Aku Bukan Jembatanmu

Aku Bukan Jembatanmu
Bab 19


__ADS_3

Setelah menyuruh bik Inah pulang dan beristirahat dirumah dan Arfa pergi membeli beberapa makan kecil dam minuman, Albert memutuskan untuk beristirahat sejenak diatas sofa.


Namun saat ia baru memejamkan mata, ia mendengar suara erangan Nayyara. Sontak ia pun bangun dan menghampirinya. "Ada apa, Nay? Mana yang sakit? Atau kau ingin aku panggilkan dokter?."


Albert berusaha menunjukkan perhatiannya pada Nayyara. Namun Nayyara malah menganggap perhatiannya itu hanya untuk menebus rasa bersalahnya saja


Albert tak menyerah. Ia terus meyakinkan Nayyara bahwa perhatiannya itu karena ia jatuh cinta padanya.


Mendengar ungkapan cinta Albert, Nayyara malah semakin marah dan mengusirnya keluar. "Keluar kamu dari ruangan ini. Tinggalkan aku sendiri!."


Albert tak mau memaksa Nayyara lagi dan memilih keluar dari ruangan. Ia mengerti jika saat ini dia belum bisa menerima ungkapan cintanya.


Bertepatan dengan Albert membuka pintu untuk keluar, Arfa juga membukanya ingin masuk. "Lho, kamu mau kemana?" tanya Arfa bingung. Ia kembali lagi ke kamar sebab dompetnya tertinggal.


Albert diam tak menjawab, menatap wajah sahabatnya sebentar lalu berlalu begitu saja. Ekspresi wajahnya terlihat sangat sulit untuk diartikan hingga membuat hati Arfa bertanya-tanya. "Dia kenapa lagi? Bukannya saat aku tinggal tadi sudah baik-baik saja."


"Ah, lebih baik aku ambil dompetku dulu nanti baru aku susul."


Arfa pun melangkahkan kaki ke dalam. Namun setibanya didalam, ia disuguhkan dengan pemandangan kamar yang berantakan. "Apa-apaan ini? Kenapa semua bisa berantakan begini?."


Nayyara yang saat itu tengah melipat kedua kaki dengan tangan memeluk lutut serta kepala tertunduk, tanpa melihat siapa yang datang, lanhsung berteriak kembali. "Kenapa kau kembali lagi? bukankah sudah aku bilang, tinggalkan aku sendiri!."


Arfa sedikit terjingkat mendengar Nayyara membentaknya. "Aku baru saja masuk, kenapa kau malah mengusirku?."


Mendengar orang yang datang memiliki suara berbeda, sontak Nayyara mengangkat kepala dan melihat padanya. "Maaf! Aku kira tadi kau tuan Albert yang kembali masuk. Tapi ngomong-ngomong kau ini siapa? Kenapa bisa masuk ke sini?."


"Aku Arfa, Asisten pribadi sekaligus sahabat Albert," jawab Arfa datar. "Apa semua ini kau yang lakukan?."


Nayyara tak menjawab pertanyaan Arfa dan malah memalingkan wajah.


Melihat hal itu, Arfa kembali bertanya, "Kenapa?apa yang sudah terjadi? Apa semua ini ada hubungannya dengan Albert?"


"Dia telah mempermainkan perasaanku!" jawab Nayyara. Ada kemarahan besar dalam nada bicaranya.


Mendengar hal itu,mengertilahArfa akan apa yang terjafi.

__ADS_1


Berjalan mendekati Nayyara. Arfa melipat tangan di depan dada seraya berucap, "Bagaimana jika yang dikatakannya tadi memang benar?."


Nayyara terkejut mendengar ucapan Arfa. Berbalik cepat dan bertanya, "Apa maksud perkataanmu tadi?."


"Apa ucapanku tadi belum jelas bagimu?" tanya Arfa kembali. Senyum tipis tersungging di sudut bibir. "Baiklah kalau begitu, akan aku jelaskan padamu."


Sejenak Arfa menjeda ucapannya untuk memancing rasa penasaran Nayyara. Dan benar juga dugaannya, sebab tak berselang lama Nayyara bertanya, "Ayo katakan! Jangan membuatku penasaran."


Sebuah senyuman kembali terbit di bibir Arfa. Baiklah, sekarang dengarkan aku baik-baik!."


"Albert benar-benar mencintaimu. Mungkin caranya untuk bisa mendapatkanmu itu salah. Tapi yang pasti, dia sangat mencintaimu!."


Nayyara tertegun mendengar ucapan Arfa. "Tapi kenapa? Apa alasan dia mencintaiku? Kita bahkan baru beberapa hari saling mengenal."


