AKU DUDA KAU MAU APA?

AKU DUDA KAU MAU APA?
19. ADKMA-19


__ADS_3

Kemarahan kembali terlihat di wajah Rizal, dirinya segera menuju ke kafe begitu mendapatkan kabar dari Haris teman Muna. Dirinya tidak habis pikir kenapa kedua putranya membiarkan adiknya bersama dengan gembel itu adalah jauh-jauh hari dia sudah memperingatkan kedua putranya untuk mengawasi adiknya, nyatanya Rizal kecolongan!


”Papa akan mengirimkan dirimu ke luar negeri, itu lebih baik buatmu daripada kamu berkeliaran dengan gembel itu!”


”Pa, kenapa papa selalu saja bertindak sesuka hati biarkan Muna memilih jalannya sendiri lagipula dia sudah dewasa apakah papa pernah berpikir sedikit saja tentang kebahagiannya?” ucap Sinta tidak kalah panik mendapati Rizal yang akan mengirimkan putrinya kembali keluar negeri.


”Kami yang salah jadi tolong jangan menghukumnya, Pa. Kami yang membantunya keluar dari rumah ini dan kami yang mempertemukan mereka berdua,” ucap Regan.


”Kalian memang pemberontak! Apakah kalian ingin adik kalian hancur di tangan gembel itu? Dia itu tidak memiliki masa depan!” teriak Rizal. ”Kalian mau membunuh papa kan? Apakah kalian senang jika penyakit papa kambuh lagi dan masuk rumah sakit!”


Perkataan Rizal seakan menjadi ancaman bagi kedua putranya. Ya, Rizal memiliki penyakit riwayat jantung bawaan dan kedua putranya seakan lupa dengan hal itu.


”Maafkan kami, Pa,” ucap Regan pada akhirnya.


”Kamu tidak akan pernah tahu karena belum mengalami bagaimana rasanya menjadi tua dan memiliki tanggung jawab. Jika kalian sudah berkeluarga kalian akan mengerti alasan kenapa papa melakukan hal ini pada kalian semua,” jelas Rizal.


”Sudahlah Pa, kami semua salah jadi tolong papa tidak meneruskan masalah ini lagi dan tolong jangan buat adik kami sedih karena dia juga bagian dari keluarga kita. Mana ada seorang kakak yang tega melihat adiknya bersedih tiap hari,” ucap Brian kali ini dia angkat suara karena sudah terlalu malas mengikuti gaya Rizal yang egois.


”Jadi kamu mau ikutan menyalahkan papa?”


”Tidak ada yang menyalahkan semua adalah fakta,” sahut Brian.


Regan memandang ke arah Brian adiknya ini mulai berpikir dewasa dan Regan menyukai itu. ”Pa, bolehkah Regan bertanya sama papa?”


Rizal beralih menatap Regan. ”Apa itu?”


”Darimana papa tahu jika Muna sedang bersama dengan Jamal, tidak mungkin papa bis pergi begitu saja ke kafe. Tentunya ada yang membuat asap bukan?”


Rizal diam tidak mungkin dia mengatakan hal yang sebenarnya kan. ”Tolong jawab dengan jujur jika papa masih ingin dianggap sebagai papa yang baik,” tutur Regan.


”Dari seseorang yang dapat papa percaya Informasinya yang jelas papa menyerahkan segalanya pada orang itu.”


”Jadi dia bukan pegawai papa?”

__ADS_1


”Bukan!”


Regan langsung berpikir keras siapa kira-kira yang menjadi orang suruhan papanya kali ini. ”Muna istirahatlah di kamar,” seru Regan.


”Tidak boleh papa belum puas memarahinya!” sahut Rizal.


”Ya ampun papa, sejak tadi dia menangis dan papa sama sekali tidak membiarkannya beristirahat jika dia sakit bagaimana?” ucap Brian mengingatkan Rizal.


”Ck! biasanya saja kamu tidak pernah peduli padanya kenapa sekarang kamu begitu perhatian dengannya.”


”Karena dia adikku satu-satunya, Pa."


Rizal terdiam mendengar pembelaan dari putranya sendiri, memang benar biasanya Brian lebih cuek daripada regen namun kali ini justru Brian lah yang paling aktif membela Muna.


