
Albert sangat terkejut saat melihat Nayyara tergeletak diatas lantai dengan kondisi pergelangan tangan bersimbah darah. Ia pun berlari mendekat untuk menolongnya.
Albert sedikit lega saat mengetahui jika denyut nadi Nayyara masih ada. Ia oun melakukan pertolongan pertama dengan membebat lengan tersebut menggunakan pakaiannya untuk memghentikan pendarahannya. Lalu ia pun berteriak memanggil bik Inah untuk meminta bantuan dan langsung membawanya ke rumah sakit.
Namun di tengah jalan, tiba-tiba nafas Nayyara semakin memburu hingga membuatnya semakin panik.
Setibanya di rumah sakit, Nayyara segera dibawa ke ke ruang ICU untuk mendapatkan pertolongan. Albert memaksa ikut masuk namun dengan sigap suster melarang dan langsung menutup pintu.
Berteriak penuh frustasi, meninju keras dinding rumah sakit hingga buku-buku jari tangannya mengeluarkan darah. "Kenapa kau bertindak sebodoh ini, Nay? bagaimana jika tadi aku tak menemukanmu?." Terlihat sangat kecemasan di wajahnya.
Bik Inah yang sedari tadi yerus mengikutinya terjingkat kaget melihatnya. Sontak ia pun melangkah mendekatinya bermaksud untuk menenangkannya. "Tenanglah, tuan. Dokter sedang merawatnya" ucapnya lembut sambil mengusap lengan pria yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri itu.
"Bagaimana jika Nayyara tidak bisa bertahan, bik? Apa yang harus aku lakukan?" tanyanya cepat. Berbalik menatap wanita yang sudah mengabdikan diri sejak bertahun-tahun yang lalu padanya.
"Yakinlah pada Tuhan, tuan. Semua pasti baik-baik saja. Bibik yakin non Nayyara pasti bisa diselamatkan."
Albert menghela nafas berat, mengusap wajahnya kasar. Semua ketegangan ini membuatnya tidak bisa berpikir dengan jernih.
Ia pun menghempaskan tubuh diatas kursi tunggu yang berada tidak jauh dari situ untuk menenangkan diri. Lalu setelah kembali tenang, ia mengambil sebuah benda pipih bernama handphone dari dalam saku celananya dan menghubungi seseorang.
"Halo...." ucapnya saat panggilan sudah tersambung. "Batalkan rapat penting hari ini. Aku sedang berada di rumah sakit." Rupanya orang yang di hubunginya itu adalah asisten pribadinya.
Hari ini sebenarnya ada sebuah rapat penting yang harus Albert hadiri. Namun karena tak bisa berhenti mengkhawatirkan kondisi Nayyara, terpaksa ia harus membatalkan rapat itu dan menunggunya hingga dokter selesai menanganinya.
Menit demi menit berlalu. Namun dokter belum juga menunjukkan batang hidungnya. Albert yang sedari tadi terus menunggu di depan pintu semakin resah tak menentu karenanya.
Tiga jam sudah Nayyara berada di dalam. Akhirnya pintu besar itupun terbuka dan menampakkan dokter di baliknya. Sontak Albert pun mendekat. "Bagaimana keadaan Nayyara, dok?" tanyanya tak sabar.
Dokter diam, sejenak menghela nafas lalu berkata, "Luka di pergelangan tangan nona Nayyara tidak terlalu dalam dan tidak sampai mengenai nadinya. Kami sudah menjahit lukanya dan menghentikan pendarahannya. Untung tadi anda segera membawanya kesini. Jika tidak, mungkin nyawa nona Nayyara tidak terselamatkan."
__ADS_1
"Maksud dokter? Bukankah tadi dokter mengatakan jika lukanya tidak terlalu dalam?" tanya Albert bingung. Belum mengerti maksud perkataan dokter.
Dengan telaten dokter menjelaskan. "Memang benar luka di tangannya tidak terlalu dalam. Tapi dia banyak mengeluarkan darah dan hampir kehabisan darah."
Mendengar penjelasan dokter, hati Albert semakin was-was. "Jadi bagaimana keadaannya sekarang, dok?."
"Keadaan Nona Nayyara sudah stabil. Saat ini hanya tinggal menunggu dia siuman saja."
Legalah hati Albert mendengar jawaban dokter. "Syukurlah kalau begitu. Saya sangat senang mendengarnya."
Dokter ikut tersenyum melihat kebahagiaan Albert. Namun detik berikutnya ia menatapnya intens.
Melihat dirinya ditatap sedemikian rupa, Albert pun bertanya, "Ada apa, dok? kenapa menatap saya seperti itu?."
