Aku Anakmu Ayah

Aku Anakmu Ayah
EXTRA PART 9 " Aku Tidak Cemburu "


__ADS_3

Sherin masih diam hingga di apartemen Bagus, para keluarga masih berbincang di ruang tamu dan Bagus melihat sang kekasih sedang duduk melamun di balkon sendiri. Bagus mendekati Sherin yang tengah duduk sambil memandang langit dan jalanan kota itu.


"Kamu masih cemburu dan marah sama aku?" tanya Bagus yang melingkarkan tangannya di pinggang Sherin.


"Siapa?Aku tidak cemburu," jawab Sherin yang melepaskan tangan Bagus.


Bagus terkekeh melihat sang kekasih tengah merajuk dan Bagus sangat menyukai wajah Sherin yang sedang cemberut itu.


"Gauri itu hanya partner kerja memang dia menyukaiku tapi aku sukanya sama kamu," kata Bagus berbisik di telinga Sherin.


"Iih, apaan sih," ujar Sherin yang memukul lengan Bagus dan membuat Bagus tersenyum.


"Kok apa sih, sudahlah jangan marah terus aku tidak akan mengkhianati kamu dan cintaku padamu itu sudah menyatu dengan hati dan jiwa juga pikiran aku," kata Bagus yang menarik kepala Sherin dan membawanya kedalam pelukannya.


"Malu, disini banyak keluarga kita," ucap Sherin yang menatap wajah Bagus.


"Sudah marahnya?" tanya Bagus lagi dan Sherin tersenyum.


"Tapi kamu harus janji tidak dekat-dekat dengan perempuan itu," kata Sherin dan Bagus menganggukkan kepalanya.


"Percayalah aku tidak menyukainya aku hanya menyukai dan mencintaimu," jawab Bagus.


Sherin tampak malu dan pipinya merona merah mendengar Bagus menyatakan cinta padanya. Bagus tersenyum dan mencium kening Sherin.


"Ekhmmm," terdengar suara Bagas yang melihat Bagus dan Sherin begitu mesra.


"Ayah," Bagus menjadi salah tingkah karena dia takut ayahnya melihat dia mencium kening Sherin.


"Kalian sudah makan?" tanya Bagas.


"Hmmm...Sherin sudah makan belum?" tanya Bagus pada Sherin dan Sherin menggelengkan kepalanya lalu mengangguk.


Bagus tersenyum melihat Sherin yang tidak jelas, " sebenarnya kamu sudah makan atau belum?"


"Sudah tapi masih lapar," jawab Sherin yang malu.


"Ya sudah, ayo kita makan bersama. Bunda sudah masak banyak," kata Bagas.


Kedua keluarga itu makan tanpa ada suara dan hanya suara sendok dan garpu. Sesekali Bagus melirik Sherin dan ketika pandangan mereka bertemu mereka lalu tersenyum. Sherin menjadi salah tingkah ketika Bagus terus menatap dirinya.


"Love you," suara Bagus yang hanya di dengar Sherin dan Sherin tersenyum menundukkan kepalanya.


"Sherin, ini ayam gorengnya," kata Kartika yang memberikan ayam goreng pada Sherin.


"Ah, terimakasih bunda," jawab Sherin.


"Bagus gak dikasih bunda," ujar Bagus.


"Bagus mau?" tanya Kartika.


"Iya dong, masa Sherin saja yang dikasih Bagus juga kan anak bunda.

__ADS_1


"Kamu jealous, Boy?" tanya Bagas yang menepuk keningnya.


"Ternyata anakmu bucin dengan anakku, Bro," ujar Randi.


"Iih, ayah kaya tau arti bucin saja," ujar Sheila


"Iya, om Randi sok tau," sambung Karina.


"Tau tuh ayah," sahut Sheina.


"Kenapa semua mojokin ayah?" tanya Randi menatap satu persatu putrinya.


"Sudah...Sudah..Kita sedang makan gak baik jika ribut di meja makan," ujar Freya memisahkan Randi dan tiga gadis cantik di hadapannya.


"Jadi kapan kita akan meresmikan hubungan Sherin dan Bagus?" tanya Kartika.


"Kapan boy?" tanya Bagas pada putranya yang hanya diam sambil mengunyah makanan.


"Tak baik jika makan sambil bicara," kata Bagus. Kemudian Bagas terdiam dan tersenyum menatap Bagus.


Setelah makan malam selesai kedua keluarga itu berkumpul di ruang tengah Kartika menyiapkan minuman teh dan kue yang dia buat sendiri.


"Ayah, om, Bagus ingin bicara," kata Bagus.


