AKU DUDA KAU MAU APA?

AKU DUDA KAU MAU APA?
16. ADKMA-16


__ADS_3

Dirga tertawa dengan keras mendengar pengakuan Jamal, ”Kekasih dari Hongkong? Hei, lihat saya! Saya adalah calon suaminya kami sudah bertunangan beberapa hari yang lalu!”


Jamal menatap Muna mencari kepastian akan ucapan pria yang bersama dengan Muna. ”Jamal, aku bisa jelaskan itu semua tolong jangan salah paham dulu!” ucap Muna kemudian.


”Baik, aku tunggu kamu datang ke apartemen.” Jamal berbalik karena tak ingin melihat kedekatan keduanya dirinya bersusah payah menahan rindu namun Muna dengan mudahnya bersama dengan pria lain dan terlihat santai seakan tidak ada beban di hatinya.


”Siapa dia Jamal, apakah benar yang kamu ucapkan tadi?” tanya Ahmadi penasaran kenapa temannya bisa berhubungan dengan gadis cantik dan berkelas seperti Muna.


”Ceritanya sangat panjang dan aku tidak mengira jika hal ini akan terjadi. Anggaplah aku memang sedang apes waktu itu,” jelas Jamal.


”Ya ampun bukankah bisa dipersingkat!” keluh Ahmadi. Jamal pun menceritakan semuanya pada Ahmadi karena dia mengira Ahmadi bisa dijadikan teman curhat mengingat dirinya tidak memiliki saudara ataupun teman di kota ini.


”Seperti itulah awalnya,” ucap Jamal mengakhiri ceritanya.


”Jadi sekarang kamu tinggal di tempatnya?”


Jamal mengangguk, ”Sebenarnya aku menolaknya tapi dia bersikeras memaksaku dan dia bilang papanya tidak tahu alamat tempat tinggal ku sekarang.”


”Sebaiknya kamu hati-hati apalagi berurusan dengan orang yang banyak duitnya seperti papanya gadis itu, aku yakin tidak sekali dua kali nantinya mereka akan kembali menekan dirimu mengingat Muna itu anak gadis satu-satunya di keluarga tersebut,” ucap Ahmadi mengingatkan Jamal.


”Aku tahu soal itu, sulit dipercaya memang aku sendiri berasa mimpi, tapi ... aku mulai mencintainya sekarang,” seru Jamal.


”Keluarganya sudah menentang hubungan kalian dan karirmu sebagai montir di bengkel juga terkena imbasnya kamu kehilangan pekerjaanmu, besok apalagi?” Ahmadi berusaha mengingatkan Jamal.


”Aku tidak mungkin menjauhinya karena aku mencintainya, aku sadar sekali akan statusku yang hanya seorang duda tanpa harta.”


Ahmadi kasihan pada Jamal kenapa juga nasibnya harus seperti ini, kisah cintanya dengan istri pertamanya harus berakhir dengan perceraian dan sekarang dirinya harus menghadapi masalah dengan seorang gadis.


”Sudahlah jangan dibahas lagi, aku tidak mau kamu jadi bersedih karena hal ini.” Ahmadi pun mengalihkan pembicaraan dengan membahas perihal pekerjaannya di ’,Garden Speed’ dia berharap Jamal bisa diterima agar dirinya memiliki teman di sini.

__ADS_1


Jamal kembali ke apartemen dan Muna sudah ada di sana menunggu kedatangannya, ”Kenapa lama sekali?”


Jamal mengabaikan Muna dan membuat gadis itu bersedih, ”Maafkan aku!” Muna memeluk Jamal dari belakang karena pria itu mengacuhkan dirinya sedangkan Jamal hanya bisa memejamkan mata sejujurnya dia rindu dengan gadis ini tapi di sisi lain dia teringat akan ancaman dari keluarganya.


”Apakah yang dikatakan oleh pria tadi itu adalah benar?” tanya Jamal memberanikan diri untuk bertanya.


”Aku memang bertunangan dengannya tapi aku tidak mencintainya, aku ingin kamu tidak salah paham denganku. Aku sukanya sama kamu!” ucap Muna tegas penuh penekanan dirinya memang sama sekali tidak menyukai Dirga dan apapun yang dia lakukan hanyalah untuk menyenangkan hati papanya.


Jamal berbalik memeluk tubuh Muna, ”Kamu tidak tahu jika belakangan ini aku sangat mengkhawatirkan dirimu terlebih kamu tidak dapat ku hubungi.”


”Maafkan aku tapi ponselku disita oleh papaku dan hanya diberikan jika aku keluar bersama Dirga.”


