Aku Bukan Jembatanmu

Aku Bukan Jembatanmu
Bab 9


__ADS_3

Albert segera membawa Nayyara menuju istana megahnya begitu Aaron berlalu. Dan tanpa banyak bicara, ia segera melucuti semua pakaiannya hingga tak ada satupun benang yang menutupinya.


Perlahan ia mulai melakukan penyatuan tubuh. Namun saat tubuh mereka saling bertemu, setetes air mata jatuh di pelupuk mata Nayyara.


Albert tertegun, bagai sebuah tamparan keras di wajahnya melihat air mata itu. Sontak ia pun menarik selimut dan menggunakannya untuk menutupi tubuh polos Nayyara lalu menjauhkan diri darinya. "Maafkan aku, Nay. Tidak seharusnya aku merusakmu seperti ini" ucapnya lirih.


Albert berlalu menuju kamar mandi, menghidupkan kran air dan berdiri dibawahnya. Dalam sekejap tubuhnya pun basah kuyup oleh air itu.


Albert terduduk diatas lantai kamar mandi yang dingin. Mengerang keras, lalu meninju dinding kamar mandi dengan sangat keras. Sontak darah segar pun mengalir dari buku-buku jari tangannya.


"Argkkk...kau memang lelaki bodoh, Albert!. Kenapa kau bisa bertindak sangat rendahan seperti tadi? Kenapa kau memanfaatkan wanita yang tengah tak berdaya untuk melayani nafsumu? Apa yang akan kau katakan pada mendiang istri dan anakmu di atas sana seandainya mereka tahu akan hal ini?" teriaknya memaki diri sendiri.


Kepala Albert tertunduk kebawah dengan wajah penuh dengan penyesalan. "Maafkan aku, Nay, harusnya aku tidak melakukan ini padamu. Aku memang sangat tergila-gila padamu dan ingin menjadikanmu sebagai milikku seutuhnya. Tapi bukan berarti itu bisa membenarkan perbuatanku tadi."


Albert terus mengerang dan mengerang. Terlihat sangat penyesalan di wajahnya. Hingga tanpa sadar ia pun jatuh pingsan.


Tengah malam Albert terbangun karena tubuhnya menggigil kedinginan. Suhu tubuhnya mendadak panas karena terus menerus berada dibawah guyuran air dalam waktu yang cukup lama.


Ia pun bangkit dan segera mematikan kran air, mengeringkan tubuh, lalu mengganti pakaiannya dengan yang baru. Kemudian ia beranjak keluar dari kamar mandi.


Sejenak Albert memandangi wajah tanpa dosa Nayyara yang masih belum sadarkan diri akibat pengaruh dari obat tidur yang diberikannya. Bahkan ia tak sadar apa yang baru menimpanya tadi.


Albert menghela nafas berat. Memalingkan wajah dan memutuskan untuk beristirahat di kamar lain agar tak lagi melakukan hal bodoh tadi.


...****************...

__ADS_1


Pagi hari saat mentari baru menampakkan sinarnya, Nayyara terbangun dari tidur panjangnya. Ia menggeliat dan menguap lebar akibat masih tersisa sedikit kantuk di mata.


Namun saat kesadarannya mulai terkumpul, ia pun mencoba untuk mengingat kejadian semalam. "ada apa denganku? Apa yang terjadi padaku di pesta semalam? Kenapa aku tak bisa mengingat apapun?" ucapnya sambil memijit keningnya yang sedikit berdenyut akibat sisa pengaruh dari ibat tidur yang diminumnya semalam.


Ia pun lalu mengedarkan pandangan ke sepenjuru ruangan. Namun ia tak mengenali ruangan itu sedikitpun. "Aku ada dimana sekarang? Kenapa aku bisa berada disini" ucapnya penuh tanda tanya besar.


Ia pun menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya dan berniat untuk turun dari ranjang. Namun saat menyadari bahwa tak ada sehelai pun benang yang menempel di tubuhnya, ia langsung berteriak histeris dan menutupi tubuhnya kembali dengan selimut tadi. "Astaga! Kenapa aku bisa dalam keadaan tanpa busana seperti ini? Apa yang sudah terjadi padaku semalam?."


Perlahan ia memperhatikan tubuhnya dengan seksama. Terdapat beberapa bercak merah di sekujur tubuhnya. "Ya Tuhan, apa sebenarnya yang terjadi padaku? Kenapa tubuhku penuh dengan bercak merah seperti ini?" teriaknya kembali histeris.


