
Pulang sekolah Bagus pergi ke mall dengan Kartika dan Sherrin. Randi tidak menjemput karena dia ada kerjaan bersama Bagas dan Hary. Kartika mengawal dua anak laki-laki dan perempuan, Bagus sangat akrab dengan Sherrin. Sebelumnya Bagus tidak mempunyai teman karena sikapnya yang cuek dan dingin kepada teman sekelasnya. Namun sejak kebal dengan Sherrin Bagus lebih dekat, apalagi orang tua mereka juga berteman.
"Bunda, lihat disana ada lomba menangkap bola. " Kata Bagus yang menunjukkan jarinya ke arah wahana permainan.
"Kita ikut yuk, Bagus. " Ujar Sherrin tersenyum.
"Bunda, boleh? " Tanya Bagus mengedipkan matanya merayu Kartika dengan tingkah yang konyol. Kartika pun mengangguk setuju sambil mengacak-acak rambut Bagus.
"Kalau sudah ada maunya, persis ayahnya. " Gumam Kartika tersenyum lebar.
Bagus dan Sherrin mengikuti lomba menangkap bola. Bagus dan Sherrin tampak senang, mereka tertawa juga bergembira. Kartika memperhatikan mereka tertawa dengan menutup mulutnya.
"Mereka sepertinya bahagia. " Suara bariton tiba-tiba muncul dari belakang Kartika. Kemudian duduk di samping Kartika.
"Eh.. Randi, kamu tahu kita disini? " Tanya Kartika yang menggeser duduknya.
"Sherrin yang bilang, jadi selesai kerjaan dengan suamimu akau langsung kemari. " Jawab Randi melirik Kartika.
"Hmmm... Randi, mohon maaf sebelumnya. Aku ingin kita jaga jarak aku tidak ingin suamiku salah paham. Kemarin dia marah karena kamu yang terus menatap dan memandangi aku. " Kata Kartika yang takut dirinya kegeeran.
"Hahahahah... " Randi tertawa dengan sedikit keras.
"Kok, kamu ketawa? Memang ada yang lucu ya? " Tanya Kartika mengerutkan dahinya.
"Bagas begitu bucin nya denganmu, sampai-sampai mengkhawatirkan aku karena, aku memang selalu menatapmu karena kamu cantik. " Kata Randi membuat pipi Kartika merona menahan malu.
"Aku mohon sama kamu, aku ini istri sahabatmu, istri atasanmu. Gak baik jika kamu menatap seseorang yang jelas-jelas sudah bersuami.
" Jujur boleh tidak? "Tanya Randi lagi-lagi menatap Kartika dengan intens dan Kartika mengalihkan pandangannya ke arah anak-anak.
" Apa yang ingin kamu katakan dengan jujur? "Tanya Kartika berbalik dengan memeluk tasnya.
Namun sebelum Randi mengatakan kejujuran tentang perasaannya pada Kartika. Bagus dan Sherrin menghampiri mereka.
" Bunda.. "Panggil Bagus yang langsung duduk di samping Kartika.
" Papi.. "Panggilnya pada laki-laki yang tersenyum menatap putrinya.
" Bunda, lapar. "Ujar Bagus memegang perutnya.
" Sherrin juga, pi. Lapar. "Sahut Sherrin.
" Ayo kita makan di restoran Jepang. "Kata Randi yang mengajak mereka ke sebuah restoran Jepang yang sangat Ramai.
__ADS_1
Kartika berjalan beriringan dengan Randi, Randi mengulum senyum bisa berdua dengan Kartika yang dia puja. Randi begitu senang membayangkan dirinya dan Kartika yang satu keluarga akan bahagia selalu hidupnya.
"Bagus, setelah selesai makan kita pulang ya. " Kata Kartika mengajak Bagus pulang. Kartika tidak mau berlama-lama dengan Randi.
"Ya, sebentar lagi. Bagus masih mau main, bun. " Ujar Bagus merajuk.
"No, kita pulang. Ayah nanti marah sama bunda." Kata Kartika tegas.
"Tapi Bagus masih mau main, bun. Bunda kan bisa bilang sama ayah telepon sekarang. " Bagus masih merengek dengan manja.
"Bagus, gak nurut sama bunda. " Ucap Kartika yang menaikan nada bicaranya.
"Sudahlah, Kartika. Kalau memang Bagus tidak mau pulang nanti biar aku yang mengantarkan dia pulang. " Kata Randi tersenyum pada Bagus dan mengusap punggungnya.
"Bagus, mau pulang sama om Randi saja. " Ujar Bagus dengan manja.
Kartika terdiam sejenak, dan kemudian ponselnya berdering dan terlihat disana nama *My Husband* Kartika langsung menggeser tombol hijau. Jantung Kartika merasa ingin keluar dari peredarannya, dia seperti ketahuan selingkuh sehingga dia merasa tidak tenang.
"Hallo, mas. " Sapa Kartika ketika melihat wajah suaminya.
"Masih mall sama Bagus? " Tanya Bagas.
"M-Masih, mas. Tadi mau pulang, tapi Bagus tidak mau dia merajuk masih mau main. " Kata Kartika.
Kartika memberikan ponselnya pada Bagus dan kemudian Bagus tersenyum melihat sosok ayahnya dengan senyuman yang lebar.
