Aku Bukan Jembatanmu

Aku Bukan Jembatanmu
Bab 16


__ADS_3

Albert berniat pulang ke rumah untuk menjernihkan pikiran. Namun ia malah berakhir dengan mabuk-mabukan dan membuat keributan di sebuah klub.


Tak ada yang berani menghentikannya. Semua tahu siapa Albert, yang bahkan dengan kekuasaannya mampu menghancurkan seluruh isi kota.


Hingga kemudian datanglah Arfa, Asisten pribadi, tangan kanan, sekaligus sahabat baiknya. Hanya dialah orang yang bisa mengendalikan kemarahannya.


"Hentikan semua ini, Al! Apa kau ingin Nayyara semakin membencimu karena melihat kelakuanmu ini?."


Mendengar nama Nayyara disebut, kemarahan Albert perlahan menghilang. Dan ia pun bersedia pulang ke rumah.


Membantu memasukkan tubuh sahabatnya ke dalam mobil, Arfa memerintahkan dua orang anak buahnya untuk membereskan semua kekacauan yang diperbuat Albert. Ia tak ingin reputasi sahabatnya dan juga perusahaan miliknya hancur gara-gara masalah sepele ini.


Memastikan anak buahnya bergerak sesuai perintahnya, Arfa lantas membawa Albert kembali ke kediamannya.


Setibanya disana, dibantu oleh salah seorang pengawal, membawa tubuh Albert ke kamarnya yang berada di lantai dua rumah ini lalu merebahkannya diatas ranjang.


Setelah memastikan tuannya tidak membutuhkan bantuannya lagi, pengawal itu keluar dan kembali ke tempatnya semula.


Perlahan Arfa melepas sepatu yang di kenakan Albert. Mengganti pakaiannya, dan menarik sebuah selimut untuk menyelimuti tubuh sahabatnya itu, membiarkannya untuk beristirahat.


"Kau memang seorang lelaki yang hebat, Albert. Bahkan kau mampu menggenggam dunia ini dengan kedua tanganmu. Tapi sayang, kau sangat bodoh dalam urusan cinta," gumam Arfa lirih. Di pandangnya wajah sang sahabat yang tengah tertidur pulas.


Arfa mengenal Albert sejak mereka masih kecil. Dulu mereka adalah tetangga dekat. Mereka bersekolah bersama dan tumbuh bersama.


Sebagai seorang sahabat, Arfa tahu betul bagaimana kehidupan Albert. Bahkan dialah satu-satunya orang yang dengan setia berada disisinya saat dulu ia berada dalam kehancuran setelah ditinggal mati oleh istri dan anak yang baru dilahirkannya.


Dulu kehidupan Albert terlihat sangat sempurna. Ia berhasil memiliki segala kemewahan yang ada di dunia ini saat usianya masih muda. Lalu setelah itu ia menikah dengan seorang wanita bernama Anastasya yang merupakan kekasihnya.


Kebahagian Albert semakin lengkap saat Anastasya dinyatakan hamil. Namun kebahagiaan itu seketika berubah menjadi bencana saat mengetahui perselingkuhan istrinya. Apalagi kemudian ia tahu jika anak yang dikandungnya itu bukanlah darah dagingnya.

__ADS_1


Naas, Anastasya meninggal saat melahirkan anaknya. Ia pun turut serta membawa anaknya bersamanya pula.


Sejak saat itu Albert tak percaya lagi dengan cinta. Ia berubah menjadi sosok yang dingin dan arogan. Namun secara tak sengaja ia bertemu dengan Nayyara. Ia pun jatuh cinta kembali dan mencari cara agar bisa mendapatkannya.


Arfa menghela nafas berat. Berjalan menuju sofa, dan menghempaskan tubuh diatasnya. Ia berniat mengistirahatkan tubuhnya sejenak disitu sambil berjaga andai Albert membutuhkan bantuannya. Perlahan matanya pun terpejam karena terlalu lelah.


...****************...


Tengah malam Albert terbangun. Ia memijit keningnya yang terasa berdenyut akibat efek sisa dari alkohol yang diminumnya tadi.


"Aku ada dimana ini?" gumamnya. Lalu ia pun mengedarkan pandangan.


Saat matanya melihat sosok Arfa yang tengah tertidur di atas sofa dengan posisi yang tidak mengenakkan, hatinya pun menghangat. "Kau memang sahabat yang paling baik sedunia. Aku sangat beruntung karena memilikimu di sisiku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku andai kau tak ada."


