
Kartika menyiapkan diri untuk ikut acara praweding Harry dan Wina di puncak minggu depan, sedangkan hari ini adalah hari Bagus ikut lomba merakit sebuah robot untuk pekerja di cafe. Bagus sudah mempersiapkan dia membuat sebuah robot canggih yang tingginya seukuran dirinya, dengan di rancang mirip seperti manusia. Sebuah robot perempuan dengan rambut panjang dan memakai pakaian dress selutut juga celemek di badannya dan topi ala pelayan restoran.
"Bagus, itu robot yang kamu buat di sekolah?" tanya Bagas yang masuk ke ruangan yang khusus Bagas buat untuk Bagus ketika membuat robot.
"Iya, yah. Ini robot ciptaan Bagus dan teman-teman, kami akan mengikuti lomba besok. Ayah dan bunda datang ya," ujar Bagus.
"Ayah bangga dengan Bagus, semoga kelak dewasa Bagus bisa jadi ilmuwan yang hebat," ujar Bagas.
"Aamiin," sahut Bagus dan Kartika yang menghampiri anak dan suaminya.
"Bagus, besok pukul berapa lombanya?" tanya Kartika duduk di samping Bagus.
"Acara mulai pukul 9,bunda," jawab Bagus.
"Ayah, nanti kita kesekolah Bagus ya lihat lomba Bagus menampilkan robot buatannya," ujar Kartika pada Bagas suaminya.
"Tentu, bunda. Ayah akan hadir untuk melihat Bagus lomba," kata Bagas.
Kartika tersenyum memeluk putranya yang benar-benar genius, Kartika pun tak menyangka kalau putranya sangat berbakat merakit robot dan sains.
"Mas, kalau Bagus dewasa pasti dia tidak akan tinggal dengan kita lagi. Dia pasti sibuk dengan robot-robotnya yang dia buat, Kartika nanti kesepian," ucap Kartika dengan sedih.
"Kan ada ini pengganti Bagus, sayang," ujar Bagas yang memegang perut rata Kartika.
"Aduh Kartika sampe lupa kalau Kartika sedang hamil lagi," kata Kartika tersenyum.
"Tapi nanti kalau mereka sudah besar kita berdua lagi dan aku kesepian, mas," ucap Kartika.
"Kita bikin dede lagi, sayang," jawab Bagas yang menyeringai halus.
"Ish, emangnya aku pabrik anak apa," kata Kartika, dan Bagas pun tertawa.
Keesokan harinya Bagus sudah siap-siap berangkat, Bagus berangkat dengan teamnya dari sekolah. Bagus bersama teman-temannya naik mobil Bagas yang muat untuk 4 anak, dan sisanya naik mobil Kartika.
__ADS_1
Disekolah semua pengunjung dan peserta lomba menganga melihat robot buatan Bagus dan teamnya, begitu juga guru di sekolah Bagus. Kepala sekolah yang baru sangat kagum dengan keahlian Bagus yang pintar merakit sebuah robot.
"Selain pintar dalam membuat robot, Bagus juga pintar matematika dan sains. Sudah berapa kali dia juara lomba sains dan Olimpiade matematika. Untuk tahun depan Bagus akan kami bawa ke Jepang untuk mengikuti pameran sekaligus lomba robotik sedunia, apakah bapak dan ibu mengizinkannya?" tanya ibu Imel selaku kepala sekolah yang baru.
"Saya akan mendukung putra saya bila itu positif, bu," jawab Bagas dan Kartika tersenyum.
"Jika bapak dan ibu mengizinkan saya akan mendata anak-anak yang akan ikut pameran dan lomba robotik di Jepang tahun depan," kata ibu Imel.
"Silahkan, bu. Bagus 100% saya izinkan. Dan kalau perlu khusus sekolah ini saya akan menyumbang jet pribadi untuk mereka dan fasilitas hotel juga akomodasi selama di Jepang," ujar Bagas.
"Wah, terimakasih bapak Bagas. Saya akan memberitahu kepada anak-anak dan juga orang tua, bahwa semuanya free dari bapak Bagas," kata ibu Imel dan di angguki Bagas dengan senyuman.
Bagas dan Kartika melihat ibu Imel pergi meninggalkan mereka, ibu Imel ingin memberikan pengumuman pada para anak-anak dan orang tua untuk siapa yang akan mengikuti pameran dan lomba robotik di Jepang tahun depan dan tersedia akomodasi, hotel dan pesawat free.
"Mas, apakah itu tidak berlebihan?" tanya Kartika yang duduk di bangku paling depan, karena Bagas adalah salah satu donatur terbesar di sekolah Bagus.
