Aku Bukan Jembatanmu

Aku Bukan Jembatanmu
Bab 21


__ADS_3

Setelah menyuapi Nayyara dan memastikan ia meminum obatnya, Albert berniat pergi keluar. Namun dengan segera Nayyara menghentikannya dengan memegang pergelangan tangannya seakan takut kehilangan. " jangan pergi, aku mohon!" ucapnya lirih dengan pandangan mata sendu.


Albert meyakinkan bahwa ia hanya pergi sebentar untuk melakukan hal yang sangat penting dan akan segera kembali begitu urusannya selesai. Dan akhirnya Nayyara pun mengizinkannya.


Bertemu dengan Arfa di parkiran rumah sakit. Albert menanyakan apa yang diminta kemarin. "Bagaimana? Apa semuanya sudah beres?."


"Tentu saja! Aku sudah melakukannya sesuai dengan apa yang kau perintahkan kemarin. Dan sekarang dia sedang menunggumu di kantor."


Albert tersenyum puas dengan kinerja Arfa. "Bagus! Sekarang juga kita kesana."


Berjalan dengan gagahnya. Semua orang menunduk hormat pada orang nomor satu di perusahaan itu Dan disinilah mereka berdua sekarang, diruangan milik sang presdir yang berada di lantai tertinggi dari gedung ini.


Aaron langsung bangkit dan membungkuk memberi sedikit hormat saat melihat siapa yang datang. "Selamat siang, tuan! Bagaimana kabar anda hari ini?" ucapnya berbasa-basi.


Albert mengabaikan kalimat basa-basi Aaron dan langsung memghempaskan tubuh di kursi kebesarannya. "Langsung saja. Tidak usah berbasa-basi lagi. Aku tidak punya banyak waktu untuk itu."


Aaron duduk kembali di kursinya. Sedikit salah tingkah dengan penolakan Albert tadi.


"Arfa, berikan berkasnya sekarang!" ucap Albert datar dengan wajah tanpa ekspresi.


Dengan segera Arfa mengeluarkan berkas penting yang Albert minta dari dalam tas dan memberikannya pada Albert.


Albert menerima berkas itu dari tangan Arfa dan langsung melemparkannya ke hadapan Aaron. "Aku tidak ingin membuang-buang waktu lagi. Cepat tanda tandatangani berkas itu sekarang" ucapnya."


"Apa ini, tuan?" tanya Aaron bingung.


"Tidak usah banyak tanya. Cepat tandatangani berkas itu dan kita selesaikan semuanya sekarang!" ucap Albert kembali seraya menyodorkan sebuah pena pada Aaron.


Perlahan Aaron membuka beekas tersebut dan mengambil penanya. Namun saat berkas itu telah terbuka, mata Aaron membulat dengan sempuran melihat tulisan yang tertera diatasnya.


Sebuah berkas bertuliskan dokumen perceraian tercetak dengan huruf besar di atas kertas. Siapa saja akan langsung tahu apa isinya begitu melihatnya.


"A....pa ini maksudnya, tuan? Do....dokumen perceraian?" tanya Aaron bingung dan sedikit gugup.


Albert tersenyum sinis mendengar pertanyaan Aaron. "Tidak usah terlalu terkejut begitu. Bukankah kita berdua sudah sepakat kemarin?."

__ADS_1


Aaron tertunduk lesu mendengar kata-kata Albert. "Akhirnya hari ini tiba juga. Aku harus melepas Nayyara demi secuil harta," gumamnya lirih.


Namun kesedihan di wajahnya itu hanyalah sesaat, karena detik berikutnya ia kembali menguasai diri dan bersikap angkuh. "Kalau aku memang harus kehilangan Nayyara, maka baiklah! Tapi tidak akan aku biarkan pengorbananku ini sia-sia. Aku harus berpikir lebih pandai daripada Albert jika ingin mendapatkan apa uang aku inginkan," tekadnya dalam hati.


Menyodorkan kembali berkas itu ke hadapan Albert dengan wajah tersungging senyuman licik. "Tidak, tuan! Saya tidak akan menandatangani berkas ini sebelum tuan memberikan apa yang sudah tuan janjikan padaku kemarin."


"Ternyata kau cukup licik juga!" ucap Albert membalas senyuman Aaron dengan menyunggingkan senyuman sinis.


"Bukan licik, tuan, tapi cerdas!" balas Aaron. "Bukankah kita harus memanfaatkan situasi dengan sebaik mungkin jika kita ingin mendapatkan apa yang diinginkan!."


"Baiklah kalau begitu!"


