
Hary masuk ke ruangannya dengan lesu dia mendudukkan dirinya di kursi kebesarannya. Tangannya memijat pelipis matanya, sambil memejamkan matanya. Kemudian Bagas masuk membawa map dengan isi dokumen perjanjian yang akan di tanda tangani oleh Hary. Karena itu adalah proyek Hary, jadi Hary yang bertanggung jawab dengan proyek tersebut.
"Har, lo gimana sih. Ini kenapa dokumen perjanjian belum lo tanda tangani? " Tanya Bagas yang meletakkan map berwarna hijau di atas meja Hary.
"Sorry, Gas. Hari ini gue lagi gak mood untuk bahas bisnis. " Jawab Hary yang menundukkan kepalanya dengan kedua tangannya.
"Lo kenapa sih, Har? " Tanya Bagas lagi.
"Lo putus dengan Wina? " Pertanyaan Bagas membuat Hary mendongakkan kepalanya.
"Gayatri mau menikah sama Dewa. " Kata Hary yang membuat Bagas bengong.
"Menikah sama Dewa? Kapan? " Tanya Bagas.
"Tadi gue ke toko bini lo, disana ada Dewa dan Gayatri, lalu Gayatri bilang kalau dia dan Dewa akan menikah. " Kata Hary yang meneteskan airmata.
"Ck.. Elo mah baper jadi cowok, gitu aja pake nangis. Cemen lo, Har. " Kata Bagas.
"Tolong gue, Gas. Gue cinta dengan Gayatri dan gue mau dia jadi milik gue. " Kata Hary yang tak sadar pernyataannya di dengar oleh Wina.
"Abang, selama ini anggap Wina apa? " Tanya Wina yang berdiri membawa beberapa kertas dan kertas itu terjatuh ke lantai karena mendengar perkataan Hary.
"W-Wina.. Abang bisa jelaskan. " Kata Hary. Bagas yang duduk di kursi depan Hary hanya jadi penonton yang melihat saudaranya sedang dilema dengan cinta segitiga.
"Gas, tolongin gue dong. " Kata Hary yang melihat Wina keluar dari ruangan Hary.
"Itu urusan lo, makanya kalau sudah punya cewek itu jangan lirik-lirik cewek lain. Urus urusan lo sendiri gue mau pulang. " Kata Bagas yang keluar dari ruangan Hary.
"Aaargghhhhh... " Hary dengan rasa kesal lalu melemparkan semua yang ada di hadapannya.
Sementara itu Kartika yang sedang menunggu suaminya pulang masih membuat masakan untuk makan malam. Gayatri membantu Kartika memasak, sedangkan Bagus sedang bermain dengan Dennis. Kartika mendengar deru suara mobil Bagas datang, dengan cepat Kartika berlari menuju pintu depan untuk membuka dan menyambut suaminya.
Bagas tersenyum pada istrinya yang begitu cantik. Bagas berjalan dengan wajah yang sumringah, Kartika menyambut sambil mencium tangan dan membawakan tasnya. Bagas merangkul istrinya berjalan menuju kamar.
Kartika membantu suaminya membuka jas dan kemejanya. Kartika juga menyiapkan air hangat untuk Bagas mandi, namun seperti biasa Bagas pasti akan minta jatahnya sebelum makan malam. Namun sebelum melakukan aksinya, Bagus yang mengetuk pintu kamar Bagas dengan kencang sehingga seketika Bagas menghentikan aksinya untuk melakukan olahraga sore harinya.
"Ada apa, Sayang? " Tanya Kartika yang membuka pintu.
"Ayah, sedang apa, Bun? " Tanya Bagus yang mencari sosok ayahnya. Lalu terdengar suara percikan air.
__ADS_1
"Itu, sedang mandi. " Jawab Kartika.
"Bagus, mau tunggu ayah selesai mandi. " Kata Bagus yang duduk di sofa.
"Baiklah, Bunda keluar ya. Kalau ayah tanya bunda di dapur. " Kata Kartika yang keluar dari kamarnya.
Kemudian Bagas keluar dengan handuk yang di lilitnya, lalu dia melihat putranya duduk di sofa dengan menatap dirinya sambil tersenyum.
"Ah.. Padahal gue pengen makan emaknya, tuh bocil malah nongol. " Batin Bagas.
"Ayah, ini buatan Bagus. " Kata Bagus memberikan sebuah mainan lego yang sudah di buatnya.
"Wahhh... Hebat kamu, Nak. " Kata Bagas yang membolak-balikan lego itu.
"Ayah, katanya mau belikan Bagus mainan baru? " Tanya Bagus yang mengekori sang ayah.
"Iya, nanti kita beli mainan baru. " Kata Bagas yang memakai pakaian.
