
Malam hari Albert berniat mengajak Nayyara makan malam romantis di taman hotel. Ia sengaja menyulapnya sedemikian rupa untuk menyenangkan hati Nayyara. Selain itu ia juga ingin membuat kejutan istimewa untuknya.
Dengan mengenakan setelan jas hitam serta dalaman kemeja warna putih yang dipadukan dengan celana bahan semi jeans yang membalut tubuhnya dengan sempurna, Albert terlihat sangat gagah dan menawan. Apalagi potongan rambutnya yang disisir belah samping serta sentuhan sedikit pomade membuat ketampanannya semakin bertambah berkali-kali lipat.
Setelah memastikan semua persiapan usai, Albert meminta seorang pengawalnya untuk menjemput Nayyara di kamarnya. Sementara ia sendiri bersembunyi di balik pepohonan menunggu saat yang tepat untuk muncul di hadapannya.
Sementara itu di dalam kamar, Nayyara terlihat masih kesal karena Albert telah mengabaikannya tadi. Bahkan setibanya di kamar Albert tak bicara sepatah katapun dan malah pergi meninggalkannya.
"Buat apa dia jauh-jauh mengajakku kemari kalau hanya untuk ditinggalkan sendirian di kamar seperti ini. Tahu gitu mending aku di rumah aja," ucapnya tersungut-sungut.
Tok tok tok....terdengar suara pintu di ketuk. Nayyara terlihat enggan menyahutinya apalagi membukanya.
"Ah, palingan itu hanya petugas hotel yang ingin mengantarkan makanan," gumamnya dalam hati. "Abaikan saja! Lagipula saat ini aku masih kesal. Malas rasanya mau makan."
Tok tok tok....kembali terdengar suara pintu di ketuk. Nayyara pun kembali mengabaikannya. Namun seseorang di luar sepertinya tak berhenti untuk mengetuk. Dengan terpaksa Nayyara pun membuka pintu. "Ada apa?" tanyanya ketus.
"Maaf, Nona! Tuan sedang menunggu anda untuk makan malam di taman," ucap orang tersebut yang merupakan anak buah Albert.
Nayyara melengos mendengar ucapan pengawal. " Aku tidak mau. Katakan saja kalau aku sedang tidak ingin makan," ucapnya ketus.
"Maaf, Nona! Tapi Tuan akan marah besar kalau anda menolak perintahnya. Sebab Tuan paling tidak suka jika perintahnya di bantah."
Semakin bertambah saja kekesalan di hati Nayyara mendengar ucapan pengawal itu. "Dasar tukang paksa! Seenaknya saja mengatur-atur orang. Memangnya dia siapa."
Pengawal itu hanya bisa tersenyum tipis melihat kekesalan Nayyara. "Maaf, Nona. Tuan Albert memang begitu orangnya. Saya mohon Nona mau ikut dengan saya, atau saya yang akan kena marah."
Nayyara mendengus kesal. "Ya udah, aku turun kebawah. Tunggu sebentar disitu. Aku mau ganti baju dulu," ucapnya sambil menghentakkan kaki. Lalu ia memutar tubuh dan menutup pintu.
__ADS_1
Pengawal itu hanya bisa menghela nafas sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah Nayyara.
Tak berselang lama pintu kembali terbuka dan menampakkan Nayyara yang sudah berganti pakaian di baliknya. " Aku sudah siap. Antarkan aku ke bawah sekarang."
Pengawal itu mengangguk patuh. "Mari. Nona, silahkan!" ucapnya.
Nayyara pun melangkahkan kaki tanpa merasa curiga sedikitpun diikuti oleh pengawal di belakangnya. Namun setibanya di bawah, seorang wanita yang merupakan karyawan hotel memberikan sekumtum bunga mawar untuknya.
"Seperti bunga ini, anda terlihat sangat cantik, nona. Terimalah bunga ini," ucapnya seraya menyodorkan bunga itu ke hadapan Nayyara.
Nayyara tersenyum kecil mendengar pujiannya. "Terimakasih!" ucapnya, lalu menerima bunga tersebut dan mencium baunya. Seketika itu perasaan tenang pun hinggap di hatinya begitu mencium aromanya.
