
Setelah perang dingin antara Bagas dan Kartika telah usai, kini mereka bak pasangan abege yang sedang dilanda kasmaran. Bagus yang tersenyum melihat ayah dan bundanya sudah mulai baikkan.
Pagi ini Kartika membuat nasi goreng untuk sarapan anak dan suaminya. Kartika belum mendapatkan art baru pengganti Gayatri. Kartika juga harus mengelola toko dessert yang sudah mulai buka.
"Sayang, dasi ayah mana? " Tanya Bagas yang berdiri di pintu kamar.
"Di kasur, Yah. Semua sudah bunda siapkan di atas kasur. " Kata Kartika yang menyiapkan makan dan bekal untuk Bagus.
"Tidak ada, Bun. " Kata Bagas.
"Ck.. Sayang kamu sarapan sendiri dulu ya. Bunda mau urus bayi besar bunda dulu. " Kata Kartika yang mengusap rambut Bagus. Dan Bagus pun mengangguk. Kartika berjalan menuju kamarnya dan sedikit cemberut menatap wajah Bagas.
"Ini apa, dasi bukan. " Kata Kartika yang menunjukan di atas kasur. Bagas hanya tersenyum menampilkan jejeran giginya.
Bagas memeluk Kartika dari belakang dan mengendus aroma tubuh istrinya yang sudah membuatnya candu. Bagas tak kuat menahan hasrat di pagi hati ini, karena Kartika begitu menggoda.
"Sayang, sudah siang. Kasihan Bagus nanti dia terlambat, bukannya kamu janji akan mengantarkannya ke sekolah. " Kata Kartika yang melepaskan pelukan Bagas.
"Sayang, sekali saja. Semalam kamu belum memberikan aku penyemangat. " Kata Bagas yang terus mengendus aroma wangi tubuh Kartika.
"Sudah, nanti kita semua terlambat dengan keinginan kamu yang mesum itu. " Kata Kartika yang memasangkan dasi ke leher Bagas.
"Ck.. Kamu gak kasihan sama aku, Sayang. " Kata Bagas.
"Sudah rapi, ayo kita sarapan dan lihat anakmu sudah menunggu. " Kata Kartika.
Kemudian Bagas dan Kartika keluar kamar, benar Kartika melihat Bagus sudah selesai sarapan dan siap-siap akan berangkat. Kartika menyisir rambu dan merapikan pakaian Bagus, lalu Kartika mengambil tas kecil miliknya bersiap akan berangkat.
"Ayah, ayo Bagus sudah terlambat. " Kata Bagus yang melihat Bagas masih menyesap kopinya.
"Tuh, anakmu sudah protes. " Bisik Kartika mengambil sandwich untuk di bawa dirinya ke toko.
"Siap bos. Ayo kita berangkat. " Kata Bagas yang berdiri dan berjalan menghampiri Bagus lalu merangkul pundak anaknya menuju mobil.
Dalam perjalanan ke sekolah Bagus hanya diam dan tak banyak bicara, biasanya Bagus akan banyak bicara sampai di sekolah. Kartika dan Bagas saling tatap melihat anaknya tak bersemangat.
"Sayang, ada apa? " Tanya Kartika.
"Iya, dari tadi ayah lihat kamu cemberut saja. Marah sama ayah? " Tanya Bagas.
__ADS_1
"Tidak, Bagus tidak marah sama ayah atau bunda. Bagus hanya ingin punya adik biar Bagus ada temannya. " Kata Bagus. Bagas dan Kartika saling pandang dan tersenyum.
"Nanti ayah kasih Bagus adik dua. " Kata Bagas. kemudian Kartika memukul lengan Bagas.
"Awww.. Bunda kenapa? Kok mukul ayah. " Kata Bagas yang mengelus lengannya.
"Jangan suka menjanjikan sesuatu yang belum pasti terjadi. " Kata Kartika.
"Loh, emang salah ayah bilang nanti ayah akan kasih Bagus seorang adik? " Tanya Bagas yang menyeringai.
"Ya tapi itukan sesuatu yang belum pasti kita dapatkan. " Kata Kartika.
"Aku gak mau Bagus jadi terus bertanya kapan adiknya akan datang. " Kata Kartika.
"Ayah sama bunda jangan berdebat lagi. Bagus gak jadi deh mau punya adiknya. " Kata Bagus yang turun dari mobil
"Tuh, lihat gara-gara kamu anak kita jadi marah. " Kata Kartika.
"Kok, aku sih. Kamu yang marah sama aku. " Kata Bagas.
"Sudah, ayo kita jalan. Antar aku ke restoran dulu. " Kata Kartika.
"Kok ke restoran? Tokonya tidak buka? " Tanya Bagas.
