
Nayyara berteriak histeris saat pertama kali tersadar dan mendapati dirinya berada di kamar yang tidak ia kenal dalam keadaan tanpa sehelai benang pun yang menempel di tubuh. Semakin histeris lagi saat melihat Albert memasuki kamar tersebut.
Ia pun memaki dan menuduh Albert sebagai pria yang tidak baik. Namun Albert malah menanggapi tuduhan yang dilayangkan padanya dengan santai dengan mengatakan bahwa Aaron, suami Nayyara sendirilah yang meyerahkannya padanya sebagai penebus hutang dan pertukaran dengan sebuah perusahaan miliknya.
Mendengar hal itu Nayyara pun tak percaya dan menuduh Albert hanya ingin mencari alasan saja. Namun Albert malah menantang Nayyara tentang sejauh mana ia mengenal suaminya dengan mengungkap fakta baru perihal rumah yang ditinggalinya.
Nayyara mencoba menggabungkan ucapan Albert dengan peristiwa beberapa hari yang lalu saat ada seorang wanita yang menggedor pintu pagi-pagi buta. Dan kini ia pun baru menyadari bahwa suaminya telah berbohong padanya.
Mendengar hal itu, Albert menyunggingkan senyum mengejek. "Bukankah aku sudah bilang, kau tidak mengenal suamimu sama sekali."
"Mungkin ucapanmu tadi memang benar. Tapi bukan berarti bahwa perkataanmu tadi yang mengatakan kalau Mas Aaron telah menjualku adalah benar. Memangnya kau bisa membuktikannya?" jawab Nayyara masih terus membela suaminya.
"Kau ingin bukti? Baiklah, aku akan memberimu buktinya. Nanti aku akan bertemu dengan suamimu untuk penyerahan perusahaan yang kumaksud. Kau bisa ikut denganku dan membuktikan sendiri aoakah perkataanku tadi memang benar atau tidak."
Sesaat Nayyara terdiam, menghela nafas, lalu berkata, "Baiklah, aku akan ikut denganmu untuk membuktikannya. Tapi jika kau terbukti telah berbohong, aku tidak segan-segan untuk melaporkanmu ke polisi."
"Terserah apa maumu!" jawab Albert dan melangkah hendak keluar dari kamar. Namun dengan cepat Nayyara menghentikannya. "Tunggu dulu, aku belum selesai bicara!."
Sontak Albert menghentikan langkah dan kembali memutar tubuh menghadap Nayyara. "Apa lagi yang ingin kau bicarakan denganku?" tanyanya datar.
"Lihat ini!" ucap Nayyara, menunjuk ke bercak merah yang ada di salah satu tubuhnya. "Apakah ini juga adalah perbuatanmu?," mata menatap tajam ke arah Albert.
Albert kembali menyunggingkan senyuman tipis. "Bisa dibilang aku sudah membelimu dengan harga yang tinggi dari suamimu. Jadi apakah aku tidak bisa menikmati barang yang sudah aku beli?."
__ADS_1
"Aku bukan barang yang bisa diperjual belikan dengan sesuka hati," bentak Nayyara marah. "Aku wanita baik-baik. Siapa yang memberimu hak untuk melakukan hal itu padaku?."
"Aku tahu itu. Tapi kau tenang saja. Aku tidak melakukannya terlalu jauh. Aku bukan lelaki pengecut yang akan mengambil keuntungan dari seorang wanita yang tidak sadarkan diri."
"Tetap saja kau sudah menyentuhku. Apalagi aku tidak tahu sejauh mana kau sudah melakukannya. Aku bahkan sangat jijik dengan tubuhku ini. Sekarang aku sudah tak suci lagi," ucap Nayyara pilu.
Mendengar ucapan Nayyara, Albert semakin merasa bersalah terhadapnya. "Sesuatu yang sudah terjadi tidak bisa diubah lagi. Untuk hal itu aku meminta maaf padamu."
Sejenak Albert memberi jeda pada ucapannya, lalu kemudian berkata, "Satu hal yang perlu kau ingat. Entah kau masih ingin menyangkalnya atau tidak, tapi yang jelas aku sudah membelimu dengan harga yang mahal. Jadi aku berhak atas dirimu."
"Lalu kenapa sekarang kau masuk lagi ke sini?."
"Tadinya aku ingin mengantarkan makanan untukmu. Tapi aku rasa sekarang kau tidak membutuhkannya. Jika kau ingin, kau bisa mengambilnya sendiri di bawah." Usai mengatakan hal itu Albert segera berlalu.
