Aku Bukan Jembatanmu

Aku Bukan Jembatanmu
Bab 13


__ADS_3

Salah apakah diriku, dosa apakah diriku. sehinga kau tega, seakan kau lupa bahwa aku kekasihmu....


Terlalu sungguh terlalu tanpa pamit kau berlalu. Kini yang tersisa hanya air mata. Manisnya kau telan sepah kau campakkan....


Kemana akan kubawa derita cinta yang tlah ternoda. Siapa yang akan terima lukisan cinta berlumur darah


Kau buat aku jembatan tuk meraih kepuasan. Setelah kau dapatkan aku kau tinggalkan......


Sepulang dari kantor Albert tempo hari, Nayyara terus mengurung diri di kamar. Ia tak mau makan atau minum. Setiap hari ia hanya menangis sambil menatap kosong ke arah luar jendela.


Berulangkali Albert mencoba membujuknya, namun hasilnya nihil, Nayyara tetap tak mau beranjak sedikitpun dari kamar itu.


Pagi itu sebelum berangkat ke kantor, Albert menyempatkan diri untuk menanyakan keadaan Nayyara pada asisten rumah tangganya. "Bik Inah, bagaimana keadaan Nayyara sekarang? Apa dia masih belum mau makan juga?" tanyanya sambil menikmati sarapan pagi.


Bik Inah menggeleng. "Belum, Tuan. Bahkan makanan yang bibik antar ke kamarnya semalam juga belum disentuh sedikitpun."


Albert menghela nafas berat. "Ini tidak bisa dibiarkan lagi. Aku harus bersikap tegas atau dia akan sakit nanti."


Albert pun meletakkan peralatan makannya, menyudahi sarapan, lalu berjalan menuju kamar Nayyara.


Ceklek....


"Lho, kenapa pintunya terkunci? Biasanya Nayyara tak pernah mengunci pintu," gumamnya sedikit bingung. Ia pun memutuskan untuk mengetuk pintu dan memanggil nama Nayyara.


Tok...tok....tok....


"Nay, buka pintunya!."


Tak terdengar suara sahutan dari dalam. Albert pun mencobanya kembali. Namun kali ini hasilnya pun tetap sama. "Kenapa Nayyara tak menyahuti panggilanku? Memangnya dia sedang apa?" gumamnya dalam hati.


Albert pun mencoba mengetuk pintu untuk yang kesekian kali, namun hasilnya tetap juga sama. Lama-kelamaan Albert pun curiga. "Ada apa ini? Kenapa Nayyara tak juga menyahuti panggilanku?."


"Aku tahu Nayyara sedang sedih dan terpukul. Tapi tidak biasanya dia seperti ini. Atau jangan-jangan....."


Timbullah sebuah prasangka buruk dibenak Albert. "Tidak, itu tidak mungkin. Nayyara tidak mungkin mengakhiri hidupnya sendiri." ia pun berusaha mendobrak pintu untuk membuktikan kecurigaannya.

__ADS_1


Sekali dua kali, Albert belum juga berhasil membuka pintu. Namun pada percobaan ketiga, barulah ia berhasil membuka pintu itu.


Alangkah terkejutnya hati Albert melihat keadaan Nayyara. Ternyata kecurigaannya tadi bahwa Nayyara akan mengakhiri hidupnya sendiri benar-benar terjadi.


Di hadapannya, Albert melihat Nayyara tengah tergeletak diatas lantai dengan pergelangan tangan bersimbah darah. Sementara tangannya yang lain terlihat memegang pisau yang ia gunakan untuk menyayat lengannya itu. Kesadarannya sendiri pun sudah hilang.


Sontak Albert pun berlari menghampirinya. Meletakkan kepala Nayyara ke atas pangkuannya, dan memeriksa denyut nadinya. "Ya Tuhan, tolong jangan ambil dia. Aku tidak akan bisa hidup jika kau mengambil orang yang aku cintai lagi" ucapnya lirih. Terlihat sangat kecemasan di wajahnya. "Semoga saja aku tidak terlambat menolongnya."


Alangkah bahagianya Albert saat mengetahui jika denyut nadi Nayyara masih ada. "Syukurlah kau masih hidup, Nay."


Ia pun bergerak cepat. Membuka jasnya, merobek kemejanya sendiri dan mengikatkannya ke pergelangan tangan Nayyara yang terluka untuk menghentikan pendarahan. Lalu ia berteriak memanggil bik Inah untuk meminta bantuan.


Bik Inah yang saat itu tengah asyik berkutat di dapur dengan berbagai peralatan masak, begitu mendengar suara teriakan Albert, menghentikan aktifitasnya dan berlari secepat kilat menghampirinya.


"Ada apa, tuan? Kenapa tuan berteriak memanggil saya?" tanyanya dengan nafas memburu.


"Tolongin saya, bik. Pergelangan tangan Nayyara terluka."


