
Albert sengaja menyiapkan sebuah makan malam istimewa untuk Nayyara sekaligus ingin memberikan kejutan untuknya. Dan setelah memastikan bahwa semua persiapan usai, ia pun meminta salah satu pengawal untuk menjemput Nayyara.
Awalnya Nayyara menolak ajakan makan malam tersebut. Namun setelah sedikit dibujuk akhirnya ia pun setuju.
Melangkah menuju ke bawah diikuti oleh pengawal Albert di belakang. Sepanjang jalan Nayyara menerima bunga mawar merah dari seorang hingga kini tangannya dipenuhi dengan bunga mawar tersebut.
Nayyara semakin dibuat tercengang saat melihat semua yang Albert lakukan untuknya. Namun setibanya di depan meha makan, ia tak melihat keberadaan orang yang menyiapkan semua ini.
Menoleh ke kanan dan kiri sambil berteriak untuk mencari keberadaan pria yang perlahan mulai merebut hatinya. Namun hingga sekian lama ia tak berhasil menemukannya juga.
Berniat pergi meninggalkan tempat itu karena merasa hanya dipermainkan saja. Namun tiba-tiba terdengar suara yang cukup familiar di telinga. Sontak ia pun membalikkan badan.
Terlihat Albert tengah berlutut di hadapannya dan memintanya untuk menikah dengannya. Di tangannya terdapat sebuah kotak kecil berisikan cincin berlian yang sangat indah.
Bukannya menjawab lamaran Albert, Nayyara justru diam terpaku di tempat karena tersentuh dengan lamaran Albert yang tiba-tiba. Apalagi ia terlihat sangat totalitas dalam mempersiapkan semuanya.
Melihat Nayyara hanya diam terpaku, Albert kembali mengulang pertanyaannya. "Nayyara Celine,maukah kau menikah denganku? Menghabiskan sisa umur bersamaku? dan jadi bagian dari hidupku?."
Namun Nayyara masih saja setia dengan kebungkamannya. Albert tak tahu jika kebungkamannya itu lantaran saat ini hati Nayyara sedang kejang-kejang seperti reog sedang kesurupan lantaran lamaran istimewanya itu.
Karena terus saja diam, lama kelamaan Albert pun jadi tak sabar. "Ayolah, Nay, jawab pertanyaanku. Lututku bisa sakit kalau begini terus."
Nayyara ingin meledakkan tawa sekencang-kencangnya mendengar ucapan Albert. Saat ini ia terlihat begitu berbeda dengan kesan yang selama ini ditunjukkannya. Hingga akhirnya....
"Aku mau" jawab Nayyara singkat sambil menganggukkan kepala. Sontak wajahnya bersemu merah seperti kepiting rebus. Sesaat kemudian kepalanya pun tertunduk untuk menyembunyikan perasaan malu.
Mendengar jawaban Nayyara, sontak Albert berdiri dari posisi berlututnya. "Yes, aku berhasil. Nayyara bersedia menerimaku," teriaknya gembira dengan tangan terkepal melayang di udara.
__ADS_1
Nayyara tertawa kecil melihat ekspresi kebahagiaan Albert. Sungguh ia tak pernah menyangka bahwa sisi lain seorang Albert sangatlah lembut.
Melangkah mendekati sang pujaan hati. Albert menyematkan cincin berlian itu di jari manis Nayyara. Setelah itu ia mencium punggung tangannya dalam waktu yang cukup lama. "Terimakasih banyak karena sudah bersedia menerimaku. Aku janji akan membahagiakanmu seumur hidupku," ucapnya sepenuh hati. "I love you, Nay."
"Love you too," jawab Nayyara. Hatinya semakin menghangat mendengar kata-kata Albert. Namun detik berikutnya mendadak wajahnya berubah muram karena tertutup oleh awan kesedihan.
Melihat hal itu, sontak Albert bertanya, "Ada apa, Nay? Kenapa wajahmu mendadak muram begini?" tangannya mendongakkan dagu Nayyara keatas agar bisa menatap manik hitam miliknya.
Nayyara tak berkata apa-apa dan hanya menjawab dengan gelengan kepala.
"Apa kau tidak suka dengan cincinnya?" tanya Albert kembali. "Kalau begitu besok aku akan membelikan yang lebih bagus lagi."
"Ti....tidak. Itu tidak perlu!" jawab Nayyara cepat. "Cincin ini sangat bagus, dan aku sangat menyukainya."
"Kalau bukan karena ini, lalu karena apa?."