”Apa yang harus ku lakukan agar tetap bisa bersama denganmu, katakan!” Jamal menatap intens pada Muna dan seakan tidak mau berpisah lagi dengan gadis ini.


”Aku juga tidak tahu harus bagaimana tapi tolong mengertilah setidaknya beri aku waktu mengulur semuanya agar bisa berpikir jernih karena papaku sendiri orangnya pemaksa, dia orang yang egois!”


”Jangan begitu karena bagaimanapun dia adalah papamu ingat itu!” Jamal berusaha mengingatkan kekasihnya akan posisi Rizal. Tidak banyak yang bisa dilakukan oleh keduanya di apartemen selain saling melepas rindu mengingat belakangan ini keduanya jarang sekali bertemu. Jamal ingin memanfaatkan waktu itu dengan baik.


”Darimana saja kamu Muna!” teriak Rizal suara lantang memecahkan keheningan, semua yang ada di ruang tengah asyik menonton tv pun segera berhamburan ke ruang tamu.


”Papa mengijinkan kamu keluar bersama dengan Dirga tapi kenapa kamu tidak pulang bersama dengannya dan papa mendengar jika kamu bertemu dengan gembel itu di kafe, apa itu benar?” Rizal semakin melotot membuat Muna takut.


”Pa, apa yang papa katakan tidak bisakah papa bersikap lembut pada putri kita?” ujar Sinta.


”Tolong ajari anakmu ini bagaimana menyenangkan hati pasangannya, dia akan segera menikah tapi masih saja bermain-main di luar sana, keterlaluan!” seru Rizal menahan kesal.


”Dia itu bukan gembel, Pa!” teriak Muna seketika.


”Jika bukan gembel lalu apa? Dia sendirian di kota ini dan bahkan tidak memiliki pekerjaan, apa yang bisa dibanggakan dari pria macam Jamal itu? Kamu pikir kenyang makan cinta dan wajah tampan, huh!”

__ADS_1


Muna mulai terisak mendengar perkataan Rizal yang mencaci maki dirinya dan membicarakan keburukan Jamal. Muna hanya bisa menerima setiap hinaan yang diberikan oleh papanya terhadap kekasihnya itu.


”Mulai sekarang kamu tidak boleh keluar rumah bahkan pergi bersama dengan Dirga sekalipun, masuk kamar sekarang!” titah Rizal dengan tatapan penuh kemarahan.


”Papa jahat!” Muna berlari ke kamarnya Regan dan Brian hanya dapat menatapnya iba.


Muna menangis di kamarnya sedih itulah yang sedang dia rasakan terlebih dirinya sama sekali tidak dapat keluar rumah dengan bebas, apakah itu berarti dirinya harus kabur, melarikan diri dari rumah ini.


Dua hari Muna tidak keluar kamar dan hal itu membuat panik saudaranya dan Sinta wanita yang melahirkannya itu.


”Tolong lakukan sesuatu jangan sampai adikmu jatuh sakit, ini sudah dua hari dia tidak keluar dan kamarnya,” ucap Sinta.


”Ma, mama tenang ya. Regan akan cari cara biar kamar Muna dibuka, kami juga khawatir dengan keadaannya,” ucap Regan. Dirinya segera mencari kunci cadangan dan berharap bisa masuk dan mengobrol dengan adiknya itu.


”Muna bangunlah!” bisik Regan karena adiknya tengah tertidur lelap.


”Bang ... kenapa masuk ke sini?” Muna terkejut melihat Regan sudah ada di kamarnya tengah duduk di tempat tidurnya.


”Menurutmu kenapa aku bisa berada di sini?”


”Bang, aku mau kabur dari sini tolong bantu Muna!”


Regan menggeleng, ”Itu bukanlah solusi Muna, jika papa tahu beliau pasti akan semakin marah padamu dan aku tidak mungkin bisa menolong dirimu.”


”Aish, jadi Abang mau aku tertekan di sini begitu? Muna tidak mau, pokoknya Muna ingin keluar dari rumah ini!” teriak Muna tanpa tahu jika Rizal sudah ada di balik pintu.


”Bang, ayolah bantu aku ya!” bujuk Muna namun Regan tetap pada pendiriannya untuk tidak membantunya.


”Baik jika Abang tidak bersedia biarkan Muna yang melakukannya sendiri,” ucap Muna.

__ADS_1


”Dan papa akan mengirim kamu keluar negeri segera!” seru Rizal membuat keduanya pun terkejut melihat kehadiran papanya.


”Sejak kapan papa di sana?”


__ADS_2