
Setelah bicara panjang lebar dengan Arfa dan saling bertukar pikiran, Albert tak bisa memejamkan mata lagi. Ia pun meraih ponselnya untuk memeriksa apakah ada panggilan yang masuk.
Alangkah terkejutnya saat ia membuka handphone. Terdapat dua puluh panggilan tak terjawab dari bik Inah. "Ya Tuhan, kenapa bisa sebanyak ini?." Ia lupa jika sejak dari rumah sakit, ia sengaja mematikan ponselnya karena tak ingin diganggu.
"Apa bik Inah menelponku karena ingin mengabarkan kalau Nayyara sekarang sudah sadar? Atau jangan-jangan terjadi sesuatu padanya?."
Albert pun memencet nomor bik Inah dan mencoba untuk menghubunginya kembali. Namun hingga panggilan ke lima bik Inah belum juga mengangkatnya.
"Ada apa ini? Kenapa bik Inah tak juga mengangkat teleponku? Apa keadaan disana sangat mengkhawatirkan?," gumamnya pelan. Sontak hatinya pun dipenuhi dsangan kecemasan.
Tak ingin hanya berandai-andai, Albert mengganti pakaiannya, menyambar kunci mobil yang tergeletak diatas nakas, lalu bergegas keluar kamar.
Melihat sahabatnya hendak pergi dengan terburu-buru, Arfa yang belum juga pulang dari rumah Albert langsung menghentikannya dan bertanya, "Kau mau kemana, Al? Kenapa buru-buru gitu?."
Sontak Albert menghentikan langkah dan menghadap sahabatnya. "Aku harus pergi kerumah sakit sekarang, Fa. Bik Inah berulangkali mencoba untuk menghubungiku. Aku takut terjadi sesuatu pada Nayyara."
"Tapi ini masih terlalu malam, Al. Tunggulah sampai besok pagi"
Mendengar saran sahabatnya, Albert yang terlanjur panik tak mengindahkannya. "Tidak, Fa. Aku harus pergi kesana sekarang juga. Kalau terjadi sesuatu pada Nayyara dan aku tak ada di sana tepat waktu, maka aku tidak akan memaafkan diriku sendiri."
Arfa menghela nafas berat. Ia tahu sahabatnya itu tak akan mendengarkannya jika sudah panik. Dan jika sudah begini, mau tak mau ia harus ikut agar Albert tak membahayakan dirinya sendiri di jalan. "Baiklah, kita ke rumah sakit sekarang! Aku akan ikut denganmu juga."
Albert mengangguk, mengizinkan sahabatnya untuk ikut. Lagipula saat ini ia butuh teman untuk bisa mengurangi kepanikannya.
Tanpa berganti pakaian, Arfa mengikuti langkah sahabatnya menuju garasi mobil.
"Berikan kuncinya padaku. Biar aku yang menyetir. Kau sedang panik, aku tak ingin kita celaka gara-gara kau tak bisa fokus saat menyetir" ucap Arfa saat Albert hendak duduk di belakang kemudi.
__ADS_1
Tanpa banyak kata Albert melemparkan kunci itu pada sahabatnya, berjalan memutari mobil dan duduk di kursi penumpang.
Arfa menghempaskan tubuh di kursi pengemudi, menghidupkan mesin mobil, dan segera melajukannya menuju rumah sakit tempat dimana Nayyara di rawat sekarang.
Sepanjang perjalanan Albert terus memaksa Arfa agar menambah kecepatan mobilnya karena khawatir. "Fa, tambah lagi kecepatannya. Kita harus segera tiba di rumah sakit. Hatiku tak tenang kalau belum melihat Nayyara secara langsung."
"Sabar sedikit, al. Aku juga sedang berusaha agar kita bisa sampai disana secepatnya."
Arfa pun semakin menambah kecepatan mobilnya, namun Albert terus saja meminta agar ia terus menambah kecepatannya lagi. "Bisa lebih cepat lagi tidak? Jalanmu ini lebih lambat dari pada siput."
Terus menerus dipaksa agar menambah kecepatan, lama-lama Arfa pun merasa kesal. Padahal dia sudah berusaha keras agar mereka bisa segera tiba disana. Sontak ia pun menghentikan mobil di tepi jalan.
Melihat Arfa malah menghentikan mobil, Albert pun marah. "Kenapa kau malah menghentikan mobilnya? Kalau kau tak bisa menyetir, biar aku yang menyetir!" sentaknya, berusaha merebut stir mobil.
