
Sherin Alkatiri Alvaro, putri semata wayang dari Randi Alvaro sahabat Bagas. Mereka sangat akrab ketika masih putih abu-abu hingga kuliah, saat pabrik Randi akan bangkrut Bagas menyumbangkan sahamnya untuk kelancaran pabriknya. Randi memiliki seorang anak dari istri pertamanya yang sudah tiada karena pendarahan yang hebat saat melahirkan. Sherin gadis cantik, periang dan pintar dia memiliki mata biru seperti Randi dan wajah yang mirip seperti ibunya. Sherin berteman dengan Bagus sejak duduk di kelas 3, sekarang mereka sudah menginjak kelas 5 sekolah dasar. Bagus yang menyukai Sherin terus mendekati Sherin, setiap hari Bagus bertemu dengan Sherin di sekolah belum lagi setiap weekend orang tua Sherin berkumpul di rumah Bagus.
"Sherin, nanti kalau sudah dewasa aku akan melamarmu," kata Bagus yang memberikan bunga mawar yang dia petik di taman milik bundanya.
"Memangnya, melamar jadi apa?" tanya Sherin dengan polosnya.
"Jadi istri akulah, pokoknya nanti setelah dewasa aku akan melamar kamu jadi istriku. Kamu itu cantik, dan aku suka sama kamu," kata Bagus.
"Tapi kita kan masih kecil, Gus," ujar Sherin.
"Iya, aku kan tadi bilang nanti kalau sudah dewasa. Kamu gak dengar aku, ya."
"Aku dengar kok, nanti ayah sama ibu bagaimana?" tanya Sherin lagi yang masih tak paham.
"Ck, aku akan bilang sama ayah juga ibu dan juga ayah dan bundaku," ujar Bagus.
Bagus mendorong ayunan yang Bagas rancang untuk anaknya yang sangat suka duduk sambil ayunan. Ditaman milik Kartika memang sangat indah banyak bunga dan kolam ikan yang luas. Bagas membuat rumahnya seperti taman bunga yang siapapun berkunjung ke rumahnya akan betah, termasuk Randi dan Freya juga Sherin. Bagus lalu berlari sambil menggandeng tangan Sherin ke arah kedua orang tuanya.
"Ayah," panggil Bagus dan Bagas menengok anaknya.
"Aku kalau sudah dewasa akan melamar Sherin jadi istriku," kata Bagus dengan lantang.
"Apa?" Bagas membulatkan kedua matanya mendengar keinginan anaknya.
"Bagus, kamu mau apa?" tanya Kartika.
"Melamar Sherin ketika dewasa nanti, Bunda," jawab Bagus. Kartika tersenyum begitu juga Randi dan Freya yang tersenyum.
"Memangnya Sherin mau nanti dewasa menikah sama kamu, Nak?" tanya Bagas pada putranya.
"Mau, Sherin kamu mau kan nanti dewasa menikah sama aku?" tanya Bagus menatap wajah Sherin yang cantik dan kulit yang putih.
"Sherin, sebenarnya sukanya sama om Bagas dan nanti dewasa mau nikahnya sama om Bagas," jawab Sherin membuat yang lain merasa syok mendengar pernyataan Sherin.
"What!" seru Bagas menepuk jidatnya, "Lo, kasih makan apa sih nih bocil, masa suka sama bapak-bapak," kata Bagas menatap Randi.
"Memang Sherin suka sama om Bagas kenapa?" tanya Kartika yang tidak cemburu tapi merasa lucu.
"Om Bagas ganteng," jawab Sherin malu-malu. Kartika tersenyum melihat Sherin pipinya bersemu merah.
"Ayahmu juga ganteng, Sherin," kata Kartika yang langsung mendapat tatapan tajam dari Bagas.
"Tapi lebih ganteng om Bagas, ayah kurang ganteng," jawab Sherin.
"Jadi, kamu mau gak nanti dewasa nikah sama aku?" tanya Bagus.
"Sherin mau nikah sama Bagus, karena Bagus juga ganteng mirip sama om Bagas," kata Sherin membuat yang lain tertawa.
"Ayah, mulai sekarang jangan dekat-dekat dengan Sherin," ujar Bagus.
"Loh, kenapa?" tanya Sherin dan Bagas bersamaan.
