
Beberapa hari telah berlalu. Kasih menikmati pekerjaannya. Dia sekarang hanya bertugas membuat kopi untuk atasannya. Tak dihiraukan ucapan miring beberapa karyawan yang iri padanya. Dia bekerja sepenuh hati . Ita sang ibu juga sudah keluar dari rumah sakit. Sekarang Ita hanya bisa menyesali perbuatanya dan penyakit terkutuknya .
Hari minggu , Kasih menyibukkan diri dirumah. Senyumnya mengambang tatkala ia melihat kerukunan antara Hermawan dan Ita . Dia bahagia meski hatinya tetap sedih atas penyakit yang di derita mamanya. Kasih berharap penyakit sang mama diangkat sama Tuhan. Begitu pun Ita sekarang dia mulai berubah. Dari cara bersikap sampai tutur kata. Dia bahkan mengganti nomer handphonenya guna menghindar dari pelanggan dirinya selama ini. Ita bersyukur masih ada orang yang menyayanginya yaitu Hermawan & Kasih. Mereka berdua selalu mendukung Ita menuju ke arah yang lebih baik. Dia tak ingin menyalahgunakan dan mengkhianati kepercayaan Kasih dan Hermawan.
Sore hari,, Ita bersantai di teras menikmati lalu lalang mobil yang berseliweran di depan rumah.
Tak lama ada rombongan Ibu-ibu berhijab lewat.
" Assalamualaikum bu ita,, sudah sehat? " ujar pemilik jilbab lebar warna kuning.
" Alhamdulillah sudah bu" ujar Ita sambil tersenyum.
" Bagaimana kalau bu Ita ikut kami pengajian" ajak si Ibu berhijab kuning.
Seketika ibu- ibu yang lain kasak kusuk. Beberapa tak setuju dengan ajakan bu Rt komplek tersebut. Mereka sudah mendengar penyakit Ita dan memilih untuk menghindar. Namun tidak berani menolak terang-terangan pada Ibu RT.
__ADS_1
" Apa yang lain tidak keberatan bu? " ujar Ita hati hati. Dia memandang ibu ibu yang lain. Ita tahu kalau dirinya tidak akan diterima di masyarakat. Karena dia adalah sampah masyarakat.
" Saya itu manusia hina bu, Jangan sampai bu Rt terkena imbasnya dikucilkan gara gara mengajak saya" Ita menundukkan kepala. Matanya berkaca-kaca. Dia malu kenapa dia harus mengalami semua ini.
Ibu Zubaidah mendekat. memegang bahu Ita,
" Semua manusia sama bu di mata Allah. Yang membedakan hanya ketaatannya. Jika bu Ita ingin memperbaiki diri. Mari kita kerjakan yang baik. Tinggalkan yang buruk. InsyaAllah kita ibu2 disini memaafkan bu Ita. Karena Allah maha pemberi maaf dan pemberi ampun kepada ummatnya. Masa kita sebagai hambaNya tidak memaafkan sesama"
" Kalau begitu saya ganti baju dulu bu. Saya mau ikut pengajian. Barangkali hati saya tentram. Tapi saya gak punya hijab bu" ujar Ita dengan malu.
Ita pun bergegas masuk ke dalam. 'Semoga ini jalan terbaik buatku, Ampunilah dosa hamba ya Tuhan' ujarnya dalam hati.
Ketika ita mau keluar , Suaminya baru pulang.
" Mau kemana ma? " ujar Hermawan.
__ADS_1
" Mau ikutan pengajian pa, semoga mereka berkenan menerimaku disana" kata Ita.
"Allhamdulillah kalau mama sudah mau berubah. Tetap konsisten ya ma berbuat baik. Memang gak semudah kita menyuruh orang menerima kita. Tapi kalau kita tidak berusaha bagaimana mereka mau menerima kita. "
" Aku pamit dulu ya pa"
" iya ma, hati-hati"
Bu Zubaidah pun juga telah datang membawa beberapa hijab. Dia memberikan pada Ita semuanya.
"Ini pake saja bu Ita,, maaf kalau bekas tapi masih layak kok untuk dipakai".
" Makasih ya bu,, maaf kalau selama ini saya menyusahkan ibu selaku RT disini" Ita menangis terharu.
" Sudah,, Jangan menangis terus bu, Nanti keburu pengajiannya selesai" ujar bu Zubaidah.
__ADS_1
Ita mengangguk dan melangkah bersama bu Zubaidah.