"Asik, yang banyak ya, Yah. " Ujar Bagus kegirangan.
"Iya, Sayang. Ayo kita keluar ayah sudah lapar. " Kata Bagas yang mengajak anaknya keluar kamar.
"Kalian ngobrol apa sih, sampai serius begitu? " Tanya Kartika menatap Bagus.
"Bagus, mau dibelikan mainan baru yang banyak sama ayah, Bun. " Kata Bagus dengan lantang.
"Sayang, nanti malam ganti 2x lipat yang tadi sore. " Bisik Bagas di telinga Kartika dan membuat Kartika tersenyum.
"Ayah, kenapa bisik-bisik sama bunda sih? " Tanya Bagus yang tampak cemberut.
"Ayah, tanya masakannya sudah matang belum, ayah sudah lapar. " Kata Bagas yang tersenyum.
Tak lama kemudian, Hary datang dia tampak lusuh dan berantakan penampilannya. Bagas dan Kartika saling pandang melihat penampilan Hary yang duduk di hadapan mereka.
"Om Hary. Kenapa mukanya lecek gitu? " Tanya Bagus.
"Om, patah hati. " Jawab Hary yang menyandarkan kepalanya di ujung sofa.
"Makanya kalau sudah punya cewek jangan ngincer cewek orang. Wina minta putus kan jadinya. " Kata Bagas yang di angguki oleh Hary.
__ADS_1
"Gue mencoba menahan rasa ini, Gas. Tapi yang ada gue sakit, Gayatri tak bisa gue miliki Wina pun tak bisa. " Kata Hary yang terdengar oleh Gayatri dari belakang.
Gayatri merasa bersalah, tapi cinta tak bisa di paksa harus berlabuh dimana. Gayatri sudah merasa menyukai Dewa saat pertama kali bertemu di terminal bus waktu itu. Namun sejujurnya dia juga mengagumi sosok Hary yang tampan.
"Sudah, lo sekarang mandi dan segarkan diri lo biar tampang lo gak kucel amat. " Kata Bagas.
"Gue mau balik ke rumah mami aja, Gas. " Kata Hary yang berjalan keluar. Sebenarnya Hary ingin melihat Gayatri yang terakhir kali, namun Gayatri tak kunjung keluar.
"Awas jangan pergi ke club, lo. " Teriak Bagas.
Hary terkadang suka pergi ke club dan selalu one night dengan beberapa wanita p*******r yang sekedar m***********n n*****u. Hary dan Bagas terkenal seorang yang bad boy.
"Mas, memangnya mas Hary dengan Wina putus? " Tanya Kartika.
"Tadi siang, katanya dia ke toko dessert kamu. Lalu dia melihat Dewa dan Gayatri, dan katanya Dewa dengan Gayatri akan menikah. Hary gak sadar ketika dia bilang kalau dia cinta sama Gayatri ada Wina ya akhirnya Wina marah lalu mereka putus. " Kata Bagas.
"Aku sampai lupa ingin cerita, Mas. Kak Dewa minta izin sama aku ingin serius melamar Gayatri dan aku bilang apa Gayatri mau. Dan akhirnya Gayatri mau menerima lamaran kak Dewa. " Kata Kartika.
"Ayah, bunda. Stop ngobrol berdua dong, jangan cuekin Bagus. " Kata Bagus yang cemberut melihat dirinya tak dianggap oleh kedua orang tuanya. Bagas dan Kartika terkekeh mendengar perkataan Bagus.
"Memang Bagus di cuekin ya sama ayah dan bunda? " Tanya Bagas.
"Habis ayah sama bunda cerita om Hary terus. Om Hary memangnya kenapa, Yah? " Tanya Bagus yang duduk diantara Bagas dan Kartika.
"Bagus masih kecil belum mengerti kelakuan orang dewasa. " Kata Kartika.
"Ck.. Ayah sama bunda pelit. " Kata Bagus membuat Bagas dan Kartika tertawa.
"Bukannya pelit, Sayang. Tapi belum saatnya Bagus memikirkan masalah orang dewasa. " Jawab Kartika.
"Sudah jangan di bahas lagi masalah om Hary, besok hari sabtu kita jalan-jalan ke mall dan Bagus katanya mau beli mainan baru. " Kata Bagas yang menyudahi pembicaraan yang semakin membuat anaknya penasaran.
"Iya, Yah. Bagus mau beli mainan baru dan Bagus ingin bermain merakit robot disana. " Kata Bagus.
*Hai... Reader... Maaf author baru Up soalnya author sibuk banyak tugas di dunia nyata.
*Silahkan like, komentar dan hadiah juga votenya ya...
*Terimakasih Reader ku yang selalu setia mengikuti Bagas, Kartika dan Bagus.
__ADS_1
' ByYou'