"Mulai sekarang Sherin milikku, milik Bagus," tegas Bagus yang menggandeng tangan Sherin. Kedua orang tua mereka hanya tertawa melihat anak mereka masih kecil sudah saling suka.
"Ayah, bunda. Jangan ketawa, Bagus serius nanti kalau sudah dewasa akan menikahi Sherin. Tunggu saja, Bagus akan menjadi suami Sherin," kata Bagus dengan ketus.
__ADS_1
"Sherin juga mau menikah sama Bagus, tapi nanti kalau Sherin sudah dewasa," ujar Sherin.
"Tuh, Sherin aja sudah mau menikah dengan Bagus. Jadi ayah jangan dekat-dekat Sherin ya," kata Bagus.
"Iya, anak ayah yang ganteng," ujar Bagas membuat Kartika dan Freya terkekeh, sementara Randi hanya menggelengkan kepalanya.
"Sherin kita bermain disana, Yuk," ajak Bagus yang menggandeng tangan Sherin dan berjalan ke arah taman dan kolam.
"Bagus mirip ayahnya ya," kata Hary yang baru saja datang bersama sang istri.
"Enak aja, lo. Jangan asal ngomong lo," ujar Bagas sewot.
"Lah, dia kan anakmu. Masa mirip Randi, berarti Kartika tidur sama Randi dong," kata Hary.
"Lo tu ya, kalo ngomong gak pake saringan. Bagus anak gue masa iya mirip Randi," jawab Bagas dengan kesal.
"Jadi benar dong, mirip kamu. Masih mau ngelak," ujar Hary.
"Bagus anakku, ya harus mirip aku lah," kata Bagas.
"Dulu, waktu Bagas kecil. Sama persis seusia Bagus, udah suka sama teman sekelasnya Fransisca gadis keturunan Perancis. Sama yang dikatakan Bagus, jika dewasa dia akan menikahi Fransisca. Eh.. Pas SMA Fransisca balik ke Perancis, Kartika tau, Bagas cari Fransisca ke Perancis pas kuliah dulu," kata Hary mencoba mengingatkan masa lalu Bagas.
"Oh, pantas waktu kemarin dia salah panggil nama. Masa aku di panggil Fransisca," ujar Kartika meledek suaminya pura-pura marah.
"Hary, lo cari mati!" seru Bagas mendekati Hary dan Hary langsung bersembunyi di belakang Wina istrinya.
"Oh, aku ingat. Fransisca yang satu kelas dengan kita, Har?" tanya Randi.
"Iya, benar. Bagas tergila-gila sama cewek bule itu," ledek Hary.
"Hary, awas lo ya. Habis lo sama gue," kata Bagas, Hary tertawa senang melihat Bagas.
"Kalian mau aku bongkar juga masa lalu kalian," kata Bagas.
"Sorry, Bro. Gue mah bukan mantan casanova kaya lo dan Hary deh yang banyak one night sama cewek-cewek," ujar Randi.
"Lihat, tuh para suami lagi ngomongin mantan. Secara mereka itu mantan Casanova jadi banyak ceweknya," kata Kartika.
"Tapi mas Randi mah, gak suka one nigth sama cewek-cewek deh. Dia pernah cerita kalo mas Bagas dan mas Hary yang suka bawa cewek ke apartemen," kata Freya.
"Yang benar, Frey?" tanya Kartika dan Wina bersamaan.
"Nanti malam mereka tidur di luar, Kak," ujar Wina.
"Iya, betul. Biar tau rasa mereka, seenaknya saja permainkan wanita," kata Kartika.
"Semoga Bagas tidak seperti ayahnya, mantan seorang casanova," ujar Wina.
"Gak akan," kata Kartika marah.
Kartika dan Wina menghampiri Bagas dan Hary yang sedang duduk sambil bercerita masa lalu sewaktu kuliah di LA dulu. Kartika dan Wina berdiri sambil berkacak pinggang. Bagas, Hary dan Randi tampak heran melihat istri mereka seperti marah terlihat dari kilatan mata mereka
"Bro, kayaknya nanti malam kalian tidak dapat jatah makan malam," bisik Randi sambil memeluk bahu kedua sahabatnya.
