AKU DUDA KAU MAU APA?

AKU DUDA KAU MAU APA?
25. ADKMA-25


__ADS_3

”Kenapa kamu berpakaian seperti ini ke sini? Ganti bajumu cepat!” seru Jamal lebih pada perintah. Dia pria normal dan dirinya khawatir jika sampai kebablasan mengingat tidak ada orang lain selain mereka berdua.


”Aku tidak mau!” tolak Muna.


”Baik tidak masalah jika kamu menolak maka aku yang akan pergi dari sini.” Jamal buru-buru bangun namun lengannya ditarik oleh Muna membuatnya terjatuh dan menindih tubuh gadis itu.


Kembali bibir bertemu bibir, Jamal mendelik dan namun Muna justru terpejam seakan sedang menikmati semua ini. Jamal, kebingungan haruskah dia melanjutkannya karena tak bisa dipungkiri dirinya ingin lebih dari semua ini. Bohong besar jika dia tidak menginginkannya, Jamal pria dewasa dan dia masih normal terlebih dia pernah merasakan semuanya bersama mantan istrinya. Bolehkah berharap lebih?


”Ugh ... ” Suara lenguhan terdengar manakala Jamal mulai menikmati leher Muna yang panjang. Dirinya kembali ******* bibir manis yang menjadi entah kapan mulai menjadi candu untuknya. Ya, bibir Muna terasa sangat manis untuknya.


Sepersekian menit Jamal melepaskan diri karena khawatir benar-benar kebablasan, dia harus bisa menahan dirinya sendiri.


”Kenapa berhenti?” Muna kesal karena Jamal menghentikan semuanya.


”Maaf, sebaiknya kamu ganti baju saja. Aku mandi dulu.” Jamal berlalu ke kamar mandi menuntaskan semuanya di sana.


Muna terlihat senang karena berhasil menarik perhatian kekasihnya, ”Aku tahu lama-lama kamu pasti tidak akan menolak, maafkan aku yang ingin tetap bersama denganmu.”


Muna berdiri dan mencari t-shirt milik Jamal, dirinya memantaskan dirinya di depan cermin. ”Astaga, dia buas juga.” Muna melihat tanda merah kecil yang baru saja dibuat Jamal barusan, Muna tersenyum kecil melihatnya. Muna menoleh ke samping suara pintu kamar mandi terdengar dan Jamal pun keluar.


”Astaga kamu masih saja di sini,” pekik Jamal buru-buru berbalik ingin kembali masuk namun Muna berteriak.


”Kenapa balik lagi bukannya lemarinya di sini!” teriaknya.


”Sebaiknya kamu keluar dulu biarkan aku ganti baju dulu,” ucap Jamal tanpa menoleh ke belakang.


”Tidak mau, aku akan memasangkannya untukmu,” bisik Muna membuat Jamal meremang seketika.


”Astaga gadis ini tidak bisakah dia diam di luar saja,” gumam Jamal.


Jamal berbalik menatap Muna, ”Tolong dengarkan aku, sekarang kamu keluar dulu biarkan aku memakai pakaianku.”


Muna menggelengkan kepalanya lalu mendorong Jamal ke depan lemari, membuat Jamal mau tak mau mengikutinya.


”Ambil saja bajunya sekarang!”


Jamal membuka lemari dan mengambil t-shirt dan celana pendek selutut, kesal Jamal sengaja mengganti pakaiannya di depan gadis itu. Muna berbalik begitu handuk milik Jamal terlepas.


”Kenapa berbalik bukankah kamu mau melihat ini?” ucap Jamal ketus dia nekad melakukannya karena berpikir Muna akan malu dengan sendirinya.


Wajah Muna memerah seketika apalagi membayangkan tubuh Jamal, seketika pikirannya jadi mesum. Ya, dirinya memang sedang kesal dengan pria yang berstatus kekasihnya ini mendengar cerita dari abangnya Regan dia jadi lepas kendali. Muna cemburu Jamal bertemu mantan istrinya.


”Ya nanti, tidak sekarang,” bisik Muna. Gadis itu menarik lengan Jamal keluar kamar.


”Duduklah aku akan buatkan kamu sarapan.”


”Tidak perlu, aku sudah membawanya.”


Jamal menoleh ke meja makan sudah ada paper bag berwarna cokelat dengan stempel logo restoran terkenal. ”Sepagi ini kamu order?”

__ADS_1


Muna mengangguk, ”Ayo sarapan!”


Jamal pun duduk di samping Muna, dia hanya menatapnya dan membiarkan gadis itu melayaninya.


”Makanlah!” Jamal tersenyum melihat apa yang ada di depannya segelas kopi panas, roti, muffin, pastry, waffle dan buah. P


”Kenapa hanya ditatap saja?” Muna mengernyit.


