
Malam sudah larut Bagas dan keluarga telah sampai si rumah, dia melihat Bagus tertidur di bangku belakang. Bagas juga melihat istrinya tidur pulas di kursi sampingnya.
"Sayang, bangun sudah sampai di rumah. " Kata Bagas yang dengan pelan dan lembut menggoyangkan tubuh Kartika.
"Emmm... " Kartika mengerjapkan matanya dan melihat kedepan sudah berada di rumahnya. Matanya yang masih ngantuk terpaksa melebar ketika melihat Bagas menggendong Bagus dan membawanya kedalam.
Kartika turun dengan menenteng tas di pundaknya, berjalan masuk ke dalam kamarnya. Kartika melangkahkan kakinya ke arah kamar mandi, dia ingin membersihkan tubuhnya berendam di bathup rasanya menyenangkan.
Kartika mulai mengisi bathup dan memberi aroma wangi mawar yang dia sukai. Kemudian Kartika masuk dan melerai segala lelahnya. Hari ini sangat melelahkan baginya. Sementara Bagas masuk ke ruang kerjanya memeriksa e-mail dan beberapa laporan dari kantor cabangnya.
Setelah membersihkannya diri, Kartika menuju dapur membuatkan kopi untuk suaminya. Kartika melangkahkan kakinya ke ruang kerja suaminya, dan dia melihat Bagas sedang sibuk dengan laporan dan dokumen.
"Sayang, ini kopi untukmu. " Kata Kartika yang meletakan secangkir kopi untuk Bagas.
"Terimakasih, Sayang. " Jawab Bagas yang tersenyum melihat Kartika.
"Sayang, tadi sewaktu di mall aku melihat ada sebuah perlombaan internasional merakit robot untuk anak seusia Bagus. Aku ingin Bagus mengikutinya, dan nanti akan aku tanyakan padanya. " Kata Kartika.
"Jika Bagus tidak mau ikut lomba tersebut, jangan kami paksakan ya, Sayang. " Kata Bagas.
"Iya aku mengerti, tapi bukannya Bagus sangat suka jika membuat sebuah robot. " Kata Kartika.
"Ya, dia sangat suka tapi kita tidak bisa memaksakan jika anak tidak ingin mengikutinya. " Ujar Bagas.
"Baiklah, Sayang aku tidur dulu ya. Rasanya aku sudah lelah dan mengantuk. " Kata Kartika.
"Pergilah, Sayang. Nanti aku menyusul. " Jawab Bagas.
"Jangan terlalu lelah, Sayang. " Kata Kartika yang melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerja suaminya.
"Oke. " Jawab Bagas yang melihat sang istri keluar dari ruang kerjanya.
Kartika kembali melangkahkan kakinya menuju kamarnya, namun kakinya berhenti di kamar Bagus dan melihat dia sedang bercengkrama dengan Dennis robot yang di ciptakan sebagai adiknya. Kartika menerobos masuk kekamar Bagus.
"Maaf, Sayang. Bunda masuk. " Kata Kartika yang menerobos masuk kedalam kamar Bagus.
"Tidak apa-apa, Bun. Ada apa? " Tanya Bagus yang menatap Kartika yang tersenyum padanya.
"Sayang, tadi di mall bunda melihat ada pengumuman sebuah lomba internasional membuat robot untuk pelayan cafe. Lombanya di adakan di sini tapi jurinya adalah orang asing. " Kata Kartika.
__ADS_1
"Bagus juga baca, Bun. Ini lagi ngobrol sama Dennis untuk ikut atau tidak. " Kata Bagus.
"Terus kata Dennis apa? " Tanya Kartika mengusap rambut anaknya.
"Kata Dennis aku harus ikut perlombaan itu, Bun. Bagaimana menurut, Bunda? " Tanya Bagus.
"Bunda setuju, malah tadi bunda minta izin sama ayah untuk Bagus mengikuti lomba tersebut. " Kata Kartika.
"Apakah, Ayah mengizinkan Bagus, Bun? " Tanya Bagus lagi.
"Ayah, memberikan izin. " Jawab Kartika tersenyum.
"Yes, Dennis aku di izinkan oleh ayah dan bunda untuk mengikuti lomba. " Kata Bagus yang memeluk Dennis.
"Selamat Bagus, semoga kamu juara lagi. " Kata Dennis.
Kartika tampak melengos hatinya yang melihat Bagus begitu menyayangi adik robot itu. Walaupun Dennis hanya sekedar teman bermain ketika di rumah. Namun hati Kartika ingin memiliki anak untuk Bagus, Kartika mengusap perutnya dan tersenyum kecut.
