
Nayyara merasakan sesuatu yang aneh di hatinya saat Albert berhari-hari tak menemuinya. Sesuatu seperti perasaan yang hampa.
Berulangkali ia menengok ke arah pintu, berharap pintu itu kan terbuka dan menampakkan Albert di baliknya. Namun begitu pintu itu terbuka, yang datang hanyalah bik Inah yang membawakan makanan untuknya.
Nayyara tertunduk lesu, menolak untuk makan. "Tidak, bik, Aku tidak mau makan. Biarkan saja dia marah. Toh dia tidak peduli lagi denganku.
Namhn ternyata anggapan Nayyara salah besar. Terlihat Albert muncul di balik pintu. Rupanya sedari tadi ia berada disana dan mendengarkan pembicaraan mereka. "Siapa bilang aku tidak peduli lagi denganmu?."
Melihat siapa yang datang, sontak Nayyara turun dari ranjang dan hendak berhambur memeluknya. Namun dengan cepat Albert menghentikannya. "Berhenti disitu. Dasar gadis bodoh! Lihat tanganmu. Kau ingin tanganmu berdarah lagi?."
Nayyara pun menoleh ke pergelangan tangannya yang masih tertancap jarum infus lalu nyengir kuda. "Maaf, aku lupa!"
"Sekarang duduk kembali dan cepat makan. Atau aku akan pergi lagi dan tak kan menemuimu untuk selamanya."
"Dasar tukang paksa!" dengus Nayyara sedikit kesal. Namun meski begitu, ia tetap menuruti kata-kata Albert.
Albert beralih menatap bik Inah dan meminta kotak makanan yang di pegangya. "Berikan kotak makanannya padaku, bik. Biar aku yang menyuapinya." Lalu menghempaskan tubuh di kursi di samping ranjang Nayyara.
Mengambil sesendok makanan dan menyodorkannya ke hadapan Nayyara. "Buka mulutmu!" ucapnya datar.
Nayyara pun membuka mulut dan menerima suapan dari Albert. Kali ini ia tak membantah lagi.
Perlahan ia mengunyah lalu menelan makanan itu. Ia merasakan pancaran cinta yang begitu tulus dari tiap sendok makanan yang disuapkan ke mulutnya.
"Kenapa kau mencintaiku," tanyanya tiba-tiba.
Albert tertegun mendengar pertanyaan Nayyara. Namun ia segera menguasai diri kembali. "Aku tidak memerlukan sebuah alasan untuk bisa jatuh cinta padamu. Karena perasaan cinta muncul dari hati, bukan dari mata."
Hati Nayyara menghangat mendengar jawaban Albert. Baru kali ini ia merasakan ketulusan cinta seseorang. Bahkan saat masih bersama dengan suaminya dulu, ia tak pernah merasakan perasaan ini.
Terjadi sebuah pertentangan dalam diri Nayyara. Antara mengakui ketulusan cinta Albert atau menyangkalnya. Apalagi saat ini ia masih berstatus sebagai istri orang.
Albert kembali menyuapi Nayyara hingga kotak makanan itu habis tak bersisa. "Bagus! Sekarang minumlah obatmu" ucapnya sambil menyerahkan obat yang harus ia minum beserta segelas air putih.
Kembali Nayyara menurut begitu saja dengan perintah Albert. Mengambil obat tersebut dan langsung meminumnya.
__ADS_1
"Bagus! Sekarang beristirahatlah kembali. Aku mau pergi sebentar!" ucap Albert seraya bangkit dari tempat duduknya.
Greppp...Nayyara menggenggam tangan Albert seolah takut kehilangan. Pandangan matanya terlihat sendu. "Kau mau kemana? Kenapa kau mau meninggalkanku lagi? Bukankah tadi kau berjanji tidak akan pergi lagi kalau aku mau makan?."
Albert tersenyum teduh mendengar pertanyaan Nayyara. Dalam hati ia sangat gembira mengetahui Nayyara telah terikat dan takut kehilangannya.
"Jangan takut! Aku hanya pergi sebentar. Ada hal penting yang harus aku lakukan. Aku janji akan segera kembali begitu urusanku selesai."
"Janji??" ucap Nayyara meminta kepastian.
"Ya! Aku berjanji."
"Baiklah, kalau begitu kau boleh pergi," ucapnya sambil melepaskan genggamannya. "Cepat selesaikan urusanmu dan cepat kembali!."