"Tidak, sayang. Semua aku berikan agar anak-anak dan guru di sekolah ini nyaman, termasuk anak kita," ujar Bagas yang menyatukan jari tangannya dengan jari tangan Kartika.
"Sepertinya aku tidak bisa ikut, karena melahirkan anakmu ini," ujar Kartika.
"Sayang, minggu besok kita berangkat ke villa. Aku ingin mengajak Bagus dan Dennis," pinta Kartika yang dengan manja menyandarkan kepalanya di bahu Bagas.
"Terserah apa maumu saja ratuku," jawab Bagas yang membuat Kartika tersenyum bahagia.
Semua orang tua siswa yang hadir disana merasa iri melihat keromantisan Bagas dan Kartika. Mereka tampak tersenyum melihat keluarga harmonis itu dan tak ada berita miring apapun tentang mereka.
"Maaf, bu. Apakah Anda sedang hamil?" tanya seorang wanita yang usianya masih sekitar 25 tahun.
"Iya, kok Anda tahu. Bahwa aku sedang hamil," kata Kartika.
"Anda terlihat manja pada suami Anda yang tampan ini," jawab wanita muda itu. "Dulu sewaktu aku hamil Diandra sama seperti Anda yang manja pada suami," ujar wanita itu dengan senyuman yang manis.
"Oh ya, pasti senang kalau kita bermanja dengan suami," kata Kartika.
__ADS_1
"Anda benar, bu. Apakah suami yang tampan seperti suami Anda," jawab wanita itu yang melirik Bagas. Bagas hanya memasang wajah yang cool.
"Hmm... Sepertinya Anda sangat memuji suami saya," sahut Kartika dengan cemburu.
"Hahaha, Anda sepertinya sedang cemburu. Baiklah saya tidak akan menggoda suami Anda lagi, saya permisi sepertinya suami saya lebih tampan dari suami Anda," kata wanita itu dengan terkekeh melihat raut wajah Kartika yang cemburu.
"Nanti kalau kita pergi ke Jepang jangan bertingkah sok cool gitu, nanti banyak yang naksir," kata Kartika yang memonyongkan bibirnya karena cemburu.
"Kamu cemburu, sayang?" tanya Bagas mencolek dagu Kartika.
"Tidak, aku hanya kesal karena banyak ibu-ibu dan guru-guru di sini yang memperhatikanmu," ujar Kartika.
"Dari dulu aku memang tampan dan ganteng, makanya kegantengan Bagus itu menurun dari aku," ujar Bagas yang jumawa.
"Ish, percaya diri sekali kamu ini," jawab Kartika.
"Sepertinya lomba akan dimulai, sudah jangan cemburu. Walaupun banyak wanita yang menggodaku, tapi aku hanya tergoda denganmu dan aku hanya mencintai dirimu seorang," ucap Bagas.
"Gombal,"
"Serius, sayang,"
"Sudah tua masih saja menggombal," Kartika mencibir melihat kelakuan suaminya.
"Aku masih muda, sayang. Lihat aku masih kuat membuatmu hamil lagi," kata Bagas.
"Iih.. Kalau ngomong itu pelan, nanti yang di belakang mendengarnya," kata Kartika memukul lengan Bagas. Bagas tertawa senang melihat istrinya cemburu dan posesif, itu berarti Kartika mencintai dirinya.
Usia Bagas saat ini berusia 45 tahun dan Kartika berusia 35 tahun, cinta menyatukan mereka yang berbeda usia 10tahun.Saat tragedi malam itu Kartika masih usia 26 tahun dan Bagas 36 tahun. Sekarang mereka tampak bahagia dengan kehadiran Bagus dan calon bayi yang di kandung Kartika.
Acara pun dimulai dengan berbagai macam lomba, semua yang mengikuti adalah sekolah dari dalam kota saja. Bagus dan team siap memamerkan robot buatannya yang mirip dengan manusia, Bagus dan team sangat kompak dalam hal merakit robot ini.
Bagus sudah mulai memiliki teman, tidak seperti dulu yang begitu dingin dan cuek sehingga tidak memiliki teman ataupun dekat dengan temannya. Hanya beberapa orang teman saja yang dekat dengan Bagas.
__ADS_1
Dan di akhir penghujung acara, para juri mengumumkan pemenang lomba robotik untuk kategori pelayan cafe dimenangkan oleh Bagus dan teamnya. Semua bersorak, tak kecuali Bagas dan Kartika saling berpelukan dan meneteskan air mata, Bagas dan Kartika sangat bangga pada putranya yang satu ini. Kepintaran Bagus entah turunan darimana. Bagas memeluk Bagus dan juga Kartika, Bagas juga mentraktir seluruh team Bagus dan guru di sekolah Bagus makan siang di restoran milik sahabatnya Diena. Dan membagikan dessert buatan istrinya.