakang.


"Bunda, kata Om kita mau jalan-jalan ke mall. " Kata Bagus yang menongolkan kepalanya ke depan bahu Kartika.


"Pak.. " Panggil Kartika yang melirik Bagas yang sedang menyetir.


"Sudahlah aku ingin bermain dengan anakmu. " Kata Bagas yang menoleh ke arah Kartika.


"Boleh, asal Bagus tidak nakal lagi. " Kata Bagas yang mengusap rambut Bagus. Kartika yang melihat Bagas yang begitu perhatian dan penuh kasih sayang membuat hatinya terenyuh.


Kartika merasakan kasih sayang Bagas pada Bagus yang begitu besar dan sepertinya tulus. Dan diam-diam Kartika juga menyukai Bagas, namun Kartika takut Bagas tidak mau menerimanya, karena Kartika dulu wanita yang kotor. Wanita yang hamil dan melahirkan seorang anak yang tak tahu ayahnya.


Kartika menatap Bagas yang sedang menyetir, Bagas tahu jika Kartika sedari tadi memperhatikan dirinya. Lalu menengok ke arah Kartika sambil tersenyum dan lalu mengusap dan membelai rambut Kartika dengan tangan kirinya.


"Kenapa, kok dari tadi liatin aku terus? " Tanya Bagas dengan senyuman yang membuat jantung Kartika berdegup kencang.


"Ah... T-Tidak. " Jawab Kartika yang membuang pandangannya ke jendela mobil. Bagas hanya terkekeh dengan sikap Kartika.


Kartika yang merutuki kebodohannya karena memandang Bagas yang terlihat sangat tampan. Kartika memegang dadanya, lalu menggelengkan kepalanya.


"Kamu kenapa, Tika? " Tanya Bagas yang merasa aneh dengan Kartika.


"Tidak ada, pak. Aku hanya merasa bapak baik sekali dengan Bagus. " Jawab Kartika yang berbohong, padahal sejujurnya dia sudah jatuh cinta pada ketulusannya Bagas.

__ADS_1


"Karena Bagus calon anakku, jadi aku harus bersikap baik dan sayang juga cinta pada Bagus. " Kata Bagas yang tersenyum.


"A-Apa yang barusan bapak katakan? " Tanya Kartika seolah tak mendengar perkataan Bagas.


"Aku bilang Bagus adalah calon anakku, dan kamu calon dari ibu anak-anakku. " Kata Bagas yang mengulangi perkataannya. Kartika hanya diam menatap Bagas.


Seketika mobil itu berhenti di parkiran mall, Bagas membalas tatapan Kartika. Semakin dekat wajah Bagas dan Kartika tanpa jarak. Kemudian Bagas meraih tekuk Kartika dan mencium bibir Karena dengan lembut, Kartika hanya diam kaget Bagas melakukan itu. Lalu Bagas memaksa Kartika untuk membalasnya, Kartika pun membalas ciuman Bagas tanpa sadar Bagus duduk memperhatikan Bagas dan Kartika sedang berciuman.


"Om, bunda kalian sedang apa? " Tanya Bagus yang duduk di kursi belakang sambil memegang tas.


Kartika mendorong dada Bagas dan langsung menengok ke belakang lalu tersenyum melihat anaknya. Bagas memukul jidatnya, dia lupa bahwa di mobil ada Bagus.


"Om, sayang sama bunda jadi om bilang sama bunda kalo om sayang sama bunda. " Kata Bagas yang bingung memberikan penjelasan pada Bagus. Sementara Kartika menggaruk tekuknya yang tak gatal. Bagus masih mencerna kata-kata Bagas, Bagus tak mengerti dengan maksud Bagas.


"Bagus tidak mengerti, om. " Kata Bagus yang menatap Bagas dan Kartika bergantian.


"Eh... Sudah sampai kita turun yuk. " Ajak Kartika mengalihkan pertanyaan Bagus.


"Yeee... Sudah sampai. " Teriak Bagus yang kegirangan. Bagas melirik Kartika dan tersenyum.


"Jangan lagi-lagi jika sedang bersama Bagus. " Bisik Kartika.


"Baik, nanti kita lanjutkan di rumah ya. " Goda Bagas yang langsung mendapatkan cubitan dari Kartika.


Kemudian mereka turun dan masuk ke mall, mereka tampak seperti keluarga yang bahagia. Bagus di gandeng tangannya kanan kiri oleh Bagas dan Kartika. Bagas masih mengulas senyum mengingat ciuman yang dia lakukan dengan Kartika di mobil, jika tidak ada Bagus mungkin Bagas akan terus melahap bibir tipis Kartika yang rasanya sangat manis.


"Om, Bagus mau main itu. " Kata Bagus yang menarik tangan Bagas.


"Oke jagoan, yuk. " Kata Bagas yang mengikuti langkah kaki Bagus.


Kartika melihat keduanya seperti layaknya ayah dan anak, Bagus yang sejak bayi tak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah. Mungkin sudah saatnya Kartika membuka hatinya, tapi bayangan masa lalu yang membuatnya hamil seakan masih menari di otaknya.


Kartika tersenyum menatap dua laki-laki yang sudah mengisi di hatinya. Kemudian Kartika akan menghampiri Bagus dan Bagas, lalu tiba-tiba dia menabrak seorang laki-laki yang sedang berjalan.


Bruk..


"Ah.. Maaf.. " Kartika mendongakkan kepalanya dan dia kaget laki-laki yang di tabraknya.

__ADS_1


Laki-laki itu menatap dengan senyuman yang sangat Kartika rindukan. Laki-laki itu juga sangat merindukan wanita yang di hadapannya.


Namun Kartika hanya diam terus menatap dengan rasa benci.


__ADS_2