"Kau salah besar," tepis Arfa cepat. "Mungkin memang benar kalau kalian baru beberapa hari saling kenal. Tapi Albert mengenalmu jauh sebelum kau menikah dengan Aaron."


Nayyara makin tak percaya mendengar ucapan Arfa. "Tolong tinggalkan aku sendiri. Biarkan aku menjernihkan pikiranku."


"Baiklah! Aku akan meninggalkanmu sendirian," ucap Arfa sambil mengedikkan kedua bahu. "Tapi coba kau pikirkan kembali kata-kataku tadi dan rasakan. Lalu setelah itu tanyakan dalam hati kecilmu, apakah perkataanku tadi memang benar atau salah."


"Ha......" Nayyara berteriak keras untuk mengurangi beban di hatinya begitu Arfa menutup pintu.


...****************...


Berhari-hari Albert tak menjenguk Nayyara di rumah sakit. Selama itu pula Nayyara merasa ada sesuatu yang kosong dalam hatinya, sesuatu yang ia sendiri tak tahu.


Berulangkali ia menatap ke arah pintu berharap pintu itu kan terbuka dan menampakkan Albert di baliknya.


"Huft, kenapa Albert tak pernah mengunjungiku sekarang? Apa dia sakit hati dan marah gara-gara aku usir kemarin?" ucap Nayyara sendu dengan kepala tertunduk.


Lalu tiba-tiba....


Ceklek....


Suara handle pintu di buka.

__ADS_1


"Albert!" pekik Nayyara gembira. Sontak mengalihkan pandangan ke arah pintu dengan mata berbinar-binar. Namjn saat tahu siapa yang datang, wajahnya kembali murung. "Ternyata hanya bik Inah saja yang datang," gumamnya lirih laku kembali menundukkan kepala.


Bik Inah melangkah menghampiri Nayyara dengan menenteng sebuah paperbag berisi makanan di tangan. "Bagaiman kabar non Nayyara hari ini?" tanyanya berbasa-basi.


"Sudah lebih baik, bik" jawabnya tanpa mengalihkan pandangan.


Meski Nayyara tak terlalu menghiraukannya, namun bik Inah terus berusaha mengajaknya bicara. "Bibik sengaja bawakan makanan dari rumah agar non Nayyara bisa segera pulih. Sekarang dimakan ya! Atau mau bibik suapi?" ucapnya penuh keibuan.


Tanpa menunggu persetujuan dari Nayyara, bik Inah membuka kotak makanan itu dan mulai menyuapi Nayyara.


Bukannya membuka mulut dan menerima suapan dari bik Inah, Nayyara malah menepis tangan bik Inah yang terulur padanya. "Tidak, bik. Aku tidak lapar."


"Ayolah, non. Makanlah sedikit, atau nanti tuan akan marah."


"Biar saja dia marah. Toh dia sudah tidak peduli lagi denganku kan. Jadi untuk apa aku makan."


"Dia bilang, dia sangat mencintaiku. Tapi nyatanya apa? Dia bahkan tak pernah menemuiku lagi."


"Siapa bilang aku tidak peduli?." Terdengar gelegar suara dari balik pintu yang ternyata itu adalah Albert. Rupanya sejak tadi ia berada di balik pintu dan mendengarkan pembicaraan mereka.


"Albert!" pekik Nayyara bahagia. Sontak ia bangkit dari ranjang dan ingin berhambur menghampiri Albert. Namun dengan cepat Albert menghentikannya.


"Berhenti disitu! Biar aku yang menghampirimu!" Sontak Nayyara pun menghentikan langkah.


Berjalan menghampiri Nayyara dengan gagahnya. Meski Albert hanya mengenakan kaos santai dengan celana jeans selutut, namun aura ketampanannya tidak pernah berkurang sedikitpun.


"Dasar gadis bodoh. Lihat tanganmu! Memangnya kau ingin tanganmu berdarah?" omelnya.


Sontak Nayyara melihat pergelangan tangannya yang masih tertancap jarum infus lalu nyengir kuda ke arah Albert. "Maaf! Aku lupa."


Albert menghela nafas sambil geleng-geleng kepala. "Sekarang duduk! Biar aku yang menyuapimu" ucapnya kemudian.


"Tapi, Al...."


"Tidak ada tapi-tapian! Makan sekarang atau aku akan pergi dan tidak akan pernah menemuimu lagi."

__ADS_1


"Dasar tukang paksa!" ucap Nayyara tersungut- sungut. Meski sedikit kesal, namun Nayyara tetap menuruti perintahnya.


__ADS_2