”Aku tidak biasa makan makanan seperti ini di pagi hari. Makanan ini terlalu mewah untukku, kamu tahu.”


”Memangnya apa yang kamu makan di pagi hari?” tanya Muna.


”Bubur ayam, nasi liwet, lontong sayur,” jawab Jamal membuat Muna melongo.


”Itu menu makanan berat buatku dan adanya hanya siang hari. Lalu dimana aku bisa membelinya?”


”Di pinggir jalan banyak dan lagi memang kamu pernah melihatku sarapan di rumah?”


Muna menggelengkan kepalanya dan membenarkan perkataan Jamal, pria itu memang jarang sarapan di rumah. Jamal mencomot satu roti dan mulai memakannya.


”Katanya gak mau?”


”Siapa yang bilang tidak mau?”


”Tadi ... ”


”Sudah cepat makan!”


”Kenapa jadi kamu yang galak denganku?”


”Aku tidak galak tapi memintamu cepat makan keburu dingin kopinya.”


Muna menoleh ke arah Jamal ragu, sedangkan Jamal terus terkekeh melihat reaksi kekasihnya.


”Buruan makan!” Jamal menyuapi waffle yang masih hangat ke mulut Muna. ”Jangan melongo terus lalat akan masuk dengan suka rela ke sini.”


”Ish, Jamal!” pekik Muna. Jamal semakin terkekeh dan melarikan diri ke dapur.


***


”Sebaiknya kamu pulang, aku khawatir papamu akan mencarimu dan aku juga tidak enak dengan yang lain karena kamu terus saja menempeliku seperti cicak!”


”Tidak akan, aku akan menunggumu hingga selesai kerja, titik!”


Jamal mengusap wajahnya kasar dirinya tidak mengerti dengan sikap kekasihnya yang terlalu posesif terhadapnya. ”Begini saja kamu pulang ke apartemen dan tunggu aku di sana, bagaimana?”


Muna menggeleng, ”Kamu tenang saja, bosmu itu temannya Bang Regan jadi dia tidak akan menegur kita mana mungkin dia berani.”


”Aish, keras kepala sekali kamu.” Jamal merasa tidak nyaman dengan tatapan teman-temannya apalagi Toni bosnya seakan sengaja bolak-balik keluar masuk hal yang tidak pernah dilakukan sebelumnya. Jamal merasa risih!

__ADS_1


”Kalau begitu pergilah jalan-jalan ke mall nanti aku akan menjemputmu bagaimana?”


”Bukan ide bagus!”


”Kenapa?”


”Bikin boros aku tidak mau melakukannya,” tolak Muna.


”Sudahlah Jamal terimalah nasibmu biarkan dia di sini selama dia tidak mengganggumu tidak masalah kan?” ujar Ahmadi.


”Kau ... jangan membelanya.”


Muna merasa senang karena mendapat dukungan namun seketika senyumnya sirna melihat Toni datang menghampirinya.


”Muna, masuk ke ruanganku!”


Muna menoleh ke arah Jamal, pria itu hanya mengedikkan bahunya karena memang dia tidak tahu apa maksudnya Toni memanggil Muna.


”Pasti dia mengadu pada kakaknya itu,” tebak Ahmadi.


”Biarkan saja, aku sudah mengingatkannya dia sendiri yang seperti itu mau bagaimana lagi.”


”Kamu ini, harusnya kamu bisa pegang kendali!”


”Lanjutkan saja pekerjaannya, jangan ngurusi masalah orang!” teriak Ahmadi pada yang lain yang diam-diam menguping pembicaraan keduanya.


”Bagaimana jika bos melapor pada Regan?” gumam Jamal. Pikirannya sedang kacau ketika melihat Rara kembali datang kembali. ”Astaga kenapa dia datang lagi.” Jamal mencoba mengalihkan perhatiannya, mengabaikan kehadirannya.


”Bro,” panggil Ahmadi memberi isyarat pada Jamal.


”Ya aku tahu.” Dengan malas Jamal menemui Rara, tidak lebih tepatnya menariknya keluar.


”Bukankah sudah ku beritahu untuk tidak datang ke sini kenapa masih nekad?”


”Mas, aku hanya ingin melihatmu itu saja.”


Jamal mengacak rambutnya, ”Aku sedang bekerja dan tolong jangan mengganggu konsentrasi ku dengan kedatanganmu di sini!”


”Oh jadi selama ini Mas Jamal memikirkan Rara, begitu?”


”Astaga, kamu masih sama seperti anak kecil. Aku malu dilihat teman-temanku lagipula kita tidak memiliki hubungan apapun!”


”Tapi aku masih mencintaimu, Mas!”


”Dia milikku!”


Keduanya menoleh Jamal terkejut melihat kekasihnya berada di belakangnya.


”Siapa dia, Mas?”

__ADS_1


__ADS_2