
Hari yang Nayyara nantikan itu pun tiba. Dengan mengendarai jet pribadi milik Albert, mereka bertolak menuju paris untuk berlibur.
Sebenarnya Albert memiliki maksud tertentu di balik niatnya mengajak Nayyara berlibur. Dan ia memastikan bahwa semuanya akan berjalan sesuai dengan rencananya.
Perjalanan dari indonesia menuju Paris, Prancis memakan waktu hingga enam belas jam. Dan Albert menggunakan waktu panjang itu untuk memanjakan wanita pujaannya.
Sebuah pesawat jet yang sangat mewah. Interiornya terlihat sangat berkelas. Terdapat beberapa kamar yang cukup nyaman di dalamnya yang memungkinkan penumpangnya untuk bisa beristirahat selama dalam perjalanan.
Selain itu, juga ada meja makan beserta mini bar dengan beraneka makanan dan minuman yang tertata rapi diatasnya. Serta beberapa fasilitas mewah lainnya.
"Perjalanan kita masih panjang, Nay. Kita bisa menikmatinya sambil bersantai," ucap Albert sambil menyerahkan segelas anggur untuk Nayyara. "Minumlah! Kau pasti sangat suka.
Nayyara menerima gelas tersebut sambik tersenyum singkat. "Makasih banyak, Al."
Lalu mereka pun meminum minuman itu dengan cara saling menyilangkan tangan mereka satu sama lain.
"Kau suka minumannya, Nay?" tanya Albert kemudian.
Nayyara memjawab dengan anggukan kepala. "Iya, Al. Minuman ini sangat enak."
"Apa kau mau lagi?."
"Tidak, Al. Ini saja sudah cukup. Aku nggak mau sampai mabuk gara-gara kebanyakan minum."
Albert tertawa mendengar jawaban Nayyara. "Kalau begitu sekarang beristirahatlah! Aku akan membangunkanmu saat kita tiba nanti."
Berjalan menuju tempat tidur. Nayyara yang memang masih mengantuk karena Albert tadi membangunkannya terlalu pagi tak membantah perintahnya. Namun saat ia hendak merebahkan tubuh, Albert malah menghentikannya. "Tunggu, Nay! Jangan rebahkan tubuhmu dulu."
Sontak Nayyara pun bingung dibuatnya. "Ada apa lagi, Al? Bukankah tadi kau menyuruhku untuk beristirahat?," tanyanya sambil menautkan kedua alis.
"Tidak sebelum aku berada di sampingmu," ucapnya. Berjalan menghampiri Nayyara dan ikut merebahkan tubuh disampingnya sambil merentangkan sebelah tangan. "Nah, sekarang kau boleh merebahkan tubuhmu. Taruh kepalamu diatas lenganku."
Hati Nayyara kembali menghangat melihat perlakuan romantis Albert padanya. " Kau memang paling bisa membuatku senang, Al," ucapnya, lalu merebahkan kepalanya diatas lengan Albert menjadikannya sebagai bantal. Tangan mendekap erat tubuh kekar di sampingnya mencari kehangatan disana.
__ADS_1
"Ini semua aku lakukan karena aku sangat mencintaimu. I love you Nayyara."
Kembali Albert mengungkapkan kata-kata cintanya untuk yang kesekian kali. Namun hingga saat ini Nayyara belum juga memberikan jawaban atas pernyataan cintanya. Tapi ada satu hal yang membuat hati Albert lega, Nayyara tak lagi menolak saat ia menyentuhnya.
Nayyara kembali membeku mendengar pengakuan cinta Albert. Air mata bahagia luruh seketika. Namun ia masih belum bisa membuka hati kembali setelah kemarin di sakiti. Baginya ini terlalu cepat.
Melihat kebungkaman Nayyara, Albert kembali membuka suara. "Katakan, Nay, apa kau juga mencintaiku?."
"Sebaiknya kita tidur sekarang, Al. Aku ngantuk, mau tidur," jawabnya sambil membenamkan wajah di dada bidang Albert dan berpura-pura tertidur.
Albert menghela nafas berat mendengar jawaban Nayyara. Ia tahu saat ini ia belum siap untuk semuanya. Dan ia tak ingin terlalu memaksanya.
"Baiklah, tidak apa. Sekarang tidurlah!" ucapnya sambil mengusap surai panjang milik Nayyara. Dalam hati ia berkata, "Saat ini kau boleh menolakku. Tapi saat kita tiba disana, akan kubuat kau bertekuk lutut dan tak bisa lagi menolak cintaku."
...****************...