Albert bangkit dari kursi. Berjalan menuju brankas kecil miliknya, menekan kombinasi angka, dan mengeluarkan sebuah berkas di dalamnya.


"Ini, silahkan kau baca sendiri!" ucapnya sambil menyodorkan berkas yang dikeluarkannya tadi ke hadapan Aaron.


Aaron menerima berkas tersebut dan membaca isinya dengan. seksama. Lalu tak lama kemudian sebuah senyum penuh kepuasan terbit di sudut bibirnya.


"Bagaimana? Apa kau puas sekarang?" tanya Albert kemudian.


Albert tersenyum singkat lalu kembali duduk di kursi kebesarannya. "Baiklah, aku akan menandatangani berkas itu. Tapi hanya jika kau juga menandatangani berkas perceraian ini."


Saling bertukar berkas. Albert menyerahkan berkas perceraian di tangannya, sementara Aaron menyerahkan berkas kepemilikan perusahaan yang dipegannya pada Albert.


"Arfa, berikan penamu padaku!" ucap Albert kemudian.


Arfa sedikit ragu untuk memberikan apa yang sahabatnya minta, tapi Albert menyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja lewat isyarat kedipan mata..


Saling membubuhkan tandatangan diatas kedua berkas penting. Aaron menandatangani berkas perceraiannya dengan Nayyara, sementara Albert menandatangani berkas pengalihan kepemilikan salah satu perusahaan miliknya. Lalu mereka berdua kembali menyerahkan berkas yang sudah ditandatangani tadi satu sama lain.


Albert tersenyum puas melihat berkas yang dipegangnya, demikian juga dengan Aaron. Lalu keduanya saling berjabat tangan.


"Terimakasih banyak. Dengan ini kita sudah tidak ada urusan apa-apa lagi," ucap Aaron.


"Ya, benar! Dan aku harap kau tidak akan menganggu Nayyara lagi, atau aku tidak segan-segan untuk menghabisimu" jawab Albert dengan pandangan mata menusuk.

__ADS_1


"Anda tenang saja! Saya tidak akan peenah menganggur anda atau Nayyara lagi."


"Aku pegang kata-katamu ini!."


"Kalau begitu saya permisi dulu. Senang bekerjasama dengan anda!." Lalu ia pun berlalu meninggalkan ruangan Albert.


Sepeninggal Aaron dari ruangan, Arfa menghempaskan tubuh di hadapan sahabatnya. "Apa kau yakin melepaskan salah satu perusahaan milikmu pada Aaron?" tanyanya dengan wajah serius.


"Sangat yakin!" jawab Albert tegas.


"Tapi, apa ini tidak terlalu berlebihan?" tanya Arfa kembali. "Maksudku kau sudah bekerja keras untuk membangun semua ini. Tapi dengan mudahnya kau memberikannya begitu saja hanya demi mendapatkan seorang wanita."


Albert tersenyum tipis mendengar ucapan sahabatnya. "Semua yang aku miliki tidak ada artinya jika Nayyara tidak ada di sampingku. Dan bagiku, ini tidaklah berlebihan."


Arfa mengedikkan kedua bahu keatas. "Terserah kau saja! Aku hanya mengingatkanmu.


Berjalan menuju lemari besi miliknya dan menyimpan berkas perceraian tadi disana baik-baik. "Nayyara adalah segalanya bagiku. Kau akan mengerti apa yang aku lakukan sekarang saat kau menemukan belahan jiwamu nanti" ucapnya kembali tanpa menengok ke arah sahabatnya.


Arfa semakin geleng-geleng melihat cara berpikir sahabatnya. "Cinta itu memang buta. Dan terkadang akan membuat orang menjadi gila. Karena itu aku tak ingin jatuh cinta."


"Jangan berkata begitu. Dengan cinta, hidup kita akan jadi lebih berwarna."


"Terserah kau saja. Yang jelas aku tak ingin menjadi gila sepertimu."


Albert tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan sahabatnya. "Dan kau akan menjadi jomblo karatan seumur hidup."


"Sialan kau!" cebik Arfa sambil menoyor lengan Albert.


Albert berjalan menuju pintu dengan tawa yang belum juga berhenti tak peduli dengan kekesalan di wajah sahabatnya.


"Hey, kau mau kemana?" teriak Arfa.


"Aku mau keluar!"


"Tapi setelah ini kita ada rapat."

__ADS_1


"Kau saja yang urus! Aku mau menemui belahan jiwaku" ucap Albert berlalu begitu saja tak peduli Arfa yang tersungut-sungut marah dengan tingkahnya.


__ADS_2