Aku Bukan Jembatanmu

Aku Bukan Jembatanmu
Bab 22


__ADS_3

Hari ini Nayyara sudah diperbolehkan pulang. Meski dokter mengatakan bahwa kondisinya sudah baik-baik saja, namun Albert tak membiarkannya melakukan apapun.


"Aku bosan kalau seperti ini terus, tuan!" cebik Nayyara kesal karena Albert tak membiarkannya turun dari ranjang. Seharian berada di atas kasur dan hanya berbaring tanpa melakukan apa-apa membuat tubuhnya terasa kaku."


"Tidak! pokoknya kamu tidak boleh turun dari kasur."


"Tapi aku ingin ke kamar mandi. Sejak tadi aku ingin buang air kecil." Nayyara sengaja mencari alasan dengan pergi ke kamar mandi agar bisa lepas dari pantauan Albert.


"Kalau begitu biar aku yang menggendongmu ke kamar mandi," ucap Albert lalu membungkukkan sedikit tubuh bersiap mengangkat tubuh mungil Nayyara.


Mata Nayyara membulat sempurna mendengar ucapan Albert. Sontak ia menepis tangannya sebelum berhasil menyentuh tubuhnya. "Tidak mau, aku bisa sendiri. Bisa-bisa kamu mengambil kesempatan dalam kesempitan lagi."


"Kalau bisa, kenapa harus menolak?."


Jawaban Albert barusan sukses membuat Nayyara melayangkan bantal ke arahnya. "Dasar nyebelin!!."


Albert tertawa terbahak-bahak melihat kekesalan di wajah Nayyara. "Katanya mau ke kamar mandi, kok sekarang masih ada disini?" tanyanya setelah berhasil menguasai tawa.


"Nggak jadi!!" sembur Nayyara sambil membuang wajah ke samping.


Sontak hal itu membuat tawa Albert kembali pecah. "Aku tahu kalau kau hanya berpura-pura dan ingin menghindariku. Itu sebabnya aku tak membiarkanmu melakukannya."


"Kalau kau sudah tahu, lalu kenapa kau masih disini?" teriak Nayyara kesal. "Kau pikir seharian berada diatas ranjang seperti orang pesakitan tidak melelahkan?."


Albert menghela nafas berat, duduk di hadapan Nayyara, lalu mendongakkan wajahnya agar menatap matanya. "Dengarkan aku, Nay. Aku melakukan ini juga demi kebaikanmu. Kau baru keluar dari rumah sakit. Dan aku tak ingin terjadi apa-apa denganmu."


Perlahan kekesalan di hati Nayyara pun mulai menghilang saat melihat besarnya perhatian Albert padanya. "Tapi aku sudah baik-baik saja, tuan. Aku bisa melakukan apapun sendiri."


"Jangan memanggilku dengan sebutan tuan, karena aku bukan tuanmu," sentak Albert tak suka. Terlihat kilatan amarah dimatanya.


"Lalu aku harus memanggilmu dengan sebutan apa? Tidak sopan kan kalau aku hanya memanggilmu dengan nama," tanya Nayyara bingung.


"Cukup panggil aku Al."

__ADS_1


"Apa? Al?," tanya Nayyara makin bingung.


"Ya, Al. Itu adalah panggilanku saat masih kecil dulu. Hanya orang-orang terdekatku saja yang bisa memanggilku begitu. Dan kau adalah salah satunya."


Hati Nayyara kembali menghangat saat mendengar Albert menyebutnya sebagai salah satu orang terdekatnya. Ia merasa Albert memperlakukannya sangat istimewa.


"Kenapa kau sangat mencintaiku?" tanya Nayyara, mengulang kembali pertanyaan yang sama dengan yang ia tanyakan di rumah sakit kemarin.


"Bukankah aku sudah bilang, aku tidak memerlukan alasan untuk bisa mencintaimu. Yang jelas, kau adalah orang yang sangat istimewa di hatiku."


"Tapi aku tidak bisa memberikan apapun untukmu, Al."


"Aku tidak meminta apapun darimu. Cukup kau berada disisiku, dan cintai aku demgan sepenuh hatimu."


Nayyara memalingkan wajah, masih memganggap dirinya rendah. "Aku bukan siapa-siapa, Al. Aku juga bukan orang yang sepadan denganmu."


"Ya! Aku memang tidak sepadan denganmu. Sebab aku tidak ada apa-apanya jika tanpa kau disisiku."


Nayyara terdiam, tak sanggup berkata apa-apa lagi. Dan untuk sesaat kebungkaman tercipta diantara mereka.


Setelah berkata begitu, Albert bangkit dari duduknya, berjalan menuju pintu, dan meninggalkan Nayyara dalam kesendirian.


