
Malam itu, Nayyara benar-benar menjadi pusat perhatian. Penampilannya yang memukau ditambah dengan kecantikan yang ia miliki, membuat semua mata yang hadir di pesta itu mengalihkan pandangannya padanya. Apalagi seharian penuh ia telah melakukan perawatan wajah dan tubuh sehingga kecantikannya itu semakin bertambah berkali-kali lipat.
Semua mata berdecak kagum memuji kecantikannya, tak terkecuali sepasang mata milik Albert yang sejak Nayyara masuk ke dalam tempat pesta, tak mengalihkan pandangan sedikitpun darinya. "Cantik!" satu kata itulah yang meluncur bebas dari bibirnya begitu ia melihat wanita yang beberapa saat lagi akan jatuh kedalam pelukannya.
Albert berjalan mendekati sepasang suami istri yang berhasil menyita perhatian semua tamu undangan bermaksud untuk menyambut kedatangannya. Namun dibalik semua itu ada sebuah maksud terselubung. "Selamat datang di pestaku, Aaron. Terimakasih karena sudah berkenan untuk hadir," ucapnya pada Aaron, namun pandangannya terus tertuju pada sosok cantik di sebelahnya.
Terus menerus ditatap seperti itu oleh pria lain, lama-lama Nayyara merasa risih. Apalagi ia melihat ada yang lain dibalik sorot mata itu. Ia pun menyembunyikan diri di balik punggung suaminya bermaksud untuk menghindari tatapan itu.
Melihat pergerakan Nayyara yang bersembunyi di balik punggung suaminya, Albert menyunggingkan senyuman tipis. "Maaf, Nona, apa anda merasa tidak nyaman dengan kehadiran saya?," tanyanya dengan senyum menawan.
Bagi orang lain, senyuman sang tuan besar itu terlihat biasa-biasa saja, dan merupakan bentuk dari keramahtamahan sang tuan rumah. Namun bagi Aaron, senyuman itu mengandung sebuah arti yang cukup mengerikan baginya. Ia pun melangkah kesamping dan menarik tangan istrinya lalu memperkenalkannya pada Albert.
"Maaf, tuan, perkenalkan, ini istri saya, namanya Nayyara" ucapnya memperkenalkan istrinya pada Albert. Lalu ia balik memperkenalkan Albert pada Nayyara. "Nay, perkenalkan, ini tuan Albert, pemilik raksasa bisnis di kota ini sekaligus yang punya pesta ini."
Albert tersenyum kembali mendengar perkenalan singkat dari Aaron. Kemudian ia mengulurkan tangan ke hadapan Nayyara bermaksud untuk mengajaknya bersalaman.
Nayyara hanya diam menunduk dan membiarkan tangan itu menggantung di udara. Terlihat sangat jika ia enggan untuk menerima uluran tangan itu.
Albert merasa sedikit tersinggung dengan sikap yang ditunjukkan oleh Nayyara. Baru kali ini ada orang yang berani menolak jabat tangannya. Padahal banyak wanita yang berlomba-lomba menarik perhatiannya demi untuk bisa dekat dengannya.
"Ternyata dia wanita yang cukup angkuh juga. Tapi tidak apa, justru itu membuatku semakin tertantang untuk menaklukkannya," ucapnya dalam hati.
"Apa anda tidak ingin berkenalan dengan saya, Nona?" tanyanya pada Nayyara dengan senyuman yang tak pernah lepas dari bibirnya. Perlahan tangannya pun turun kembali. "Kalau anda tidak mau, tidak apa!."
__ADS_1
Mendengar ucapan Albert, Aaron gemetar ketakutan. "Maafkan istri saya, tuan. Dia memang agak pemalu," ucapnya dengan senyum takut-takut.
"Tidak masalah! Kalau begitu saya permisi dulu. Maaf karena sudah mengganggu kalian." Berniat melangkah menjauh namun segera dihentikan oleh Aaron. "Maafkan kami, tuan. Kami tidak bermaksud untuk menyinggung anda."
Ia langsung menyenggol tubuh istrinya dan berbisik pelan di telinganya. "Ayo ulurkan tanganmu dan ajak tuan Albert berkenalan. Jangan sampai gara-gara sikap angkuhmu ini tuan Albert merasa tersinggung dan marah. Kau pasti tidak ingin karirku hancur karena kemarahannya kan!."
Bukan maksud Nayyara untuk bersikap angkuh apalagi sombong. Ia hanya merasa risih bersalaman dengan pria lain. Apalagi dia adalah seorang wanita yang pemalu. Namun mendengar ancaman suaminya, mau tak mau ia pun mengulurkan tangan. "Maafkan sikap saya tadi, tuan. Saya Nayyara, istri Mas Aaron."