"*Hai, jagoan.. " Sapa Bagas pada Bagus yang wajahnya masih cemberut.
"Ayah, Bagus masih mau main dengan Sherrin. Tapi bunda menyuruh Bagus pulang. " Kata Bagus yang mengadu pada Bagas.
"Sherrin? Apa om Randi ada disana, juga? " Tanya Bagas yang mulai mengeras rahangnya.
"Iya, yah. Ada om Randi juga, kita sedang makan. Tapi bunda menyuruh Bagus cepat pulang, yah." Ujar Bagus.
"Baiklah, kembalikan ponselnya pada bunda. " Kata Bagas, yang ponselnya diserahkan pada Kartika kembali.
"Ganti jangan video call, aku ingin bicara. " Kata Bagas dengan ketus dan Kartika sangat takut ini yang akan terjadi. Kartika mengganti posisi menjadi telepon biasa.
"Apa kamu akan terus berlama-lama disana dengan Randi? " Tanya Bagas suaranya di ujung telepon.
"Mas, aku mengajak Bagus pulang karena aku tidak ingin kamu salah paham. " Ucap Kartika yang menjauh dari meja tempatnya makan.
"Cepat pulang, atau aku akan mengurungmu tidak boleh keluar. " Kata Bagas yang mematikan sambungan teleponnya*.
__ADS_1
Kartika menarik nafas panjang dan dia berjalan kembali ketempat Bagus makan. Randi melihat dengan sedikit rasa khawatir, karena wajah Kartika yang sedikit lemas.
"Kenapa? Bagas marah, cemburu? " Tanya Randi terkekeh.
"Iya, dia cemburu denganmu. Karena kamu selalu memandangi aku dengan tatapan yang berbeda. " Ujar Kartika dengan kesal.
"Hahahha... Bagas.. Bagas.. Segitu bucin nya denganmu. Kalaupun aku menyukaimu, tidak mungkin aku merebutnya dari Bagas. Aku tidak mungkin jadi pebinor, Kartika. " Kata Randi yang tertawa.
"Tapi kamu tahu, seperti apa mas Bagas. " Kata Kartika.
"Dulu, sewaktu SMA banyak cewek yang mengejar Bagas tapi dia itu dingin. Jadi cewek semua takut dengannya, hingga kuliah di LN dia jadi badboy yang terkenal dengan one night dengan cewek-cewek. Tapi gak ada yang bisa membuatnya bucin akut. Ternyata istrinya membuat seorang casanova Bagas Wirayudha bertekuk lutut pada perempuan sepertimu. " Ungkap Randi terkekeh mengingat masa lalu mereka yang sangat bengal.
"Bagus, ayo kita pulang. Tadi ayah menyuruh bunda pulang cepat, dan Bagus juga harus ikut dengan bunda. " Kata Kartika mencoba pelan mengajak Bagus pulang.
"Bagus pulang diantar om Randi dan Sherrin saja, bun. " Ujar Bagus masih dengan mode merajuk.
"Hufft.. Bagus, kok gak nurut sama bunda. " Ucap Kartika sedikit emosi.
"Sudahlah, biar aku antar Bagus pulang. Kamu pulanglah dulu, kalau Bagas marah aku yang akan jelaskan padanya. Sudah, kamu pulang dulu. Sebentar lagi kita juga akan pulang, nanti aku yang antar Bagus. " Kata Randi tersenyum.
Kartika masih takut jika pulang sendiri, Bagas yang masih dengan cemburunya membuat Kartika jadi tak mengerti. Kartika pulang sendiri dengan mobil jassnya, Bagus tak ikut pulang dia merengek minta pulang dengan Sherrin.
Sesampainya dirumah, Kartika melihat mobil Ceverolet Camaro warna kuning mirip mobil di film transformers Bumblebee terparkir di halaman depan rumah. Kartika memarkirkan mobilnya di samping mobil Bagas, lalu Kartika keluar dan berjalan masuk kedalam rumah.
Kartika masuk dan melihat Bagas duduk di sofa sambil menumpang kakinya dan tangan bersedekap di dada. Raut wajah Bagas tidak bersahabat, membuat Kartika bergidik ngeri melihat wajah suaminya yang marah.
"Mana Bagus? " Tanya Bagas dingin dan ketus.
"B-Bagus tidak mau pulang, dia mau pulang diantar oleh Randi. " Kata Kartika yang masih berdiri seperti anak SD yang sedang di hukum oleh gurunya didepan kelas.
"Aku tahu agar kamu bisa pandangin wajah Randi lagi. Belum puas seharian liatin wajah Randi. " Kata Bagas dengan marah.
Kartika menelan salivanya mendengar Bagas berbicara seperti itu, Kartika menarik nafas panjang dan tak menyangka Bagas berbicara seperti itu.
"Hah.. " Kartika duduk di sofa depan Bagas.
"Kenapa? " Tanya Bagas menurunkan kakinya dan memajukan tubuhnya didepan Kartika.
*Hai... Selamat hari senin reader.. Awal bulan November nih reader...
*Semoga like dan komennya makin banyak ya reader...
*Salam love seladang dari author 'ByYou'
__ADS_1