"Aroma bunga segar memang paling ampuh untuk mengembalikan mood seseorang" gumamnya pelan. Lalu ia pun kembali melangkahkan kaki.
Namun baru beberapa langkah, seseorang kembali menyodorkan bunga ke hadapannya sembari memujinya. Dan Nayyara pun menyinggingkan senyuman serta menerima bunga tersebut.
"Lho, kemana perginya pengawal tadi? Kok aku tidak menyadarinya" gumamnya dengan penuh kebingungan.
Nayyara pun lanjut melangkahkan kaki sendirian, hingga kini ia sampai di taman hotel.
Nayyara tercekat melihat pemandangan yang ada di depannya. Sepanjang jalan terdapat hamparan kelopak bunga mawar merah yang terlihat bagaikan karpet merah hingga menuju ke satu arah, yaitu tengah taman, dimana disana ada sebuah meja makan yang di tata sangat romantis..
Di tepi jalan dihiasi lilin-lilin kecil yang cahayanya terlihat sangat indah malam itu. Apalagi malam itu cuaca juga sedang cerah. Bulan tersenyum senang. bintang-bintang bertaburan memenuhi langit malam. Mereka seakan ikut mendukung makan malan romantis malam itu.
Hati Nayyara menghangat. Ia sangat tersentuh dengan kejutan yang Albert berikan. "Terimakasih banyak, Al. Ternyata ini alasanmu meninggalkanku sendirian di kamar tadi" ucapnya dengan senyum manis terlukis di wajah.
Ia pun melangkahkan kaki mengikuti hamparan kelopak mawar tersebut. Hingga kini ia pun berada di hadapan meja tersebut. Hatinya semakin tersentuh melihat betapa indahnya Albert mempersiapkan makan malam ini.
__ADS_1
"Terimakasih banyak, Al. Aku sangat menghargai semua usahamu ini" ucapnya tulus. "Tapi ngomong-ngomong Albert ada dimana? kenapa meja ini malah kosong?."
Nayyara pun menoleh ke kanan dan kiri, mencari keberadaan Albert. "Al, kau ada dimana? Aku sudah ada di sini sekarang," ucapnya setengah berteriak.
Tak terdengar suara apapun. Hanya desiran angin malam saja yang terdengar. Nayyara pun kembali mengulang panggilannya tadi. Namun tak juga terdengar sahutan dari pria yang dicari.
Lama kelamaan Nayyara pun kesal. Ia merasa Albert hanya ingin mempermainkannya saja. "Al, keluarlah sekarang juga. Ini semua tidak lucu" teriaknya kesal. "Jika dalam hitungam ketiga kau tak juga muncul, maka selamanya aku tidak akan pernah menemuimu lagi."
Perlahan Nayyara pun memulai hitungannya.
Satu.....
Dua.....
Tiga.....
Hingga pada hitungan ketiga Albert belum juga menampakkan diri sehingga kekesalan Nayyara yang sempat berkurang pun kembali tersulut. Air mata pun terlihat mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia pun berniat meninggal tempat tersebut. Namun tiba-tiba .....
"Nayyara Celine, maukah kau menikah denganku!."
Mendengar suara yang begitu familiar di telinga, sontak Nayyara membalikkan tubuh. Ia pun memekik tertahan sambil menutup mulutnya begitu melihat apa yang ada di hadapannya.
Di hadapannya, terlihat Albert sedang berlutut dengan kedua kaki. Tangannya memegang sebuah kotak kecil berisikan cincin berlian yang sangat indah.
Sesaat kemudian terdengar bunyi letusan kembang api. Lalu di langit muncul sebuah tulisan yang membuat Nayyara tak bisa berkata apa-apa lagi selain meneteskan air mata penuh keharuan. Dan tulisan itu adalah, 'WIll YOU MARRY ME'. Tertulis dengan sangat indah di atas sana.
Melihat Nayyara hanya diam saja, Albert mengulang kembali pertanyaannya. " Nayyara Celine, maukah kau menikah denganku? Menghabiskan sisa umurmu bersamaku? serta menjadi bagian dari hidupku yang tak sempurna ini?."
__ADS_1
Namun Nayyara tak juga menjawab lamaran Albert. Ia masih setia dengan kebungkamannya.