
Bagas menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya, hari ini Bagas sudah berangkat kembali bekerja. Terlalu lama dia meninggalkan pekerjaannya membuat Hary uring-uringan yang jadwal ngedate dengan Wina selalu terbengkalai.
"Gas, hari ini gue izin setelah makan siang," kata Harry yang masuk tanpa mengetuk pintu.
"Lo itu kalau masuk ketuk pintu dulu,cungkring," kata Bagas yang melempar bolpoin ke arah Harry.
"Sorry, siang ini gue dan Wina mau fitting baju dan mami sudah menunggu,"kata Hary.
" Mami kok gak bilang sama gue,"kata Bagas.
"Sayang," lalu Kartika masuk dan langsung memeluk suaminya tanpa lihat ada Hary yang sedang duduk.
"Mana, Bagus?" tanya Bagas yang melepaskan pelukannya.
"Mas, Hary sama Wina akan fitting baju," kata Kartika yang bergelayut manja di lengan Bagas.
"Lalu, kamu mau fitting juga?" tanya Bagas.
"Iya, tapi aku juga mau ikut praweding Hary dan Wina," ujar Kartika.
"Ikut praweding?" Hary menatap Bagas dan mengangkat alisnya seolah minta penjelasan.
"Sayang, kamu kan sedang hamil, nanti kelelahan," ujar Bagas.
"Aku mau ikut, sayang," rengek Kartika dengan manja. Memang hormon ibu hamil sangat sensitif sekali, sebelumnya Kartika tidak pernah di manja saat hamil Bagus. Entah kenapa sekarang dia lebih manja dan sensitif.
"Emang lo mau praweding dimana, Har?" tanya Bagas dengan tangan masih di pinggang Kartika.
"Rencananya gue sama Wina mau praweding di daerah puncak dan di villa papi dulu," jawab Hary.
"Tuh kan enak banget, sayang," ujar Kartika yang menyandarkan kepalanya di bahu Bagas.
Bagas dan Hary saling pandang, melihat tingkah Kartika yang manja sejak kehamilan keduanya. Bagas mengerti dengan kondisi saat ini, dan Bagas sangat suka dengan kemanjaan Kartika.
"Aku tuh ngidam mau praweding sama kamu, mas," kata Kartika yang melihat dia laki-laki dewasa saling tatap.
"Ngidam kamu aneh," ujar Hary terkekeh.
"Kamu juga nanti akan merasakan kalau Wina hamil," kata Kartika.
"Semoga Wina ngidamnya tidak yang aneh seperti kamu," ucap Hary yang keluar dari ruangan Bagas.
"Sayang, kita praweding ya. Seperti Hary dan Wina," Kartika terus merengek sambil memeluk Bagas.
"Aku lihat jadwal kantor aku dulu, sayang. Hary dan Wina kan cuti sampai satu bulan kedepan. Dan pasti kerjaan akan menumpuk," kata Bagas mencoba menjelaskan pada Kartika agar Kartika paham.
"Jadi kamu gak mau?" tanya Kartika yang melepaskan pelukannya.
"Bukannya tidak mau, sayang. Aduh, bagaimana ya," Bagas bingung menjelaskan pada istrinya yang mulai marah.
"Ya sudah kalau kamu tidak mau, nanti malam aku tidur di kamar Bagus," kata Kartika yang berjalan keluar ruangan suaminya.
__ADS_1
"Sayang, Kartika." Bagas mengekori Kartika yang marah dan Bagas mengusap wajahnya dengan kasar. " Aduh, kenapa pake acara ngambek sih,"
Kartika berjalan menuju lift dengan cemberut dan tidak mendengarkan Bagas terus memanggilnya. Kartika lalu bertemu dengan Randi di dalam lift, Randi yang bingung melihat pasangan pasutri ini yang sepertinya ada masalah.
"Randi, hentikan Kartika!" teriak Bagas yang melihat Randi keluar dari lift.
Kemudian Randi mencekal lengan Kartika dan Kartika pun merasa akan jatuh, lalu Randi dengan sigap menarik pinggang Kartika. Seketika Kartika akhirnya melingkarkan tangannya ke leher Randi dan Randi memeluk Kartika. Bagas yang melihat istrinya di peluk oleh Randi yang menyukai Kartika, segera lari dan langsung menarik tubuh Kartika dari Randi.
"S*****l lo, cari kesempatan ya!" Bagas mendorong Randi dengan kesal. Kartika melepaskan tangan Bagas dan masih dengan mode marah.
"Lo, bagaimana sih. Tadi lo minta gue hentikan bini lo, sekarang lo marah. Aneh lo mah, Gas," kata Randi yang tak kalah kesalnya.
"Tapi kan gak pake peluk-peluk segala," ujar Bagas tak mau kalah.
"Kalo gue gak peluk bini lo, dia akan jatuh dan gue gak ngeliat bini lo. Tapi anak lo yang ada di rahim bini lo, ditolongin bukannya terimakasih malah di marahin," kata Randi Bagas pun terdiam.
