
Kasih ikut mengantri untuk mendapatkan jatah makanan. Setelah dapat dia menghampiri mba Rika yang telah duduk dipojok .
"aku gabung sini ya mbak" ujar Kasih.
"iya "sahut mbak Rika sambil memasukan nasi ke dalam mulutnya.
"oya Kas,semoga kamu betah kerja sini ."
Kasih mengangguk kemudian melahap makanannya. Sambil menikmati jatah makan siangnya ,Kasih mencoba mengedarkan pandangannya ke segala ruang. Deg ! sepasang mata elang menatapnya dari arah depan dekat pintu masuk kantin.
Glek ! .. Kasih menelan ludah. Pak Radit sedang menuju ke arah mejanya di mana Rika yang masih belum menyadari kalau atasannya berniat untuk gabung. Kasih pura pura tak melihat. Lalu sibuk menghabiskan makanannya.
Suasana Kantin jadi ramai saat karyawati tahu kalau ada atasannya di Kantin. Serempak mereka bergosip. Ada apa sampai CEO mereka mau meluangkan waktunya datang ke Kantin padahal selama ini dia tidak pernah muncul di kantin.
" boleh saya gabung disini" ujar Radit saat sampai di dekat Kasih.
Rika yang sedari tadi chat sama suaminya menoleh .
"Bo...boleh pak silakan" Ujar Rika gugup. Ia melirik ke arah Kasih. Ia melihat Kasih menundukkan kepala.dan melirik ke arah Radit.
'Sepertinya pak Radit suka sama Kasih ' pikir Rika sambil mengulum senyumnya.
__ADS_1
Lama mereka bertiga terjebak keheningan. Radit menghela napas. Dia menyadari dirinya salah menghampiri Kasih saat ini. Tadi secara refleks kakinya melangkah mengikuti Kasih.
'Sial' batin Radit sambil meneliti suasana kantin. Beberapa karyawan tengah berbisik bisik entah apa yang diperbincangkan.
"ehem"
deheman Radit mampu membisukan obrolan mereka. Semua orang ketakutan . Mereka menundukkan kepala . Mereka yakin atasannya yang baru ini terkenal dingin . Dan mereka tidak ingin dipecat hanya karena mereka menggosipkan atasannya dengan seorang OB.
"Hai bos" teriak Denny memecah kesunyian.
Radit bernapas lega. Ia melirik Denny .
"Suruh aja ke sini, aku lagi males keluar kantor"
" Hah gak salah denger nih?"
"Yap bawel ,cepetan kamu telpon dia sekarang juga kesini"
"oke"
Mata Radit menatap ke depan. Menelisik raut wajah Kasih. Entah kalau memandangnya ia merasa sangat dekat dengan gadis itu.
__ADS_1
Tak lama kemudian Silvia datang. Dia berdiri tercengang menyaksikan Radit yang duduk bersama karyawannya.
"honey, aku lapar bisakah kita pergi dari sini?"
"kita makan di sini " ujar Radit sambil tersenyum.
"Enggak,,aku gak mau . ini bukan kelasku" sahut Silvia ketus.
" kalau gak mau ya udah,keluar saja sana,aku lagi gak mood keluar kantor atau kamu pergi saja dengan Denny"
"What?!" teriak Denny bersamaan dengan Silvia.
Rika dan Kasih bergegas berdiri. kemudian pamit meninggalkan mereka bertiga. Radit hanya mengangguk membiarkan gadis kecil itu melewatinya .
Silvia duduk sebelah Radit dengan muka kesal.
" Jaga sikapmu kalau kamu masih mau ketemu aku" ujar Radit menatap tajam ke arah Silvia.
Silvia menelan saliva nya .Ia tahu kalau Radit tidak suka diganggu. Tapi bukan Silvia namanya kalau apa yang dia pengen tidak bisa dimiliki. Apapun caranya dia akan membuat Radit bertekuk lutut kepadanya. Biarlah dia mengalah dan menurut apa yang diucapkan Radit. Silvia punya kekuatan di belakang nyonya Andita yang percaya kepadanya seratus persen .
Silvia akhirnya menghabiskan waktu di kantin. Ia tak menghiraukan obrolan Radit dengan Denny. Baginya yang terpenting dia bisa menunjukkan kepada nyonya Andita kalau dia adalah salah satu wanita sederhana yang mau makan siang di kantin yang sederhana ini. Bibirnya tersenyum puas.
__ADS_1