
Singkat cerita, Albert membawa Nayyara ke kantornya. Namun sebelum itu ia menyuruh Nayyara untuk menyamar agar Aaron tidak bisa mengenali dirinya sehingga dia bisa membuktikannya sendiri.
Tanpa banyak kata, Nayyara menyetujui permintaan kecil itu karena sangat percaya pada suaminya.
Berjalan menuju ruangan Albert yang berada di lantai paling atas gedung ini. Seorang sekretaris menyambut kedatangannya dan mengatakan bahwa Aaron telah menunggunya di dalam.
"Kau dengar sendiri kan apa kata sekretarisku tadi? Suamimu sudah menungguku di dalam," ucap Albert tersenyum miring. "Dia bahkan sudah tidak sabar untuk mendapatkan apa yang aku janjikan."
Nayyara tak menghiraukan ucapan Albert dan memilih untuk membuang wajah. "Ini tidak bisa membuktikan apa-apa. Bisa saja kau memang sudah mengatur semuanya."
"Oh ya? Kalau gitu mari kita buktikan sama-sama," tantang Albert.
Berjalan memasuki ruangan lalu menghempaskan tubuh di kursi kebesarannya. Albert sengaja membiarkan pintu terbuka agar Nayyara bisa melihat apa yang terjadi di dalam.
Melihat kedatangan Albert, Aaron bangkit dari tempat duduk lalu sedikit membungkukkan badan memberi hormat. "Selamat pagi, tuan. Bagaimana malam anda kemarin?" tanyanya berbasa-basi.
"Cukup bagus!" jawab Albert singkat. "Silahkan duduk!."
Aaron kembali menghempaskan tubuh di atas kursi yang di dudukinya tadi. Dahinya terlihat mengeluarkan keringat dingin lantaran gugup berada dalam satu ruangan bersama salah seorang paling berpengaruh di negeri ini.
Albert terlihat lebih santai, menyandarkan punggung disandaran kursi dan menumpukkan kaki satu sama lain. Namun wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi.
Sementara itu, Nayyara yang sedang memperhatikan dari luar, jantungnya terasa berdetak lebih kencang dari biasanya menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. "Ya Tuhan, semoga apa yang di katakan Albert tidak benar. Semoga ini hanya jebakannya saja," ucapnya penuh harap.
Aaron terlihat tak ingin membuang-buang waktu dan memilih untuk mulai membuka percakapan lebih dulu. "Jadi bagaimana, tuan? Apa sekarang hutang-hutang saya sudah lunas?," ucapnya tak sabaran langsung pada pokok pembicaraan.
Albert tak menjawab pertanyaan Aaron dan malah mengambil sebuah dokumen diantara tumpukan berkas yang ada di hadapannya. Membuka dokumen itu sekilas lalu membubuhkan tandatangan diatasnya.
"Ini dokumen yang menunjukkan bahwa semua hutang-hutangmu telah lunas" ucapnya sambil menyodorkan berkas itu ke hadapan Aaron. "Silahkah kau baca!."
__ADS_1
Aaron mengambil berkas itu dan membacanya dengan seksama. Terlihat senyum bahagia mengembang di sudut bibirnya. "Terimakasih banyak, tuan. Saya sangat senang melihatnya."
Aaron menutup kembali dokumen itu dan menyimpannya dengan baik di balik jasnya. "Sekarang kapan saya bisa mendapatkan salah satu perusahaan milik tuan?" tanyanya kemudian.
"Apa? perusahaanku? Kapan aku menjanjikan hal itu?" tanya balik Albert. Ia sengaja mengatakan itu untuk memancing emosi Aaron agar ia bisa membuktikan pada Nayyara bahwa apa yang dikatakannya tadi memang benar. Sudut matanya terlihat melirik ke arah Nayyara yang berada di luar.
Mendengar Albert menyangkal janjinya sendiri, Aaron langsung tersulut amarah. "Jangan bercanda, tuan! Bukankah tuan sendiri yang menjanjikan akan memberiku salah satu perusahaan milik tuan kalau saya bersedia menyerahkan istri saya pada anda?."
Gotcha.....Albert bersorak dalam hati. Ternyata tak sulit membuat Aaron masuk dalam jebakannya. Sudut bibirnya tertarik ke tepi menyunggingkan senyuman miring.
Sementara itu, Nayyara yang sedari tadi mengawasi dari luar, begitu mendengar sendiri ucapan suaminya, jantungnya serasa berhenti berdetak seketika.
Degg......
