Aku Bukan Jembatanmu

Aku Bukan Jembatanmu
Bab 8


__ADS_3

Nayyara merasa risih karena terus dipandang sedemikian rupa oleh Albert. Ia merasa ada yang tidak beres dari tatapannya itu. Ia pun berniat untuk mengajak suaminya untuk segera pulang ke rumah.


Mendengar keinginan istrinya, Aaron nerusaha keras untuk mencegahnya. Namun Nayyara bersikeras dengan keinginananya. Hingga kemudian datanglah seorang pelayan yang merupakan orang suruhan Albert dengan membawa segelas minuman yang sudah dibubuhi dengan sesuatu oleh Albert.


Dengan sigap, Aaron mengambil gelas minuman itu dan memaksa istrinya untuk meminumnya karena tahu ini merupakan bagian dari rencana Albert.


Meski sedikit ragu, namun akhirnya Nayyara mau meminum minuman itu hingga habis tak bersisa karena mendengar janji yang diucapkan oleh suaminya yang akan membawanya pulang setelah meminum minuman itu. "Aku sudah menghabiskan minuman ini, Mas. Sekarang ayo kita pulang!" ucapnya.


Aaron mengangguk, lalu mereka berjalan keluar dari tempat pesta. Namun baru beberapa langkah mereka meninggalkan tempat pesta, tiba-tiba Nayyara merasa kepalanya mendadak pusing dan pandangannya mulai mengabur. "Aduh!," keluhnya sambil memegagi kepalanya yang berdenyut.


"Ada apa, Nay?" tanya Aaron berpura-pura khawatir. Padahal ia tahu betul obat apa yang dimasukkan Albert ke dalam minuman istrinya tadi.


"Tolongin aku, Mas. Kepalaku mendadak pusing," jawab Nayyara. Lalu perlahan ia pun jatuh pingsan.


Dengan sigap Aaron menangkap tubuh sang istri dan membopongnya menuju tempat yang sepi. Kemudian ia mengeluarkan benda pipih dengan logo bekas apel tergigit dari saku celananya lalu memencet nomor Albert dari daftar kontaknya. "Halo, tuan!" ucapnya saat panggilan sudah tersambung.


"Bagaimana?," tanya suara di seberang singkat.


"Rencana berjalan dengan baik, tuan. Nayyara sekarang sudah jatuh pingsan."


"Bagus!," ucapnya. Terdengar suara tawa membahana dari seberang. "Sekarang masukkan dia ke dalam mobilku. Aku akan langsung membawanya ke rumahku."

__ADS_1


"Baik, tuan!" jawab Aaron singkat lalu mematikan sambungan telepon dan menyimpannya kembali di saku celana.


Sejenak Aaron memandangi wajah cantik sang istri. Mendadak perasaan bersalah bercokol di hatinya. "Maafkan aku, Nay. Aku memang bukan seorang suami yang baik. Tapi aku terpaksa melakukan semua ini padamu" ucapnya sendu.


"Kau boleh marah padaku. Kau boleh mengutukku. Kau juga boleh membenciku. Tapi ketahuilah, aku sangat mencintaimu. Tidak ada lelaki yang mencintaimu sebesar aku mencintaimu. " Setitik air mata jatuh dari kedua pelupuk matanya.


Cepat-cepat ia hapus kembali butiran bening itu dari matanya karena teringat bahwa ia harus segera membawa tubuh tak berdaya sang istri untuk diserahkan pada Albert.


Ia pun segera bangkit dan mengangkat tubuh Nayyara lalu memasukkannya ke dalam mobil Albert. Kemudian ia mengambil ponselnya kembali untuk menghubungi Albert. "Halo, tuan, saya sudah melakukan semua perintah anda. Jadi, kapan saya bisa mendapatkan apa yang tuan janjikan pada saya tempo hari."


"Kau tenang saja! Besok kau bisa menemuiku di kantorku untuk mengambil hadiah yang aku janjikan. Tapi malam ini jangan ganggu aku dulu. Biarkan aku menghabiskan malam yang indah bersama istrimu, " jawab suara di seberang bernada datar. Lalu sambungan telepon pun kembali terputus.