Muna pun dibawa ke kamarnya oleh Sinta wanita paruh baya itu tidak ikhlas putrinya dikekang oleh suaminya namun dia sendiri tidak bisa berbuat banyak untuk menyelamatkannya.


”Ma, bagaimana keadaan Jamal sekarang?” tanya Muna.


”Kamu tidak perlu khawatirkan hal itu Sayang, abangmu Regan yang akan mengawasinya memastikan jika semua baik-baik saja.”


***


Haris merasa menang karena selama ini berhasil memprovokasi Rizal, dia menyukai Muna hanya saja gadis itu sama sekali tidak melihatnya dan hanya menganggapnya tak lebih dari sahabat saja. Hal itu membuat Haris sakit hati dan mau melakukan apapun demi mendapatkan Muna meski dia harus bersaing dengan Jamal dan Dirga sekalipun.


”Bos, aku dengar Muna masuk rumah sakit,” ucap pegawai Haris di studio mini miliknya.


”Benarkah? Jadi bisa saja Pak Rizal menginterogasinya dan sekarang gadis itu jatuh sakit.”


”Benar, bos!”


”Menarik, aku akan datang ke rumah sakit dan berpura-pura untuk menjenguknya aku yakin dia tidak akan curiga denganku bukan?”


”Tentu saja bos.”

__ADS_1


Haris segera keluar dari studio miliknya berniat pergi ke rumah sakit namun di sisi jalan dia melihat Jamal tengah melamun di halte bus. Haris pun berhenti dan keluar dari mobilnya.


”Kenapa melamun di sini?” sapa Haris berpura-pura baik pada Jamal.


”Aku sedang menunggu bus, bukankah ini adalah halte? Apa aku salah tempat?”


”Tidak, kamu benar ini adalah halte biasanya kamu akan naik ojek bukan?”


”Aku mau pulang ke kampung halamanku jadi yang aku butuhkan adalah halte lalu kenapa kamu berada di sini?”


”Aku hendak ke rumah sakit namun melihatmu di sini aku juga berniat memberimu kabar.”


”Apa maksudmu?”


”Kamu tidak tahu kekasihmu berada di sana?”


”Tidak mungkin dia baik-baik saja semalam.”


”Dia depresi!” ucap Haris penuh penekanan agar Jamal merasa bersalah.


”Siapa yang memberitahukan dirimu?” Jamal curiga dengan Haris.


”Kamu tahu kan aku memiliki banyak mata lagipula Muna itu sudah seperti keluargaku jadi tentu saja aku tahu semuanya,” jelas Haris. ”Apa kamu tidak ingin menjenguknya? Kenapa kamu malah memilih untuk pergi menghindarinya dasar pengecut!”


Haris dengan cepat pergi dari tempat itu dia hanya ingin memancing Jamal pergi ke rumah sakit dan bertemu dengan Pak Rizal tujuannya satu Jamal kembali didamprat oleh tuannya, Haris tersenyum penuh kemenangan karena berhasil memprovokasinya.


Masih di tempat yang sama Jamal hanya dapat terdiam bimbang dengan keputusannya, Rizal telah mengusirnya namun rasa cintanya semakin dalam pada Muna. Jamal sendiri tidak tahu kenapa bisa mencintainya di antara banyak gadis yang ada.


”Sebaiknya aku ke rumah sakit dulu memastikan semuanya,” lirih Jamal dengan segera menghentikan taxi dan pergi ke rumah sakit. Jamal berharap semua akan baik-baik saja tidak seperti apa yang dikatakan oleh Haris padanya.


Jamal mencoba mencari informasi tentang Muna di lobi dan memang benar gadis itu dirawat di sini. Jamal berjalan perlahan menuju ke ruangannya dengan memakai topi dia berharap tidak ada yang akan mengenalinya. Begitu sampai di depan pintu, Jamal menoleh ke dalam dilihatnya Sinta dan Haris tengah mengobrol bersama dengan Muna namun gadis itu lebih banyak diam.


Jamal duduk di ruang tunggu berharap Haris keluar dan dirinya bisa masuk ke dalam, cukup lama Jamal memperhatikan situasi hingga akhirnya sebuah tangan menyentuh bahunya.

__ADS_1


”Bang ... ”


__ADS_2