"Apa? Jadi yang apa yang Albert katakan memang benar. Mas Aaron telah tega menjualku hanya demi secuil harta," ucapnya dengan bibir bergetar. Setetes air mata jatuh di pelupuk matanya. "Kenapa Mas Aaron setega ini padaku? Apa kesalahanku?."
Nayyara menyeka lelehan air matanya kembali dan bergegas masuk ke dalam.
Sebuah tamparan keras ia layangkan ke wajah suaminya.
"Tega kamu Mas! Ternyata apa yang dikatakan oleh Albert memang benar. Kau telah menjualku demi secuil harta," teriaknya emosional. Sontak ke dua lelaki dalam ruangan itu bangkit dari tempat duduknya.
Albert segera menyingkir ke tepi dan membiarkan Nayyara meluapkan emosinya. Sudut bibirnya menyunggingkan senyum kemenangan.
Sementara Aaron yang tak menduga akan kedatangan Nayyara pun gugup seketika. "Nayyara, ka....kau ada disini?" tanyanya gugup. Diusapnya pipinya yang terasa panas akibat terkena tamparan istrinya.
"Kenapa? terkejut?" tanya Nayyara sinis. "Siapa yang memberimu hak untuk menjualku pada pria lain."
Aaron semakin gugup mendengar pertanyaan istrinya. "A. ...aku bisa jelaskan semuanya, Nay," ucapnya gugup.
__ADS_1
"Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi, Mas," bentak Nayyara. "Semuanya sudah sangat jelas bagiku."
"Ta....tapi, Nay...." Aaron melangkah hendak menyentuh istrinya, namun dengan cepat Nayyara menepis tangannya. "Jangan berani menyentuhku lagi, Mas. Kau sudah tidak memiliki hak itu lagi. Lagipula bukankah kau sudah menyerahkanku pada tuan Albert?."
Aaron terdiam, tak dapat membantah ucapan Nayyara. Di tariknya kembali tangannya yang mengambang di udara. "Maafkan aku, Nay. Aku terpaksa," ucapnya dengan kepala tertunduk.
"Apapun alasanmu, tidak sepatutnya kau menyerahkan istrimu pada pria lain. Apalagi hanya demi secuil harta."
Aaron tetap diam, tak mampu menjawab perkataan istrinya.
"Orang bilang, suami adalah tempat berlindung istri, tempat untuk mencurahkan semua keluh kesah, tapi ini apa?," teriaknya emosional.
"Maafkan aku, Nay. Apa yang aku lakukan memang salah dan tak termaafkan. Tapi percayalah, aku sangat mencintaimu," ucap Aaron lirih. Setetes air mata jatuh di pipi.
"Cinta? Kau bilang kau mencintaiku? Cinta macam apa yang kau maksudkan itu?." Emosi Nayyara makin tak terkendali. Nafasnya terlihat begitu memburu akibat emosi. Tak terhitung lagi deraian air mata yang tertumpah.
Aaron tetap diam, tak bisa berbuat apa-apa atau bahkan mengucap sesuatu.
Melihat situasi yang semakin tak terkendali, Albert segera menghentikan perdebatan antara sepasang suami istri di depannya itu. "Apa belum cukup perdebatan kalian? jika belum ,silahkan mencari tempat lain. Ini kantorku, ruanganku, bukan arena tinju."
Mendengar ucapan Albert yang mengandung sindiran halus, Nayyara segera menghapus air matanya. "Maaf, tidak seharusnya aku berada di sini. Silahkan lanjutkan lagi pembicaraan kalian."
"Dan kau Mas!" menatap tajam ke arah suaminya. "Aku sangat membencimu. Sampai mati pun aku tidak akan pernah memaafkan perbuatanmu ini."
Usai mengatakan itu, Nayyara langsung berlari keluar ruangan dengan mata bercucuran air mata.
Aaron jatuh terduduk diatas lantai. Tubuhnya serasa lemas seketika mendengar kata-kata terakhir istrinya. "Maafkan aku, Nay. Kesalahanku memang sangatlah besar," ucapnya lirih.
"Kau memang benar, Nay, aku memang tidak pantas untuk mendapatkan maafmu. Tapi andai kau masih bersedia memaafkanku, maka aku tidak akan melakukan kesalahan ini lagi. Beri aku satu kesempatan lagi untuk memperbaiki semuanya."
__ADS_1
Aaron menyeka kembali air matanya dan bangkit menghampiri Albert. "Maaf, tuan. Tapi sepertinya kesepakatan kita tadi batal. Aku akan segera mengembalikan semua uangmu. Tapi sebagai gantinya, kembalikan istriku padaku," ucapnya sambil menyerahkan kembali dokumen yang sudah ditandatangani oleh Albert tadi.