Terlihat binar bahagia di kedua kelopak mata Aaron usai melakukan panggilan tadi. "Akhirnya semua masalahku terselesaikan dengan satu langkah mudah. Kenapa tidak dari dulu saja aku melakukan hal ini. Andai aku tahu hal ini dari awal, pasti semua masalahku sudah selesai dari dulu. Dan sekarang aku pasti sudah menikmati semua kemewahan itu." Bayangan akan kemewahan yang akan ia rasakan sudah terbayang di pelupuk mata.


Sementara itu, sepeninggal Aaron, Albert segera memasuki mobilnya. Sejenak ia memandangi tubuh molek Nayyara yang tengah tergolek tak sadarkan diri di kursi penumpang. "Maafkan aku karena telah menjebakmu dan merebutmu dari tangan suamimu dengan cara seperti ini. Tapi semua ini aku lakukan karena terlalu terobsesi padamu. Dan karena obsesi inilah yang memaksaku untuk memilikimu bagaimanapun caranya."


Albert kembali memutar tubuh menghadap ke stir mobil dan kembali pada kepribadiannya yang dingin dan angkuh. Lalu ia mulai menghidupkan mesin mobil dan melajukannya menuju istana megahnya.


Tak butuh waktu lama bagi Albert untuk bisa sampai di kediamannya. Karena hotel tempatnya menyelenggarakan pesta berada tidak jauh dari istana megahnya. Dan begitu sampai disana, ia disambut oleh beberapa pengawal yang langsung membukakan pintu gerbang untuknya.


Dan bukan hanya itu, sepanjang jalan dari gerbang menuju pintu utama, terdapat beberapa pengawal yang berderet rapi dan membungkuk memberi hormat.

__ADS_1


Albert hanya menganggukkan kepala sekilas sebagai tanda kenerima hormat mereka lalu kembali melajukan mobilnya.


Mobil berhenti tepat di depan pintu. Seorang pengawal membukakan pintu mobil untuknya.


Albert keluar dari mobil sambil mengangkat tubuh Nayyara dalam gendongannya. "Malam ini aku tidak ingin ada gangguan apapun. Aku ingin menghabiskan malam dengan wanitaku," ucapnya dingin. Sorot matanya menatap tajam ke arah pengawal seolah mengintimidasi mereka.


"Baik, tuan. Kami akan memastikan tidak ada gangguan apapun yang anda alami malam ini," ucap salah satu pengawal.


"Bagus!" jawab Albert singkat. Lalu ia melangkah memasuki rumah.


Dengan langkah mantap, Aaron membawa tubuh Nayyara menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Tubuh Nayyara yang kecil mungil membuatnya tak merasa berat sedikitpun. Perlahan ia pun merebahkan tubuh itu ke atas ranjang berukuran king size miliknya.


"Kau memang wanita yang sangat cantik, Nayyara. Tak ada satupun wanita di dunia ini yang bisa membuatku tergila-gila seperti ini selain mendiang istriku dulu," bisiknya lirih. Dibelainya wajah cantik mulus wanita yang tengah tergolek tak sadarkan diri diatas ranjangnya.


"Obat tidur yang aku masukkan ke dalam minumanmu tadi akan membuatmu tidur pulas sampai besok pagi. Tapi kau tenang saja, aku akan membuatmu mengerang penuh kenikmatan di alam bawah sadarmu sana hingga kau tak bisa membedakan apakah itu hanya mimpi atau nyata."


Perlahan ia mulai menanggalkan pakaian yang dikenakannya satu persatu. Kemudian beralih membuka pakaian Nayyara dan membuangnya ke sembarang arah. Hingga kini tubuh Nayyara pun tak terhalang lagi oleh sehelai benang pun.


Terpampanglah tubuh putih mulus tanpa cela milik Nayyara di hadapannya hingga membuat gairahnya tak tertahan lagi. Perlahan ia pun menindih tubuh mulus itu dan mulai mencumbuinya.


"Ahhh...." Terdengar ******* meluncur dari bibir mungil Nayyara. Mungkin dia terangsang oleh sentuhan tangan Albert. Namun sayang, ******* itu malah membuat gairah Albert semakin terbakar. ******* itu bagaikan alunan musik yang sangat indah yang memaksanya untuk segera menuntaskan permainan itu.

__ADS_1


Albert pun menyudahi rangsangannya dan bersiap untuk memulai penyatuan. Namun saat kedua inti tubuh mereka mulai bertemu, setetes air mata jatuh dari pelupuk mata Nayyara.


__ADS_2