Malam harinya, Bagus hanya berdiam diri di kamar. Keinginannya untuk memiliki adik semakin menggebu, diam-diam Bagus merakit dan membuat robot anak-anak. Bagus yang genius membuat bentuk robot anak usia 5 tahun. Bagus selalu membuat eksperimen robot untuk hiburan dirinya. Usia Bagus yang masih 8 tahun mampu membuat robot yang pintar dan bisa di ajak bermain.
"Sayang, Bagus sudah makan malam? " Tanya Bagas yang tidak melihat anaknya keluar kamar.
"Sudah, tadi dia makan terus balik lagi ke kamarnya. " Kata Kartika.
"Sayang, malam ini kita buat adik untuk Bagus. " Kata Bagas yang menaik turunkan alisnya.
"Iya, kami tuh dari pagi otaknya mesum aja bisanya. " Kata Kartika yang terkekeh melihat suaminya.
"Aku tuh sangat mencintaimu, sayang. Jadi otakku hanya ada kamu, tidak mungkin dong kalau otakku mesum sama orang lain. " Kata Bagas tersenyum.
"Tapi, coba kamu lihat Bagus terlebih dahulu. Aku takut dia masih marah dengan kita. " Kata Kartika.
"Baiklah, aku lihat Bagus ke kamar nya. " Kata Bagas yang berjalan ke arah kamar Bagus.
__ADS_1
Bahasa mengetuk pintu kamar Bagus dan kemudian membukanya, karena pintu kamar Bagus tidak di kunci. Bagas melihat Bagus sedang serius mengutak-atik komputer untuk membuat suara untuk percobaan robotnya.
"Sayang, sedang apa? " Tanya Bagas yang duduk di ranjang Bagus.
"Bagus sedang membuat robot anak kecil, Yah. " Kata Bagus.
"Robot, buat apa? " Tanya Bagas dengan heran.
"Buat teman Bagus nanti. " Jawab Bagus dengan datar.
"Sayang, sekarang sudah malam. Lebih baik kamu istirahat dan besok lagi di lanjutkan. " Kata Bagas mengusap rambut Bagus.
"Sebentar lagi, Yah. Tinggal menyesuaikan pota suara saja. " Kata Bagus.
"Baiklah, ingat jangan malam-malam tidurnya. " Kata Bagas yang mencium pucuk kepala anaknya lalu keluar dari kamarnya.
Bagas masuk kekamarnya sendiri dan melihat Karena sudah menggunakan baju tidur yang s****i membuat Bagas makin bergairah. Bagas memeluk dan mencium aroma wangi tubuh istrinya. Mereka pun melakukan hubungan suami istri yang halal dan berpahala.
"Aku mencintaimu, Mas. " Kata Kartika setelah selesai pergumulan itu.
"Aku juga sangat mencintaimu. " Kata Bagas yang mencium pucuk kepala Kartika. Malam ini Bagas dan Kartika tidur sambil berpelukan dan seakan esok mereka akan terpisah.
Bagas sangat mencintai Kartika sejak pertama kali melihat Kartika kerja di kantor miliknya. Kartika yang sudah mengisi hari-harinya penuh dengan bunga-bunga cinta dan membuat Bagas berubah menjadi laki-laki yang bucin akut.
Apalagi setelah mengetahui Bagus adalah anak kandungnya, maka semakin Bagas mencintai Kartika juga Bagus. Bagas memeluk erat istrinya yang tidur tanpa busana itu.
Pagi hari Bagas sudah rapi dan bersiap akan berangkat ke kantor pagi. Dia melihat Kartika masih tertidur, karena semalam Bagas membuat Kartika tidak tidur. Kartika mengerjapkan matanya dan melihat Bagas sudah rapi.
"Jam berapa sekarang? " Tanya Kartika yang menggulung selimut ke tubuhnya.
"Sudah jam 7, kalau masih mengantuk kamu tidur saja. " Kata Bagas yang mendekati Kartika.
"Bagus.. " Sontak Kartika teringat Bagus yang belum sarapan.
"Bagus sudah aku antar ke sekolah dan dia sudah sarapan dengan sandwich buatan ku. " Kata Bagas tersenyum dan mengusap rambut Kartika.
"Mas, mau berangkat? " Tanya Kartika.
"Iya, aku akan berangkat. Aku sudah menyiapkan makanan di meja makan untukmu. Sudah ya aku berangkat. " Kata Bagas yang mencium kening sang istri.
__ADS_1
"Hati-hati, Mas. Aku mencintaimu. " Kata Kartika yang memberikan kecupan lewat udara.
Sungguh Bagas menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya yang membuatnya semakin mencintai Kartika.