
Nayyara sangat terpukul saat mendengar dengan telinganya sendiri bahwa Aaron, suaminya telah menyerahkannya pada Albert sebagai penebus hutang sekaligus di tukar dengan sebuah perusahaan. Ia pun marah dan langsung masuk ke dalam ruangan Albert.
Plakkk.... Sebuah tamparan keras ia layangkan ke wajah sang suami di ikuti dengan kata-kata penuh kebencian.
Aaron yang tak menduga sama sekali akan kedatangan Nayyara pun panik. Ia berusaha keras untuk menjelaskan pada istrinya itu. Namun sayang, Nayyara yang terlanjur sakit hati tak mau mendengarkan penjelasannya dan meninggalkannya dengan hati diliputi oleh kebencian yang mendalam.
Mendengar hal itu, timbul penyesalan dalam hati Aaron. Ia pun mengembalikan lagi berkas yang sudah ditandatangani oleh Albert dan berjanji akan mengembalikan semua uang yang dipinjamnya asal dia mau mengembalikan istrinya kembali.
Mendengar hal itu, tentu saja Albert tak setuju. Mana mungkin ia mengembalikan apa yang sudah ada dalam genggamannya.
"Apa? Kau ingin membatalkan kesepakatan kita?" tidak, aku tidak setuju!," jawabnya cepat.
Albert tak menduga bahwa Aaron akan berubah pikiran di saat-saat terakhir. Padahal rencananya hanya ingin membuktikan pada Nayyara bahwa yang dikatakannya memang benar. Tapi ternyata rencananya itu malah seolah berbalik menyerangnya.
"Tapi, tuan, saya tidak ingin menyakiti hati istri saya."
"Dan kau memang sudah melakukannya kan!." jawab Albert sinis.
Aaron diam tak berkutik mendengar ucapan Albert. "Anda mang benar, tuan. Untuk itulah saya ingin membatalkan kesepakatan kita dan meminta maaf pada istri saya."
"Bukankah saya sudah bilang, saya tidak setuju" berang Albert. Sontak berdiri sambil menggebrak meja keras hingga membuat Aaron terkejut dan gemetar ketakutan.
"Tapi, tuan, bukankah tadi anda sendiri yang menyangkal kesepakatan kita?" ucap Aaron telak.
Albert kembali terkena jebakannya sendiri. Namun bukan Albert namanya jika dia tidak bisa mengatasi ini semua.
Kembali menghempaskan tubuh di atas kursi, bersikap santai dan seolah tak terjadi apa. " Oh itu. Maaf, aku hanya sedikit lupa tadi. Tapi aku kembali ingat setelah melihat sedikit drama yang kalian perlihatkan padaku tadi."
__ADS_1
Aaron sangat marah mendengar Albert dengan begitu santainya mengatakan itu semua. Ia merasa dipermainkan. Amarahnya menggelegak seketika. Ingin rasanya ia memukul Albert saat itu juga. Namun sayang, semua itu hanya terjadi dalam khayalannya saja.
"Saya mohon, tuan, kembalikan istri saya. Saya berjanji akan mengembalikan semua uang yang saya pinjam." Hanya itu yang bisa Aaron lakukan sekarang. Berlutut di hadapan Albert, memohon dan memohon. Berharap agar Albert bersedia mengembalikan istrinya.
Albert ingin marah rasanya karena sedari tadi Aaron terus membicarakan hal yang sama. Padahal dengan tegas ia sudah menolaknya. Ia pun mencari cara lain agar Aaron berhenti memohon.
"Kau ingin membatalkan kesepakatan kita dan ingin agar aku mengembalikan istrimu? Maka baiklah, aku setuju!" ucapnya tersenyum licik.
Aaron serasa mendapat angin segar mendengar ucapan Albert. Ia pun langsung memeluk kakinya dan berterimakasih. "Terimakasih banyak, tuan. Anda memang orang yang berhati mulia" ucapnya penuh sanjungan. Bola matanya nampak berbinar bahagia.
Albert menunduk, mendekatkan wajahnya pada Aaron. Senyum licik terus tersemat di bibirnya. "Aku bersedia mengembalikan istrimu hanya dengan satu syarat. Kembalikan semua uangku saat ini juga."
Degg....
Jantung Aaron serasa berhenti berdetak detik itu juga. Mana mungkin dia bisa mengembalikan uang Albert yang ia pinjam saat itu juga.
Aaron merasa tubuhnya di hempaskan ke bumi setelah di angkat ke atas langit. Rasanya sangat menyakitkan.