Melihat hal itu Albert pun terus mendesaknya. "Jangan menyiksaku dengan cara seperti ini. Katakan, Nay, apa yang membuatmu sedih?" tanyanya sendu.
"Aku memang mencintaimu dan ingin menikah denganmu, Al. Tapi aku sendiri tidak yakin dengan statusku saat ini. Kau kan tahu sendiri kalau aku adalah adalah istri Aaron," jawab Nayyara lirih sambil menundukkan kepala untuk menyembunyikan butiran bening yang mulai mengalir dari kedua matanya.
Mendengar jawaban Nayyara, Albert menyunggingkan senyuman tipis. Di usapnya lelehan air mata yang menetes di pipi mulus sang kekasih hati. "Itu tidak lagi. Sebab saat ini kau bukan lagi istrinya Aaron."
Nayyara tetkejut mendengar ucapan Albert. Sontak ia mengangkat kepala dan bertanya, "Maksudmu apa berkata begitu? Jangan bilang kalau....."
Belum selesai Nayyara.bicara, Albert langsung memotongnya, seakan tahu apa yang coba ia katakan.
"Ya, benar! Aku sudah mengurus berkas perceraianmu dengan Aaron. Dan saat ini kau sudah resmi menjadi seorang janda," ucapnya sambil menganggukkan kepala. Seulas senyum ia tampilkan di sudut bibir.
__ADS_1
"Tapi kau tenang saja. Status jandamu itu tidak akan berlangsung lama. Sebab dalam waktu dekat aku akan menikahimu," imbuhnya.
Mendengar ucapan Albert, sontak Nayyara berhambur ke dalam pelukannya. "Terimakasih banyak, Al. Kau memang sangat mengerti aku. Aku sangat mencintaimu."
Dulu Nayyara memang sangat mencintai Aaron dengan sepenuh hati. Namun perasaan cinta itu terkikis habis oleh tindakan Aaron sendiri yang telah tega menjualnya demi secuil harta. Dan kini Albert lah yang berhasil mengisi relung hatinya.
Awalnya Nayyara sangat membenci sosok Albert. Namun melihat besarnya rasa cinta dan perhatiannya selama ini, perkahan perasaan cinta itu berubah menjadi perasaan cinta.
Albert membalas pelukan Nayyara dan semakin mengeratkan pelukan mereka. Di usapnya surai panjang milik sang kekasih hati dengan penuh sayang. "Maaf kalau aku terlalu ikut campur dalam masalah pribadimu. Maaf juga karena aku mengambil keputusan sepihak dan tak memberitahukan hal ini sebelumnya padamu."
"Tidak apa, Al. Aku tidak mempersoalkannya. Toh cepat atau lambat kami pun akan berpisah."
"Tak ada lagi perasaan cinta yang tersisa untuknya. Aaron telah membakar habis perasaan cintaku padanya. Dan kini kaulah yang memilikinya. Kau hanya membantuku mempercepat masalah ini saja kan!."
Glekk...Albert terpaksa menelan air liurnya sendiri. Secara tak langsung dialah penyebab dari semua penderitaan yang Nayyara hadapi saat ini. Namun disisi lain hati Albert berbunga-bunga, seakan ribuan kupu-kupu berterbangan di sudut hatinya mendengar kata-kata terakhir Nayyara.
"Terimakasih banyak sudah membuka hatimu untukku. Aku janji, aku tidak akan pernah mengecewakanmu lagi, apalagi membuatmu sakit hati dan bunuh diri seperti kemarin. Akan ku ubah penderitaan yang pernah kau alami dengan ribuan kebahagiaan.
Perlahan Albert mulai melepaskan pelukan. Lalu ia mengenggam tangan Nayyara, menuntunnya menuju meja makan yang sudah ia persiapkan. Ditariknya sebuah kursi dan mempersilahkannya untuk duduk.
Nayyara tersenyum manis, lalu duduk diatas kursi yang Albert berikan. Setelah itu Albert sendiri duduk dihadapan Nayyara.
Terdengar alunan musik yang sangat romantis mengiringi makan malam mereka. Sepanjang perjamuan mata Albert tak juga berpaling dari wajah Nayyara.
Di pandang terus menerus seperti itu, Nayyara pun merasa risih. "Jangan menatapku seperti itu terus. Aku kan jadi malu."
"Untuk apa kau malu jika Bulan sendiri merasa malu karena melihat kecantikanmu malam ini" ucap Albert. Hingga membuat wajah Nayyara semakin merona karena malu.
__ADS_1