Mendengar teriakan histeris Nayyara, Albert segera berlari masuk kamar untuk melihat apa uang yang terjadi. "Ada apa denganmu, Nay? kenapa kau berteriak histeris?" tanyanya dengan nafas memburu.


Namun ternyata Albert muncul disaat yang tidak tepat. Kemunculannya itu justru semakin membuat Nayyara semakin berteriak histeris. "Argkkk....kenapa kau bisa masuk kesini? keluar...keluar...."


Sesaat Albert terkejut melihat ada orang yang berani mengusirnya dan bahkan itu di rumahnya sendiri. Namun ia segera menguasai diri setelah menyadari apa yang terjadi. "Ini rumahku, dan ini adalah kamarku! tentu saja aku bisa masuk kemanapun yang aku suka" ucapnya datar.


"Ya, Itu adalah aku!" jawabnya tetap dengan wajah datarnya.


"Jadi memang benar dugaanku, kau bukanlah pria baik-baik!" ucap Nayyara dengan nada dingin pula. Pandangannya menatap tajam kearah Albert.


Mendengar ucapan Nayyara, Albert menyunggingkan senyuman tipis. "Atas dasar apa kau menuduhku sebagai pria yang tidak baik?" jawabnya, menanggapi tuduhan Nayyara dengan santai.


"Lalu apa sebutan yang pantas untuk diberikan pada pria yang telah menculik istri orang selain dengan pria yang tidak baik?" tanya Nayyara balik dengan nada meninggi. "Aku bahkan berulangkali memergokimu menatapku dengan maksud tertentu di pesta semalam."


Albert kembali tersenyum tipis mendengar ucapan Nayyara. "Aku tidak menculikmu. Justru suamimu yang tidak berguna itu sendirilah yang menyerahkanmu padaku."

__ADS_1


"Bohong!" sentak Nayyara. "Kau pasti hanya ingin menipuku saja kan?."


"Terserah kau mau mempercayai perkataanku atau tidak. Yang jelas aku sudah mengatakan yang sebenarnya."


"I...itu tidak mungkin. Mas Aaron tidak mungkin menyerahkanku padamu. Kau pasti hanya ingin menipuku," racau Nayyara, tak percaya dengan kata-kata Albert tadi.


"Mungkin saja terjadi!," jawab Albert cepat.


Nayyara diam, masih tak percaya dengan kata-kata Albert. Sejauh yang ia kenal, Aaron adalah sosok suami yang sangat baik. Tak mungkin ia menyerahkan istrinya sendiri yang sangat ia cintai pada pria lain.


"Anggap saja kata-katamu tadi benar, tapi untuk apa Mas Aaron menyerahkanku padamu?" tanyanya setelah beberapa saat. Kali ini nada bicaranya sedikit melunak.


"Untuk melunasi semua hutang-hutangnya padaku dan juga untuk ditukar dengan sebuah perusahaan milikku."


"Apa???." Nayyara terkejut setengah mati mendengar jawaban Albert. Bola matanya bahkan sampai melotot keluar. Namun detik berikutnya ia malah tertawa keras. "Kau pasti hanya bercanda kan. Tak mungkin Mas Aaron memiliki banyak hutang padamu. Dia itu seorang pebisnis yang sukses."


"Apa? seorang pebisnis yang sukses katamu?" tanya Albert dengan tawa mengejek. "Memangnya sejauh apa kau mengenal suamimu?."


"Aku istrinya. Tentu saja aku sangat mengenalnya" jawab Nayyara cepat.


"Oh ya? Apa kau juga sudah tahu kalau rumah mewah yang kalian tempati sekarang hanyalah sebuah rumah sewa?,"


"Apa?" tanya Nayyara tak percaya. Semakin terkejut mendengar fakta baru tentang suaminya.


Ingatannya pun kembali ke kejadian beberapa hari lalu dimana ada seorang wanita yang menggedor rumahnya pagi-pagi buta. Saat itu suaminya mengatakan bahwa dia hanya seorang sales yang sedang menawarkan dagangannya dan sedang butuh uang untuk membayar uang sewa.

__ADS_1


Mengertilah ia kini apa yang terjadi sebenarnya saat itu. "Jadi selama ini Mas Aaron sudah membohongiku," ucapnya lirih.


Albert kembali menyunggingkan senyum mengejek. "Bukankah aku sudah bilang, kau tidak mengenal siapa Aaron yang sebenarnya."


__ADS_2