
Jamal dan Muna saling tatap keduanya kembali bersitegang karena Muna yang tidak bisa memegang ucapannya sendiri, pagi tadi gadis itu berjanji akan pulang setelah makan siang namun sekarang gadis itu mengingkarinya bahkan rencananya berubah. Muna akan pulang nanti setelah makan malam, bukankah dia plin-plan!
”Aku mohon padamu, tolong jangan membuat masalah baru lagi jika papamu tahu akan hal ini beliau pasti marah bukan hanya padamu saja tapi aku juga akan disalahkan,” jelas Jamal.
”Aku tidak peduli!” balas Muna acuh tak acuh pada Jamal.
”Baiklah jika memang kamu tidak peduli maka jangan meminta bantuan dariku lagi dan kontrak kita berakhir bukankah demikian?”
Kedua bola mata Muna membulat sempurna mendengar perkataan Jamal yang terdengar begitu enteng baginya. ”Aku akan tetap mencarimu.”
Jamal hanya tersenyum mengejek pada Muna dan meremehkan perkataan gadis itu, ”Memangnya kemana kamu akan mencari?” Jamal mendekati Muna.
Bukannya takut Muna justru semakin tertantang untuk menggoda Jamal. ”Ke alamat rumahmu! Bukankah di sini ada alamat yang tertera.” Muna menunjukkan kartu identitas milik Jamal yang diambilnya dari dompet Jamal semalam.
”Astaga kamu ... cepat kembalikan!” Jamal mencoba merebut kartu tersebut dan Muna pun berjuang untuk mempertahankannya alhasil keduanya saling berebut.
”Balikin gak!”
”Tidak ini akan jadi jaminan jika kamu tiba-tiba menghilang maka aku akan mencarimu ke sini.”
”Itu alamat rumah orang tuaku jadi percuma saja kamu ke sana karena belum tentu aku berada di rumah.”
”Jangan ngeles, setidaknya aku bisa bertanya pada kedua orang tuamu di mana keberadaan anaknya yang telah menipuku benar kan?” ucap Muna. ”Bisa saja aku mengaku sudah hamil anakmu biar kamu dimarahi oleh mereka, bagaimana?” tambahnya.
”Astaga kau ...” Jamal frustasi mendengar perkataan Muna. ”Jangan membuat berita bohong bahkan menyentuhmu pun tidak aku lakukan apakah kamu mau aku sentuh, huh!”
Dengan cepat Jamal kembali merebut kartu identitas miliknya membuat Muna kesal karena tidak segera mengamankannya.
”Cepat pulang!”
”Kamu mengusirku?”
”Ya, aku mau istirahat sejak ada kamu kemarin aku merasa tidak tenang.”
”Kenapa, jangan bilang kamu takut kepadaku.”
Tidak dapat dipungkiri Jamal memang khawatir jika Muna melakukan hal-hal yang tidak dia inginkan, dia tidak ingin orang tuanya tahu masalahnya.
”Muna ... pulanglah, aku tidak mau ada masalah baru nantinya.” Jamal menatap intens pada Muna membuat gadis tersipu.
__ADS_1
”Baiklah maafkan aku, aku akan pulang tapi besok aku pasti akan datang lagi ke sini.” Muna segera mengambil tasnya dan pergi meninggalkan Jamal di apartemennya.
Jamal menarik nafasnya lega karena Muna mau menuruti permintaannya pulang ke rumahnya.
***
Jamal bersenandung kecil ketika masuk ke bengkel, hari ini adalah awal bulan dimana dia akan mendapatkan gajinya. Arya yang sudah datang sejak tadi langsung menghampiri Jamal dan memintanya pergi ke ruangan bosnya.
”Hai, kamu dipanggil bos!” seru Arya.
”Sepagi ini?” Jamal tidak percaya jika bosnya sudah memanggilnya karena biasanya dia akan datang di waktu sore.
”Buruan sepertinya sangat penting!”
Jamal segera pergi mendatangi ruangan bosnya dia yakin pasti ada sesuatu yang penting sehingga sepagi ini dia sudah dipanggil olehnya.
”Pagi bos,” sapa Jamal.
”Pagi, bagaimana harimu?”
Pertanyaan macam apa ini kenapa bosnya menanyakan hal yang tidak biasa untuknya. ”Baik, apakah ada sesuatu yang harus aku kerjakan sekarang?”