Bik Inah yang tak memperhatikan keberadaan Nayyara pun langsung mengalihkan pandangan padanya. "Ya Tuhan, Non Nayyara kenapa tuan?" pekiknya histeris begitu melihat pergelangan tangan Nayyara dalam kondisi terbebat pakaian majikannya. Terdapat pula bercak darah di sekitarnya.


Bik Inah mengangguk, mengerti apa yang harus ia lakukan. Segera turun ke bawah dan meminta Mang Ujang, sopir pribadi Albert untuk menyiapkan mobil.


Sementara itu, Albert membopong Nayyara sendiri dan memasukkannya ke dalam mobil. "Kita ke rumah sakit sekarang, Mang!" perintahnya. Lalu beralih menatap bik Inah. "Bibik ikut saya juga ke rumah sakit!."


Tanpa banyak bicara bik Inah langsung masuk ke mobil, sementara Mang Ujang langsung tancap gas menuju rumah sakit terdekat begitu bik Inah masuk.


Ditengah perjalanan, bik Inah kembali bertanya, "Kenapa Non Nayyara bisa seperti ini, tuan?."


"Saya juga tidak tahu, bik. Saat tadi masuk, saya sudah melihatnya dalam kondisi seperti ini. Sepertinya dia mencoba mengakhiri hidupnya sendiri dengan menyayat pergelangan tangannya."


"Astaga! Kenapa Non Nayyara bertindak senekat itu? Sekarang bagaimana keadaannya, tuan?."


"Saya juga kurang tahu, bik. Tapi tadi saat saya periksa, denyut nadinya masih ada."


"Syukurlah, tuan. Semoga kita tidak terlambat untuk menolongnya".

__ADS_1


Suasana yang sedari tadi sudah tegang, semakin bertambah tegang saat mendadak nafas Nayyara berubah memburu. "Mang Ujang, tambah kecepatannya lagi! Kita harus segera sampai di rumah sakit atau kita tidak akan berhasil menyelamatkannya" ucap Albert panik.


"Baik, tuan!" jawab Mang Ujang singkat, lalu menambah kecepatan mobilnya.


Tak berselang lama, mobil pun sampai juga di rumah sakit. Albert langsung mengangkat tubuh Nayyara dan membawanya ke dalam.


Berteriak memanggil suster. Terlihat sangat kepanikan di wajahnya. "Suster...suster, cepat tolongin saya!."


Seorang suster yang berada tidak jauh darinya langsung mendekat. "Ada apa, tuan?."


"Tolongin dia, sus. Lengannya terkena sayatan pisau."


Suster bergerak cepat dengan mengambil sebuah brangkar yang berada tidak jauh dari situ dan membawanya ke hadapan Albert. "Letakkan dia diatas situ, tuan!."


Albert pun meletakkan tubuh lemah Nayyara ke atas brangkar dengan penuh hati-hati. Suster segera membawanya ke ruang ICU untuk mendapatkan pertolongan di ikuti oleh Albert di belakangnya. Sementara bik Inah sendiri terus mengikuti kemanapun tuannya melangkah.


Tibalah mereka di sebuah ruangan dengan tulisan ICU di pintunya. Suster segera membawa Nayyara masuk ke dalam.


Albert ingin masuk juga ke dalam karena sangat mengkhawatirkan kondisi Nayyara. Namun dengan sigap suster melarangnya. "Maaf, tuan, anda dilarang masuk! Biar kami yang menangani pasien di dalam," ucapnya tegas.


"Tapi, sus...."


Suster tak menghiraukan bantahan Albert. Dan pintu besar itu pun tertutup. Tinggallah Albert di luar ruangan berdua dengan bik Inah.


Berteriak penuh frustasi. Albert meninju keras dinding rumah sakit hingga buku-buku jari tangannya mengeluarkan darah. "Kenapa kau bertindak sangat bodoh, Nayyara? Bagaimana jika tadi aku tidak menemukanmu?."


Bik Inah yang sedari tadi terus mengikuti terjingkat kaget melihat semua itu. Sontak ia pun mendekati tuannya berniat untuk menenangkan. "Tenanglah, tuan, dokter sedang menanganinya."


"Bagaimana jika Nayyara tidak bisa bertahan, bik? Apa yang harus aku lakukan?."


"Yakinlah pada Tuhan, semua pasti baik-baik saja. Bibik yakin non Nayyara akan selamat."


Albert menghela nafas berat, mengusap wajah kasar. Semua ketegangan ini membuatnya tak bisa berpikir jernih.


Ia pun menghempaskan tubuh diatas kursi yang berada disitu untuk menenangkan diri. Dan setelah kembali tenang, ia mengambil ponselnya dari dalam saku dan menghubungi seseorang. "Halo...." ucapnya saat telepon tersambung.

__ADS_1


__ADS_2