Dokter masih saja diam dan tak mau menjawab hingga membuat hati Albert menjadi tak tenang. "Katakan, dok, ada apa? Jangan membuat saya khawatir seperti ini!."
Sesaat Albert terpaku mendengar pertanyaan dokter, bingung dan tak tahu harus jawab apa. Tidak mungkin ia mengatakan jika ia telah membelinya dari suaminya.
Melihat keterpakuan tuan-nya, bik Inah yang sedari tadi mendengarkan percakapan mereka pun langsung menjawab, Nona Nayyara adalah kerabat dekat Tuan Albert, dok!."
Albert menatap bik Inah sekilas lalu ikut membenarkan ucapannya tadi. "I...iya, dok. Dia adalah kerabat dekat saya" ucapnya dengan sedikit terbata.
Dokter terlihat mengangguk-anggukkan kepala. "Syukurlah kalau begitu. Saya sangat senang mendengarnya."
Albert bernafas lega melihat dokter mempercayai ucapan bik Inah. Ia pun menatap bik Inah sekilas untuk mengucapkan terimakasih karena sudah membantunya menjawab pertanyaan dokter lewat sorot matanya.
Bik Inah menganggukkan kepala sebagai tanda jika ia mengerti isyarat yang di berikan oleh tuannya.
Beralih menatap dokter, Albert yang tidak mengerti maksud dari pertanyaannya tadi pun bertanya, "Memangnya ada apa ya, dok?."
__ADS_1
"Bukan apa-apa. Hanya saja sedari tadi Nona Nayyara terus mengigau dengan menyebut nama suaminya dan memakinya dengan kata-kata kasar. Sepertinya saat ini dia sedang mengalami beban mental yang sangat berat akibat perlakuan suaminya. Jiwanya sangat terguncang sehingga memilih untuk mengakhiri hidup. Saya harap anda terus mendampinginya dan memberinya semangat agar dia tidak bertindak gegabah lagi seperti tadi."
Bagaikan sebuah tamparan keras di wajahnya mendengar penuturan dokter. Albert termangu di tempat dan tak mampu untuk bicara. Secara tak langsung dialah penyebab dari semua itu.
Tapi apalah daya. Semua itu dia lakukan hanya demi memenuhi obsesinya untuk bisa memiliki Nayyara seutuhnya. Namun nampaknya tindakannya itu membawa sebuah bencana besar bagi Nayyara.
Melihat orang dihadapannya hanya diam dan tak menjawab, dokter kembali membuka suara. "Maaf, tuan. Bisakah anda melakukan saran saya tadi?. "
Kembali bik Inah yang menjawab pertanyaan dokter saat melihat tuan-nya masih saja terdiam. " Tentu saja, dok. Kami akan terus mendampingi Nona Nayyara dan menyemangatinya sampai dia keluar dari keterpurukannya."
Dokter mengangguk singkat mendengar jawaban bik Inah. "Baiklah kalau begitu. Jika sudah tidak ada pertanyaan lagi, saya mau permisi dulu. Ada pasien lain yang harus segera saya tangani."
Bik Inah mengangguk mempersilahkan. "Silahkan, dok! Terimakasih banyak atas bantuannya."
Dokter kembali menganggukkan kepala lalu berlalu meninggalkan mereka berdua.
Melihat tuan-nya masih saya termangu, bik Inah menepuk lengannya pelan untuk menyadarkannya. "Tuan....tuan...."
Albert tergeragap, tersentak dari ketermanguannya. Lalu ia pun celingak-celinguk mencari keberadaan dokter. "Dokter kemana, bik?" tanyanya saat tak berhasil menemukan keberadaan dokter.
"Dokter sudah pergi dari tadi, tuan."
Albert menghela nafas berat. "Sekarang saya harus bagaimana, bik? Haruskah saya melepaskan Nayyara kembali?" tanyanya lirih.
Bik Inah hanya diam dan tak berani ikut campur masalah tuan-nya. "Sebaiknya anda beristirahat di rumah dulu, tuan. Anda terlihat masih sangat syok. Biar bibik yang menjaga non Nayyara disini."
Albert memgangguk, setuju dengan ucapan bik Inah, sebab saat ini ia memang sangat membutuhkan waktu untuk memikirkan semuanya. "Baiklah, bik, saya pulang ke rumah dulu. Saya titip Nayyara sama bibik. Kalau ada apa-apa langsung saja hubungi saya."
Bik Inah mengangguk. Albert pun berlalu meninggalkan rumah sakit.
__ADS_1