
Albert sangat cemas saat mengetahui bik Inah berulangkali mencoba untuk menghubunginya saat membuka ponsel. Tanpa berpikir panjang ia pun bergegas pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Nayyara.
Bersama dengan Arfa, sahabatnya yang bertindak mengemudikan mobil, Albert langsung masuk ke dalam ruangan Nayyara begitu mereka tiba di sana.
Mendengar laporan bik Inah yang mengatakan bahwa Nayyara berulangkali mencoba untuk menyakiti diri sendiri hingga terpaksa dokter menyuntikkan obat penenang, hati Albert terasa kembali teriris. Apalagi saat ia melihat pergelangan tangan Nayyara yang tertutup kain perban akibat tindakan bodohnya yang mencoba untuk mengakhiri hidup kemarin.
"Kenapa kau bertindak sebodoh ini, Nay? Bagaimana jika kemarin aku tak menemukanmu?" gumamnya lirih.
Arfa yang baru saja menyusul ke dalam, melihat wajah Albert yang diselimuti awan duka, berjalan mendekat dan menepuk bahunya pelan. "Jangan patah semangat, Al. Berjuanglah demi cintamu. Tunjukkan ketulusan cintamu padanya. Aku yakin suatu hari nanti Nayyara pasti menyadari besarnya rasa cintamu dan membalas perasaanmu juga."
Albert mengangguk pelan. "Iya, Fa, aku akan terus berusaha. Terimakasih banyak karena terus berada disampingku dan menyemangatiku." Sebuah senyuman muncul di wajahnya.
"Tentu saja! Kita ini kan sahabat. Kalau aku berada di posisimu, aku yakin kau pasti akan melakukan hal yang sama juga."
"Hari masih terlalu pagi. Lebih baik sekarang kau beristirahatlah dulu disana. Biarkan Nayyara beristirahat dengan tenang. Aku akan pergi sebentar untuk membeli minuman dan beberapa makanan," imbuhnya lagi. "Apa kau juga ingin aku belikan sesuatu?."
"Segelas kopi untuk mengawali hari sepertinya tidak buruk"
"Ok! Aku akan bawakan kopi juga untukmu. Kalau begitu aku pergi dulu!."
Albert mengangguk, dan Arfa pun berlalu.
Sepeninggal Arfa dari ruangan, Albert beralih menghampiri bik Inah. " Sebaiknya sekarang bibik pulang dan beristirahat di rumah. Bibik pasti sangat lelah kan!."
"Tidak, tuan. Bibik tidak apa-apa," tolak bik Inah. Tak tega meninggalkan tuan-nya dalam keadaan seperti ini.
Mendengar penolakan dari bik Inah, Albert sedikit emosi. "Jangan membantah dan pulang sekarang juga!. Ini perintah! dan saya paling tidak suka jika perintah saya dibantah."
Bik Inah menundukkan kepala dan mendesah pelan. "Baiklah, tuan. Bibik pulang ke rumah sekarang juga." Ia pun lalu berlalu meninggalkan ruangan.
Albert mengerti jika bik Inah hanya mengkhawatirkannya saja. Namun ia tak ingin bik Inah kelelahan dan jatuh sakit karena tak bisa beristirahat dengan baik.
__ADS_1
Berjalan menuju sofa yang berada tak jauh darinya dan menurunkan bobot tubuh diatasnya. Albert mencoba untuk mengistirahatkan tubuh barang sejenak.
Namun saat ia baru memejamkan mata, tiba-tiba terdengar suara erangan Nayyara. Sontak ia pun bangkit dan menghampirinya. "Ada apa, Nay? Apa ada yang sakit? Atau kau ingin aku panggilkan dokter?" tanyanya dengan wajah penuh kekhawatiran.
Melihat siapa yang mendekatinya, sontak Nayyara berteriak marah. "Pergi kau dari sini. Tinggalkan aku sendiri!"
Albert sedikit terkejut mendengar bentakannya. Namun dengan segera ia menguasai diri kembali. "Maaf, aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian. Apalagi dalam keadaan seperti ini"
"Jangan mencoba untuk mengasihani diriku. Aku tidak butuh simpati palsu darimu."
"Aku tidak mencoba untuk mengasihanimu karena aku tahu kau wanita yang tangguh."
Nayyara menarik sudut bibir, menyunggingkan senyuman sinis. "Kau mengasihaniku hanya karena merasa bersalah saja kan?" ucapnya. "Meski sekeras apapun kau berusaha untuk memperbaiki keadaan, tetap saja itu tak kan merubah kenyataan bahwa diriku telah kotor. Dan semua itu terjadi karenamu. Sampai mati pun aku tidak akan pernah memaafkan kesalahanmu."