"Sayang, bunda ke kamar dulu ya. Kamu tidur lagi besok sekolah. " Kata Kartika.
"Sekalian besok kita daftar lomba itu ya, Bun. " Kata Bagus.
"Iya, Sayang. Selamat tidur, jangan malam-malam tidurnya. " Ujar Kartika mencium pucuk kepala Bagus.
Pagi itu, seperti biasanya Kartika menyiapkan sarapan untuk anak dan suaminya. Kartika membuat nasi goreng dan telur mata sapi. Kartika juga membuat salad buah untuk dirinya.
"Morning. " Sapa Bagas yang mencium pipi Kartika lalu duduk di kursi dan Kartika mengambilkan makan untuk suaminya.
"Morning, Sayang. " Balas Kartika lalu menyerahkan piring berisi nasi dan telur.
"Bagus belum bangun? " Tanya Bagas yang kemudian melihat Bagus keluar kamar dengan Dennis.
"Pagi ayah, bunda. " Sapa Bagus yang kemudian duduk dan Dennis pun duduk di samping Bagus.
"Kata bunda kamu mau mengikuti lomba membuat robot internasional, Nak? " Tanya Bagas sambil mengunyah makanan ke mulutnya.
"Iya, Yah. Bagus ingin sekali ikut kan ayah tahu Bagus sangat suka membuat robot. " Kata Bagus yang tangannya menerima piring yang di berikan sang ibu.
"Ayah mendukungnya, Sayang. " Kata Bagas tersenyum sambil tangan kanannya mengusap rambut Bagus.
__ADS_1
"Kapan perlombaanya? " Tanya Bagas lagi.
"Minggu depan. " Jawab Kartika.
"Baiklah, Ayah akan daftarkan Bagus untuk perlombaan itu. " Kata Bagas.
"Sekarang, Yah daftarnya. " Kata Bagus.
"Iya, nanti ayah suruh orang di kantor untuk mendaftarkan Bagus. " Kata Bagas tersenyum.
"Sudah, sarapannya. " Kata Bagus yang meletakkan sendoknya dan memundurkan kursinya. "Dennis, aku mau berangkat sekolah, kamu Bagus mode on ya. " Kata Bagus yang mengangkat Dennis masuk ke kamarnya.
"Sayang, aku berangkat ya. " Kata Bagas yang mencium kening Kartika lalu turun ke bibirnya.
"Hati-hati, Sayang. " Ujar Kartika.
"Bunda sama ayah ciuman terus. " Kata Bagus yang melihat orang tuanya berciuman.
"Hehehe... Itu karena ayah sayang sama bunda. " Kata Bagas yang menggaruk tekuknya yang tak gatal.
"Sudah sana berangkat, nanti terlambat. " Kata Kartika mendorong tubuh dua laki-laki beda usia tersebut.
Seminggu kemudian, Bagus mengikuti lomba membuat robot untuk pelayanan cafe. Bagus yang antusias sangat bersemangat saat dirinya muali merakit komponen untuk otak sang robot. Kartika dan Bagas hadir untuk memberikan dukungan pada Bagus yang mengikuti lomba tersebut.
"Semoga, Bagus bisa memenangkan lomba ini ya, Mas. " Kata Kartika yang harap-harap cemas.
"Iya, Sayang. Pesertanya semua dari luar negeri juga banyak yang pintar. " Kata Bagas memperhatikan peserta lomba yang datang dari berbagai negara.
"Aku gugup, Mas. " Ujar Kartika yang telapak tangannya berkeringat dingin.
Bagas meremas tangan Kartika agar tidak merasa gugup dan takut. Sambil menatap kedepan Bagas berusaha memberikan support kepada anaknya, saat Bagus melirik ke arah bangku penonton. Bagus melihat kedua orang tuanya yang tersenyum melambaikan tangannya. Bagus pun tersenyum membalas lambaian tangannya.
Kartika masih gugup dan telapaknya masih berkeringat, Bagas mencoba menenangkan istrinya. Ini pertama kalinya bagi Karena yang melihat anaknya bertarung di arena Internasional. Sebelumnya hanya perlombaan lokal saja. Mulut Kartika terus berkomat kamit seakan dia yang mengikuti perlombaan itu.
Lalu kemudian Kartika melihat sesuatu yang membuat dirinya dan Bagas kaget. Kartika dan Bagas saling berpandangan dan Bagas segera berlari melihatnya.
*Hai... Reader author yang masih setia bersama Abang Bagas. maaf seribu maaf author hanya up 1 bab karena kesibukan author di dunia nyata.
*Kira-kira ada apa ya? Si abang Bagas berlari?
__ADS_1
*Silahkan like dan komentar dan hadiahnya..
'ByYou'