Melihat hal itu, Arfa langsung menepis tangan sahabatnya dan balas memarahinya. "Memangnya kau ingin kita celaka? Aku sudah membawa mobil ini dengan kecepatan maksimal!" bentaknya sedikit lebih tinggi. "Sudah, diam! Lebih baik kau duduk tenang disitu dan biarkan aku fokus menyetir."
Albert tak bisa berbuat apa-apa lagi selain menuruti perkataan sahabatnya dengan duduk diam di kursi.
Meski sudah terlihat tenang, namun sebenarnya hati Albert masih diliputi dengan perasaan was-was sebelum ia bisa melihat keadaan Nayyara dengan mata kepalanya sendiri.
Berulangkali ia menghela nafas berat lalu melempar pandangan ke kaca samping mobil untuk mengurangi beban berat di hatinya itu.
Melihat tingkah sahabatrnya, Arfa ikut menghela nafas juga, mengerti apa yang sedang dirasakannya saat ini.
Tak berselang lama, mereka pun tiba di rumah sakit juga. Albert langsung berlari masuk ke dalam meninggalkan sahabatnya di belakang begitu Arfa memarkirkan mobil.
Arfa hanya bisa menghela nafas sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan sahabatnya itu. Tak ada pilihan lain selain berlari mengejarnya.
__ADS_1
Setibanya di depan ruangan Nayyara, Albert langsung masuk begitu saja.
Brakkkk
"Bagaimana keadaan Nayyara, bik?" tanyanya dengan nafas terengah-engah.
Bik Inah yang baru saja memejamkan mata tergeragap dan terbangun dari tidur lelapnya. Apalagi saat itu matahari belum menampakkan sinarnya.
"Tu...tuan Albert" ucapnya terbata-bata saat pandangan mereka saling beradu. Sontak ia pun bangkit dari duduknya dan membungkuk memberi hormat.
Albert mengangguk sekilas sebagai tanda menerima penghormatan darinya, melangkah mendekat dan mengulang kembali pertanyaannya tadi. "Bagaimana keadaan Nayyara, bik?."
"Nona Nayyara sudah sadar sejak kemarin sore, tuan. Saya sudah berulang kali mencoba untuk menghubungi tapi tuan tidak mengangkatnya."
Albert menghela nafas pelan. "Maaf, bik, aku lupa kalau setelah dari rumah sakit kemarin aku sengaja mematikan ponselku," ucapnya. "Lalu kenapa tadi saat aku telepon balik ponsel bibik malah tidak aktif? padahal aku sudah berkali-kali menelpon."
"Maaf, tuan, handphone saya kehabisan baterai. Lupa tidak bawa charger," jawab bik Inah sambil garuk-garuk kepalanya yang tak gatal.
Albert kembali menghela nafas. "Ya sudah tidak apa-apa. Sekarang katakan bagaimana keadaan nayyara!."
"Nona Nayyara masih menolak untuk makan, tuan. Tatapan matanya juga kosong. Bahkan tadi dia berulangkali mencoba untuk menyakiti dirinya sendiri. Terpaksa dokter menyuntikkan obat penenang agar dia bisa beristirahat dengan tenang."
Albert kembali menghembuskan nafas berat untuk yang kesekian kali. "Terimakasih sudah membantuku menjaga Nayyara dengan baik, bik," ucapnya tulus.
"Jangan berterimakasih begitu, tuan. Itu sudah menjadi tugas saya."
Berjalan menghampiri Nayyara yang tengah tergolek lemah diatas ranjang. Hati Albert kembali teriris saat melihat pergelangan tangan Nayyara yang tertutup kain perban akibat tindakannya yang mencoba untuk mengakhiri hidupnya sendiri dengan cara memotong nadi di pergelangan tangannya kemarin.
__ADS_1
"Kenapa kau bisa bertindak sebodoh itu, Nay. Bagaimana jika kemarin aku tak menemukanmu?" gumamnya lirih.
Sementara Arfa yang baru saja masuk ke dalam ruangan, melihat wajah Albert yang kembali sedih, berjalan mendekatinya dan menepuk bahu sahabatnya pelan. "Jangan patah semangat, Al. Tunjukkan padanya ketulusan cintamu. Aku yakin suatu saat Nayyara pasti membuka hatinya untukmu juga."