"Ya deh, sorry.Terimakasih udah menyelamatkan calon anan gue," ucap Bagas.
"Sudahlah, lupain. Gue kesini mau kasih lo undangan, nih. Gue mau merried sama Freya, jadi lo gak usah lagi cemburu sama gue," kata Randi yang memberikan undangan pada Bagas.
"Randi, kamu mau menikah?Kapan?" tanya Kartika yang mengambil undangan dari tangan Bagas.
"Minggu depan, kalian hadir ya. Dan gue minta lo jadi saksi,Gas," kata Randi.
"Oke siap," ucap Bagas yang tangannya membentuk huruf O.
"Kamu praweding tidak?" tanya Kartika.
"Aku mau praweding sama Hary dan Wina," ujar Kartika. "Tapi bos kamu yang satu ini dia tidak mengizinkan, padan bukan aku yang ingin, anaknya yang minta,"
"Lagian, ngidamnya aneh. Yang mau nikah siapa dia yang heboh," kata Bagas yang membuat Randi terkekeh.
"Hary dan Wina mau nikah?" tanya Randi.
"Iya, bulan depan do'akan semoga lancar."
"Baiklah, kalau begitu gue permisi masih banyak undangan yang belum dibagikan," kata Randi yang berjabat tangan dengan Bagas.
"Selamat, bro semoga lancar dan sukses," ucap Bagas.
"Oke, thanks, "
Randi pun sudah berlalu, Bagas melihat Kartika yang duduk dengan menyedekapkan kedua tangannya di dada nya. Wajahnya masih tekuk dan marah pada Bagas. Bagas mendekati dan duduk di samping Kartika.
"sayang,jangan marah dong," kata Bagas yang membelai rambut Kartika.
"Aku mau praweding ikut dengan mas Hary dan Wina," kata Kartika yang matanya mulai berkaca-kaca.
"Ya ampun, sayang. Kamu menangis?" tanya Bagas yang mengusap punggung Kartika.
"Mas.. Kartika mau praweding," Kartika merengek dan kemudian menangis.
__ADS_1
"Iya baik, nanti kita praweding bersama Hary dan Wina. Sudah jangan nangis, malu sama babynya," kata Bagas yang terkekeh.
Kartika tersenyum dan membenamkan kepalanya di dada bidang Bagas. Bagas akhirnya menyetujui keinginan ibu hamil yang sangat dia cintai, walaupun akan menggeser jadwal kerjanya.
Sementara itu Hary dan Wina melihat Bagas yang sedang memeluk Kartika, membuat pasangan ini tersenyum manis melihat mereka.
"Semoga kamu seperti pak Bagas yang romantis dan bucin pada ibu Kartika," kata Wina menggandeng lengan calon suaminya.
"Aku sudah membuktikannya, sayang," ucap Hary yang menautkan jarinya pada jari Wina.
"Ekhm.... " Bagas mendehem membuat Hary dan Wina tersendiri kaget.
"Kapan kalian akan pergi praweding?" tanya Bagas yang melingkarkan tangannya pada pinggang Kartika.
"Minggu depan," jawab Hary.
"Ibu Kartika jadi ikut aku dan bang Hary praweding?" tanya Wina yang menatap Kartika, lalu Kartika tersenyum sambil mengangguk.
"Yeeey.. Aku ada temannya," kata Wina dengan girang.
"Kenapa sepertinya kamu senang sekali, sayang?" tanya Hary pada calon istrinya.
"Disana pasti kita akan menginap, sudah pasti aku tidur sendiri.Jadi kalo ibu Kartika ikut aku kan bisa tidur dengan ibu Kartika," jawab Wina tersenyum menampilkan deretan giginya.
"Eits.. Enak saja, Kartika istriku jadi dia aka tidur denganku," ujar Bagas ketus.
"Sayang, selama di villa aku tidur dengan Wina ya," Kartika kembali merengek dan pasti akan ngambek lagi. Bagas akan bingung menghadapi ibu hamil yang satu ini.
"Baiklah, jika itu keinginan anakku," ucap Bagas yang menunduk lesu.
"Yeeey.. Wina kita bisa tidur bersama," kata Kartika.
"Iya, bu, " jawab Wina.
"Jangan panggil ibu, Win. Kita kan sebentar lagi jadi saudara, betul kan, mas." Bagas mengangguk pelan.
"Panggil aku Kartika saja," ujar Kartika meraih tangan Wina dengan senyum.
"Tidak sopan, bu," ujar Wina.
"Tidak apa,"
"Baiklah, bagaimana kalau mba saja," kata Wina dan Kartika mengangguk lalu mereka tertawa.
*Hai... Readers mohon maaf kemari minggu author janji akan double up tapi author harus bedrest.
*Dan mohon maaf baru Up..
*Silahkan komen dan Likenya..
*Salam love seladang 'ByYou'
__ADS_1