Waktu berlalu begitu cepat tanpa kita sadari. Dan setelah menempuh perjalanan panjang, mereka pun mendarat dengan selamat di bandara Prancis.
Keluar dari bandara, mereka disambut oleh dua orang anak buah Albert yang langsung membukakan pintu mobil untuk mereka. Albert pun mempersilahkan Nayyara untuk masuk terlebih dahulu.
"Silahkan masuk tuan putri, "ucapnya sok romantis sambil mengecup tangan Nayyara singkat.
Nayyara tertawa kecil melihat perlakukan Albert padanya. "Kau memang paling bisa membuatku merasa paling istimewa, Al" ucapnya. Lalu ia pun masuk ke dalam mobil yang diikuti oleh Albert setelahnya.
Dua orang anak buah tadi menutup pintu kembali dan langsung masuk ke kursi depan mobil. "Kita mau kemana sekarang, tuan?," tanyanya kemudian.
"Langsung saja ke hotel!" jawab Albert singkat.
Kedua anak buah menganggukkan kepala lalu melajukan mobil menuju hotel yang sudah di pesan sebelumnya.
Sepanjang perjalanan mata Albert tak berhenti menatap Nayyara. Seakan keindahan jalanan kota paris tidak ada artinya jika dibandingkan dengan kecantikan yang dimiliki oleh wanita yang tengah duduk disampingnya.
Merasa terus diperhatikan, Nayyara merasa malu. "Kenapa sedari tadi kau terus memandangku, Al? Aku malu kalau kau terus begitu" ucapnya sambil membuang wajah ke samping.
__ADS_1
Namun Albert tak membiarkan wajah sang pujaan hati hilang begitu saja dari pandangannya. Ia menarik dagu Nayyara dan kembali menghadapkan padanya. "Jangan pernah memalingkan wajahmu dariku. Sebab wajahmu adalah penyemangat hidupku."
Blush.....wajah Nayyara merona merah seperti kepiting rebus mendengar kalimat manis Albert. Belum pernah ia di perlakukan seistimewa ini. Sontak ia kembali memalingkan wajah untuk menyembunyikan wajah malunya.
"Bukankah aku sudah bilang, jangan pernah palingkan wajahmu dariku," sentak Albert. Kembali menarik wajah Nayyara agar menghadap padanya.
"Kalau begitu berhentilah berkata-kata manis. Aku malu kalau kau terus merayuku seperti ini!."
Albert tersenyum mendengar ucapan Nayyara. "Aku tidak pernah merayumu. Apa yang aku katakan memang murni datang dalam hatiku," ucapnya dengan sorot mata sayu. "Tapi kalau kau tak suka, maka baiklah. Aku tidak akan pernah berkata begitu lagi."
Kembali membenahi posisi duduk dan menghadap ke depan. Albert memilih diam dan tak berkata apa-apa lagi.
Melihat sikap Albert yang hanya diam saja, Nayyara yang malah seperti kebakaran jenggot. Ia berusaha memancing pembicaraan agar Albert kembali membuka suara.
"Mmh, Al, ini kita mau kemana?."
"Ke hotel!" jawab Albert singkat.
"Kenapa mesti langsung ke hotel? Kenapa kita nggak langsung aja lihat menara Eiffel?."
"Nanti malam saja." jawab Albert, masih dengan wajah datarnya.
Nayyara terus memancing pembicaraan dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak terlalu penting. Namun Albert selalu memjawab dengan singkat dan bahkan hanya dengan gelengan atau deheman. Lama-kelamaan Nayyara pun kesal dibuatnya.
"Bisa tidak kamu memjawab pertanyaanku dengan lebih baik? Bukan hanya ddngan gelengan kepala atau deheman saja," sentaknya sedikit meninggi. Air mata terlihat merebak di pelupuk matanya. "Kalau kau mengajakku kesini hanya untuk mengacuhkanku, maka turunkan saja aku disini. Lebih baik aku pulang."
Melihat Nayyara ingin meneteskan air mata, Albert segera mengulurkan tangan dan menyeka air matanya sebelum sempat jatuh. "Maafkan aku! Aku tidak bermaksud untuk mengacuhkanmu. Bukankah tadi kau yang ingin agar aku diam?."
"Bukan dian seperti ini yang aku maksudkan tadi."
Albert tersenyum. "Aku tahu. Aku hanya bercanda saja."
"Bercandanya nggak lucu!" cebik Nayyara kesal. Kini malah berbalik Albert lah yang harus merayu Nayyara agar kekesalannya mereda
__ADS_1