"Aku memang bersalah. Dan aku tahu jika kesalahanku tidak akan termaafkan."
Sejenak mereka saling diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Hingga tak lama kemudian Nayyara mulai membuka suara memecah kebisuan mereka.
"Kenapa kau menyelamatkanku kemarin. Harusnya kau biarkan saja aku tiada," ucapnya lirih. Terlihat lelehan air mata dari kedua matanya.
Hati Albert terasa sangat sakit melihat wanita yang dicintainya meneteskan air mata kesedihan. Ingin rasanya ia menghapus kesedihan itu dan menggantinya dengan semua kebahagiaan di dunia.
"Tapi kenapa? Bukankah aku hanya sebuah barang yang kau beli," ucap Nayyara kembali. Menatap Albert dengan penuh kepiluan.
"Bagiku kau lebih dari sebuah barang yang aku beli. Kau sangat berarti bagiku."
Mendengar jawaban Albert, Nayyara menyatukan kedua alis bingung. "Apa maksudmu berkata seperti itu?" tanyanya cepat.
"Bukan apa-apa. Lupakan saja perkataanku tadi. Anggap saja kau tak pernah mendengarnya."
Albert sengaja menyembunyikan perasaannya dari Nayyara karena berpikir ini bukan saat yang tepat untuk mengatakannya.
__ADS_1
"Sekarang katakan, kenapa kau bertindak bodoh dengan mencoba mengakhiri hidupmu sendiri?" imbuhnya.
"Untuk apa lagi aku hidup. Semuanya sudah hancur. Hidupku sudah tidak berarti lagi."
"Siapa bilang hidupmu tidak berarti? Kau hanya belum menyadarinya," jawab Albert dengan suara agak meninggi. "Jika kau tak lagi menghargai hidupmu sendiri tidak apa. Tapi setidaknya pikirkan perasaan orang yang ada disekitarmu. Bagaimana perasaan mereka kalau tahu kau seperti ini?."
"Aku bahkan tidak punya siapa-siapa yang akan mengkhawatirkanku. Lalu untuk apa lagi aku hidup" ucap Nayyara datar.
Mendengar ucapan Nayyara yang terus tak menghargai hidupnya, lama-lama Albert tersulut amarah. "Siapa bilang tidak ada yang mengkhawatirkanmu lagi? bagaimana jika aku katakan bahwa akulah orang yang paling mengkhawatirkanmu."
Mendengar ucapan Albert, Nayyara kembali menyunggingkan senyuman sinis. "Kau? mengkhawatirkanku? untuk apa? Bukankah aku hanya sebuah barang yang bisa kau buang dan kau beli dengan sesuka hati?."
Albert semakin marah mendengar perkataan Nayyara. "Sudah aku bilang, jangan pernah berkata bahwa kau tidak berarti lagi. Kau bahkan sangat sangat berarti bagiku."
"Tapi kenapa?" tanya Nayyara cepat. Menuntut penjelasan dari Albert.
"Karena aku sangat mencintaimu." Pernyataan cinta itu akhirnya meluncur dengan bebas dari bibir Albert. Ia terpaksa mengatakannya agar Nayyara berhenti menganggap dirinya tidak berarti.
Nayyara tertegun mendengar ungkapan cinta Albert. "A....pa? Kau bilang kau mencintaiku?" tanyanya dengan terbata-bata.
"Ya! Dan bahkan aku sudah mencintaimu jauh sebelum kau menikah dengan Aaron." Albert sudah terlanjur mengatakan perasaanya. Ia pun memutuskan untuk tak menyembunyikan apa-apa lagi.
Nayyara sangat syok mendengar pengakuan cinta dari Albert. Namun bukannya meleleh dan senang, Nayyara justru semakin marah padanya.
"Jangan coba-coba untuk mempermainkan perasaanku lagi. Aku tidak akan pernah tertipu oleh kata-kata manismu."
"Aku tidak sedang mempermainkan perasaanmu. Aku benar-benar mengatakan yang sebenarnya."
Mendengar hal itu nayyara semakin marah. "Sudah aku bilang, jangan permainkan perasaanku! sekarang pergi dari ruangan ini, tinggalkan aku sendiri."
"Ta....tapi, Nay....:
__ADS_1
"Aku bilang pergi!!! teriak Nayyara makin histeris. Ia pun melemparkan semua barang yang ada di dekatnya pada Albert
Tak ingin membuat Nayyara semakin histeris, Albert memilih untuk mengalah dan pergi meninggalkannya sendirian. Ia tahu saat ini Nayyara masih syok dan belum bisa menerima pengakuan cintanya.