Albert tersenyum penuh kemenangan melihat sikap Nayyara yang berubah menjadi kucing penurut setelah mendapat sedikit gertakan darinya. Dengan senang hati ia pun menerima uluran tangan itu. "Tidak masalah, Nona. Saya cukup mengerti!" ucapnya. Lalu sebuah kecupan singkat ia daratkan di punggung tangan wanita cantik yang berdiri di hadapannya.
Mata Nayyara membeliak seketika, tak menyangka bahwa Albert akan mencium tangannya di hadapan suaminya. Ia pun segera menarik tangannya kembali. "Maaf, tuan!" ucapnya singkat lalu kembali bersembunyi di balik punggung suaminya.
Albert kembali tersenyum melihat Nayyara yang jadi salah tingkah setelah dia mengecup tangannya tadi. Padahal suaminya sendiri terlihat biasa saja mengetahui hal itu. Karena semua ini memang bagian dari rencana mereka.
"Kalau begitu saya permisi dulu. Saya mau menemui para tamu undangan yang lain. Silahkan menikmati pesta ini," ucapnya lalu berlalu pergi.
Berjalan menuju meja berisikan jejeran aneka minuman yang tertata rapi. Memastikan tidak ada yang melihat, ia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan menaburkannya ke salah satu minuman. Lalu ia pun melambaikan tangan untuk memanggil seorang pelayan.
Seorang pelayan terlihat berjalan mendekatinya. "Maaf, tuan, apa ada yang bisa saya bantu?" tanyanya sopan.
"Tolong berikan minuman ini pada wanita berbaju biru yang berdiri di sana," menunjuk ke arah Nayyara. "Pastikan dia meminum minuman ini. Tapi ingat, jangan sampai membuatnya curiga."
Pelayan menganggukkan kepala lalu berlalu menghampiri Nayyara. Sementara itu Albert segera mengirim sebuah pesan singkat pada Aaron yang berisikan agar memastikan Nayyara meminum minuman yang dibawa oleh pelayan suruhannya.
__ADS_1
Aaron membaca pesan singkat yang dikirim oleh Albert tadi. Menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku lalu mengedarkan pandangan mencari keberadaan Albert. Dan setelah pandangan mereka saling beradu, ia menganggukkan kepala sebagai isyarat mengerti akan rencananya.
Sementara itu, Nayyara terlihat bernafas lega begitu Albert berlalu meninggalkan mereka berdua. Namun hatinya kembali tak tenang saat mengetahui jika pandangan Albert belum juga beranjak darinya.
"Mas, kita pulang sekarang yuk! Aku merasa kurang nyaman berlama-lama berada di pesta ini," bisiknya pelan sambil menyenggol lengan suaminya pelan.
Aaron tersentak, terkejut dengan sentuhan istrinya. Karena saat itu bertepatan dengan ia memberi kode pada Albert. "Kau bilang apa tadi?" tanyanya karena tak begitu mendengar ucapan istrinya tadi.
Nayyara menghela nafas, sedikit kesal dengan suaminya yang sedari tadi terus mengabaikannya. Padahal dia sendiri yang bersikeras untuk mengajaknya ke pesta ini. "Tadi aku bilang, kita pulang aja sekarang. Aku kurang nyaman berada di pesta ini terlalu lama," terpaksa ia mengulang kembali perkataannya tadi.
Mendengar permintaan istrinya, Aaron semakin di buat terkejut. "Tidak, ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus mencari alasan agar Nayyara mau sedikit lebih lama lagi disini. Atau kalau tidak, semua rencana tuan Albert akan berantakan," gumamnya dalam hati.
"Sebaiknya jangan dulu, Nay. Kita baru saja tiba di pesta ini. Nggak enak kalau kita langsung pulang begitu saja. Apalagi acara intinya juga belum dimulai." Hanya itu alasan yang terlintas di pikirannya saat ini.
"Tapi, Mas, aku...."
Sebelum Nayyara sempat menyelesaikan ucapannya, pelayan suruhan Albert tadi datang mendekat dan menyodorkan segelas minuman yang sudah di bubuhi sesuatu oleh Albert tadi padanya. "Silahkan ambil minumannya, Nona!."
Aaron bernafas lega. Tanpa sadar kedatangan pelayan itu telah menyelamatkannya dari membuat alasan lain. Dengan sigap ia mengambil gelas tersebut dan menyerahkannya ke tangan Nayyara. "Nah, lebih baik sekarang kamu minum minuman ini dulu."
"Tapi, Mas...."
"Ayolah, Nay, minum minuman ini dulu. Setelah itu aku janji akan mengantarmu pulang."
__ADS_1
Nayyara terlihat ragu untuk meminum minuman itu. Namun mendengar janji yang diucapkan oleh suaminya, ia pun langsung meminun minuman itu hingga tandas tak bersisa. "Sudah, Mas! Yuk sekarang kita pulang."
Aaron mengangguk setuju. Namun baru beberapa langkah mereka melangkah, tiba-tiba.....