Ia pun menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya. Bangkit dari ranjang, dan berjalan menghampiri sahabatnya. "Arfa, bangunlah! Kalau kau ingin tidur, tidurlah di kamar sebelah. Tubuhmu bisa sakit kalau kau tidur seperti ini," ucapnya sambil mengguncang tubuh Arfa pelan.


Albert tertawa kecil melihat ekspresi sahabatnya. "Hey, tenanglah. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan!."


"Huft, aku kira tadi ada apa" ucap Arfa menghela nafas penuh kelegaan. Lalu ia mengusap wajahnya yang masih mengantuk dan menguap lebar. "Jam berapa sekarang? Apa sekarang sudah pagi?" tanyanya kemudian.


"Belum. Sekarang masih tengah malam."


"Apa? Masih tengah malam?" tanya Arfa dengan mata terbelalak lebar. "Lalu kenapa kau membangunkanku? Apa kau membutuhkan sesuatu?."


Albert menggelengkan kepala. "Tidak, aku tidak butuh sesuatu. Aku membangunkanmu karena kasihan melihatmu tidur dengan posisi seperti tadi. Kalau kau ingin tidur, tidurlah di kamar sebelah. Kau pasti sangat capek karena seharian mengurusiku."


Bukannya menurut, Arfa justru menggeleng pelan. "Tidak, aku tidak apa-apa. Tidur sebentar tadi sudah membuat tubuhku lebih segar."


"Ya sudah kalau kamu tidak mau," ucap Albert. Ikut menghempaskan tubuh disamping sahabatnya. Pandangannya menatap lurus ke depan.

__ADS_1


Melihat itu, Arfa menepuk bahu Albert dan bertanya. "Bagaimana perasaanmu sekarang? Apa kau sudah lebih baik?."


Albert menghempaskan tubuh ke sandaran sofa, menghela nafas berat. "Entahlah, Fa, aku sendiri juga tidak tahu apakah diriku sudah baik-baik saja atau tidak."


Mereka sama-sama diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Membuat malam yang sunyi menjadi semakin sunyi. Hingga akhirnya Albert mulai membuka suara memecah kebisuan mereka. "Apa tindakanku terhadap Nayyara itu salah, Fa? Apa aku sudah berlebihan?," tanyanya, tatapan mata menerawang ke depan.


"Tidak ada yang salah atau benar dalam urusan cinta. Semua adil dalam perang dan cinta."


"Tapi kenapa Nayyara malah memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri seperti tadi."


"Dia hanya syok, tak mengira suaminya akan setega itu." Arfa berusaha keras menghibur sahabatnya agar tak kembali terpuruk seperti dulu. Ia tahu betul seberapa benar rasa cintanya pada Nayyara. "Kalau kau tak keberatan, maukah kau menceritakan kejadiannya tadi? Sebab aku belum tahu detilnya. Mungkin dari situ aku bisa memberimu saran."


Albert menghela nafas, lalu menceritakan kejadian tadi pagi dimana ia menemukan Nayyara dalam kondisi tergeletak di lantai dengan kondisi tangan bersimbah darah.


Mereka kembali diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Hingga kemudian Albert berkata, "Apa sebaiknya aku kembalikan saja Nayyara pada suaminya?."


"Kau pikir Nayyara itu barang yang bisa diambil dan dikembalikan sesuka hati. Dia pasti lebih terluka lagi kalau kau sampai melakukan itu," jawab Arfa dengan suara meninggi. Tak habis pikir dengan cara berpikir sahabatnya.


"Lalu aku harus apa? Bagaimana kalau sampai Nayyara nekat bunuh diri lagi dan aku tak bisa menyelamatkannya? Aku bisa tiada kalau sampai itu terjadi?."


Arfa menatap sahabatnya intens. "Sekarang aku tanya sama kamu. Apa kamu siap melepaskan Nayyara kembali? Apa kamu rela melihatnya bersama dengan pria lain."


"Akan aku bunuh pria yang berani mendekatinya," jawab Albert dengan mata berapi-api.


"Lalu kenapa sekarang kau malah ingin melepaskannya?."


"Lalu aku harus apa, Fa? Berikan aku solusinya?."


Sejenak Arfa diam dan berpikir mencari solusi terbaik. Lalu ia pun berkata. "Menurutku, kau harus merubah obsesimu itu kalau kau ingin membuat Nayyara mencintaimu."

__ADS_1


__ADS_2