"Dasar pria menyebalkan!" rutuk Nayyara. Namun melihat kepergiannya, ia kembali berteriak memanggil "Tunggu!" tapi sayang, Albert sudah terlanjur pergi.
Nayyara menggulung tubuh polosnya dengan selimut, turun dari ranjang, lalu berjalan menuju lemari pakaian untuk mencari sesuatu yang bisa ia gunakan.
Mengobrak-abrik seluruh isi lemari untuk mencari apa yang di maksud, namun ia tak bisa menemukannya. Hampir seluruh isi lemari itu hanya berisikan kemeja milik Albert yang memiki ukuran sangat besar.
Lalu tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah pakaian berwarna pink diantara tumpukan baju tersebut. "Apa ini? Pakaian berwarna pink? Bukankah warna pink identik dengan wanita?." Tanpa banyak kata, Nayyara mengambil baju itu dan segera mencobanya.
Sebuah gaun santai yang sangat bagus. Terlihat sangat pas dengan ukuran tubuhnya yang mungil. "Aku tidak tahu ini pakaian milik siapa. Tapi untuk sementara aku rasa bisa memakainya."
__ADS_1
Berjalan menuruni anak tangga dan berniat pergi ke dapur untuk mengisi perutnya yang keroncongan. Namun ia malah bertemu dengan Albert kembali di ruang makan.
"Maaf! Aku mengambil salah satu pakaian yang ada di lemarimu untuk aku gunakan karena pakaianku kemarin sudah kau rusak," ucapnya berbasa-basi. Walau ia masih marah dengan Albert yang berbuat sesuka hati padanya, namun ia rasa perlu untuk meminta izin darinya.
"Tidak apa, kau bisa menggunakan semua pakaianku," jawab Albert sambil meminum segelas air putih tanpa melihat ke arahnya. Namun saat ia mengetahui pakaian yang di kenakan oleh Nayyara, emosinya langsung naik.
"Siapa yang memberimu hak untuk mengenakan gaun itu?" bentaknya keras. "Cepat tanggalkan pakaian itu sekarang! Kau bahkan tak memiliki hak untuk sekedar menyentuhnya."
Nayyara tertegun mendengar Albert membentaknya sedemikian keras. Ini adalah kali pertama dalam hidupnya ada orang yang membentaknya sekeras itu. Hatinya sangat terluka. Setetes air mata pun meluncur dari kelopak matanya.
"Kalau kau tidak suka aku memakainya, kau bisa mengatakannya dengan cara baik-baik. Bukan dengan membentakku seperti tadi. Lagipula bukankah tadi aku sudah meminta izin padamu. Dan kau pun mengatakan bahwa aku bebas memakai semua pakaianmu." Usai mengatakan itu, Nayyara berbalik dan langsung berlari menuju kamar.
Menanggalkan gaun yang dikenakannya tadi dan kembali menggunakan selimut untuk menutupi tubuhnya. Nayyara pun menangis sesenggukan di bawah tempat tidur.
Sementara itu, melihat Nayyara meneteskan air mata, Albert langsung menyadari kesalahannya. Pantang baginya untuk membuat wanita menangis. Tapi melihat gaun tadi membuat dirinya sempat hilang akal.
Albert mengerang keras, menarik rambutnya sendiri dengan kasar. "Bodoh! Kenapa Nayyara bisa menemukan gaun itu? Padahal aku sudah memastikan menyimpannya dengan baik di tempat yang aman."
"Ini semua memang kesalahanku. Aku tidak memberinya pakaian baru setelah semalam aku merusak pakaianya. Andai aku tidak melakukan kebodohan kecil ini, maka semua ini tidak perlu terjadi."
Albert mengambil ponsel dan menghubungi asistennya memerintahkan untuk membelikan pakaian baru untuk Nayyara. Dan tak butuh waktu lama, pakaian itu pun sudah berada di tangannya.
Berjalan menghampiri Nayyara di kamar. Hati Albert berdenyut sakit melihat wanita yang dicintainya menangis seperti itu. Ia pun memposisikan diri sejajar dengannya. Di hapusnya lelehan air mata yang membasahi pipi Nayyara.
__ADS_1
"Maafkan aku karena telah membentakmu tadi. Aku hanya tidak suka melihatmu mengenakan gaun terkutuk itu" ucapnya.
Menyodorkan paperbag berisi pakaian baru. Albert segera meninggalkan kamar karena tak tahan melihat air mata Nayyara.