Damian bosnya Jamal tampak ragu sebelum akhirnya memutuskan untuk bersuara. ”Jamal, kamu sudah ikut saya beberapa bulan terakhir dan kinerjamu sangat bagus bahkan saya sangat menyukai kinerjamu.”
”Apa maksudnya bos? Anda sedang bercanda kan?”
”Saya minta maaf.” Damian memberikan amplop coklat pada Jamal. ”Ini gajimu bulan ini dan juga pesangon dari saya, maaf.”
”Tolong beritahu saya alasan Anda memecat saya karena saya merasa tidak memiliki kesalahan,” ucap Jamal memberanikan diri menanyakan hal itu pada bosnya.
”Tidak, bahkan kinerjamu sangat bagus saya suka.”
”Lalu kenapa Anda memecat saya? Tolong beritahu saya alasan yang jelas.”
Damian pun akhirnya bicara tentang posisinya dan mengapa dia memberhentikan Jamal saat ini. Posisi Damian tidak aman karena dirinya adalah bawahan dari Pak Rizal papanya Muna gadis yang selama ini mengikutinya.
Setelah mendengar penjelasan dari Damian, Jamal pun mengerti dan tidak lagi mengatakan apapun. ”Terima kasih bos, setidaknya saya tahu alasannya. Saya pamit, permisi.”
Jamal melangkah ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya dan segera berpamitan pada teman-temannya.
__ADS_1
”Kamu mau kemana?” tanya Arya yang melihat perubahan Jamal.
”Pulang, aku mau berpamitan dengan kalian maafkan aku jika selama ini banyak menyakiti kalian.”
”Astaga sandiwara apa yang sedang kamu mainkan Jamal, tidak lucu tahu!” kesal Arya.
”Aku serius, aku sudah tidak lagi bekerja di sini jadi tolong maafkan aku. Jaga diri kalian baik-baik, sampai jumpa.” Jamal menepuk bahu Arya dan meninggalkannya dengan banyak pertanyaan tentu saja temannya itu terkejut karena hal ini sangat mengejutkan baginya.
Jamal segera pulang ke apartemen, dia mengira bisa kembali beristirahat dan merenungi nasibnya tapi sayangnya semua hanya angannya saja karena Muna gadis itu sudah berada di sana dan sedang membuat kegaduhan di dapur.
”Astaga apa yang sedang kamu lakukan?” Jamal terkejut melihat keadaan dapur yang sangat kotor.
Muna meringis karena Jamal tengah memergokinya memasak. ”Aku sedang belajar memasak, untukmu.”
”Ya ampun.” Jamal mengusap wajahnya tersenyum lalu berbalik.
”Hai tunggu!” teriak Muna.
Jamal pun berhenti tanpa berbalik sedikitpun. ”Ada apa?”
”Kenapa kamu pulang bukankah kamu bilang mau berangkat kerja hari ini?” Muna menghampiri Jamal.
”Aku ijin pulang lebih awal karena masih sedikit pusing,” jawab Jamal. ”Aku mau istirahat dulu, maaf.”
Jamal segera menuju ke kamar dan mengunci pintunya karena khawatir jika gadis itu nyelonong masuk ke kamarnya, Jamal sedang ingin sendiri. Dibukanya jaket yang masih menempel di tubuhnya dan hanya menggenakan kaos tanpa lengan. Jamal merebahkan tubuhnya di ranjang, dirinya teringat perkataan Damian jika dirinya diberhentikan atas keinginan papanya Muna.
”Jadi selama ini keluarganya memata-matai diriku,” lirih Jamal lalu menggeleng pelan. ”Tidak mungkin pasti ada alasan lain dibalik ini semua ini,” lanjut Jamal.
Suara ketukan pintu mengalihkan pandangannya, Jamal diam sejenak tak bersuara dia pikir Muna tidak akan mengganggunya lagi dan mengira dirinya tertidur. Namun pemikirannya salah, Muna semakin keras menggedor pintu.
”Buka pintunya, aku tahu kamu berpura-pura tidur di dalam!” teriak Muna.
Dengan malas Jamal pun bangkit untuk menemui gadis itu. ”Ada apa?”
Muna menatap intens ke arah Jamal dengan penampilannya yang berantakan pun pria itu sangat sexy.
”Jika tak ada yang penting aku akan menutup pintunya kembali, aku mau istirahat.” Jamal pun kembali hendak menutup pintunya namun kaki Muna menghalanginya.
”Katakan apa yang sebenarnya sedang terjadi, aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu!”
__ADS_1
Perkenalkan saya Jamal.