...****************...


"Nay, aku punya sebuah hadiah untukmu!" ucap Albert keesokan pagi, menyerahkan sebuah kotak ke hadapan Nayyara.


"Apa ini?" tanya Nayyara bingung.


"Bukalah sendiri! Nanti kau juga akan tahu isinya apa."


Nayyara pun bergegas membuka kotak itu dan melihat isinya. Terdapat beberapa brosur dengan berbagai pilihan destinasi liburan di dalamnya hingga membuat hati Nayyara makin bertanya-tanya.


"Apa ini, Al?" tanyanya sambil memegang brosur itu di tangan.

__ADS_1


"Apa kau masih belum mengerti juga? Itu adalah brosur liburan."


"Tapi untuk apa?" tanya Nayyara makin tak mengerti.


"Untuk apa lagi? Tentu untuk kita berdua pergi berlibur," jawab Albert santai. "Pilihlah manapun yang kau suka. Aku akan meluangkan waktuku untukmu. Bukankah kau bilang bosan berada di rumah terus."


Nayyara menganga tak percaya mendengar kata-kata Albert. "Ini beneran buat aku?aku bebas memilih manapun yang aku suka?" tanyanya masih tak percaya, meminta penegasan dari Albert.


"Bukan, tapi buat istri tetangga sebelah!," jawab Albert asal. "Tentu saja buat kamu. Kau pikir buat siapa lagi."


"Bercandanya nggak lucu!" cebik Nayyara kesal sambil menghentakkan kaki.


Sontak Albert pun berlari mengejarnya. "Maafkan aku. Aku kan hanya bercanda saja," ucapnya sambil menggenggam tangan Nayyara. "Sekarang pilihlah! Biar aku yang mengurus semuanya."


"Bagaimana kalau kita ke Paris?" ujar Nayyara cepat. Berbalik menatap Albert dengan sorot mata penuh permohonan. "Sudah lama aku memimpikan pergi ke sana."


Albert tersenyum manis, merengkuh tubuh mungil Nayyara dalam dekapannya. "Kalau begitu keinginanmu akan segera terwujud. Keinginanmu adalah perintah bagiku."


Nayyara tertawa kecil mendengar kalimat yang diucapkan Albert barusan. "Kau ini sangat lucu, Al. Seperti cerita jin ajaib dalam botol," ucapnya seraya melepaskan diri dari Albert.


Sedikit membungkukkan tubuh memberi hormat dengan satu tangan terlipat di bawah dada sementara tangan yang lain yerbentang ke samping. Nayyara menirukan cara bicara Albert tadi yang di padukan dengan cara bicara jin ajaib seperti dalam adegan sebuah film anak-anak yang pernah ditontonnya semasa kecil dulu. "Keinginan anda adalah perintah bagi hamba."


Albert tertawa terbahak-bahak melihat tingkah konyol Nayyara. "Sungguh, Nay, kau adalah wanita yang sangat unik. Tidak ada satupun orang yang bisa membuatku tertawa lepas seperti ini. Dan kau malah bisa melakukannya dengan begitu mudahnya."


"Ish, enak saja! Emangnya aku ini pelawak," cebik Nayyara kesal, yang tentunya ia hanya berpura-pura saja.


Berusaha mengatasi tawanya kembali. Albert berjalan menghampiri Nayyara dan bersikap romantis. "Aku tidak bohong, Nay. Kau memang sangat berbeda. Hanya kau satu-satunya orang yang bisa membuatku bahagia."


Blush....pipi Nayyara sontak bersemu merah seperti kepiting rebus. Ia pun memalingkan wajah untuk menyembunyikan rasa malunya.


Albert tersenyum melihat wajah Nayyara yang bersipu malu. "Jangan pernah memalingkan wajahmu lagi dariku. Kau bahkan lebih cantik lagi saat tersipu malu," ucapnya sambil mengangkat dagu Nayyara agar memandang ke arahnya.


Sontak hal itu makin membuat Nayyara semakin tersipu malu. "Kau ingin merayuku seharian atau segera pergi bekerja?."

__ADS_1


Albert kembali tertawa mendengar kalimat Nayyara yang mengandung sindiran halus baginya. "Baiklah, aku akan pergi ke kantor sekarang. Kau jaga diri baik-baik dirumah dan jangan bertindak bodoh lagi seperti kemarin. Jika semua sudah siap, aku akan segera memberitahumu kapan kita akan pergi berlibur."


Nayyara mencebik kesal karena Albert terus saja mengingatkannya pada tindakannya yang ingin mencoba mengakhiri hidup kemarin. "Kau tenang saja. Aku tidak akan pernah melakukan hal itu lagi."


__ADS_2