AKU DUDA KAU MAU APA?

AKU DUDA KAU MAU APA?
14. ADKMA-14


__ADS_3

Muna dan Dirga sedang berjalan-jalan di mall Muna sengaja mengajak pria itu keluar agar tujuannya bisa bertemu dengan Jamal berhasil. Dirinya seperti ABG labil yang sedang jatuh cinta dan merasakan kerinduan yang mendalam karena sudah lama tidak bertemu dengan kekasihnya.


Beberapa kali Dirga melirik pada Muna dan hal itu membuatnya jijik, jujur Dirga bukanlah


pria yang buruk namun sikapnya yang seperti anak-anak membuat Muna kesal. Bagaimana mungkin dia berkencan dengan anak kecil dan justru dirinya yang harus setiap saat mengingatkannya padahal Muna gadis bar-bar yang selalu ingin dimanja dan bagi Muna hanya Jamal lah sosok pria yang mengerti tentang hatinya.


”Dirga sebaiknya kita berpisah sja sampai di sini, oke!” ucap Muna kemudian bangkit dari duduknya.


”Tapi kita kan sedang makan dan kamu lihat makananmu belum habis dan sebentar lagi kita kan mau nonton film bersama, kamu lihat tiketnya kita mau nonton film drama romantis,” ujar Dirga tersenyum penuh arti membuat Muna bergidik ngeri melihatnya.


”Astaga maafkan aku tapi aku harus pergi kita nonton kapan-kapan saja bagaimana?” tawar Muna mencoba membuat Dirga percaya dengannya.


”Baiklah kalau begitu aku akan mengantarkanmu pulang lebih dulu,” ucap Dirga buru-buru bangkit dan memanggil pelayan.


”Eh tidak perlu, biar aku pergi sendiri saja karena ada hal yang harus aku selesaikan sendirian,” tolak Muna.


Dirga menggeleng pelan, ”Tidak aku akan mengantarmu kemanapun kamu pergi karena aku sudah berjanji pada papamu untuk menjagamu mengerti!”


”Tapi serius deh aku harus pergi, terima kasih traktirannya dan sampai jumpa!” Muna buru-buru keluar khawatir jika Dirga terus memaksanya untuk ikut dengannya dia tidak mau hal itu terjadi.


Muna segera menghentikan taxi menuju apartemennya dia harus segera menemui Jamal mengobati rasa rindunya.


***


Jamal tengah duduk di taman di bawah komplek apartemen berlama-lama di dalam apartemen sendirian dan tidak melakukan apapun membuatnya bosan. Dirinya baru saja memasukkan lamaran kerja ke beberapa bengkel mobil dan tidak tanggung-tanggung pria itu sengaja melamar pekerjaan ke bengkel yang cukup terkenal di kota ini.


Jamal bosan hidup pas-pasan dan mencoba bangkit menjadi lebih baik terlebih sikap papanya Muna yang selalu menganggapnya sebelah mata menjadi pemicu baginya untuk merubah keadaannya. Jamal berharap bisa mengubah nasibnya perlahan.


”Maaf Om, bolanya!” teriak seorang anak kecil yang ingin mengambil bola di pangkuannya.


”Ini, dimana ibumu kenapa mainan sendiri?’’ tanya Jamal.


”Itu.” Bocah cilik umur lima tahunan menunjuk pada wanita yang sedang bermain ponsel di kursi taman.


”Astaga ibumu asyik bermain ponsel sedangkan kamu mainan sendiri, kasihan sekali.” Jamal mengusap kepala anak itu, jika dirinya diberi kesempatan memiliki seorang anak dari pernikahannya dulu bisa jadi anak itu sebesar anak ini.


Sayangnya istrinya selalu menolaknya dengan alasan belum siap namun bersyukurlah Jamal karena perpisahannya tidak menjadi beban berat baginya karena belum memiliki anak.

__ADS_1


”Bagaimana kabar Muna, semoga dia baik-baik saja. Astaga aku jadi mengkhawatirkan dirinya sekaligus rindu dengan sifatnya yang kekanak-kanakan,” lirih Jamal.


Sebuah tangan menutup kedua matanya membuatnya terkejut namun Jamal yakin jika yang sedang menutup kedua matanya itu adalah seorang wanita dan bau parfumnya Jamal sangat mengenalnya.


”Muna, apa yang sedang kamu lakukan di sini?” tanya Jamal mendongakkan kepalanya ke atas.