"Sepertinya begitu, Ran. Bini kita marah, Gas," ujar Hary.
__ADS_1
"Ini gara-gara lo yang cerita kalo gue suka gonta-ganti cewek," kata Bagas.
"Sorry, Bro. Gue pamit pulang ya," kata Randi yang berdiri lalu melambaikan tangannya pada kedua sahabatnya itu.
"Sayang, hari ini kita shoping yuk. Katanya kamu ingin beli tas branded?" rayu Bagas yang merangkul pundak Kartika.
"Iya, Sayang. Yuk, kita jalan-jalan ke mall beli semua yang kamu suka," tambah Hary yang juga merangkul pundak istrinya.
"Beneran, Mas?" tanya Kartika dan Wina bersamaan dan dua laki-laki itu hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Asalkan, nanti malam kita tidak tidur di luar dan kita dapat jatah makan malam," ujar Bagas menyeringai.
"Sebentar, Sayang," kata Kartika lalu menarik Wina jauh dari dua laki-laki itu.
"Wina, mereka sedang merayu kita lebih baik kita ikuti saja permainan mereka. Nanti malam tetep mereka tidur di luar, oke," kata Kartika berbisik pada Wina.
"Siap, Kak. Ayo kita habiskan uang mereka," ujar Wina tersenyum. Kemudian para wanita itu kembali duduk bersama suami mereka.
"Kalian tidak sedang merencanakan sesuatu untuk kita berdua kan, Sayang?" tanya Bagas dengan wajah yang mencurigakan.
"Tidak, Sayang. Benar kan, Win," kata Kartika.
"Iya, tidak. Kita itu sedang membicarakan tas yang ingin kita beli," jawab Wina tersenyum.
"Sudah, kita berangkat. Mumpung Freya masih disini, kita ke mall bareng anak-anak sekalian," kata Kartika yang menggandeng tangan Bagas.
Pasangan suami istri itu berjalan menuju mobil masing-masing, Bagas tersenyum melihat istrinya yang sudah melupakan pembicaraan dirinya dan Hary. Namun tidak bagi Kartika yang merencanakan sesuatu untuk suaminya. Kartika yang tersenyum melihat kedepan dan Bagas merasa aneh dengan sikap Kartika.
"Sayang, kamu kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Bagas.
"Ah, tidak. Aku hanya segera memiliki tas yang limited edition yang ada di mall itu," jawab Kartika.
"Kamu tidak merencanakan sesuatu, kan?" Bagas kembali bertanya seakan curiga dengan sikap istrinya.
"Tidak, Sayang. Memang aku merencanakan apa?" tanya Kartika balik.
"Mungkin saja kamu marah padaku lalu kamu merencanakan seseorang agar aku tidak tidur denganmu malam ini, Sayang," ujar Bagas.
"Mas, kamu gak percaya sama istrimu ini?" tanya Kartika yang seketika berubah marah.
"Iya, maafkan aku. Jangan marah, Sayang," ujar Bagas mengecup tangan Kartika.
Bagas merasa bingung mengahadapi wanita hamil yang satu ini, terkadang moodnya bagus terkadang jelek. Sedikit saja Bagas membuat kesalahan maka tamat sudah malam-malam yang selalu Bagas impikan. Kehamilan Kartika sudah masuk bulan ke 7 dan minggu depan Kartika juga Bagas akan babymoon ke kota Bandung, dia akan kerumah kedua orang tuanya dan menikmati indahnya alam pedesaan disana.
"Kita sudah sampai, Sayang," kata Bagas memparkirkan mobilnya di samping mobil Hary dan Randi.
"Bagus, ikut bersama Sherin di mobil Randi," ujar Bagas lagi.
"Anakmu itu masih kecil sudah menyukai lawan jenis, semoga dia tidak mengikuti jejakmu yang katanya seorang casanova," kata Kartika.
"Jelas dong, ayahnya dulu amburadul anaknya jangan kali bisa. Cukup aku yang gak bener, Bagus tak boleh mengikuti jejakku," ujar Bagas.
*****
Hai... Reader... Maaf author baru Up,, Deadline kerjaan di dunia nyata membuat author jarang Up..
__ADS_1
Silahkan tinggalkan jejak like, komen, Hadiah dan Votenya...
Salam ByYou