Aku Bukan Jembatanmu

Aku Bukan Jembatanmu
Bab 15


__ADS_3

"Katakan, apakah yang aku lakukan terhadap Nayyara itu salah, Fa?" tanya Albert lirih.


Setelah dari rumah sakit, Albert memutuskan untuk beristirahat sambil menjernihkan pikiran di rumah. Namun setibanya disana, ia malah tak bisa tenang. Bayang-bayang saat ia menemukan Nayyara dalam keadaan bersimbah darah terus menghantui.


Ia mengerang frustasi, marah pada diri sendiri. "Arrgk....kenapa semuanya malah kacau?."


Ia pun menyambar kunci mobil dan mengendarainya sekencang-kencangnya.


Berhenti di sebuah klub malam. Albert masuk kedalam dan memesan sebuah minuman. "Berikan aku sebotol wine terbaik disini!" ucapnya lalu menghempaskan tubuh di depan meja bartender.


Seorang pelayan membawa sebotol wine berjenis Screaming Eagle Cabernet, salah satu jenis anggur merah dengan kualitas terbaik didunia dengan harga sangat fantastis, menuangkan isinya ke dalam gelas kecil dan menyodorkannya ke hadapan Albert. "Ini, tuan, silahkan!."


Tanpa banyak bicara, Albert langsung menenggak minuman itu dalam satu kali tegukan. "Tuangkan lagi!" ucapnya kemudian.


Bartender itu pun kembali menuang minuman itu, dan Albert kembali menenggaknya dalam sekali tegukan. Hal ini terjadi hingga berulang-ulang. Hingga akhirnya ia mabuk berat dan meracau tak jelas.


Belum juga cukup, Albert terus meminta bartender untuk mengisi kembali gelasnya yang kosong. "Tuangkan kembali minuman itu."


Kali ini bartender tak menuruti karena melihat pria dihadapannya itu sudah mabuk berat. "Maaf, tuan, anda sudah terlalu banyak minum. Anda sudah mabuk berat."


Bukannya berterimakasih karena sudah diperingatkan, Albert malah marah-marah dan menggebrak meja. "Kau itu hanya seorang pelayan. Tugasmu itu melayani pengunjung. Jadi jangan mengaturku dan bersikaplah selayaknya seorang pelayan."


Bartender tak gentar sedikitpun. Menghadapi orang mabuk sudah menjadi pemandangan sehari-hari. "Maaf, tuan. Bukannya saya bersikap lancang. Tapi anda sudah mengganggu pengunjung yang lain."


Mendengar hal itu, Albert yang pikirannya sedang kusut, ditambah dengan efek dari minuman yang diminumnya, semakin bertambah marah. "Kau pikir kau ini siapa? Berapa uang yang kau dapatkan dari tempat ini? Aku bahkan sanggup membeli klub ini beserta dirimu."


"Kau ingin aku menghancurkanmu dan seluruh keluargamu?." Mata memerah penuh emosi, rahang mengeras dengan gigi gemeretak. Tangan terkepal kuat menahan amarah. "Mana manager klub ini? panggil dia sekarang!."


Seorang pria yang merupakan manager klub itu datang mendekat. "Maaf, tuan, saya manager klub ini. Apa ada yang bisa saya bantu?."

__ADS_1


Albert menatap pria itu, bangkit dari kursi dan berdiri sempoyongan. Sontak manager itu memegangi tubuh Albert dan membantunya duduk kembali. "Sebaiknya anda duduk saja, tuan!" ucapnya.


Walau sudah sempoyongan, namun amarah Albert belum juga mereda. "Dia, orang ini," menunjuk kearah bartender. "Aku ingin kau memecatnya sekarang juga, atau aku akan menghancurkan klub milikmu ini!."


"Memangnya apa kesalahannya, tuan?."


"Dia telah berani bersikap kurangajar dengan membantah perintahku, dan aku paling tak suka jika dibantah!."


Mengertilah manager itu duduk permasalahannya. Hal ini biasa terjadi bila ada orang yang mabuk. "Maafkan kami atas ketidaknyamanan anda, tuan. Kami akan memberi peringatan padanya" ucapnya sopan sambil membungkukkan sedikit tubuh.


Ia pun lalu memberi isyarat pada bertender itu agar memberikan apa yang Albert minta lewat anggukan kepala.


