Aku Anakmu Ayah

Aku Anakmu Ayah
Jagung Bakar


__ADS_3

Bagas masuk kedalam kamarnya dan melihat Bagus dan Kartika lalu kemudian mereka meminta jagung bakar yang harus Bagas yang bakar sendiri, Bagas mendengus kesal mendengar anak dan istrinya menyuruh membakar jagung untuk nanti malam.


Harry terkekeh melihat sahabat sekaligus sahabatnya itu, sedang membakar jagung yang Bagas beli bersama mang Didin. Bagas dengan hati yang kesal karena tidak bisa membakar jagung dengan benar, jagung yang dibakar Bagas selalu gosong dan pahit membuat Kartika marah karena tak bisa memakannya.


"Sayang, lihat kebucinan Bagas. Dia takut istri, di kantor saja dia garang tapi dirumah dia lembek," kata Hary pada Wina yang terkekeh melihat Bagas.


"Ayah, jagungnya pahit tidak enak, " ucap Bagus.


"Huffttt..Sabar Bagas ini ujian," gumamnya sambil mengelus dadanya.


"Gas, lo bisa kagak bakar jagungnya?" tanya Hary meledek Bagas.


"S****l, lo. Nih, lo yang bakar. Sekalian bakar mulut lo yang bawel." Kata Bagas yang melempar arang yang ada di sampingnya.


"Awww.. Sakit, b****o," Harry memegang kepalanya yang terkena timpukan arang.


"Rasain," ujar Bagas tertawa.


"Rese, lo. Dasar bucin," kata Harry yang kembali melempar arang tadi.


"Kalian, sudah punya istri tapi masih saja seperti anak kecil. Mana jagungnya sudah matang?" tanya Kartika yang menghampiri suaminya.


"Belum, sayang. Aku tidak bisa membakar jagung dengan sempurna, biarkan mang Didin yang bakar ya. Tanganku sudah lelah,sayang," ucap Bagas merengek.


"Tapi anakmu ingin ayahnya," ucap Bagas. Harry terkekeh.


Bagas cemberut ketika masih susah membakarnya jagung sesuai keinginan Kartika. Bagas sudah sangat lelah tangannya merajuk pada sang istri untuk berhenti membakar jagung. Kartika pun merasa kasihan lalu, membiarkan mang Didin membakar jagung yang sedikit lagi matang.


"Tanganku lelah, nanti kamu tanggung jawab," kata Bagas.


"Iya, nanti aku pijit tangannya," ucap Kartika.


"Pijit plus-plus ya," ujar Bagas menaikan alisnya.


"Boleh, asal bakar jagung lagi," kata Kartika yang meledek sang suami.


"Ck, kamu gak kasihan sama suami sendiri. Malah menyiksa suami, durhaka tau," kata Bagas.


"Iya, sayang. Maaf, sensi sekali," ujar Kartika.


"Bunda, Bagus sudah kenyang mau tidur," kata Bagus yang menhampiri Kartika dan duduk di sampingnya.


"Ya sudah, sana masuk kedalam," kata Kartika yang mengusap rambut Bagus.

__ADS_1


"Tapi Bagus ingin tidur dengan ayah dan bunda," ujar Bagus.


"Bagus sudah besar tidurnya di kamar sendiri saja," ujar Bagas. "Bisa gak dapat jatah nih kalo bocah ini tidur bareng," gumam Bagas yang di dengar Kartika dan langsung memukul lengannya.


"Aduh, sayang ko dipukul?" tanya Bagas memegang lengannya.


"Maksudnya apa gak dapat jatah?" tanya Kartika dan Bagas hanya cengengesan.


"Bunda, ayo kita tidur masuk," ajak Bagus dan Kartika pun ikut masuk kedalam.


"Sayang, aku bagaimana?" tanya Bagas yang berlari mengikuti Kartika.


"Nanti,gak sabaran banget sih," ucap Kartika.


"Aku sudah lama menahan, sayang," kata Bagas dengan manja.


"Hufft.. " Kartika menarik nafas karena tingkah anak dan suaminya yang sangat manja.


Keesokan harinya, Kartika masih tertidur pulas. Semalam Bagas tak memberikan istirahat sebentar, dia terua menggempur Kartika hingga pagi. Sehingga setelah sholat shubuh Kartika langsung tidur karena lelah. Bagas tersenyum kala melihat istrinya yang semalam membuat dirinya terus menginginkan lagi dan lagi. Bagas mencium keningnya lalu turun dan memeriksa email di laptopnya.


Bagas duduk di balkon kamarnya sambil menikmati kopi yang dia buat sendiri. Bagas sibuk dengan Kerjaannya yang dia tinggal, lalu tangan lembut memeluknya dari belakang dan membenamkan kepalanya di bahu Bagas.