Albert menganggukkan kepala lalu beralih menatap bik Inah. "Aku titip Nayyara sebentar, bik. Aku akan segera kembali."
"Baik, tuan. Saya akan menjaga non Nayyara selama tuan pergi."
Albert pun kembali menghilang di balik pintu.
...****************...
"Semua sudah beres! Aku sudah mengatur semuanya sesuai dengan apa yang kamu minta."
"Bagus! Semua sesuai dengan rencana kita. Aku ingin semua urusan selesai hari ini juga."
"Apa kau juga sudah memastikan Aaron menandatangani berkas itu?."
"Ya! Bahkan saat ini dia sedang menunggumu di kantor."
"Baiklah! kita pergi ke kantor sekarang!."
Mereka berdua pun masuk ke dalam mobil dengan Arfa yang bertindak sebagai sopir.
Melaju dengan kecepatan sedang. Albert terlihat tak sabar bertemu dengan rivalnya. Sesekali terlihat sebuah senyuman tersungging di bibir.
__ADS_1
Arfa menatap sahabatnya dari kaca spion depan. Ia ikut bahagia melihat senyum yang sempat hilang di wajah sang sahabat kini telah kembali.
Iseng ia pun bertanya, "Kelihatannya hari ini kau gembira sekali? Ada apa?" tanyanya sambil melirik ke arah kaca spion.
"Bagaimana aku tidak bahagia kalau melihat Nayyara seakan takut kehilanganku," jawab Albert dengan senyum terus mengembang di bibir. Kalau ada orang lain yang melihatnya, mungkin mereka akan menganggapnya sudah gila karena terus senyum-senyum sendiri.
"Benarkah?" tanya Arfa memastikan, yang di jawab dengan sebuah anggukan kepala oleh Albert.
"Baguslah kalau begitu. Aku ikut senang mendengarnya. Jadi aku nggak perlu lagi melihatmu menjadi sadboy gara-gara cinta."
"Sialan kamu" ucap Albert sambil menoyor lengan sahabatnya. " Tapi ini semua juga berkat dirimu. Kalau kamu nggak masuk dan menjelaskan pada Nayyara, mungkin saat ini dia masih marah denganku. Terimakasih banyak aku ucapkan atas semua bantuanmu padaku. "
Arfa tersenyum kecil mendengar ucapan terimakasih dari sahabatnya. "Jangan berterimakasih padaku seperti itu. Ini semua juga nggak akan terjadi kalau kamu nggak menunjukkan ketulusan cintamu padanya."
"Iya, untung kemarin kau mengingatkanku!."
Beberapa hari yang lalu setelah Arfa meninggalkan kamar Nayyara, ia bergegas mencari Albert.
"Jangan patah semangat, Al. Aku tahu kalau Nayyara belum bisa menerima pernyataan cintamu" ucapnya saat berhasil menemukan keberadaan sahabatnya.
Albert yang saat itu sedang merenung sendirian di bangku taman rumah sakit langsung mengalihkan pandangannya begitu mendengar suara sahabatnya.
"Darimana kau tahu kalau aku baru saja menyatakan cintaku pada Nayyara?."
Arfa tersenyum kecil mendengar pertanyaan sahabatnya lalu menghempaskan tubuh di sampingnya seraya berkata, " apa sih yang tidak aku ketahui darimu?" dengan mimik wajah lucu berniat menghibur hati sahabatnya.
"Aku bertanya serius, Fa. Jangan bercanda!" sentak Albert sedikit kesal.
"Siapa juga yang bercanda? Aku juga sedang berkata serius padamu."
"Baiklah, dengarkan aku! Barusan Nayyara sendiri yang mengatakannya padaku. Terlihat sebuah keraguan dari nada bicaranya."
"Lalu sekarang aku harus apa?" tanya Albert dengan wajah sendu.
"Kau ini bodoh sekali. Lama-lama aku bisa menjadi pakar cinta karena keseringan ngurusin asmaramu," cebik Arfa sedikit kesal. "Ini kisah cintamu. Kau sendiri yang harus memutuskan. Kalau kau yakin dengan keputusanmu, maka berjuanglah untuk itu."
__ADS_1
Albert diam, mencoba memikirkan kata-kata sahabatnya. Lalu tak berselang lama ia berkata. "Ajukan gugatan cerai Nayyara ke pengadilan agama sekarang juga. Aku ingin mereka berdua berpisah secepatnya."
Arfa tersenyum gembira melihat tekad sahabatnya telah kembali. "Secepatnya akan aku urus semuanya!."