”Aku mencarimu ke atas dan sekarang kamu malah sedang asyik melamun di taman sendirian,” jawab Muna.


”Maafkan aku, aku hanya sedikit merasa bosan jadi memutuskan untuk ke sini melihat anak-anak di sana.” Jamal menunjuk beberapa anak yang tengah asyik bermain ayunan.


”Hm, pasti masa kecilmu kurang bahagia!” ucap Muna spontan.


”Kenapa bisa begitu, jangan asal bicara! Masa kecilku bahkan sangat bahagia karena benar-benar merasakan kebebasan yang sejati.”


Muna mendelik mendengar penuturan Jamal.


”Kamu tidak akan percaya kehidupan di desa jauh lebih baik daripada di kota, waktu kecil aku suka mandi di sungai, main di sawah, berpetualang di hutan. Memangnya ada hal begitu di kota, tidak ada!” jelas Jamal.


”Astaga, jadi anak petualang begitu maksudnya?” ucap Muna asal tebak.


Jamal hanya mengangguk singkat. ”Ayo kita ke atas!” Muna menarik lengan Jamal membuatnya menggeleng cepat. Muna tidak menerima penolakan apalagi dirinya bisa sampai di sini dengan tipuan jadi dia harus bisa mendapatkan apa yang dia inginkan.


”Muna tidak bisakah kamu menolak perjodohan itu?” tanya Jamal.


”Aku juga tidak menginginkannya dan lagi pria itu terlalu kekanak-kanakan sekali aku tidak bisa karena aku sendiri selalu bersikap manja pada orang lain.”


”Ya aku tahu itu,” ucap Jamal melirik dan Muna menyadari hal itu.


”Jamal, ak-aku ... ”


Kedua pasang mata saling beradu. ”Aku mulai mencintaimu,” bisik Muna lalu memundurkan tubuhnya.


Jamal merasa tidak percaya dengan pengakuan Muna itu berarti rasa cintanya ada gadis itu terbalas. ”Aku juga merasakan hal yang sama sepertimu hanya saja ...”


”Apa?” Muna tidak sabaran mendengar pernyataan Jamal.


”Hanya saja aku sedikit khawatir karena papamu tidak merestui hubungan ini nantinya,” ucap Jamal pada akhirnya.

__ADS_1


”Bagaimana jika kita kawin lari saja!” usul Muna.


Jamal menempelkan satu jarinya di bibir Muna. ”Tidak boleh!”


”Kenapa? Bukankah kita bisa memulainya dari nol bersama -sama?” ujar Muna.


”Itu tidaklah semudah yang kamu ucapkan Muna ada banyak hal di luar sana yang belum kamu ketahui.”


”Lalu apakah kamu akan membiarkan diriku menikah dengan orang lain?”


”Itu takkan pernah terjadi, ingat itu.” Muna hanya dapat memanyunkan bibirnya karena jawaban Jamal yang kurang memuaskan hatinya .


”Lalu apa yang akan kamu lakukan?” tanya Muna.


”Mencari cara terbaik agar papamu mau menerimaku,” ucap Jamal.


”Caranya? Papaku termasuk orang yang keras kepala dan tidak mudah untu dipengaruhi aku kurang yakin dengan kemampuanmu,” ujar Muna.


”Kita coba saja, aku yakin beliau pasti memiliki hati yang baik meskipun hanya sedikit,” ucap Jamal lalu terkekeh setelah mengatakan hal itu karena dirinya sendiri sebenarnya ragu.


Cup!


Muna mendaratkan ciumannya di bibir Jamal. ”Astaga, berani sekali kamu ini,” pekik Jamal kesal.


”Aku mencintaimu,” bisik Muna rasanya tidak ingin dia pergi meninggalkan Jamal di apartemennya sendirian.


”Mau kemana?” Jamal mengerutkan keningnya manakala melihat Muna sedang bersiap untuk pergi.


”Aku harus pulang, aku khawatir jika papaku curiga nantinya.”


”Padahal aku masih merindukanmu,” ujar Jamal terlihat mengiba.


”Astaga kamu membuatku jadi enggan untuk pergi.”


Jamal hanya tersenyum mendengar perkataan Muna. ”Kamu menyebalkan!”


”Kamu lebih menyebalkan dariku!” balas Jamal.

__ADS_1


”Astaga, kamu ... ”


Keduanya saling pandang dengan intens. ”Berjanjilah padaku jika kamu tidak akan pernah meninggalkanku!”


__ADS_2