Nyali bartender itu sedikit menciut mendengar ancamannya. Ia mengerti, orang yang dihadapannya itu bukan orang sembarangan. Kemarahannya bahkan bisa menghancurkan seisi kota.


Tak ingin membuat situasi semakin kacau, bartender memilih mengalah dan memberikan apa yang Albert minta. Apalagi nasib semua orang terancam gara-gara perkara sepele ini.


Berjalan dengan dagu terangkat keatas, pandangan mata menatap lurus ke arah Albert. Menampilkan wajah dingin, tak tersirat sedikitpun ketakutan di matanya.


Dialah Arfa, asisten pribadi, tangan kanan, sekaligus sahabat baik Albert. Hanya dialah yang sanggup mengendalikan kemarahannya.


"Cukup, Al. Hentikan semua kegilaan ini!" sentaknya saat tiba di hadapan Albert.


Melihat keasyikannya kembali terganggu, Albert marah besar. Ia bangkit dan melayangkan sebuah tinju padanya. "Berani sekali kau mengganggu kesenanganku! Sekarang rasakan akibatnya!"


Namun karena ia dalam pengaruh alkohol, tinjunya meleset dan hanya mengenai udara kosong. Sontak ia pun terhuyung-huyung karena kehilangan keseimbangan.


Melihat Albert terjatuh, Arfa hanya diam dan tak memiliki keinginan untuk menolong.


Sementara Albert, melihat sasarannya tak kena, amarahnya semakin bertambah hingga membuat semua lengunjung menyingkir karena ketakutan.

__ADS_1


Kembali bangkit dan melayangkan tinjunya lagi. Namun kali ini dengan sigap Arfa menangkap tinju itu, memelintir tangannya ke belakang, dan mengunci pergerakan Albert.


Cukup, Al! Mau sampai kapan kau menyiksa diri seperti ini? Apa kau ingin Nayyara semakin membencimu karena melihat sikapmu ini?."


Mendengar nama Nayyara di sebut, amarah Albert perlahan memudar. Tubuhnya luruh seketika seakan kehilangan tenaga. "Nayyara, maafkan aku!" ucapnya lirih. Setetes air mata jatuh di pipi.


Perlahan Arfa melepaskan kunciannya dan membiarkan tubuh sahabatnya menyentuh lantai.


Duduk di hadapan Albert, memposisikan diri sejajar dengannya. Arfa menepuk bahunya pelan lalu berkata. "Sudahi ini semua, Al. Aku tahu pikiranmu sedang kalut. Tapi bukan berarti kamu harus melampiaskan semuanya dengan mabuk-mabukan seperti ini. Apa kata Nayyara kalau tahu kau seperti ini?."


Albert hanya diam, tak membantah ucapan sahabatnya lagi. Terdengar isak tangis yang menyayat hati. "Sekarang aku harus bagaimana? Apa yang harus aku lakukan?" tanyanya lirih.


Arfa menggeleng tegas. "Tidak ada. Yang perlu kau lakukan sekarang hanya pulang ke rumah dan menjernihkan pikiranmu. Sudah cukup kita menjadi bahan tontonan semua orang. Apa kau ingin reputasimu hancur gara-gara masalah ini?."


"Kita bicarakan lagi masalah ini setelah kita tiba di rumah!."


Albert menganggukkan kepala dan menurut. "Baiklah, aku akan pulang sekarang!."


"Ayo aku bantu berdiri. Biar aku yang menyetir mobilmu. Kau masih dalam pengaruh alkohol. Aku tak ingin kau mengalami kecelakaan karena tidak fokus."


Albert mengangguk dan memberikan kunci mobilnya pada Arfa.


Perlahan Arfa membantu Albert berjalan dan memasukkannya ke mobil. "Tunggu dulu disini. Ada hal yang harus aku tangani dulu," ucapnya, lalu menutup pintu kembali.


Melangkah menghampiri kedua anak buahnya yang ikut kesana bersamanya tadi. "Bereskan semua kekacauan ini. Aku tidak ingin ada berita buruk tentang Tuan Albert gara-gara masalah ini. Lakukan apapun yang perlu kalian lakukan," ucap Arfa memberi perintah.


"Baik, tuan!" ucap mereka. Lalu melangkah ke dalam untuk membereskan semua kekacauan yang diakibatkan oleh Albert tadi.


Melihat kedua anak buahnya bergerak cepat, Arfa masuk ke mobil, menghidupkan mesin, dan melajukannya menuju kediaman Albert.

__ADS_1


__ADS_2