Melihat Aaron hanya terbungkam, Albert menyunggingkan senyum penuh kemenangan. "Kenapa sekarang kau hanya diam? Bukankah tadi kau ingin istrimu kembali?."
Aaron tetap diam tak berkutik di hadapan Albert. Ingin marah tapi tak bisa. Ia hanya bisa pasrah dan menerima semuanya.
"Baiklah. Karena kau hanya diam, maka aku anggap kebungkamanmu ini sebagai tanda bahwa kau masih ingin melanjutkan kesepakatan kita," ucap Albert kemudian.
"Baiklah, tuan. Mari kita lanjutkan kesepakatan kita," ucap Aaron lirih dengan kepala tertunduk.
Bangkit berdiri dan duduk kembali ke kursinya. Aaron berusaha menguatkan diri ditengah hatinya yang hancur. "Jadi, sekarang mana perusahaan yang akan tuan berikan pada saya," ucapnya.
__ADS_1
Melihat Aaron kembali membahas soal perusahaan, Albert kembali ke rencananya semula. "Kau pikir aku orang yang bodoh, akan memberikan perusahaanku secara cuma-cuma?."
Mendengar itu meledaklah amarah Aaron. "Apa maksud tuan berkata begitu? Tuan ingin mempermainkan saya?" ucapnya dengan suara meninggi.
Melihat Aaron berani membentaknya, Albert pun tersulut emosi. "Jangan berani bersuara keras di hadapanku. Kau pikir kau ini siapa? Aku bahkan bisa menghancurkan hidupmu hanya dengan satu jentikan jari." Albert kembali menggebrak meja lantaran sangat emosi.
Emosi Aaron yang sempat berkobar kembali surut melihat kemarahan Albert. Mana mungkin ia berani menentang Albert yang memiliki kekuasaan sangat besar. Ia hanya bisa tunduk dibawah kekuasaannya itu. "Ma...maafkan saya, tuan. Saya hanya sedikit emosi tadi" ucapnya langsung. "Tapi apa maksud anda berkata seperti itu?."
Albert mencoba meredam emosinya kembali yang sempat tersulut dengan mengambil nafas dalam-dalam. "Baiklah, kita kembali lagi ke pembicaraan awal."
"Aku akan memberikan satu perusahaanku padamu hanya jika kau mau menceraikan istrimu."
Mendengar ucapan Albert, Aaron semakin terkejut setengah mati. "ti....tidak, tuan . Saya tidak bisa melakukannya. Lagipula bukankah Nayyara sudah ada di tangan anda. Apa semua itu belum cukup bagi tuan?."
"Aku hanya ingin mengamankan apa yang sudah menjadi milikku. Aku tak ingin kau mengganggu Nayyara lagi setelah kau mendapatkan satu perusahaanku."
Aaron kembali tak berkutik di hadapan Albert. Awalnya ia memang ingin melakukan itu. Tapi sayang, ternyata rencananya sudah diketahui oleh Albert.
Ia tak bisa berbuat apa-apa lagi selain menerima persyaratan itu. Ia sudah kehilangan Nayyara. Namun ia tak akan membiarkan dirinya kehilangan harta pula. "Baiklah, tuan. Saya akan segera menceraikan Nayyara. Dan saya juga berjanji tidak akan mengganggunya lagi setelah ini."
"Bagus! sebuah keputusan yang sangat tepat." ucap Albert senang. "Kau tidak usah repot-repot. Biar aku yang mengurus semua berkas perceraian kalian. Kau tinggal duduk manis di rumah dan menandatangani berkas itu nanti."
"Lalu kapan saya bisa mendapatkan hak saya?."
Albert tertawa kecil melihat ketidaksabaran Aaron. "Kau tenang saja. Begitu kau menandatangani berkas itu, saat itu juga aku akan menandatangani dokumen penyerahan satu perusahaanku untukmu."
"Baiklah, tuan. Saya akan ikuti apa mau tuan. Kalau begitu saya permisi dulu. Saya tinggu kabar selanjutnya." Sstelah itu, Aaron pun berlalu meninggalkan ruangan Albert.
__ADS_1
Sepeninggal Aaron, Albert tertawa penuh kemenangan. "Akhirnya aku berhasil mendapatkan apa yang aku inginkan."
"Kau memang lelaki bodoh, Aaron. Dengan mudahnya kau masuk ke dalam jebakanku. Tapi tak apa. Justru aku sangat senang akan hal itu."