"Hai, sudah bangun?" tanya Bagas yang mengecup tangan itu.


"Ada kerjaan yang harus aku selesaikan, sayang Kamu tahu di kantor tidak ada Harry dan Wina, jadi kerjaan belum terhandle semua," ungkap Bagas.


"Masih lama?" tanya Kartika lagi.


"Tidak ini tinggal kirim email ke Fitra, selesai," Ujar Bagas. "Kenapa, masih ingin?" tanya Bagas.


"Dede bayinya minta di tengok," ucap Kartika.


"Dede bayi atau bundanya?" tanya Bagas dengan menaikan alisnya dan tersenyum.


"Dua-duanya," bisik Kartika lalu kembali kedalam dan kemudian duduk disofa sambi menonton televisi.


Bagas tersenyum melihat Kartika sengaja menggoda dirinya dengan memakai pakaian yang super s****i.Bagas dan Kartika pun langsung melanjutkan aktivitas semalam yang membuat dirinya semakin menyukai Kartika. Saat mereka bergumul di sofa, seketika mendengar suara pintu yang di ketuk sangat keras.


"Sayang, Bagus memanggil kita," kata Kartika.


"Sebentar, sayang," ucap Bagas yang belum pelepasan. Bagas pun m********g dan ambruk di tubuh Kartika, dia merasa lelah hampir dua jam melanjutkan aktivitas semalam yang membuatnya candu.


Bagas memakai pakaiannya dan melangkah membuka pintu, sementara Kartika sudah masuk ke kamar mandi membersihkan sisa percintaannya pagi ini. Bagus mendengar suara gemericik air di dalam kamar mandi.

__ADS_1


"Bunda sedang mandi, yah?" tanya Bagus yang duduk menonton televisi.


"Iya, Bagus sudah mandi?" tanya Bagas.


"Sudah, hari ini kita jalan-jalan kemana?" tanya Bagus.


"Bagus, mau kemana?" Bagas yang berbalik tanya sambil membereskan kerjaannya.


"Hmmm, Bagus ingin naik gunung melihat pemandangan dari atas gunung," kata Bagus.


"Boleh, tapi kita lihat cuacanya dulu ya," kata Bagas tersenyum mengusap kepala anaknya.


Kemudian Kartika keluar sudah rapi, dan dia melihat Bagus yang asik nonton televisi. Kartika lalu duduk di samping Bagus dan mencium pipi Bagus.


"Bunda, jangan cium-cium Bagus. Kalau mau cium tuh ayah saja," kata Bagus dengan marah.


"Memangnya kenapa?" tanya Kartika tersenyum.


"Bagus sudah besar, bunda. Malu nanti teman-teman Bagus meledek Bagus kalo Bagus masih kecil, masih suka di cium-cium sama bundanya," ujar Bagus mengusap pipi untuk menghilangkan jejak ciuman Kartika.


"Siapa yang mau di cium?" tanya Bagas yang ikut duduk di samping Kartika.


"Itu bunda, yah," jawab Bagus yang berpindah duduknya di bawah.


"Anakmu tidak mau aku cium, katanya sudah besar," kata Kartika tertawa.


"Anak ayah sudah besar, ya?" tanya Bagas yang ikut duduk di samping Bagus.


"Iya, lihat otot-otot Bagus seperti ayah dan om Harry. Terus Bagus juga sudah punya pacar," ujar Bagus.


"Apa, pacar? Siapa?" tanya Kartika dan Bagas hanya tersenyum.


"Sherrin, pacar Bagus nanti kalau sudah besar Bagus mau menikahnya dengan Sherrin," kata Bagus.


"Hahahha, kamu itu masih kecil anak ayah," kata Bagas.


"No, bunda belum mengizinkan kamu pacaran. Kamu harus belajar yang pintar, kuliah lalu meneruskan perusahaan ayah baru menikah," kata Kartika.


"Kan Bagus bilang nanti kalau sudah besar, bunda," sahut Bagus.


Bagas hanya terkekeh mendengar anaknya yang masih berusia 9 tahun mengerti pacaran. Persis waktu dulu dirinya kecil, yang saat usia 10 tahun menyukai gurunya yang cantik dan gemoy.


"Kenapa senyum-senyum? Sama ya, dulu seperti Bagus sudah mengerti pacaran?" tanya Kartika.

__ADS_1


"Bagus kan anakku, jadi sikapnya ya seperti diriku," jawab Bagas terkekeh. "Dulu aku juga seperti Bagus, tapi aku lebih menyukai guru kelasku," kata Bagas yang tertawa saat mengingat dirinya sewaktu dirinya kecil.


__ADS_2