"Ada apa, nak?" tanya Bagas.


"Ini tentang Bagus dan Sherin, setelah kontrak Bagus dengan perusahaan disini selesai Bagus akan melamar Sherin dan menikah dengan Sherin," ucap Bagus dan Sherin langsung melebarkan matanya.


"Berapa tahun kamu kontrak dengan perusahaan disini?"


"Sherin, bagaimana?"


"Sherin ikutin apa mau Bagus saja, Yah," jawab Sherin yang menundukkan kepalanya.


"Jadi Sherin setuju?" tanya Bagas dan Sherin menganggukkan kepalanya.


"Tiga tahun Sherin juga lulus kuliah kan," kata Bagus.


"Iya, Sherin wisuda tiga tahun kedepan," ujar Sherin.


"Baiklah, Gas. Kita sepertinya akan segera menjadi besan," kata Randi.


"Iya, dari dulu memang Bagus itu sangat menyukai anakmu," jawab Bagas.


"Bagus kan dulu pernah bilang bahwa nanti ketika dewasa Bagus akan menikah dengan Sherin," kata Bagus tersenyum.


"Ada apa, nih?" tanya Freya dan Kartika yang baru saja datang dari dapur.


"Bagus dan Sherin akan menikah," jawab Randi.


"Oh iya, kapan? Kalian merestui?" tanya Kartika yang sumringah mendengarnya.

__ADS_1


"Nanti bunda kalau Bagus sudah selesai kontrak dan Sherin lulus kuliah," jawab Bagus.


"Masih lama ya selesai kontraknya?" tanya Kartika.


"Tiga tahun, bunda," jawab Bagus.


"Sherin, kamu mau tunggu Bagus selesai kontrak?"


"Iya bunda, Sherin juga kan masih kuliah," kata Sherin.


"Iya, Sayang. Raihlah dulu cita-citamu dan jangan sampai kamu berhenti," ujar Kartika.


"Nanti setelah Bagus selesai kontrak apa dia akan bekerja di perusahaanmu, Gas?" tanya Randi yang menyesapkan kopi ke mulutnya.


"Terserah Bagus saja, Ran," jawab Bagas.


"Tenang saja, Om. Nanti Bagus akan bekerja di kantor ayah, masa istri Bagus tidak di kasih nafkah," ujar Bagus tersenyum.


"Nggak, maksudnya om itu perusahaan ayahmu itu tidak ada yang menggantikannya jika bukan kamu siapa lagi coba," kata Randi.


"Yang akan menggantikan aku adalah Bagus, ya walaupun Bagus tidak ahli dalam hal pekerjaan ini tapi aku yakin dengan kepintaran Bagus pasti bisa menjalankan pekerjaan ini," jawab Bagas.


"Bagus juga ingin Sherin bisa bekerja sesuai dengan kemampuannya, Om," kata Bagus.


"Sebenarnya Sherin ingin om tempatkan di bagian divisi IT karena dia ahlinya," ujar Randi yang membanggakan putrinya.


"Bagus tidak akan melarang Sherin yang hanya diam di rumah menjadi istri dan ibu rumah tangga, tapi Bagus ingin melihat Sherin maju berkembang," kata Bagus.


"Terimakasih," suara Sherin yang hanya terdengar oleh Bagus saja dan Bagus tersenyum menatap kekasihnya.


"Kamu memang patut di banggakan Bagus," kata Randi.


"Terimakasih om," jawab Bagus.


Hari berlalu dan Sherin juga keluarga tiba waktunya kembali ke tanah air, sebenarnya Bagus ingin sekali Sherin tinggi lama dengannya namun aktifitas Sherin yang masih banyak tugas dan kerjaannya yang menuntut harus segera rampung. Bagus dan keluarga mengantarkan Sherin ke bandara.


"Kamu jangan nakal ya," kata Bagus menarik hidung mancung Sherin.


"Yang ada itu kata-kata aku, kami yang jangan nakal," ujar Sherin.


"Aku gak akan nakal, aku akan bekerja keras agar bisa segera melamar kamu," kata Bagus.


"Awas jangan dekat-dekat dengan wanita genit itu," ujar Sherin dengan ketus.


"Tidak akan, percayalah padaku. Karena hati dan pikiran aku hanya ada kamu,"


"Gombal," kata Sherin yang memukul lengan Bagus.


"Masih cemburu?" tanya Bagus.


"Aku tidak cemburu," jawab Sherin.

__ADS_1


"Jangan cemburu ya sayang," kata Bagus mengacak-acak rambut Sherin.


"Aku tidak cemburu,"


__ADS_2